
Raka mengendarai mobilnya sampai di rumah dengan pikirannya yang sedikit terganggu. Raka yang tidak fokus sampai melewati istri dan anaknya begitu saja, padahal mereka sudah menunggunya sejak tadi.
Kiano menarik-narik baju maminya, hal itu membuat Bianca langsung menunduk.
"Mami, kenapa papi diam saja?" tanya Kiano dengan polos.
Bianca menatap suaminya yang sudah naik ke lantai dua, ia tidak tahu mengapa suaminya diam saja, bahkan saat Kiano memanggil pun pria itu tidak menyahut.
"Kamu main sendiri dulu ya, mami temui papi dulu." Kata Bianca dengan lembut.
Kiano pun mengangguk, membuat Bianca langsung beranjak dan pergi ke kamarnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada suaminya sampai-sampai terus diam.
Sampai di kamar, Bianca melihat Raka menunduk sambil memegangi kepalanya. Suaminya itu terlihat sedang banyak pikiran, dan Bianca yakin ini berhubungan dengan pekerjaan di kantor.
Bianca mendekat, ia duduk di sebelah Raka lalu mengusap bahu pria itu.
"Mas." Panggil Bianca lembut.
Raka menatap istrinya, pria itu lalu tersenyum pada Bianca.
"Sayang, darimana?" tanya Raka lembut.
Bianca terkekeh. "Aku sama Kiano nunggu kamu di ruang tamu sejak tadi, tapi saat kamu pulang, kamu malah nggak lihat kami." Jawab Bianca menyindir secara halus.
Raka terdiam, ia menatap Bianca dengan perasaan tidak enak. Karena masalahnya, ia sampai lupa pada anak dan istrinya.
"Maaf, Sayang. Aku benar-benar nggak fokus, banyak pekerjaan di kantor." Ucap Raka.
Bianca manggut-manggut. "Nggak apa-apa, Mas. Aku paham kok, mending sekarang kamu mandi gih." Tutur Bianca.
Raka mengangguk. "Iya, kamu sama Kiano siap-siap ya." Sahut Raka.
"Siap-siap, mau kemana?" tanya Bianca mengerutkan keningnya.
"Makan di luar, restoran milik rekan bisnis aku baru buka. Mau nggak?" tawar Raka.
"Tentu saja, aku dan Kiano akan siap-siap." Balas Bianca.
Bianca bangkit dari duduknya, berniat untuk memandikan Kiano, namun Raka malah menarik tangannya sehingga ia jatuh tepat diatas pangkuan pria itu.
"Mas!!" pekik Bianca terkejut.
Raka terkekeh, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri lalu membenamkan wajahnya di dada istrinya.
"Peluk kamu kaya gini itu nyaman banget, Bi. Aku rasanya nggak mau lepas." Ungkap Raka membuat Bianca tersenyum mendengarnya.
Raka menatap istrinya. "Dan ya, apa benar teman kamu menabrak mobil Ario?" tanya Raka.
"Iya, Mas. Tapi Intan bakal tanggung jawab kok, teman kamu nggak usah takut." Jawab Bianca.
Raka menghela nafas, ia tidak peduli pada mobil Ario. Raka lebih peduli pada keselamatan istrinya.
__ADS_1
"Aku nggak bahas kerusakan mobil Ario, aku cuma mau bilang lain kali hati-hati." Tutur Raka.
Raka menangkup wajah cantik sang istri. "Kamu tahu nggak, saya tadi hampir lompat dari tempat duduk gara-gara Ario bilang mobil yang kamu tumpangi menabrak. Aku kira kecelakaan, aku khawatir tahu nggak." Tambah Raka panjang lebar.
Bianca tertawa dengan lepas, ia menjewer telinga sang suami pelan lalu mencium hidung mancung pria itu singkat.
"Khawatir banget ya?" tanya Bianca.
"Hmm, sangat. Aku nggak mau kehilangan kamu." Jawab Raka sungguh-sungguh.
"Manis banget suami aku, gemasin." Tukas Bianca dengan jujur.
Raka dan Bianca sama-sama tertawa. Sampai di rumah seperti ini membuat Raka melupakan masalah Briana, wanita itu.
"Oh ya, Mas. Reza kasih aku undangan, dia mau kita datang di acara pernikahannya." Ucap Bianca.
"Oh ya? Akhirnya dia menikah, aku nggak perlu takut dia berusaha dekati kamu lagi." Sahut Raka penuh senyuman.
"Mas, kalaupun ada pria yang mencoba dekati aku, aku nggak akan mungkin merespon. Aku sudah punya anak dan suami, jadi mana mungkin aku akan bersikap seperti seorang gadis." Jelas Bianca dengan sungguh-sungguh.
Raka menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku bisa minta sesuatu sama kamu?" tanya Raka.
"Hmm, katakan Mas." Jawab Bianca, ada sedikit rasa takut karena Raka terlihat begitu serius.
"Jangan pernah pergi apapun yang terjadi, aku mohon." Pinta Raka dengan sangat.
"Iya, Mas. Aku akan selalu sama kamu dan Kiano, lagipula aku mau pergi kemana." Balas Bianca.
Sepeninggalan Bianca, Raka kembali diam dengan helaan nafas panjang. Pria itu bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Raka membuka pakaiannya, ia berdiri di bawah shower yang mengeluarkan air hangat.
"Aku hanya mencintai Bianca. Ya, dia istriku. Aku hanya mencintainya." Batin Raka dengan mata terpejam.
***
Seperti yang Raka katakan, ia akan mengajak anak dan istrinya pergi ke salah satu restoran milik rekan bisnisnya. Kini keluarga kecil itu sudah sampai disana.
Tempatnya bisa dibilang cukup mewah dan ramai, mungkin yang datang dari kalangan pebisnis juga.
"Hei, pak Raka." Sapa seseorang menyapa.
"Pak Ali, selamat atas pembukaan restoran anda ya." Ucap Raka mengulurkan tangannya.
Rekan bisnis Raka mengucapkan terima kasih, lalu tatapannya beralih pada Bianca dan Kiano.
"Saya tebak, mereka pasti istri dan anak anda. Kalian benar-benar cocok," ucap pak Ali dengan jujur.
Bianca tersenyum, begitupula Raka yang langsung merangkul pinggang ramping istrinya.
"Terima kasih, Pak." Balas Raka tersenyum lebar.
__ADS_1
Raka pun mengajak anak dan istrinya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di pojok.
"Sayang, mau makan apa?" tanya Raka.
"Mau steak." Jawab Bianca menunjuk hidangan di menu yang Raka berikan.
"Kalo kesayangan papi mau apa?" Tanya Raka beralih pada putranya.
"Aku mau spaghetti, dan ice cream." Jawab Kiano penuh semangat.
Bianca terkekeh, ia mengusap kepala putranya yang terlihat begitu senang. Kiano tadi sempat sedih tatkala Raka berjalan begitu saja tanpa menyapa dirinya.
Saat mereka sedang menunggu pesanan mereka datang, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi meja mereka.
Seorang wanita dengan setelan jas berwarna hitam dan langsung menyapa Raka.
"Raka." Sapa wanita itu dengan senyuman lebar.
Raka menoleh, ia yang sedang tersenyum pada istrinya langsung mendatarkan wajahnya.
"Raka, ini aku Briana." Ucap wanita bernama Briana itu.
Raka masih diam, pria itu hanya berdehem lalu menganggukkan kepalanya kecil.
Briana menatap Kiano dan Raka bergantian. "Apa mereka anak dan istrimu?" tanya Briana.
Bianca tersenyum ramah. "Halo, saya Bianca. Istrinya mas Raka, dan ini Kiano anak kami." Jawab Bianca.
Briana mengulurkan tangannya. "Aku Briana, aku man– aku temannya Raka saat kuliah." Ucap Briana memperkenalkan diri.
Bianca manggut-manggut dengan senyuman ramah, ia sesekali melirik ke arah suaminya yang hanya diam.
"Boleh aku duduk disini, tidak ada tempat yang kosong." Ujar Briana meminta izin.
Bianca tidak langsung menjawab, namun ia aneh mendengar ucapan wanita itu yang mengatakan tidak ada tempat kosong, sementara ia lihat ada.
Sebelum Bianca ataupun Raka mengizinkan, Briana sudah duduk duluan di samping Kiano.
"Hai." Sapa Briana pada Kiano.
Kiano hanya diam, bahkan bocah itu sudah seperti papinya yang juga tiba-tiba diam.
"Hai, kamu Kiano ya." Sapa Briana lagi.
"Mami bilang tidak boleh bicara dengan orang asing." Ucap Kiano dengan cuek.
Briana langsung terdiam mendengar ucapan Kiano, ia menarik tangannya yang tadi terulur untuk berjabat tangan dengan Kiano.
DEK KIANO PINTAR YAA😍
Bersambung.............................
__ADS_1