
Pont des Arts menjadi salah satu rekomendasi tempat romantis di Paris untuk bulan madu. Pont des Arts atau jembatan gembok cinta
Tempat ini menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan termasuk pasangan suami istri yang sedang menghabiskan waktu terakhir bulan madu mereka.
Ario dan Intan, mereka menuliskan nama mereka di satu gembok dan menguncinya di jembatan. Bukan hanya nama mereka, tapi juga nama Raka dan Bianca.
Mungkin jodoh memang takdir, namun setidaknya mereka akan ikut melakukan seru-seruan dengan tempat yang sudah dibangun khusus untuk saling menulis nama dalam cinta itu.
"Buang kuncinya, Sayang." Tutur Ario pada istrinya.
Intan mengangguk, wanita itu lekas membuang kedua kunci miliknya lalu memeluk suaminya dengan erat.
Cuaca masih sangat dingin, dan Intan rasanya ingin terus mendusel di tubuh suaminya.
"Dingin ya?" Tanya Ario dengan lembut, tangannya mengusap lengan bahu sang istri.
"Banget, tapi sekarang udah nggak. Soalnya dipeluk sama mas Ario." Jawab Intan dengan senyuman yang begitu lebar.
Ario terkekeh mendengar rayuan dari istrinya, Intan sudah pandai merayu karena bergaul dengannya.
"Kita minum teh ya." Ajak Ario dan Intan menyahut dengan anggukkan kepala.
Mereka berdua pun pergi ke salah satu kafe untuk menikmati teh hangat di tengah cuaca dingin.
L'eclair menjadi tempat minum teh yang Ario pilih untuk mengajak istrinya ke sana. Ia pun memesan teh kebanggaan kota Paris yang sudah dikenal oleh dunia. Teh Dammam atau Dammann freres.
"Disini terkenal nya teh ini?" Tanya Intan sambil menunjuk menu teh yang suaminya pesan.
"Iya, Sayang. Aku dan Raka sering minum teh ini saat kita kuliah dan liburan bersama waktu itu." Jawab Ario menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Intan tersenyum. "Teman kamu apa Raka doang?" Tanya Intan ragu-ragu, ia takut menyinggung perasaan suaminya.
"Ya, bisa dibilang begitu. Raka bukan hanya teman, tapi keluarga dan kakakku." Jawab Ario, tidak ada rasa tersinggung sama sekali.
"Kelihatan, kalian itu peduli satu sama lain." Ujar Intan membuat Ario kembali tersenyum.
Tidak lama kemudian teh pesanan mereka datang. Ario memberikan pada istrinya agar Intan bisa mencium aromanya dulu.
"Gimana, enak?" Tanya Ario mengangkat kedua alisnya.
"Hmm, aromanya bikin tenang. Aku minum ya?" Ucap Intan dan dibalas anggukan kepala oleh Ario.
Intan lekas mencicipi teh yang berkualitas tinggi itu. Baru diujung lidah, Intan sudah membelalakkan matanya merasakan kenikmatan teh tersebut.
"Wahh, enak banget …" ucap Intan jujur.
Ario terkekeh, ia lekas menuang teh ke dalam gelasnya dan ikut meminumnya. Minum teh membuat Ario teringat masa kuliahnya dulu.
Ario terkekeh, ia mengusap kepala istrinya dengan gemas. Tidak ada kalimat yang keluar, sebab bibirnya digunakan untuk mencium pipi Intan.
Setelah selesai minum teh, mereka pun pergi meninggalkan kafe tersebut. Mereka memutuskan untuk pergi ke hotel dan beristirahat sebab besok harus kembali ke Indonesia.
***
Malam terakhir di Paris Ario memanfaatkannya untuk menciptakan kenangan bersama, bukan sekedar foto tapi ia mengajak istrinya untuk melukis.
Entah darimana Ario mendapatkan peralatan untuk melukis, yang pasti Intan ikut-ikutan saja.
Ario melukis fotonya dan istrinya, namun dengan background kamar hotel. Dalam lukisan itu ada Intan yang mengenakan bathrobe sedang tertawa lepas, sementara Ario mengenakan handuk dan menatap Intan.
__ADS_1
"Ternyata suami aku jago lukis ya." Ucap Intan sambil bertepuk tangan.
"Nggak jago juga, tapi lumayan bisa." Sahut Ario lalu mencolek pipi istrinya sehingga wajah Intan berwarna.
"Ihhh, nanti jerawat!!!" Ucap Intan sewot.
Intan menempelkan kelima jarinya ke pallet warna, lalu ia tempelkan di wajah suaminya.
Ario menghela nafas. "kalo kamu cuma satu jari aja jerawat, apalagi aku semuka gini. Bisul?" Tanya Ario bergurau.
Intan tergelak mendengar ucapan suaminya. Sesaat kemudian ia memeluk tubuh Ario dan duduk di pangkuan pria itu.
"Suami aku ngambek, bisul takut kok sama aku. Nanti aku marahin supaya nggak datang." Celetuk Intan.
Ario terkekeh sambil mengusap pinggang dan punggung istrinya. Tak bisa terlalu lama marah dengan Intan.
Ario pun bangkit dan menggendong istrinya seperti koala. Ia lalu mengajak Intan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan wajah mereka bersama.
Intan menggosok wajah Ario, begitupun sebaliknya. Ario mudah membersihkan wajah Intan karena hanya setitik, tapi Intan cukup sulit membersihkan wajah suaminya yang full warna.
"Kamu agak mirip badut, hahahahaa." Celetuk Intan sambil tertawa.
Warna-warna yang tercampur di wajah Ario memberikan hasil gelap dan membuat Intan tak bisa menahan tawanya.
"Ini sih bukan badut, lebih mirip ke jin tomang." Celetuk Ario menekuk wajahnya.
Ucapan Ario malah semakin membuat Intan tertawa, bahkan wanita itu sampai memegangi perutnya saking lucunya.
ASIK BANGET YANG MASIH BULAN MADU🤗
__ADS_1
Bersambung...............................