
Intan menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan gugup dan malu-malu. Piyama berbentuk dress bertali dengan panjang diatas lutut membuat penampilannya terlihat berbeda, belum lagi warna maroon yang jarang sekali ia pakai selama ini.
Intan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, ia merinding sejak tadi dan ragu untuk keluar dari kamar mandi.
Iya, Intan tahu. Ini bukan malam pertama karena sebelumnya mereka pernah melakukannya, namun tetap saja ini first night mereka berada di satu atap yang sama dengan statusnya yang baru.
"Keluar apa pura-pura pingsan aja ya, gue takut." Cicit Intan sembari terus menatap pantulan dirinya di cermin.
Intan memegangi tali piyama yang digunakannya, lalu membukanya dan ya terpampang sudah tubuhnya yang hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Intan mengikat simpul piyama kembali, bahkan ia sampai berniat untuk mengikat mati tali itu agar Ario tidak bisa membukanya nanti.
"Intan, kamu ngapain di dalam. Ayo keluar, ini sudah malam." Ucap Ario dari luar kamar mandi sambil menggedor pintu kamar mandi.
Intan panas dingin, ia mengusap wajahnya lalu memoles sedikit lipglos agar bibirnya tidak terlalu kering. Tidak lupa juga ia memakai parfum agar tubuhnya wangi.
"Nah kan wangi, biar waktu pak Ario cium gue nggak bau." Ucap Intan tanpa sadar.
"Eh, kok gue bilang gitu??" Tanya Intan setelah tersadar akan ucapannya barusan.
"Intan, keluarlah." Ario kembali meminta Intan untuk keluar dari kamar mandi.
Dengan helaan nafas panjang, Intan pun keluar dari kamar mandi. Wanita itu melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi dan membukanya.
Terlihat Ario sudah menunggunya dengan piyama berwarna sama sepertinya. Bedanya piyama Ario itu setelan, baju dan celana.
"Kamu ngapain di dalam?" Tanya Ario lembut.
Intan tidak berani menatap Ario, dan terus menundukkan kepalanya. Rambutnya yang tergerai membuat wajahnya tertutupi.
Ario tersenyum manis, ia memegang dagu Intan lalu mengangkatnya sehingga wajah gadis itu kini berhadapan dengannya.
Ario mengalihkan tangan yang tadi memegang dagu, menjadi memegang rambut Intan. Ia menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga, lalu mengusap wajahnya.
"Kenapa diam saja?" Tanya Ario bingung.
"Takut, gugup juga." Jawab Intan malu-malu.
Ario terkekeh, merasa lucu dengan cara bicara istrinya ini.
"Kenapa takut dan gugup? Ini bukan ajang pencarian bakat, Sayang." Kata Ario yang semakin membuat Intan melayang dengan panggilannya.
Jika saja Intan tidak kenal malu, mungkinkah dia langsung melompat ke tubuh suaminya untuk bermanja ria, namun Intan mana berani melakukan itu.
Gadis itu malah semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua pipinya.
Baru beberapa menit, tapi Intan rasanya sudah mau pingsan. Panggilan sayang dari Ario, terdengar begitu seksi dan menggoda.
"Bapak jangan natap saya begitu bisa nggak. Saya malu, Pak." Cicit Intan membalik badan, sehingga kini posisinya ia membelakangi Ario.
Ario tersenyum tipis, ia mengusap kedua bahu istrinya lalu turun mengusap tangan. Tangan kanan Ario menarik tangan kanan istrinya ke balkon kamar hotel mereka.
"Eh mau kemana, Pak?" Tanya Intan bingung, namun tetap pasrah di tarik keluar.
Sampai di balkon kamar, Intan melihat makanan yang sudah tersaji di depan mata. Diatas meja kecil yang di bawahnya dialasi dengan karpet enyah darimana Ario mendapatkannya.
"Saya tahu kamu belum makan, jadi saya pesankan untuk kamu." Ucap Ario penuh perhatian.
Intan semakin malu-malu, rasanya ingin melompati saja dari atas gedung bertingkat itu saking salah tingkahnya ia.
"Bapak perhatian banget sih, saya jadi baper tahu." Celetuk Intan dengan begitu jujurnya.
Ario tergelak, gadis polos dan menggemaskan ini adalah istrinya?? Apa benar?? Rasanya Ario masih belum percaya.
"Ya wajar kan suami perhatian ke istrinya, lagian saya tahu kamu lapar." Ujar Ario masih dengan tawanya.
Intan hanya menganggukkan kepalanya, ia mulai sesendok nasi goreng itu. Namun bukannya menyuap ke dalam mulutnya sendiri, Intan malah menyodorkannya pada Ario.
"Kok saya?" Tanya Ario menunjuk dirinya sendiri.
"Kan bapak suami saya." Jawab Intan tersenyum manis.
Ario menyantap suapan dari istrinya, namun wajahnya tampak memberengut sebal.
"Kok cemberut, nggak enak?" Tanya Intan bingung.
"Bukan nasi gorengnya yang nggak enak, tapi panggilan kamu." Jawab Ario sewot.
Intan tersadar. "Apa sih, Pak. Lagian wajar saya panggil bapak, kan bapak calon bapak dari anak-anak saya." Ujar Intan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Wajah Ario yang tadi merengut kesal seketika berubah penuh senyuman. Pria itu merasa malu-malu mendengar gombalan dari istrinya yang biasa ia gombalin.
"Apa sih, Pak. Jangan senyum-senyum gitu deh!" Tegur Intan malu-malu.
"Jadi udah siap bikin anak sama saya?" Tanya Ario menatap Intan dengan jahil.
"PAK!!" Tegur Intan meringis malu-malu.
Ario mengambil sendok di tangan Intan lalu gantian menyuapi istrinya. Intan tidak menolak meski wajahnya memasang raut kesal.
"Jangan cemberut aja, ayo makan yang banyak." Tutur Ario penuh senyuman.
"Kenapa makan banyak?" Tanya Intan mencari topik perdebatan.
"Soalnya kamu butuh tenaga sebelum saya eksekusi di atas ranjang." Jawab Ario dengan enteng.
Setiap kali bicara hal dewasa, Ario itu terlihat tenang dan santai. Tidak seperti Intan yang berjingkrak malu-malu.
"Bapak makan apa sih, Pak? Kok bisa pikirannya kesana terus." Cibir Intan memanyunkan bibirnya.
Ario tersenyum tipis, ia bangkit dari duduknya lalu mengecup bibir Intan yang sedang maju itu.
Mata Intan terbuka lebar, ia menatap Ario yang kini sedang mengusap bibirnya sendiri dengan senyuman di wajahnya.
Itu terlihat seksi dan tampan.
"Manis, dan selalu begitu." Bisik Ario.
Intan hanya diam saja, ia masih terkejut atas kecupan pria itu yang tiba-tiba. Mungkin bukan ciuman yang pertama, sebab semua yang pertama sudah Ario ambil duluan malam itu.
Ario merasa gemas melihat ekspresi wajah istrinya, ia lantas bangkit dari duduknya, membuat Intan mendongakkan kepalanya.
"Bapak mau kemana?" Tanya Intan mengerutkan keningnya.
Ario tidak menjawab, pria itu malah menunduk dan kembali mencekik bibir Intan. Kali ini benar-benar sebuah ciuman dan bukan hanya kecupan saja.
Ario memegang kedua sisi rahang istrinya dan memberikan usapan disana. Pria itu juga menggigit bibir Intan agar cepat terbuka dan bisa ia terobos masuk.
"Eumhhhh …" lenguh Intan merasakan tangan Ario mulai mengusap pinggang rampingnya.
Intan tidak tahu sepanas dan senikmat apa ciuman Ario malam itu, tapi yang jelas sekarang Intan bagitu menikmatinya.
Hujan tiba-tiba saja turun, seakan mendukung malam indah pasangan suami istri yang baru menikah itu.
Ario melepaskan ciumannya, menempelkan kening mereka sesaat lalu menghadiahi kecupan di kening istrinya.
Tanpa banyak kata lagi, Ario bangun dari duduknya dan menggendong tubuh istrinya. Di bawanya tubuh mungil Intan untuk berbaring di atas ranjang.
Intan benar-benar pasrah. Gadis itu membiarkan tubuhnya mendarat dengan sempurna di atas ranjang dengan Ario yang menindih tubuhnya.
Ario melempar senyuman yang langsung dibalas oleh Intan. Mereka saling menatap penuh cinta dan perasaan bahagia.
"Kamu tahu, kamu itu benar-benar cantik, Intan." Ungkap Ario dengan jujur.
Intan semakin melingkarkan tangannya di leher sang suami, memberikan usapan di tengkuk dan rambut belakang Ario.
Gerakan sederhana, namun berhasil membuat Ario semakin panas dingin dan ingin segera melanjutkan permainan malam ini dengan istrinya.
Ario menundukkan kepalanya, kembali menyatukan kedua bibir mereka dalam tarian lidah yang memabukkan dan candu.
Ario yang mengajari ini semua, hingga kini Intan sudah mulai pandai meladeni permainan bibir suaminya.
Bibir Ario masih terus bergerak di atas bibir Intan, tangannya pun tak bisa diam sehingga memilih untuk mengusap lekuk tubuh istrinya.
"Ahhhh …" Intan mengeluarkan suaranya ketika bibir Ario berpindah ke lehernya.
Bukan hanya sekedar mencium, melainkan juga mencetak tanda kemerahan yang jumlahnya tidak sedikit.
Intan masih terus berteriak penuh rasa nikmat. Ia tidak bisa tinggal diam menerima setiap sentuhan memabukkan dari Ario.
Ario menjauhkan bibirnya dari leher Intan, kemudian menanyai gadis itu dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dada Intan naik turun, merasakan pasokan oksigennya yang sudah menipis. Mata gadis itu terpejam karena tahu dan bisa merasakan tatapan suaminya kini tertuju padanya.
"Sayang, buka mata dan lihat aku." Pinta Ario dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Intan terdiam beberapa saat, namun pelan-pelan gadis itu akhirnya membuka matanya. Matanya langsung bersinggungan dengan tatapan Ario yang tajam, namun begitu menggoda.
"Boleh, Sayang?" Tanya Ario sambil mengusap keringat yang membasahi wajah cantik Intan.
__ADS_1
Intan ragu-ragu, namun ia tahu bahwa ini kewajibannya. Dan yang terpenting dibalik sebuah tugas istri, yaitu Intan juga menikmati sentuhan suaminya, dan selalu menginginkannya lagi.
Intan mengangguk tanpa ragu, ia juga memberikan senyuman manis agar suaminya tidak merasa bahwa ia terpaksa melakukan ini.
"Lakukan saya, Pak. Saya istri anda, tidak perlu minta izin untuk menikmati apa yang sudah menjadi hak anda." Tutur Intan sembari mengusap rahang tegas suaminya.
Ario tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya yang begitu pengertian, ia lantas menundukkan kepalanya dan kembali menyatukan bibir mereka.
Tangan Ario pun kali ini tak tinggal diam, ia mulai meraba tali gaun yang ada di piyama Intan. Dalam satu tariak, terpampang lah tubuh tanpa cacat milik istrinya. Hanya pakaian dalam berwarna senada yang membalut tubuh itu.
Ario menatapnya dengan lapar, membuat Intan rasanya merinding. Namun sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mundur, Intan tidak bisa menghentikan apa yang akan suaminya lakukan.
"Ahhhh …" Intan berteriak ketika mulut dan hidung Ario bekerja diantara bukit pribadinya.
Intan bahkan sampai menjambak rambut suaminya, tak kuasa untuk diam ketika gelombang kenikmatan terus menerjang nya.
Ario yang biasa terlihat tegas dan dingin, kini malah menjelma seperti bayi. Ia menyesap dan menggigit sesuatu yang berada di tengah dada istrinya.
Intan terus saja berteriak, ia benar-benar dibuat melayang hanya melalui sentuhan. Permainan inti sama sekali belum dilakukan, namun Intan rasanya sudah sangat lemas.
"Sayang, aku masuk ya?" Tanya Ario meminta izin dulu.
Intan mengangguk-angguk. "Pelan-pelan, M-mas." Jawab Intan dengan panggilan baru.
Mendengar panggilan baru dari istrinya, Ario rasanya melayang dan tanpa sadar langsung menyatukan milik meraka.
Intan meringis kesakitan, ini kedua kalinya ia kemasukkan benda asing, dan tentu saja Ario merasakan sempit yang tidak terdefinisi dengan kata-kata.
"Sakit, hiks …" cicit Intan sambil menangis pelan.
Ario menunduk, mengusap kening dan air mata istrinya. Ario kasihan, namun jika harus berhenti rasanya akan nanggung sekali.
"Sayang, maaf. Aku pelan-pelan ya, maaf." Bisik Ario lalu kembali mencium bibir Intan untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Setelah beberapa saat, dan Intan dirasa sudah menyesuaikan diri. Ario pun mulai bergerak. Pria itu mulai mengambil posisi untuk bergerak diatas tubuh Intan untuk yang kedua kalinya.
Erangan terus terdengar dibarengi ringisan sesekali. Malam ini Intan dan Ario kembali mereguk kenikmatan dalam hubungan yang telah halal.
Jika sebelumnya hubungan mereka penuh dosa, maka sekarang insyaallah hubungan ini telah di dasari akan rindo dari-Nya.
Ario menggulingkan tubuhnya ke sebelah istrinya ketika kepuasan telah diraihnya. Nafasnya sama putus-putus seperti Intan, merasakan lelah dan nikmat secara bersamaan.
Ario memegang tangan istrinya, lalu menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan nyaman.
"Terima kasih, Sayang." Bisik Ario lalu mencium kening sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang.
***
Keesokan harinya, Intan bangun duluan daripada suaminya. Ia langsung bersih-bersih dan mengganti pakaiannya dengan dress kado teman-temannya.
Intan menatap bercak merah di leher dan dadanya, ia benar-benar tidak menyangka jika tanda yang suaminya berikan akan sebanyak ini.
Namun dibalik wajahnya yang kebingungan, ada kebahagiaan yang tidak tersirat. Intan mengingat kejadian semalam dimana ia dan Ario sama-sama merasakan surga dunia yang sesungguhnya.
"Berasa perawan gue semalam, eh tapi emang iya kan dia juga yang bobol." Gumam Intan terkikik.
Intan keluar dari kamar mandi, ia yang baru membuka pintu langsung dikejutkan dengan suaminya yang sudah berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Mas Ario!!!" Pekik Intan memegangi dadanya, lalu berteriak kencang.
Ario tersenyum, ia mendekat lalu mencium kening sang istri.
"Selamat pagi, Sayang." Sapa Ario lembut.
Intan menghela nafas. "Pagi, Mas." Balas Intan malu-malu.
"Kok pagi-pagi mukanya udah merah, kenapa?" Tanya Ario basa-basi.
Sialann sekali Ario ini, sudah jelas alasannya adalah karena penampilan pria itu. Intan malu-malu melihat suaminya yang hanya berbalut boxer saja, tanpa atasan sama sekali.
"Mandi dan ganti baju, Mas. Aku mau makan, laper." Tutur Intan tanpa berani menatap sang suami.
"Iya, Sayang. Tunggu aku ya," balas Ario lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Intan menghela nafas, ia lalu menatap ranjang yang terlihat begitu berantakan setelah olahraga yang dilakukannya bersama sang suami semalam.
"Ishh udah, kenapa jadi kesana mulu sih pikirannya." Gerutu Intan mengacak-acak rambutnya sendiri.
CIEEE MANTEN BARU🤣😚
__ADS_1
Bersambung............................