
Raka melempar handuk secara sembarangan saat matanya menangkap sosok istrinya yang mengenakan pakaian terbuka. Itu lingerie, salah satu model pakaian yang selalu membuat Raka melotot jika Bianca memakainya.
Sejak siang istrinya menolak untuk diajak bicara apalagi di peluk, apa ini adalah hadiah atas kesabarannya yang sejak siang dicueki dan di salahkan atas pertemuannya dengan Briana.
"Sayang …." Raka melompat ke atas tempat tidur.
Bianca yang sedang memainkan ponselnya lantas terkejut, ia menatap suaminya dengan penuh permusuhan.
"Apa sih." Sahut Bianca ketus.
"Kamu pakai baju apa ini, kok tambah cantik." Puji Raka seraya mulai meraba lengan istrinya dengan jari telunjuk.
Bianca menjauhkan tangan suaminya. "Aku pakai baju ini karena lagi pengen pake, kamu jangan kepedean." Balas Bianca.
Jatuh sudah harapan Raka, ia kira Bianca mau memanjakan 'adik' nya malam ini, tapi ternyata ia salah.
"Sayang … aku kira mau olahraga bareng." Cicit Raka dengan kepala tertunduk.
"Nggak ya! Pikiran kamu kesana terus, lagian aku kan masih kesal." Balas Bianca sewot.
Raka menatap istrinya, ia menangkap wajah Bianca karena gemas. Ia sudah sangat sabar sejak siang dengan sikap istrinya.
Bianca menelan salivanya saat melihat wajah Raka yang begitu serius. Ia hendak berucap, namun Raka duluan yang bicara.
"Sayang … udah dong cuekin akunya." Pinta Raka memelas.
Bianca mengangkat sebelah alisnya, ia kira Raka akan marah-marah dan membentaknya karena marah tanpa alasan, tapi ternyata suaminya ini malah merengek.
"Apaan sih, Mas. Malu sama muka, sangar tapi kok cengeng." Celetuk Bianca.
Raka menatap istrinya, wajahnya yang tadi menekuk berubah datar dan tegas. Kini Raka menunjukan ekspresi wajahnya di kantor.
"Kamu mau aku yang galak daripada yang lemah lembut dan halus?" tanya Raka dengan suara yang begitu rendah.
Bianca menelan gumpalan salivanya, ia jadi menyesal sudah berkata demikian, kini Bianca benar-benar melihat ekspresi yang berbeda dari suaminya.
"Jawab, Sayang. Kenapa diam saja?" tanya Raka dengan suara semakin rendah, bahkan nyaris seperti bisikan.
Bianca memejamkan matanya saat wajah Raka mendekat dan langsung meniup telinganya.
"Jawab atau aku kasih lihat seperti apa tegasnya aku. Kamu nggak suka kan lihat aku merengek." Ucap Raka tanpa ekspresi di wajahnya.
Bianca menatap Raka, gadis itu terdiam selama beberapa saat, namun setelahnya Bianca malah memeluk Raka.
"Huaaa … nggak mau, takut. Balik lagi ke mas Raka aku!!" Gantian Bianca yang merengek, bahkan memeluk suaminya.
Raka terkekeh tanpa suara, ia memegang pinggang istrinya lalu menariknya lebih dekat.
__ADS_1
Bianca kini berada di pangkuan suaminya dengan posisi berhadapan, tangannya masih setia melingkar di leher sang suami.
"Kenapa? bukannya kamu nggak suka aku yang merengek-rengek?" tanya Raka.
Bianca mengurai pelukannya, ia menangkup wajah tampak Raka lalu menggeleng dengan bibir yang seperti orang mau menangis.
"Nggak mau, takut!! Mau nya mas Raka yang lembut aja," jawab Bianca menolak.
Raka masih memasang wajah datar, hal itu semakin membuat Bianca menekuk wajahnya.
"Masss …" Panggil Bianca sedikit manja.
Raka masih diam dengan wajah yang datar.
Bianca mendengus pelan, ia lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir suaminya. Kecupan Bianca pindah ke pipi, kening dan kembali ke bibir.
"Aaaaa … Mas!!!" Rengek Bianca lagi karena Raka masih memasang wajah datar.
Raka benar-benar bersorak di dalam hati saat istrinya menciumnya seperti tadi. Ada untungnya juga pura-pura ngambek.
"Hiks … aku bilangin mama kalo kamu galak." Ucap Bianca hendak bangun, namun ditahan oleh Raka.
"Kenapa jadi aku, kan kamu yang bilang nggak suka aku merengek." Balas Raka mengerutkan keningnya.
Bianca kembali memeluk Raka, semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh suaminya.
"Bercanda, ayo balik lagi ke mas Raka." Ajak Bianca.
Raka nyaris tertawa mendengar suara istrinya yang merengek seperti anak kecil, namun ia tidak akan menyerah sebelum Bianca mengajaknya olahraga.
"Mas, jangan gitu. Jangan pasang muka jalan tol, aku nggak suka." Ucap Bianca membuat Raka lagi-lagi harus berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.
Bisa-bisanya Bianca membahas jalan tol.
Bianca melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Raka lagi lalu menatapnya manja.
"Ayo deh olahraga sama aku, tapi jangan pasang wajah jalan tol ya. Aku nggak suka, kamu kan biasanya lembut sama aku." Ajak Bianca.
Raka tersenyum dalam hati. Namanya manusia, pasti selalu merasa kurang.
"Kenapa tiba-tiba ajak olahraga, bukanya tadi di pegang aja nggak mau?" tanya Raka mengangkat sebelah alisnya.
Bianca membuka kedua tangannya lebar, membuat penampilan wanita itu semakin menggoda.
"Mau kok, ayo olahraga sama aku. Dua ronde deh buat kamu." Ajak Bianca penuh senyuman.
"Deal." Raka langsung membalikkan posisi menjadi Bianca di bawahnya.
__ADS_1
Raka memulai dengan mencium bibir istrinya, menyesap dan sedikit menggigit bibir Bianca yang selalu terasa manis.
Bianca membalas, ia melingkarkan tangannya di leher sang suami dan sedikit memberikan jambakan di rambut belakang sang suami.
"Ahhh …"
Bianca mendesahhh tatkala bibir Raka hinggap dan mencetak tanda di lehernya yang benar-benar terekspos.
Raka menggila mendengar suara istrinya, entah mengapa ia merasa Bianca tambah cantik dan menggoda malam ini.
Raka tidak berpikir dua kali, ia langsung merobek baju istrinya yang baru Bianca pakai sekarang.
"Kok di sobek sih!!" Ucap Bianca, namun tidak mendapat balasan selain kecupan yang semakin panas di sekitar dadanya.
Bianca benar-benar melenguh penuh kenikmatan di bawah kungkungan suaminya malam ini.
"Mas, eumhhh … cium." Pinta Bianca ditengah pergerakan Raka.
Raka menunduk seraya terus bergerak, ia mencium bibir istrinya dengan kasar, namun tetap terasa nikmat.
"Ahhh, Sayanghhhh …" erang Raka dengan kepala mendongak ke atas.
Bianca meremat sprei ranjang dan sedikit mencakar punggung lebar suaminya. Suara tidak berkurang sama sekali, dan malah bertambah kencang.
Pergerakan Raka di bawah sana juga semakin tidak terkendali, mengejar pelepasan dan kenikmatan bersama istrinya.
"Ahhh!!!"
Erangan Bianca dan Raka saling bersahutan setelah mereka sama-sama mendapatkan apa yang mereka kejar sejak tadi.
Bianca mengatur nafasnya, begitupula dengan Raka. Mereka berdua sama-sama lelah, namun merasa puas.
"Istirahat sebentar, kan sisa satu ronde lagi." Bisik Raka membuat Bianca hanya bisa pasrah.
"Kenapa sih, semangat banget kalo soal jatah?" Tanya Bianca mengusap wajah suaminya yang semakin tampan saat berkeringat.
Raka tersenyum, ia ikut mengusap wajah berkeringat istrinya lalu mencium keningnya mesra.
"Enak, Sayang." Jawab Raka dengan jujur.
Bianca terkekeh, tidak masalah baginya untuk melayani sang suami, toh ia juga menikmatinya.
Sementara Raka merasa sangat beruntung malam ini, modal pasang wajah datar saja dapat dua ronde dari istrinya.
"Gemesin banget." Ucap Raka tiba-tiba lalu menciumi leher istrinya.
MAS RAKA EMANG PALING PINTAR 😭
__ADS_1
Bersambung............................