Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Hari pertama sekolah


__ADS_3

Bianca begitu bersemangat membantu putranya untuk siap-siap ke sekolah. Bocah itu sudah memakai seragam putih kotak-kotak dan celana hijau toska.


Kiano tidak hentinya tersenyum, menggendong tas sekolahnya dan menggandeng tangan maminya untuk keluar dari kamar.


Hari ini adalah hari pertama Kiano sekolah, jadi Bianca akan mengantar dan menunggu putranya sampai pulang.


Kebetulan Bianca ada jam di kampus pukul 1 nanti, dan Kiano pulang pukul 11 siang.


"Papi!!!" Panggil Kiano berlari mendekati papinya.


Raka tersenyum lebar, ia membuka tangannya lalu menyambut pelukan dari putranya yang selama ini selalu menolak untuk sekolah.


Raka begitu bersyukur sebab istrinya bisa membujuk Kiano. Bocah itu mau untuk sekolah, dan itu adalah kabar baik untuk Raka dan keluarganya.


Dulu jangankan mama Wina, Raka saja gagal membujuk Kiano untuk pergi ke sekolah. Bocah itu takut dengan alasan teman-temannya akan mengejek dirinya yang tidak punya mami.


"Karena sudah sarapan semua, ayo berangkat." Ajak Bianca pada suami dan anaknya.


Raka menggendong Kiano dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk merengkuh pinggang ramping sang istri.


"Nanti aku jemput ya, sekalian aku antar kamu ke kampus. Kita makan siang bersama," ucap Raka pada istrinya.


"Iya, Mas." Balas Bianca menganggukkan kepalanya.


Sekolah Kiano jaraknya dekat dari kantor Raka, maupun kampus Bianca. Singkatnya, sekolah itu berada di tengah-tengah tempat yang menjadi tujuan Raka dan Bianca setiap jam kerja.


Sesampainya di sekolah, Raka dan Bianca keluar bersama. Mereka mengantar Kiano sampai ke depan kelasnya.


"Belajar yang benar ya, Sayang. Mami disini tunggu kamu," tutur Bianca dengan senyuman hangat.


Kiano terlihat gugup dan takut, bahkan ia tak kunjung mendatangi gurunya yang sudah menyambut kedatangannya di hari pertama.


"Tidak perlu gugup, Nak. Teman-teman di dalam baik kok," tutur Raka ikut berlutut di depan putranya.


Kiano menatap papi dan mami nya bergantian, ia lalu beralih menatap guru yang masih setia menunggu dirinya di depan ruang kelas.


"Ayo Kiano sama ibu, nanti kita kenalan sama teman-teman lain." Ajak guru bernama Bu Etty itu.


Kiano akhirnya menghampiri gurunya dan ikut masuk. Kiano menatap kelas tersebut sambil memainkan jarinya, tanda bahwa bocah itu merasa takut.


"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru, namanya Kiano." Ucap bu guru memperkenalkan.


"Hai, Kiano!!" Serempak seisi ruangan langsung menyapa Kiano riang.


Kiano yang awalnya memasang wajah takut, kini berubah menjadi senyuman. Ia senang karena ternyata teman-temannya tidak nakal.


Sementara Bianca dan Raka memperhatikan anak mereka melalui jendela kelas.


Tanpa bisa di cegah, Raka hampir meneteskan air matanya. Ia begitu terharu melihat putranya mau sekolah dan berinteraksi dengan lingkungan seperti saat ini.


Bianca tersenyum, lalu ia menoleh dan menyadari ketika Raka menyeka sudut matanya.


"Mas." Panggil Bianca memegang bahu sang suami.


Raka tersenyum, ia menghela nafas lalu terkekeh pelan.


"Lucu ya anak kita." Ucap Raka mengalihkan topik.


Bianca tersenyum. "Hmmm, lucu dan tampan seperti papinya." Balas Bianca.


Bianca memegang tangan sang suami, ia lalu mengajak Raka untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sana.


Bianca raih tangan suaminya, lalu ia genggam dengan erat.


"Terharu ya?" Tanya Bianca pelan.


Raka mengusap sebentar wajah cantik istrinya. Sadar dimana saat ini mereka berada, karena jika tidak mungkin ia sudah mendekap tubuh mungil istrinya sekarang.


"Makasih ya." Ucap Raka lalu menciumi punggung tangan sang istri.


"Nggak perlu minta maaf, Mas. Kiano juga anak aku, dan tentu saja aku mau yang terbaik untuknya." Sahut Bianca.


Raka tersenyum tipis, andai kata tidak ada meeting penting, maka Raka lebih baik disini bersama istrinya.


"Sudah hampir terlambat, sana ke kantor pak CEO." Tutur Bianca pada sang suami.

__ADS_1


Raka menghela nafas kasar, lalu menganggukkan kepalanya. Ia bangkit dari duduknya, disusul oleh Bianca juga.


"Aku berangkat ya, ingat! Nanti aku jemput, jadi jangan berani pulang sendiri." Kata Raka mengingatkan.


Bianca terkekeh, ia merapikan posisi dasi sang suami lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, mas ku tersayang." Balas Bianca dengan suara yang manja.


Raka pun lekas pergi meninggalkan sekolah putranya, bersama istrinya di sana yang sengaja mau menunggu Kiano.


Raka masuk ke dalam mobil, ia langsung tancap gas menuju kantornya dan menghadiri meeting penting.


"Banyak sekali pekerjaan hari ini, astaga!!" Gumam Raka memijat pelipisnya.


Raka hanya akan mengeluh sendiri, itu pun hanya sedikit. Raka tidak pernah menunjukkan bahwa ia lelah kepada anak dan istrinya.


Raka hanya tidak mau membuat sang istri sampai khawatir akan kondisinya yang mungkin hanya kelelahan saja.


Sampai di kantor, Raka langsung masuk dan disambut oleh sekretaris yang sudah menunggu sambil membawa dokumen rapat.


"Sudah siapkan semuanya?" Tanya Raka seraya melangkah cepat ke dalam lift.


"Sudah, Pak." Jawab sekretaris itu sopan.


Harusnya Raka ke ruangannya dulu, namun karena sudah terlambat sehingga ia langsung masuk ke dalam ruang meeting dimana sudah banyak yang menunggu dirinya.


"Selamat pagi semuanya." Sapa Raka penuh semangat.


Raka memilliki pendapat bahwa, seorang atasan harus memiliki wibawa dan rasa semangat yang besar. Karena semangatnya seorang atasan akan memotivasi para bawahannya untuk ikut semangat.


"Pagi, Pak." Balas para karyawan dengan sopan dan bersamaan.


"Silahkan duduk, dan kita langsung mulai saja meeting pagi ini." Tutur Raka mempersilahkan setelah dirinya duduk duluan.


Seorang karyawan maju dan menjelaskan apa yang sudah seharusnya di jelaskan. Raka menyimak dengan serius dan meresap poin yang menurutnya penting dan perlu masukan darinya.


Di tengah-tengah meeting berjalan, tiba-tiba saja ponsel Raka bergetar di atas meja. Ia melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata adalah orang tidak penting.


Raka memilih mengabaikannya.


Setelah hampir satu jam, akhirnya meeting pun selesai. Raka memberikan apresiasi kepada karyawan yang sudah bekerja sangat keras dengan memberikan mereka bonus tiket liburan.


"Tidak ada lagi meeting kan?" Tanya Raka pada sekretarisnya.


"Iya, Pak. Hanya ada beberapa dokumen yang butuh persetujuan dan tanda tangan anda." Jawab wanita itu sopan.


Raka manggut-manggut, ia pun lekas masuk ke dalam lift saat pintunya terbuka. Raka menekan tombol lantai dimana ruangannya berada.


Sampai di lantai tujuan, Raka terkejut melihat seorang wanita duduk di sofa yang ada di sana. Biasa digunakan para tamu untuk menunggu dirinya.


Sekretaris Raka tampak mengerti, ia meletakkan dokumen rapat tadi lalu mendekati si wanita.


"Pagi, Nona. Ada keperluan apa anda kemari?" Tanya sekretaris Raka.


Wanita itu memutar bola matanya jengah. Tanpa menjawab pertanyaan sekretaris itu, si wanita langsung berjalan mendekati Raka.


"Ra–" ucapan wanita itu terhenti saat Raka mengangkat tangannya, tanda meminta dirinya untuk diam.


"Kau pergilah …" ucap Raka pada sekretarisnya.


Briana tersenyum senang mendengar Raka mengusir sekretarisnya.


"Pergi dan panggil satpam untuk mengusir wanita itu." Tambah Raka lalu masuk ke dalam ruangannya tanpa menghiraukan panggilan wanita itu.


Sekretaris Raka tampak menahan tawa melihat penolakan atasannya untuk yang kesekian kalinya.


"Diam kamu!!" Tegur Briana kesal.


"Anda seharusnya sadar diri, Nona. Istri pak Raka sangat cantik, jadi tidak mungkin pak Raka memilih anda yang …" sekretaris Raka menggantung ucapannya, lalu mengangkat kedua bahunya.


"Apa maksudmu!" Tegas Briana tidak terima akan kata-kata sekretarisnya Raka.


Pertanyaan Briana tidak dihiraukan sama sekali dan itu membuat dirinya kesal.


Tidak lama kemudian satpam datang dan langsung memegang tangan Briana.

__ADS_1


"Lepas! Aku bisa pergi sendiri." Ketus Briana kemudian pergi meninggalkan kantor Raka.


***


Raka membuka kaca mobilnya ketika ia melihat anak dan istrinya sudah menunggu di depan halte.


Raka sebelumnya sudah mengatakan untuk menunggu di depan kelas Kiano saja, namun Bianca menolak.


Raka sendiri terlambat menjemput karena macet sekali jalanan tadi.


"Panas ya, maaf papi telat." Ucap Raka pada anak dan istrinya.


Bianca melirik jam di tangannya. "Hanya 10 menit, itu bukan masalah, Sayang." Balas Bianca.


"Papi, hari ini sangat menyenangkan!!!" Ucap Kiano berteriak senang.


Bianca terkekeh mendengar ucapan Kiano yang begitu bahagia dan penuh semangat.


"Benarkah? Apa yang membuat Abang senang?" Tanya Raka, melirik putranya melalui kaca tengah mobil.


"Karena aku punya banyak teman. Eumm … ada yang namanya Leo, Sisi, Fathir, dan Ara." Jawab Kiano, bocah itu sedikit lebih lama untuk menyebut nama-nama temannya.


"Wahh, sudah punya banyak teman ya." Ucap Raka senang.


Kiano mengangguk cepat. "Iya, dan aku besok mau sekolah lagi!!!" Sahut Kiano.


Bianca tertawa sembari mengusap-usap perutnya. "Harus dong." Timpal Bianca.


Raka menatap istrinya, ia ikut memegang perut Bianca dan memberikan usapan lembut di sana.


"Mau makan apa?" Tanya Raka pada Kiano dan Bianca.


"Mami bilang ingin makan ayam bakar." Jawab Kiano begitu jujur.


"Baiklah, mari kita cari ayam bakar untuk mami dan adik bayi." Celetuk Raka seraya menoleh ke kanan dan kiri.


Bianca tersenyum haru. Anak dan ayah itu sangat sama, sama-sama perhatian padanya.


"Sayang." Panggil Raka tanpa menatap Bianca.


"Apa, Mas?" Sahut Bianca mengerutkan keningnya.


"Kita makan agak lama kayaknya, nanti kamu telat nggak ke kampus." Ucap Raka memikirkan tentang istrinya.


"Nggak kok," sahut Bianca yakin.


Satu keluarga kecil dan bahagianya itu akhirnya sampai di restoran yang menjual ayam bakar.


Mereka bertiga lekas masuk ke dalam restoran dan memilih duduk di meja tengah-tengah. Tidak terlalu pinggir maupun pojok.


"Sayang, mau apa saja?" Tanya Bianca pada putranya.


"Aku mau ini, ini dan ini." Jawab Kiano menunjuk daftar menu.


"Saya mau ayam bakar dan air putih dingin saja." Kata Bianca pada pelayan yang menulis pesanan.


"Kamu apa?" Tanya Bianca.


"Saya mau iga bakar dan jus jeruk." Jawab Raka dan berbicara menatap si pelayan.


Sambil menunggu pesanan, mereka pun bertanya-tanya pada Kiano yang baru saja mengemban ilmu di sekolah hari ini.


"Ada pr tidak dari ibu guru?" Tanya Bianca.


"Ada, Mami. Aku harus membuat kata-kata untuk mami." Jawab Kiano dengan ekspresi wajah polos.


"Kata-kata?" Beo Raka bingung.


"Semacam puisi kayaknya, Mas." Jawab Bianca memperjelas.


Raka mengusap-usap kepala Kiano. "Harus kreatif ya, dan sampaikan apapun yang Abang mau omongin ke mama." Tutur Raka dan Kiano menganggukkan kepalanya.


Bianca hanya mendengarkan saja suami dan anaknya berbicara, sambil sesekali merapikan rambut Kiano yang sedikit di potong karena mau sekolah.


"Kalo baby mirip papi juga, udah deh jadi kembar tiga." Batin Bianca senyum-senyum sendiri ketika melihat Raka dan Kiano sangat mirip.

__ADS_1


MAAF YA KEMARIN NGGAK UPDATE 😭


Bersambung.....................................


__ADS_2