
Bianca tidak marah saat Raka menahan dirinya untuk terus di dalam kamar. Ya, ini sudah pukul 10 pagi, tapi Bianca belum keluar dari kamar sama sekali.
Bianca mendongak sedikit, menatap wajah suaminya yang memejamkan mata. Bianca tersenyum tipis merasakan usapan lembut di punggungnya.
"Mas, Kiano pasti nyariin aku." Ucap Bianca berbisik.
Raka membuka matanya, ia menatap lamat-lamat wajah cantik istrinya lalu tersenyum.
"Kiano pasti tahu kalo papinya sedang ingin di manja." Balas Raka lembut.
"Ingat, Sayang. Saya harus pergi satu minggu, jadi anggap saja saat ini saya sedang mengisi stamina saya dengan memeluk kamu puas-puas." Tambah Raka lalu kembali memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya.
Bianca terkekeh, ia berusaha untuk mendorong Raka yang ada saja alasannya.
"Kita dari pagi, Mas. Masa stamina kamu belum penuh." Cicit Bianca menyindir.
Memang, mereka sama-sama bangun jam 7 pagi lalu langsung mandi dan berpakaian. Saat hendak keluar dari kamar, Raka menahan dirinya hingga saat ini.
"Iya belum, sebentar lagi ya. Eumm … beri saya sepuluh menit." Pinta Raka memelas.
Bianca mengangkat kedua tangannya lalu membenarkan posisinya sehingga kini ialah yang memeluk Raka.
"Mas, jangan mesumm ya." Cibir Bianca saat Raka mendaratkan kepalanya di dada Bianca.
Raka mendongak. "Jika bukan disini, saya harus mendaratkan kepala saya dimana?" tanya Raka mengangkat kedua alisnya.
Bianca terkekeh, ia manggut-manggut kemudian menarik kepala Raka untuk menyandar di dadanya.
Raka tersenyum tanpa Bianca tahu, ia semakin mengeratkan pelukannya dan sedikit mendusel.
"Mas!" tegur Bianca saat merasakan suaminya ini tidak bisa diam.
Raka mendongak, ia menemukan wajah istrinya yang mulai garang. Matanya melotot dan gigi yang bergemelatuk.
"Kamu tuh emang makin kesini makin kesana." Kata Bianca dengan mata yang berubah menyipit, seakan tengah mengintrogasi suaminya.
Raka bangkit dari posisinya. "Kamu dari semalam gitu terus, coba jelasin ke saya maksudnya apa?" pinta Raka dengan sabar.
"Ya … ya kamu, makin aku peluk kamu malah makin ambil kesempatan." Jelas Bianca ragu-ragu.
Raka mendekatkan wajahnya ke wajah cantik istrinya. "Ambil kesempatan?" tanya Raka berbisik.
Bianca menatap mata Raka dengan jantung yang berdetak tidak karuan, ia memegang dada bidang itu dan sedikit menahannya.
"Kamu bilang saya ambil kesempatan, sini saya tunjukkin gimana itu ambil kesempatan yang kamu bilang." Ucap Raka lagi.
__ADS_1
Raka semakin mendekatkan wajahnya, dan langsung mendaratkan bibirnya diatas bibir manis Bianca. Hanya menempel saja, Raka tidak menggerakkan nya.
Raka hanya bercanda, sehingga ia tidak akan memainkan bibir istrinya tanpa izin. Hanya kecupan singkat, setelah itu ia menjauhkan wajahnya.
"Maaf ya, saya hanya bercanda. Ya sudah, ayo kita bangun dan keluar." Ajak Raka dengan senyuman manis seperti biasa.
Raka menyibak selimut yang mereka gunakan, namun saat Raka hendak menurunkan kakinya ke lantai, ia dibuat kaget oleh Bianca yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Kurang ajar, kamu mau langsung pergi gitu aja setelah cium aku?" tanya Bianca sedikit marah.
Raka hendak bertanya, namun Bianca malah menarik kaosnya di bagian leher kemudian mencium bibirnya duluan.
Raka syok, ini pertama kalinya Bianca mencium dirinya duluan. Biasanya Raka yang akan meminta izin untuk menciumnya.
Bukan sekedar menempelkan bibir saja, melainkan Bianca gerakkan bibirnya untuk mengecap bibir suaminya yang membuat ia candu.
Melihat Bianca yang begitu menikmati ciuman mereka, Raka pun menangkup wajah Bianca lalu memperdalam pangutan bibir mereka.
Bianca melingkarkan tangannya di leher sang suami, dan di balas Raka dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
Kepala Raka miring kanan, miring kiri guna mencari posisi yang pas untuk memperdalam kecupan demi kecupan bibir mereka.
Secara naluriah, Raka perlahan mendorong Bianca untuk berbaring dan Bianca tidak menolak. Kini posisinya Raka seperti menindih tubuh mungil istrinya.
Bianca masih memejamkan matanya, sementara Raka memandangi wajah Bianca sambil memberikan usapan lembut di rambutnya.
Raka menunduk, ia mencium kening dan kedua pipi istrinya yang begitu halus. Namun karena Bianca lagi-lagi tidak menolak, Raka memilih untuk memberanikan diri berjelajah kali ini.
"Sayang." Panggil Raka dengan suara yang memberat.
Bianca membuka matanya perlahan, membalas tatapan Raka yang begitu memuja dirinya. Selain tatapan penuh pemujaan, bisa Bianca lihat tatapan penuh harapan.
"Lakukan saja, Mas." Bianca tidak kalah berbisik.
Raka tersenyum, ia lalu kembali mencium kening lalu turun ke bibir. Mereka kembali menyesap rasa dari bibir masing-masing.
Tangan Raka mengarah ke arah kancing daster yang Bianca kenakan. Ya, hari ini Bianca mengenakan daster model kancing.
Raka menjauhkan bibirnya, ia menurunkan kecupan demi kecupan di leher istrinya yang harum dan begitu menggoda sisi kelakiannya.
Raka memberikan kecupan basah bahkan sampai memberikan tanda di leher Bianca. Hal yang baru pertama kali Raka lakukan.
"Eumhhhh …." Lenguh Bianca saat merasakan kecupan Raka semakin membuatnya tak tahan.
Raka mengangkat wajahnya, ia tersenyum melihat Bianca yang tetap memejamkan matanya dengan peluh yang sedikit membasahi keningnya.
__ADS_1
"Bi, saya sangat mencintai kamu. Lebih dari apapun, kamu istri saya Bi." Bisik Raka dengan penuh semangat dan ketulusan.
Bianca tidak membalas apapun, ia hanya membuka matanya lalu mengusap rahang tegas suaminya.
Raka lalu menunduk sedikit, melihat tiga kancing daster Bianca telah ia buka.
"Bi, kamu yakin saya boleh membukanya?" tanya Raka yang dijawab anggukan kepala oleh Bianca.
"Iya, Mas. Lakukan saja, ini hak kamu." Jawab Bianca memperjelas.
Tangan Raka tampak gemetaran, ia memegang kedua sisi daster yang sudah terbuka itu lalu menyingkirkannya.
Mata Raka seketika melotot melihat pemandangan yang baru pertama kali ia lihat dari tubuh istrinya.
Dada Bianca tidak terlalu besar, namun terlihat sangat menggoda dengan penopang berwarna merah yang begitu kontras dengan kulit putihnya.
"Bi, indah sekali. Boleh saya–" ucapan Raka terhenti saat pintu kamar mereka di ketuk.
Bianca melotot, ia buru-buru menutup pakaiannya dan menarik selimut guna menutupi tubuhnya sampai batas leher.
"Sial." Umpat Raka lalu buru-buru bangkit dan membuka pintu.
Pintu terbuka, Raka kaget melihat ibunya disana. "Mama!!" Pekik Raka.
"Kenapa kamu kaget begitu. Menantu mama mana?" tanya mama Wina.
Raka kalang kabut, ia bahkan sampai menyeka keringat sampai paniknya. Padahal Raka melakukan dengan istrinya, tapi entah mengapa ia ketakutan.
"Ada apa, Ma?" Bianca tiba-tiba muncul dengan penampilan yang sudah ia rapikan sedikit.
"Eh, Sayang. Sini deh, mama punya sesuatu untuk kamu." Ajak mama Wina langsung menarik tangan menantunya.
Bianca menoleh, ia bisa melihat wajah suaminya yang memelas, bahkan sampai bersandar di pintu dengan lesuh.
"Sabar ya." Ucap Bianca tanpa suara.
Raka ingin sekali berteriak dan membawa istrinya kembali masuk ke kamar, namun ia tidak enak kepada orang tuanya yang entah kapan datang, dan langsung mengganggu kesenangannya.
"Ck, sialann!!!" Umpat Raka kesal sambil menjambak rambutnya sendiri.
Raka menunduk, ia kembali mengerang karena harus menuntaskan ini sendirian. Raka harus mandi lagi!!
NANGIS BANGET JADI MAS RAKA 😭😭
Bersambung............................
__ADS_1