
Intan menunggu Ario sambil duduk di teras rumahnya. Ponsel boba miliknya terlihat sedikit terangkat ke atas guna mengambil potret dirinya yang sudah cantik dan siap bertemu calon suaminya.
Iya, saat ini Intan sedang foto selfi menggunakan ponsel kesayangannya. Daripada hanya diam saja menunggu Ario, lebih baik mengabadikan kecantikannya hari ini untuk memenuhi posting Instagram nya.
Intan sengaja sedikit memoles wajah dengan make-up. Gadis itu ingin tampil cantik di depan Ario, calon suaminya. Tak tanggung-tanggung, Intan bersiap hampir 2 jam untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Berbagai gaya andalan Intan tunjukkan di dalam kamera. Ponsel dan cahaya yang bagus membuat hasil foto Intan jadi terlihat lebih cantik dari aslinya.
"Lho, belum pergi juga kamu?" Tanya mama Dian kaget.
Ia pikir putrinya itu sudah pergi, namun ternyata masih ada di sana dan asik berpose.
"Belum, Ma. Pak Ario nya lama banget," jawab Intan tanpa menatap sang mama.
Mama Dian manggut-manggut, ia pun kembali masuk ke dalam rumah tanpa bicara apapun lagi dengan putrinya.
"Lhoo kok jadi jelek, apa cahayanya berubah tempat ya." Ucap Intan seorang diri.
Intan bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya ke satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari cahaya yang bagus untuk berfoto selfi.
Sibuk memperhatikan ponselnya, Intan sampai tidak sadar jika ada orang di hadapannya.
Gadis itu terus saja melangkah sampai kepalanya menabrak dada bidang milik pria itu.
"Awww …" ringis Intan pelan, bukan karena sakit, namun karena dirinya terkejut.
"Ngapain hmm?" Tanya orang itu dengan suaranya yang berat dan terdengar menggoda di telinga.
Intan mengusap keningnya, lalu mendongak. Ternyata orang yang ia tabrak adalah Ario. Calon suaminya yang tampan itu.
Intan tersenyum malu-malu, ia yang terlalu fokus mencari tempat berfoto sampai-sampai tidak sadar jika Ario sudah datang, bahkan ada di hadapannya.
Masih untung yang Intan tabrak adalah Ario, dan bukan tembok atau apapun. Setidaknya dada bidang Ario tidak sekeras tembok rumahnya.
"Maaf, Pak. Tadi lagi cari cahaya untuk foto," jawab Intan dengan jujur, meski ia sebenarnya malu.
Ario tersenyum tipis, ia mengambil ponsel milik gadis itu lalu mengarahkan kameranya ke mereka berdua.
Intan terkejut, apalagi saat melihat wajah mereka berada di satu kamera yang sama, dan jarak wajah yang begitu dekat.
"Mau foto bagus kan, sini sama saya fotonya." Ucap Ario lalu menekan tombol kamera.
Intan yang saat itu menoleh menatap Ario jadinya kena jepretan kamera dengan posisi seperti itu.
"Saya tahu saya ganteng, tapi nggak usah diliatin terus dong." Celetuk Ario menggoda calon istrinya itu.
Intan tersadar, ia langsung menggelengkan kepalanya sebagai penolakan atas ucapan Ario yang begitu percaya diri.
"Nggak gitu konsepnya, Pak. Saya tadi kebetulan lagi noleh aja." Sahut Intan tidak mau mengakui.
"Lagipula kenapa bapak mengambil foto kita, kan saya niatnya mau foto sendiri." Kata Intan protes.
Ario tersenyum begitu manis, ia memberikan usapan lembut di kepala gadis itu tanpa ia sadari. Gerakan itu reflek reaksi tubuhnya.
"Baiklah saya minta maaf, ayo biar saya fotokan." Tutur Ario dengan lembut.
Intan menolak dengan menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak mood untuk foto karena dirinya pasti tidak cantik.
Bagaimana Intan berpikir begitu, tentu jawabannya karena Ario tidak memuji kecantikannya sama sekali.
"Nggak mau, muka saya pasti sudah jelek." Tolak Intan menutupi wajahnya.
"Kata siapa?" Ario mengangkat sebelah alisnya, tidak setuju dengan ucapan gadis itu barusan.
"Kata saya tadi, bapak nggak dengar. Saya merasa nggak cantik, soalnya bapak aja nggak puji saya, padahal saya dandan hampir 2 jam." Jawab Intan tanpa sadar terus saja nyerocos.
Intan tersadar, gadis itu langsung menutup mulutnya lalu menatap Ario dengan mata yang terbuka lebar.
"Jadi begitu, kamu siap-siap secantik ini untuk saya?" Tanya Ario manggut-manggut.
"Eh bukan! Saya tadi salah bicara, saya dandan untuk diri saya sendiri." Jawab Intan semakin mengelak.
Ario menyentil pelan dahi Intan. "Kamu itu payah kalo bohong, lihat aja mukanya sampai merah gitu." Ledek Ario.
Intan berdecak. "ihh, bapak jangan gitu!!" Protes gadis itu sedikit merengek.
Ario tergelak, ia merasa lucu dengan gadis di hadapannya ini, gadis yang dalam beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.
"Dengarkan saya, Intan. Kamu itu benar-benar cantik, bahkan saya sampai tidak mampu berkata-kata." Ungkap Ario dengan jujur.
"Bohong, bapak puji saya karena mau saya baper aja." Timpal Intan melipat tangannya di dada.
"Terima kasih ya, terima kasih sudah berdandan secantik ini untuk saya, saya suka sekali." Ucap Ario, lalu merapikan anak rambut gadisnya.
Intan mengalihkan pandangannya, entah mengapa ia merasa siang ini telah turun hujan. Bukan hujan air, tapi hujan bunga.
__ADS_1
Ucapan Ario barusan memang sederhana, namun membuat Intan berbunga-bunga dan ingin terbang jauh rasanya.
"Sekarang kenapa lagi?" Tanya Ario melihat calon istrinya itu hanya diam saja.
"Saya malu dengar omongan bapak, rasanya saya mau terbang." Jawab Intan dengan jujur.
Memang polos dan bodoh itu beda tipis. Bisa dilihat contohnya dari Intan yang terus saja membongkar rahasianya sendiri.
Ario semakin tertawa mendengar ucapan polos calon istrinya. Ia lalu kembali mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua.
"Ayo senyum, jangan lihatin saya terus." Ajak Ario dan Intan langsung menatap kamera.
Intan dan Ario sama-sama memasang senyuman terbaik mereka, dan hasilnya bagus untuk di simpan.
"Wahh, lumayan buat nakutin tikus di rumah saya." Ucap Intan bergurau.
"Di rumah kita saja taruhnya." Sahut Ario mengerlingkan matanya genit.
"Rumah kita?" Beo Intan antara bingung dan lola.
Ario menghela nafas, tanpa menunggu Intan yang masih berpikir, ia langsung menarik tangan gadis itu pergi dari sana.
"Pantas saja nggak ketahuan datangnya kapan, ternyata parkir di sini." Ucap Intan geleng-geleng kepala.
Ario tersenyum. "Sengaja, biar bisa langsung pergi." Sahut Ario lalu membukakan pintu untuk Intan.
Intan lekas masuk meski pikirannya blank sedikit, ini pertama kalinya Ario membukakan pintu mobil untuknya.
Ario memasang seatbelt nya, namun ketika melihat Intan masih belum memasang seatbelt nya. Ia lantas mendekat.
"Eh, bapak mau ngapain?" Tanya Intan reflek mundur dan menahan nafasnya.
Ario menatap gadis itu lalu tersenyum. Ditariknya seatbelt, kemudian memasangkan nya di tubuh Intan.
"Mau pasang ini, kamu kira saya mau ngapain. Nanti setelah menikah, baru kamu saya apa-apain." Jawab Ario terkekeh kecil.
Intan melototkan matanya mendengar ucapan Ario barusan. Pria dewasa itu memang tampan dan menggoda, namun juga mesumm.
"Bapak mesumm banget sih, apapun pikirannya kesana." Gerutu Intan tanpa menatap calon suaminya.
"Ngga mesumm, nggak normal Intan." Sahut Ario menjelaskan singkat.
Intan menoleh dengan raut wajah penuh tanya. "Oh gitu ya?" Tanya Intan.
Intan semakin tersipu. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela guna menutupi wajahnya yang dipastikan sudah seperti kepiting rebus.
"Pak Ario nggak capek-capeknya bikin gue melayang." Gumam Intan sangat pelan.
Intan hanya berharap bisa segera sampai ke tempat percetakan undangan. Setidaknya ia bisa mengatur nafas nya disana.
Jika di satu mobil begini, Intan yang kerepotan sendiri tidak bisa mengendalikan pikirannya.
"Kok diam saja, apa jendela itu lebih tampan dan wangi dari saya sampai-sampai kamu memperhatikan nya terus." Kata Ario tanpa menatap Intan.
"Hah, nggak kok. Saya cuma perhatiin jalan aja." Balas Intan gelagapan.
Ario hanya tersenyum mendengar jawaban Intan. Ia tidak menyangkal jika gadis yang awalnya ia kira bawel dan menyebalkan akan se-menggemaskan ini.
Ingat kan pertemuan mereka dulu, kemudian karena Ario tidak sengaja menabrak gadis itu di basemen mall, dan berakhir ia harus menemani Intan ke acara pernikahan teman kuliahnya.
Ario tidak menyangka jika semua itu akan membawa takdirnya untuk menikahi Intan. Meski dengan cara yang kurang baik, namun alasan mereka menikah akan selalu Ario kenang.
Ia menikahi Intan karena tanggung jawab, namun ia akan berusaha menyayangi dan mencintai Intan setelah mereka menikah nanti.
"Sekarang kenapa bapak senyum-senyum?" Tanya Intan yang ternyata memperhatikan Ario.
"Kamu memperhatikan saya terus ya?" Ario balik bertanya, melempar pandangan penuh kejahilan.
"Ya nggak, kebetulan aja noleh." Jawab Intan mengelak.
"Oh gitu, saya senyum-senyum lagi bayangin wajah perempuan cantik." Ucap Ario menjawab pertanyaan Intan sebelumnya.
Intan manggut-manggut. "Terima kasih, Pak. Saya memang cantik dan patut anda ingat terus." Sahut Intan.
"Tahu kamu ya kalo saya lagi bayangin kamu?" Tanya Ario, menoleh sesekali pada calon istrinya.
"Tahu lah, Pak. Disini siapa yang cantik selain saya, kita kan cuma berdua di mobil." Jawab Intan dengan santai.
Ario manggut-manggut, sudah tidak ada guna ia terus menyahuti ucapan Intan, karena pada akhirnya ia akan tetap kalah.
Setelah perjalanan beberapa menit, Intan dan Ario pun sampai ke tempat percetakan undangan itu. Karena acara digelar tidak terlalu mewah, sehingga hanya orang-orang terdekat yang mereka undang.
"Katanya cuma orang terdekat, kok sampai 500 orang." Celetuk Intan aneh.
"Ya memang itu orang terdekat, Sayang. Dari kamu dan saya," balas Ario tanpa menatap Intan.
__ADS_1
Intan lagi-lagi ingin terbang mendengar ucapan Ario yang tidak henti membuatnya merinding karena baper.
"Itu hanya orang terdekat, gimana kalo kita undang orang yang kita kenal. Satu Indonesia mungkin bapak undang ya." Celetuk Intan meledek.
"Mungkin saja iya." Sahut Ario dengan santai.
Intan mendengus, ia kan sedang bercanda tetapi Ario malah tidak menanggapi ucapannya dengan candaan juga.
Selesai mengambil undangan yang sudah dituliskan nama tamu, Ario dan Intan pun pergi untuk mulai membagikan undangan.
Untuk urusan dekor, gaun pengantin, MUA dan katering sudah mereka urus dalam satu vendor sehingga mereka tidak perlu repot-repot lagi.
"Kita makan dulu ya, kamu pasti belum makan." Ucap Ario tanpa menatap Intan, dan fokus menyetir mobilnya.
"Iyalah saya kan siap-siap selama 2 jam, gimana saya bisa makan. Emang ya, mau cantik itu ribet." Balas Intan dengan cepat.
"Padahal tanpa makeup pun kamu cantik." Puji Ario dari lubuk hati yang paling dalam.
"Kayak pernah lihat saya nggak pakai make-up aja." Cibir Intan menyandarkan tubuhnya di jok dan melipat tangannya di dada.
"Pernah dong, Bianca kirim ke saya muka kamu yang polos." Jawab Ario bergurau.
Intan hanya mencibir, karena ia tahu sahabatnya tidak mungkin memperhatikan wajah jeleknya pada Ario.
"Kita mau makan apa, Pak?" Tanya Intan celingak-celinguk.
"Makan nasi dong, masa makan kamu. Kalo makan kamu ya nanti, setelah sah." Jawab Ario dengan nada cepat.
Intan mengangkat sudut bibirnya. "Pria dewasa memang begini ya?" Tanya Intan.
"Begini gimana?" Tanya Ario bingung akan kalimat Intan yang ambigu.
"Pikirannya kesana terus, nggak bosan apa." Jawab Intan.
"Kamu juga nggak bosan tanya itu terus." Sahut Ario terkekeh pelan.
Intan melototkan matanya mendengar pertanyaan di jawab dengan pertanyaan lagi.
"Suka-suka saya lah." Ucap Intan sewot.
"Iya, saya juga suka kamu." Balas Ario tidak nyambung, namun terdengar begitu manis.
Intan berdecak, jika terus berada di dekat Ario, maka bisa-bisa ia diabetes mendengar ucapan demi ucapan yang begitu manis dan menggoda.
"Saya lama-lama diabetes dengar omongan bapak yang sok romantis." Cibir Intan.
"Saya sok romantis? Yakin kamu bilang begitu? Mau saya tunjukkin saya seromantis apa sama kamu?" Tanya Ario menantang.
"Nggak deh, saya keburu pusing dengerin bapak ngomong gombal." Tolak Intan menggelengkan kepalanya.
"Kamu pusing hampir pingsan itu artinya terlalu terlena dengan apa yang saya ucapkan. Suka kan kamu?" Tanya Ario.
"Bapak kok jadi banyak omong sih, perasaan dulu banyak diamnya. Boro-boro mau gombal, ditanya aja cuma ngangguk." Sahut Intan mengingatkan Ario yang dulu.
"Itukan dulu, masa saya dingin dan cuek sama calon istri." Timpal Ario melempar senyuman yang begitu manis.
Intan merinding melihatnya, bukan merasa takut tapi merasa terpesona. Pria yang dulunya cuek, kini malah manis sekali bicaranya.
Intan jadi penasaran akan seperti apa Ario ketika mereka sudah menikah nanti.
"Bapak mau ngajak saya makan atau nggak sih?" Tanya Intan.
"Mau lah, ini saya lagi cari makanan yang enak." Jawab Ario.
Kening Intan mengkerut. "Kenapa nggak tanya saya?" Tanya Intan.
"Nanti kamu jawab terserah, akhirnya saya juga yang disuruh mikir." Jawab Ario seraya menatap ke pinggir jalan, mencari makanan yang enak.
Intan menekuk wajahnya, pria jaman sekarang itu sudah pandai memahami wanita. Tanpa bertanya karena sudah tahu jawabannya pasti terserah.
Setelah mencari-cari, akhirnya Ario membelokkan mobilnya ke salah satu restoran yang ada di dekat sana. Restoran sederhana, alias Padang.
"Bapak tahu aja saya mau makan nasi Padang." Celetuk Intan penuh semangat.
"Tahu lah, kan kita satu hati." Sahut Ario terkekeh.
Intan mendengus. "Seharian sama bapak bisa-bisa saya kembung makan gombalan bapak." Cetus Intan lalu keluar duluan dari mobil, sementara Ario tertawa terbahak-bahak.
"Astaga gadis itu." Gumam Ario geleng-geleng kepala.
SERUUU YA CALON MANTEN KALO KETEMU 🤣
Bersambung...............................
.
__ADS_1