
...Warning!!! Bab ini khusus 18+, tapi kalo mau terobos yowes. Dosa ditanggung masing-masing!!!...
Bianca menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan mata yang masih terpejam erat. Gadis itu bermimpi jika saat ini Raka ada di depannya dan menghujani wajahnya dengan ciuman.
Bianca menarik nafas, ia pun akhirnya membuka mata karena tidak kuat akan mimpinya. Sepertinya ia terlalu rindu pada Raka, makanya bisa sampai bermimpi.
Namun saat mata Bianca sudah terbuka, gadis itu dibuat terkejut melihat ada sosok di depannya. Ruangan yang gelap membuat Bianca tidak bisa melihat siapa orang di depannya ini.
"Aaaa … siapa lo, pergi sana!!" teriak Bianca histeris.
Orang itu tampak panik, ia buru-buru menyalakan lampu tidur yang ada di atas meja, sehingga kini Bianca bisa melihat siapa orang tersebut.
Tadi memekik ketakutan dicampur terkejut, kini Bianca kembali memekik karena terkejut sekaligus bahagia.
"MAS RAKA!!!" Pekik Bianca dengan mata terbelalak dan senyuman yang mengembang.
Ya, orang yang diam-diam masuk ke dalam kamar Bianca adalah Raka, pemilik kamar itu juga.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Bianca, gadis itu bahkan memukul wajahnya sekali karena takut ini hanya sebuah mimpi.
"Iya, Sayang. Ini saya Raka, suami kamu." Jawab Raka lembut dan tersenyum manis.
Bianca bersorak kegirangan, ia langsung melingkarkan tangannya di leher Raka dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Mas, kok pulang nggak bilang-bilang?" tanya Bianca semakin mengeratkan pelukannya.
Raka terkekeh. "Sengaja, Bi. Saya mau buat kejutan," jawab Raka seraya mengusap-usap punggung istrinya.
Bianca melepas pelukannya, ia menatap wajah Raka dengan tatapan menyipit tanda bahwa ia kesal.
"Dan nggak telepon aku seharian ini, itu kamu juga sengaja?" tanya Bianca.
Raka mengangguk. "Bukan hanya itu, bahkan saya sengaja meminta mama Vena mengajak Kiano menginap, karena …" Raka menggantung ucapannya.
Kening Bianca mengkerut karena suaminya itu menggantung ucapannya.
"Karena apa?" tanya Bianca bingung.
Raka menatap jahil, sekaligus penuh godaan. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya.
"Karena saya mau mengingatkan kamu tentang kejadian yang tertunda waktu itu." Bisik Raka dengan suara yang memberat.
Bianca memejamkan matanya, tidak tahan dengan suara Raka yang berat, namun terdengar begitu seksi dan menggoda.
Saat Raka menjauhkan wajahnya, Bianca membuka mata. Gadis itu menatap lamat-lamat wajah lelah suaminya, namun tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
Bianca kembali melingkarkan tangannya. "Oke, silahkan lanjutkan apa yang tertunda waktu itu, Mas." Sahut Bianca.
Bianca berbicara dengan bibir yang nyaris bersentuhan dengan bibir Raka, ia sengaja melakukannya agar terlihat semakin menggoda di mata suaminya.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya seketika membuat Raka bersemangat. Pria itu langsung mencium bibir Bianca dalam-dalam dengan napsu yang sudah mencapai ubun-ubun.
Bianca membalas decapan bibir suaminya tanpa ragu, ia menghisap dan menggigit kecil karena terlalu manis rasanya bibir Bianca.
Bianca melenguh, ia memejamkan matanya dan menikmati apa yang suaminya ingin lakukan. Bianca sudah berjanji tidak akan menunda lagi, dan ia akan memenuhi janjinya itu.
"Ahhh …" Bianca melenguh tatkala bibir Raka hinggap di lehernya dan memberikan tanda di sana.
"Ahhh … mas!!" Erang Bianca seraya menjambak rambut suaminya.
Raka masih menciumi leher Bianca, sesekali naik dan kembali mencium bibir istrinya. Tangannya tidak tinggal diam, ia mulai membuka piyama yang istrinya kenakan.
Saat piyama terbuka, Raka langsung melepaskan baju itu dan melemparkannya asal. Bibirnya lalu berpindah jelajah ke bahu mulus istrinya.
"Ahhh mashh, k-kamu nggak capekhhh?" Tanya Bianca dibarengi dengan lenguhan.
Raka menjauhkan wajahnya, ia menatap mata istrinya yang terlihat sayu sepertinya. Napsu dan gairahh sudah memenuhi pasangan suami istri itu dan harus segera di selesaikan.
"Nggak, Sayang. Saya sudah menantikan hal ini sejak lama," jawab Raka dengan nafas yang menggebu-gebu.
Bianca tersenyum manis, ia lalu memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya duluan.
Raka membalasnya, ia semakin merasakan panas saat dada Bianca yang nyaris terbuka menempel di dadanya yang masih mengenakan kemeja.
Bianca buru-buru melepaskan kemeja yang Raka kenakan, ia melemparkan dengan asal baju itu lalu meraba dada dan terus naik sampai melingkar di leher.
Raka yang tidak tahan lantas melucuti pakaiannya Bianca sampai tidak ada yang tersisa, ia juga membuka seluruh pakaiannya. Kini mereka sama-sama polos.
Bianca masih malu, ia menutupi bagian dada dan tangannya tanpa berani menatap Raka.
"Kamu belum siap?" tanya Raka lembut.
Seandainya Bianca mengangguk, maka Raka janji akan menghentikan ini semua. Ia tidak akan memaksa istrinya. Namun ternyata Bianca menggelengkan kepalanya.
"Aku siap, Mas. Cuma m-malu." Jawab Bianca terbata-bata.
Raka tersenyum, ia lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan. Tangannya pelan-pelan menjauhkan tangan Bianca agar tidak menutupi dadanya.
Mata Raka seketika terbelalak melihat pemandangan yang saat itu belum sempat ia lihat. Ukuran dada Bianca tidak terlalu besar, namun sangat menggoda imannya.
"Bi, saya boleh?" tanya Raka ambigu.
Bianca hanya mengangguk, dan hal itu membuat Raka senang. Pria itu langsung mendorong tubuh istrinya pelan-pelan agar berbaring.
Dengan posisi ini, Raka begitu leluasa mencicipi dada Bianca yang belum terjamah sama sekali. Bibirnya mengecap sebelah kanan, dan tangannya memainkan satunya.
"Ahhh ahhh, Mas!!" teriak Bianca menjambak pelan rambut Raka.
Raka semakin bersemangat untuk menyatu dengan istrinya malam ini. Ia tidak sabar menjadikan Bianca sebagai istri yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Massss …" Bianca menangkup wajah Raka lalu menariknya, ia mencium bibir suaminya dengan tidak kalah menggebu.
Lenguhan tertahan dari mulut keduanya. Peluh yang membasahi justru membuat penampilan keduanya semakin menggoda.
Raka menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya, ia lalu turun ke inti istrinya, bagian yang paling penting bagi seorang wanita.
Bianca merasa sangat malu, namun ia tidak kuasa menolak perlakuan Raka yang benar-benar puas dan panas.
"Ahhh mas!!!" Pekik Bianca mencengkram sprei ranjangnya.
Raka semakin bersemangat di bawah sana tatkala mendengar lenguhan dari mulut istrinya. Ia tidak kuat, ia lantas bangkit setelah puas mencicipi milik Bianca.
"Bia, saya nggak tahan. Boleh saya masuk?" tanya Raka dengan nafas terengah-engah dan tatapan mata yang sayu.
Bianca tersenyum, dadanya tampak naik turun karena nafas yang tersengal-sengal. Bianca mengangguk.
"Lakukan, Mas. Jadikan aku istri yang utuh malam ini," jawab Bianca dengan yakin.
Raka tersenyum, ia menundukkan kepalanya dan menghujani wajah cantik istrinya dengan ciuman, persis seperti di mimpi Bianca.
"Akhhh sakit, Mas." Cicit Bianca mencengkram lengan suaminya.
"Sabar ya, Sayang. Saya janji setelah ini sakitnya hilang," tutur Raka dengan lembut.
Bianca hanya bisa mengangguk pasrah, ia merasakan sakit untuk beberapa saat terutama saat milik Raka benar-benar berhasil menjebol gawangnya.
"Arghhh!!!" Erang Raka penuh nikmat.
Bianca memejamkan matanya, ia menangis bahkan hanya karena rasa sakit, tapi juga bahagia karena telah memberikan apa yang sudah menjadi hak suaminya.
"Eumhhhh …" rasa sakit tadi seketika berubah menjadi rasa yang belum pernah Bianca alami sebelumnya.
"Arghhh … kamu nikmat, Bia. Saya nggak kuat, kamu terlalu cantik dan menggoda!!" erang Raka seraya terus memacu tubuhnya di atas tubuh istrinya.
Malam ini Bianca telah sepenuhnya menjadi istri Raka, ia telah merubah status gadisnya menjadi seorang istri yang sesungguhnya.
Bianca sangat bahagia, ia berdoa semoga apa yang Kiano inginkan lekas terkabulkan.
"Ahhhh …"
Bianca dan Raka sama-sama melenguh panjang saat pelepasan diraih keduanya. Raka langsung berbaring di sebelah Bianca dan memeluk erat tubuh mungil Bianca tanpa lupa melepaskan miliknya.
"Terima kasih, Bia. Ini malam pertama yang sangat indah dan nikmat." Bisik Raka lalu mencium kening istrinya.
Bianca tersenyum, ia balas mencium rahang Raka kemudian menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang suaminya.
MANA YANG KEMARIN NUNGGUIN INI, MAJU KALIAN!!!
Bersambung........................
__ADS_1