Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Melamar, kena bogem


__ADS_3

Setelah apa yang Ario katakan kemarin, hari ini pria itu membuktikan perkataan nya. Di malam hari yang cerah itu, Ario datang seorang diri ke rumah Intan dengan niat baik.


Kenapa seorang diri, tentu karena Ario adalah sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak ia duduk di bangku kuliah.


Saat Ario datang dan bertemu orang tua Intan, satu fakta terbongkar. Siapa sangka jika papanya Intan adalah karyawan di kantor Ario.


Sebelum Ario mengatakan tujuan kedatangannya, papa Intan sudah panik setengah mati melihat atasannya datang.


Pikirannya mulai negatif, takut-takut ia sudah melakukan kesalahan besar sampai membuat atasan langsung yang datang ke rumahnya.


"Jadi pak Ario, sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya ada tujuan apa anda datang ke rumah saya, apakah saya telah melakukan kesalahan?" Tanya papanya Intan, Damri.


Ario tersenyum, calon mertua sekaligus bawahannya di kantor terlihat ketakutan, padahal tujuannya sama sekali tidak berhubungan dengan masalah pekerjaan.


"Om Damri, sebelumnya saya yang minta maaf karena datang tiba-tiba. Namun saya kesini bukan karena anda telah melakukan kesalahan di kantor, saya memiliki tujuan lain." Jawab Ario dengan sopan.


Meski papa Damri bawahannya di kantor, namun jika diluar begini tentu saja pria itu adalah calon mertua Ario yang patut dihormati demi sebuah restu.


"Tujuan apa itu, Pak?" Tanya papa Damri mengerutkan keningnya.


Ario mengambil nafas sejenak, ia mengedarkan pandangannya dan berharap Intan lekas keluar dari persembunyiannya.


"Saya kesini ingin meminta izin dan restu, saya ingin melamar anda anda, Intan." Jawab Ario dengan begitu lancar.


"Apa? Bagaimana bisa? Maksud saya, bagaimana anda mengenal putri kami?" Tanya mama Dian begitu syok.


Ario tersenyum tipis. "Saya akan menjelaskannya, tapi sebelum itu mungkin bisa Intan nya di panggil." Sahut Ario.


Papa Damri menoleh. "Panggil Intan, Ma." Tuturnya, dan dibalas anggukan kepala oleh sang istri.


Mama Dian pun beranjak dari tempatnya, ia lekas pergi untuk memanggil putrinya yang tidak pernah cerita jika sedang dekat dengan seorang pria.


Sampai di kamar Intan, mama Dian melihat putrinya sudah cantik dengan dress berwarna rose gold.


Anak gadis itu melempar senyuman pada sang mama, lalu menggandeng tangannya. Bibirnya tersenyum, namun hatinya ketakutan.


Intan takut jika Ario akan mengatakan semua yang terjadi diantara mereka, termasuk malam panas itu.


"Intan, kenapa kamu nggak pernah cerita lagi dekat dengan seorang pria, tahu-tahu pria itu datang mau melamar kamu." Cecar mama Dian.


"Terlebih lagi sama bos papa kamu di kantornya." Tambah mama Dian seketika membuat Intan melototkan matanya.


"Pak Ario … pak Ario atasan papa maksudnya?" Tanya Intan memastikan.


"Lho, kamu baru tahu? Terus darimana kamu kenal sama dia, dan kenapa tiba-tiba dia mau melamar kamu?" Tanya mama Dian bertubi-tubi.


Intan bingung harus menjawab jujur atau tidak. Ia takut jika jawabannya akan membuat kedua orang tuanya kecewa.


"Sudahlah, ayo turun dulu. Pak Ario itu ingub bicara sesuatu, namun harus ada kamu." Ajak mama Dian, lalu menarik tangan Intan untuk turun ke lantai bawah.


Sampai di ruang tamu, Intan melihat Ario begitu serius. Penampilannya sederhana, namun sopan dan tetap membuatnya tampan.


Namun bukan itu fokus utama Intan saat ini, gadis itu lebih fokus pada Ario yang mungkin akan mengatakan semuanya.


"Intan, sini duduk." Tutur papa Damri menepuk sofa di sebelahnya.


Intan nurut saja. Gadis itu duduk diantara kedua orang tuanya. Matanya sesekali menatap Ario yang memasang wajah datar.


"Pak Ario, Intan sudah ada. Jadi apa yang ingin anda katakan?" Tanya papa Damri sopan, seperti bicara dengan atasannya seperti biasa.


Ario menatap gadis di hadapannya, lalu beralih menatap papa Damri, papa Intan atau calon mertuanya.

__ADS_1


"Seperti yang saya katakan bahwa saya datang untuk melamar Intan sebagai istri saya." Ucap Ario dengan tenang.


"Kami saling mengenal karena suami Bianca, sahabat putri kalian adalah sahabat saya. Kami beberapa kali bertemu, sengaja maupun tidak sengaja." Tambah Ario menjelaskan.


"Lalu apa hubungan kalian, dan kenapa anda tiba-tiba mau melamar anak kami?" Tanya papa Damri hati-hati, takut menyinggung perasaan Ario.


Ario menatap Intan, memberikan sebuah kode bahwa ia akan mengatakan segalanya.


Ario tidak mau menikah atas dasar kebohongan, ia mau mendapatkan restu setelah bicara dan menceritakan segalanya dengan jujur.


"Sebelumnya saya minta maaf, kami tidak punya hubungan apa-apa. Tujuan saja melamarnya sedangkan kami tidak punya hubungan adalah, karena saya mau bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi." Jawab Ario dengan tegas dan lantang.


"Apa yang terjadi?" Tanya papa Damri.


Intan takut, begitupula dengan mama Dian. Mendengar kata 'tanggung jawab' pikirannya mulai melayang.


"Saya telah menodai putri anda dalam keadaan sadar. Saya sudah merenggut sesuatu yang paling berharga dalam dirinya." Jawab Ario dengan berani, tidak ada raut ketakutan sama sekali.


Intan seketika menundukkan kepalanya, tidak berani melihat reaksi yang akan ditunjukkan oleh kedua orang tuanya.


Papa Damri syok, ia bahkan sampai memegangi dadanya. Pria itu menoleh, menatap putrinya yang menundukkan kepalanya.


"Intan, apa itu benar, Nak? Apa yang pria itu katakan adalah kebenaran?" Tanya papa Damri pelan.


Intan mengangkat wajahnya, menatap sang papa dengan air mata yang masih mulai membasahi pipinya.


"Maafin aku, Pa." Jawab Intan lalu menangis sesenggukan.


Mama Dian bangkit dari duduknya, ia lalu mendekati Ario dan langsung mencengkram kerah bajunya.


Ario berdiri, ia tidak berontak sama sekali dan membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan atas amarah seorang ibu.


"Kau, apa tidak pernah berpikir bagaimana masa depannya hah! Tega sekali aku menodainya, dia putriku dan kau sudah membuat masa depannya hancur." Teriak mama Dian lalu mendorong Ario pelan.


Dia dan Ario tahu, bahwa dia lah yang membuat ini semua terjadi, tetapi Ario malah menyalahkan dirinya.


Intan bangkit dan langsung memeluk sang mama. "Ma, udah. Aku minta maaf, Ma." Bisik Intan sambil menangis.


"Lepas, Intan! Biarkan mama memberikan pria ini balasan setelah merusak hidup kamu." Pinta mama Dian dengan emosi yang masih meletup-letup.


Sementara papa Damri, ia juga ikut bangkit dari duduknya. Kakinya mulai melangkah mendekati Ario, dan tanpa aba-aba langsung meninju wajah tampan Ario.


"PAPA!!!" tegur Intan penuh keterkejutan.


"Saya tidak peduli anda akan memecat saya atau tidak setelah ini, Pak. Tapi sekarang saya bertindak sebagai seorang ayah yang masa depan putrinya telah anda hancurkan." Ucap papa Damri dengan mata berkaca-kaca.


"Dimana hati nurani anda, Pak. Bagaimana bisa anda menodai putri saya." Tambah papa Damri lirih.


Intan melepaskan pelukannya di tubuh sang mama, ia lalu beralih menghampiri Ario yang tersungkur ke lantai karena pukulan papa Damri.


Bukan hanya itu, bibir Ario pun terlihat berdarah.


"Pak, anda baik-baik saja?" Tanya Intan dengan lirih.


Gadis itu mengambil tisu di atas meja lalu membantu menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.


Intan meneteskan air matanya sambil terus mengusap bibir Ario.


"Hiks … kenapa anda berbohong dan menyalahkan diri anda, Pak. Disini saya yang salah," lirih Intan menundukkan kepalanya.


Ario tersenyum tipis, entah mengapa hatinya terasa menghangat melihat wajah Intan yang penuh rasa khawatir.

__ADS_1


"Saya nggak apa-apa, kamu nggak perlu sampai nangis begini." Sahut Ario dengan tenang.


"Intan, minggir kamu. Biarkan papa memberinya pelajaran." Kata papa Damri.


Ario pun bangkit, membuat Intan panik dan buru-buru ikut berdiri.


"Jangan, Papa." Ucap Intan lalu berdiri di depan Ario dengan kedua tangan yang terbuka lebar, melindungi Ario dari amukan sang papa.


"Kamu minggir, Intan. Papa berhak memberinya pelajaran dan membuatnya babak belur setelah menghancurkan hidup kamu." Pinta papa Damri dengan emosi yang masih meluap-luap.


Ario mendekatkan wajahnya ke telinga Intan. "Jangan pedulikan saya, kamu minggir saja. Saya janji akan baik-baik saja." Tutur Ario.


Intan menggelengkan kepalanya, menolak ucapan pria itu. Namun tiba-tiba Ario malah mendorong untuk menjauh darinya.


Kini Ario kembali berhadapan dengan papanya Intan.


"Saya tahu anda marah dan murka, karena itulah saya datang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah saya perbuat." Ucap Ario dengan sopan dan tenang.


Papa Damri mengambil sebuah sapu, kemudian ia patahkan dan menyisakan gagang dengan ujung yang lancip.


Intan syok. "Papa, jangan! Jangan sakiti pak Ario, hiks …" pinta Intan.


Gadis itu hendak mencegah, namun tangannya di pegang oleh sang mama.


"Ma, pak Ario tidak bersalah. Aku yang sudah menggodanya, aku yang membuat malam itu terjadi. Pak Ario itu menolongku, seharusnya kalian berterima kasih padanya!!" Jelas Intan dengan emosional.


Papa Damri tidak mendengarkan putranya, ia tetap menyodorkan gagang sapu itu ke depan wajah Ario.


Intan melepaskan cekalan sang mama dengan paksa, kemudian gadis itu bersimpuh di hadapan papanya.


"Hiks … jangan, Pa. Aku mohon jangan sakiti pak Ario, dia tidak pernah jahat padaku." Pinta Intan menyatukan kedua tangannya.


"Intan, sini kamu. Biarkan papa kamu memberinya pelajaran," ucap mama Dian.


"Nggak! Aku nggak mau. Aku nggak akan bangun sebelum papa berhenti untuk memukuli dan memarahi pak Ario. Jauhkan tongkat itu, Pa." Pinta Intan sambil berderai air mata.


Ario ikut berlutut, ia memegang kedua bahu gadis itu dan memintanya untuk bangun.


"Bangun, lantainya dingin." Tutur Ario singkat, namun besar perhatian nya.


Intan menggelengkan kepalanya, namun Ario tetap memaksanya untuk bangun dan berdiri di hadapan papa Damri.


"Papa, hiks … aku mohon berhenti. Pak Ario nggak salah, Pa." Pinta Intan memohon.


Papa Damri dan mama Dian saling pandang melihat Intan yang sampai menangis demi Ario.


"Intan, kamu mencintai pria ini. Iya kan?" Tebak papa Damri.


Intan terdiam, gadis itu bingung akan menjawab apa.


"Papa, aku mohon hentikan." Pinta Intan memohon.


"Katakan dulu, atau aku tidak akan merestui hubungan pernikahan kalian." Ancam papa Damri.


"Saya mencintainya, Pak. Saya bahkan sangat mencintainya," bukan Intan yang menyahut, melainkan Ario.


Intan langsung menatap Ario. Entah kebohongan apa lagi yang akan pria itu katakan.


"Apa lagi ini, pak Ario!!" Jerit Intan di dalam hati.


JIAHHH ILAH, OTW SAH NGGAK NIH??

__ADS_1


BTW MAMPIR KE KARYA BARUKU YA JUDULNYA ONE NIGHT STAND WITH PRESDIR ✨


Bersambung..............................


__ADS_2