Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Makan malam diluar


__ADS_3

Raka pulang dari kantor dengan perasan bingung, pasalnya Bianca terlihat murka. Raka menerka apakah ia telah berbuat salah atau tidak, tapi sepertinya tidak. Bahkan Raka mengizinkan Bianca pergi bersama temannya.


Raka mendekati istrinya yang masih duduk di depan meja rias dengan wajah yang menekuk.


"Kamu kenapa, Bi? Saya ada buat salah sama kamu?" tanya Raka dengan lembut.


Bukan hanya lembut, bahkan Raka bertanya apakah ia ada salah atau tidak, saking Raka tidak enak didiamkan oleh istrinya.


Bianca menatap Raka dari pantulan cermin. Ia tidak menyahut langsung pertanyaan dari suaminya.


Bianca bangkit dari duduknya, lalu naik ke atas ranjang. Raka terus mengekor dan kembali duduk di sebelah Bianca.


"Benar kan apa aku bilang." Ucap Bianca tanpa menjelaskannya dulu kepada Raka.


"Tentang apa, Sayang? Saya nggak paham kamu ngomong apa." Sahut Raka kebingungan.


"Mantan istri kamu, benar kan yang aku bilang kalo dia itu mau kembali lagi sama kamu." Jelas Bianca sedikit sewot.


Raka menghela nafas, ia turun dari ranjang lalu memilih untuk duduk di sofa.


"Bukannya saya sudah katakan untuk jangan membahas ini, saya nggak mau kembali sama masa lalu saya, Bi." Ucap Raka tanpa menatap istrinya.


Bianca melongo, rupanya Raka salah paham dengan ucapannya. Bianca lantas ikut turun dari ranjang, ia buru-buru mengejar suaminya yang mau keluar kamar.


"Mas, bukan gitu. Kamu salah paham, aku bukan bahas kita." Ujar Bianca seraya memegang lengan suaminya.


Raka menoleh, menatap wajah cantik yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Maksudnya gimana? Buat saya paham." Pinta Raka seraya mengusap punggung tangan istrinya.


Bianca menarik nafas, lalu membuangnya perlahan. Ia menatap Raka dengan kekesalan yang masih menggebu-gebu.


"Tadi mbak Yola datang kesini, dia bilang aku bukan ibu yang baik untuk Kiano. Bahkan mulutnya enteng sekali bilang aku nikah sama kamu karena uang." Jelas Bianca dengan tangan mengepal.


"Kiano tuh tadi nangis, Mas. Dia takut sama mbak Yola, aku bilangin tapi perempuan itu malah bilang yang nggak-nggak tentang aku. Aku kesel, emosi. Pengen aku jambak rambutnya." Tambah Bianca dengan emosi yang semakin meletup-letup.

__ADS_1


Raka berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap lalu mencium punggung tangan istrinya. Ia melempar senyuman khas yang hanya diberikan pada Bianca serta Kiano.


"Jangan dong, sayang banget kan tangan lembut kamu berbuat hal nggak penting." Tutur Raka menyahuti ucapan Bianca.


"Habisnya aku kesal, Mas. Enak sekali dia bilang aku nikah sama kamu karena uang, dia juga mengatakan aku bukan ibu yang baik." Ucap Bianca semakin pelan di akhir kalimat.


"Mungkin aku bukan ibu yang baik dulu, tapi kan sekarang aku sudah belajar untuk menerima kamu dan Kiano. Apa itu masih dibilang tidak baik?" tanya Bianca pada suaminya.


Raka terkekeh, ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tentu saja tidak, Bianca adalah istri dan ibu terbaik untuknya dan Kiano.


"Tentu saja tidak, kamu ini istri dan ibu yang baik." Jawab Raka jujur.


Raka mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, guna menatap wajah cantik yang terlihat lebih merah. Entah marah atau malu karena posisi mereka sangat dekat sekarang.


"Sejujurnya, mungkin dia sedang mendefinisikan dirinya sendiri. Dia itu bukan istri apalagi ibu yang baik. Dia pergi meninggalkan anaknya, hanya demi seorang pria." Bisik Raka sambil tersenyum.


Bianca menoleh, ia terkekeh lalu mencubit lengan Raka karena gemas. Bisa-bisanya Raka berpikir begitu, tapi mungkin memang bisa. Raka jauh lebih mengenal mantan istrinya.


Raka menangkup wajah cantik sang istri, ia lalu menatap manik mempesona itu dengan penuh pemujaan.


Bianca tersenyum. "Mau!!" balas Bianca tidak menolak.


Raka tertawa lagi, sengaja ia ingin mengajak anak dan istrinya makan diluar, sebab besok siang ia harus pergi ke luar kota selama seminggu.


Raka tentu belum memberitahu istrinya tentang hal ini, ia akan bicara setelah mereka pulang makan malam saja.


***


Raka mengajak anak dan istrinya ke salah satu restoran berbintang, ia yang sudah reservasi langsung diantar ke tempat duduk oleh pelayan restoran itu.


Raka dan Bianca duduk berhadapan, sementara Kiano duduk di sebelah maminya.


"Kamu udah siapin ini semua ya?" tanya Bianca pelan.


Raka tersenyum tipis. "Nggak juga, baru tadi siang ide ini muncul." Jawab Raka.

__ADS_1


Bianca manggut-manggut, ia lalu melirik putranya yang kini fokus dengan mainan di tangannya.


Raka membiasakan Kiano untuk jangan terlalu sering bermain ponsel, dan Bianca mengikuti ajaran suaminya.


"Mami, lihat tangan robotku patah." Ucap Kiano mengadu.


Bianca menerima mainan Kiano, ia memperhatikan bagaimana tangan robot milik anaknya patah.


"Patah? Baiklah, nanti kita belโ€“" Raka tiba-tiba menyahut, namun ucapannya terpotong oleh istrinya.


"Jika rusak, ya sudah tidak apa-apa. Kamu kan masih punya banyak mainan di rumah. Bermain dengan mainan yang masih bagus tidak masalah kan?" Tanya Bianca lembut.


"Tidak membeli robot baru? Kiano balik bertanya.


Bianca berpura-pura mikir, ia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu lalu menggeleng.


"Bukan tidak, tapi belum. Mainan kamu masih banyak, dan sayang kan jika kamu hanya memainkan mainan baru saja." Jawab Bianca mencoba memberikan pengertian.


Kiano terdiam, berusaha untuk mencerna kata-kata maminya. Setelah beberapa saat, kepala Kiano akhirnya mengangguk.


"Baiklah, Mami. Aku akan main dengan mainan lama, tapi nanti mami akan belikan robot baru kan jika mainan aku rusak?" tanya Kiano mengulurkan jari kelingkingnya.


Bianca terkekeh. "Janji, Nak." Jawab Bianca membalas uluran kelingking Kiano.


Raka yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum, kini ia paham jika istri kecilnya itu sedang mengajarkan untuk hemat dan tidak membuang-buang barang yang masih layak pakai. Apalagi itu hanya sekedar mainan.


"Bia." Panggil Raka.


Bianca menoleh. "Ya, Mas?" Sahut Bianca.


"Kamu cantik banget sih." Puji Raka sedikit berbisik.


Bianca terkekeh mendengarnya, ia tidak menjawab dan memilih untuk menundukkan kepalanya guna menyembunyikan rona merah di wajahnya.


MAKIN KESANA MAKIN KESINI ๐Ÿ˜š

__ADS_1


Bersambung................................


__ADS_2