Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Bertengkar dipagi hari


__ADS_3

Bianca baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri dan berpakaian. Ia mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, kemudian melangkah mendekati meja rias.


Baru saja Bianca duduk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Masuk." Ucap Bianca mempersilahkan.


Tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, tampak seorang art berjalan pelan mendekati majikannya.


"Pagi, Nyonya. Maaf mengganggu, anu … ada nyonya Yola di bawah. Katanya mau ketemu Kiano." Ucap art itu dengan sedikit ragu.


Bianca yang saat itu sedang memakai skincare siang nya langsung terdiam, gerakannya yang sedang menggosok halus krim di wajahnya seketika berhenti begitu saja.


"Siapa? Mbak Yola?" tanya Bianca mengulangi.


"Saya dan yang lain sudah berusaha untuk bilang bahwa den Kiano belum bangun, tapi dia memaksa." Ucap art itu menjelaskan.


Bianca menganggukkan kepalanya. "Yaudah tidak apa-apa, bibi boleh pergi. Makasih ya," balas Bianca ramah.


Art itu menganggukkan kepalanya, ia lalu pamit keluar dulu karena harus melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Bianca pun lekas menyelesaikan urusannya dengan wajahnya ini. Sambil berkaca diri, Bianca tidak henti menggerutu sebab mantan istri suaminya itu sangat mengganggu.


"Apa dia tidak bisa melihat waktu saat ingin bertemu. Dasar wanita menyebalkan!" gerutu Bianca seraya beralih mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Bianca bangkit dari duduknya, ia melihat ke arah Kiano yang masih begitu pulas dengan tidurnya. Bianca pun memutuskan untuk keluar, tanpa membangunkan Kiano.


Bukan Bianca melarang Yola bertemu anaknya, melainkan ini masih terlalu pagi untuk bertamu.


Sampai di lantai bawah, Bianca melihat Yola sedang duduk dengan gayanya yang begitu angkuh. Seperti biasa, wajahnya akan memasang ekspresi sombong saat menatap Bianca.


Bianca pun tidak mau kalah, ia menatap mantan istri suaminya dengan malas dan sedikit sinis, bahkan tangannya sengaja ia lipat di dada.


"Dimana Kiano, aku ingin bertemu putraku?" tanya Yola dengan angkuh.


Bianca menghela nafas, berusaha untuk sabar padahal rasanya ia ingin menjambak rambut perempuan itu.


"Mbak, ini masih terlalu pagi. Kiano masih tidur." Jawab Bianca dengan nada biasa.


"Lagipula, apa jam dirumah mbak mati sampai-sampai mbak tidak tahu waktu untuk bertamu ke rumah orang?" Tanya Bianca dengan nada santai, namun langsung jleb.


Yola menatap Bianca kesal, ia menganggap gadis itu telah melarang dirinya bertemu dengan anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kamu mau melarangku bertemu anakku sendiri?" Tanya Yola dengan mata yang melotot.


"Terserah mbak pikir apa, yang jelas ini masih terlalu pagi dan Kiano masih tidur." Jawab Bianca.


Yola mengepalkan kedua tangannya, ia tidak terima jika dirinya dilarang bertemu dengan Kiano.


"Dimana Raka? Panggil dia!" pinta Yola sedikit berteriak.


Bianca murka, emosinya langsung tersulut mendengar nada bicara Yola yang begitu tinggi bahkan terkesan berteriak.


"Jaga nada bicara anda, Mbak. Ini rumah saya, jadi mbak nggak punya hak teriak-teriak di rumah orang, apalagi pagi-pagi!" Tegur Bianca dengan tegas.


Bianca mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah pintu keluar.


"Keluar dari rumah saya, anda tidak sopan." Usir Bianca dengan begitu berani.


Tentu saja, atas dasar apa Bianca jika dirinya takut. Ia adalah nyonya di rumah itu, dia istri Raka.


"Apa hakmu mengusir ku hah! Ini rumah Raka, rumah putraku Kiano." Tolak Yola kembali berteriak.


Bianca tiba-tiba tertawa dengan begitu lepas, merasa lucu dengan apa yang Yola katakan barusan.


Bianca menghentikan tawanya, ia menatap tajam dan penuh permusuhan pada wanita kurang ajar di depannya ini.


"Saya Bianca, istri mas Raka. Nyonya Raka Dewangga!" ucap Bianca dengan begitu bangga.


Raut wajah kesal dan tidak suka semakin tercetak jelas di wajah Yola. Wanita itu mendekati dan siap menyentuh Bianca, namun Bianca buru-buru mendorong wanita itu agar menjauh.


"Kau, dasar anak kecil kurang ajar. Bagaimana bisa Raka menikahi gadis sepertimu," ucap Yola dengan kesal.


"Tentu saja bisa, dia tidak akan mengulangi kesalahannya dengan menikahi perempuan seperti anda, Mbak." Sahut Bianca tidak mau kalah.


"Kau …" Yola mengangkat jari telunjuknya, namun ucapannya menggantung.


"Apa? Saya benar kan. Pria hebat dan setia seperti mas Raka tidak pantas memiliki istri seperti anda. Suka selingkuh dan tidak pernah tulus mencintai suami!" Ujar Bianca dengan nada tinggi.


"Tahu apa kau tentang cinta hah! Kau bahkan tidak bisa menerima Raka sebagai suamimu." Timpal Yola dengan nada lebih tinggi lagi.


"Cinta? Saya mencintai suami saya, bahkan sangat mencintainya. Saya harap jawaban saya ini bisa membuat mbak sadar jika mas Raka sudah berkeluarga." Bianca bicara dengan begitu lantang.


Bianca masih kesal, ia mencekal lengan Yola kemudian menyeretnya keluar dari rumahnya.

__ADS_1


"Lepaskan! Dimana Raka? RAKA!!!" teriak Yola memanggil-manggil nama mantan suaminya.


Bianca menghempaskan tubuh Yola sampai keluar dari rumahnya.


"Jangan anda pikir bahwa saya tidak tahu apa niat anda, Mbak. Anda mau kembali ke suami saya setelah dikhianati kan." Tebak Bianca.


Bianca melipat tangannya di dada, ia berjalan mendekati wanita itu dengan seulas senyuman.


"Meskipun usia saya lebih muda dari anda, tapi jika anda ingin mengajak saya ribut, maka saya tidak takut. Yang jelas, saya tidak akan membiarkan rumah tangga saya diganggu wanita seperti anda." Ucap Bianca dengan begitu tenang, namun tegas.


Yola tiba-tiba terkekeh kecil. "Kau yakin, apa kau tidak takut jika aku bisa merebut suamimu kembali. Entah dengan cara kotor ataupun cara yang bersih." Ucap Yola pelan.


Bianca tertawa begitu lepas, Yola ini benar-benar sudah gila. Jelas sejak dia masih menikah dengan Raka, pria itu tidak mencintainya.


"Mbak ini memang nggak waras ya? Mbak lupa, dulu saat kalian masih menjadi suami istri saja, mas Raka itu cuma cinta sama saya. Saya cinta mati nya mas Raka," timpal Bianca masih tertawa.


"Mau merebut mas Raka? Heuh, bermimpi saja sana, huss …" usir Bianca lalu menutup pintu dengan sedikit kasar.


"BIANCA, RAKA!!!" teriak Yola tidak terima dengan perlakuan Bianca padanya.


Sementara Bianca, ia langsung pergi ke dapur untuk minum. Ia ingin mendinginkan kepalanya yang terasa ingin pecah.


"Bi, tolong buatin aku jus apel ya. Jangan manis-manis," ucap Bianca seraya menarik kursi untuk duduk.


Bianca memegangi kepalanya, membuat pelayan di rumah itu saling pandang.


"Nyonya, lebih baik jangan meladeni nyonya Yola, dia itu memang rada-rada sejak dulu." Ucap salah satu art.


Bianca menatap keduanya. "Tidak usah panggil dia nyonya, dia bukan nyonya kalian. Dan ya, kalian benar. Aku bisa ikutan gila jika terus meladeninya." Sahut Bianca terkekeh.


Bianca geleng-geleng kepala, ia tadi nyaris menjambak rambut wanita itu. Sial sekali Yola, berani berteriak di rumahnya.


"Aku harus bilang sama mas Raka." Gumam Bianca.


"Eh tapi jangan deh, kasihan nanti dia kepikiran masalah yang nggak penting ini." Tambah Bianca setelahnya.


Bianca memijat pelipisnya, ia benar-benar merasa pusing padahal baru meladeni Yola sebentar. Wanita itu benar-benar membawa dampak buruk.


MAAF YA UPDATE MALAM, AKU KULIAH GUYSS :'(


Bersambung..........................

__ADS_1


__ADS_2