
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya hari ini Kiano sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Bukan hanya Kiano yang merasa senang, tapi Raka dan Bianca juga. Mereka sudah sangat merindukan tingkah lucu dan menggemaskan Kiano di rumah.
"Yeayy!! Aku akan pulang dan sekolah lagi." Pekik Kiano dengan begitu bahagianya.
Bianca tersenyum, ia mengusap kepala putranya lalu mengangguk.
"Abang kan rindu sekolah, jadi harus semangat untuk sembuh ya. Jika sudah benar-benar sembuh, mami akan izinkan Abang untuk sekolah lagi." Tutur Bianca lembut.
"Iya, Mami!!!" Sahut Kiano dengan cepat dan lantang.
Raka hanya tersenyum melihat interaksi antara anak dan istrinya, melihat Bianca dan Kiano bahagia adalah sesuatu yang tak ternilai bagi Raka.
Raka mendekati anak dan istrinya, merangkul bahu sang istri kemudian mencium keningnya.
"Sudah, ayo pulang." Ajak Raka, sambil terus menatap istrinya.
"Papi kenapa tidak ajak aku, kenapa hanya mami?" Tanya Kiano dengan polos, wajahnya tampak menekuk.
Bianca tergelak, ia menangkup wajah tampan Kiano yang benar-benar mirip dengan Raka.
"Tahu ya, Papi. Masa cuma mami yang diajak pulang," celetuk Bianca.
Raka geleng-geleng kepala, ia lekas menggendong tubuh putranya, kemudian mencium pipinya hangat.
"Baiklah, ayo kita sama-sama pulang." Ajak Raka membuat Kiano memekik senang.
Raka dan Bianca pun pergi meninggalkan ruang rawat Kiano. Sebelum sampai ke rumah, mereka mempunyai satu tempat yang akan mereka kunjungi hari ini.
Raka menyetir mobilnya sendiri seperti biasanya, ia mendudukkan Kiano di pangkuan sang istri karena bocah itu menolak untuk duduk di belakang.
"Mami, apa adik bayi akan kesakitan jika aku memeluk mami seperti ini?" Tanya Kiano polos.
Bocah itu bersandar di dada Bianca, dengan tangan yang melingkar di bahu maminya.
"Nggak dong, adik bayi kan kuat seperti Abang." Jawab Bianca sembari mencium kening putranya.
__ADS_1
Kiano tidak bicara lagi, bocah itu hanya diam sambil memeluk tubuh maminya.
Setelah pergi meninggalkan area rumah sakit, hanya dalam beberapa menit akhirnya mereka sampai di tempat yang ingin mereka kunjungi.
Taman pemakaman umum, tampak jelas terlihat plang yang berdiri tegak di depan pagar TPU itu.
Ya, hari ini Raka dan Bianca akan mengajak Kiano ke tempat peristirahatan terakhir Yola. Meski sebelumnya Bianca marah, namun pada akhirnya ia tahu bahwa semua ini sudah takdir.
Yola sudah pergi meninggalkan dunia ini, maka Bianca merasa harus membawa Kiano kesana dan berdoa bersama-sama.
"Mami, aku takut. Kita mau apa kesini?" Tanya Kiano pelan.
"Kita ke rumah mama Yola, Nak." Jawab Bianca mengusap punggung putranya.
Kiano menggeleng cepat dan berkali-kali. "Aku nggak mau, aku takut mama jahat. Aku benci mama jahat!" Tolak Kiano.
Raka mengambil alih gendongan Kiano, ia lalu mengusap-usap punggung Kiano, berusaha menenangkan Kiano.
"Sayang, mama Yola sudah pergi. Dia tidak jahat lagi, dan kita datang kesini untuk mendoakan mama Yola." Ucap Raka lembut.
"Tidak mau! Nanti aku akan diculik lagi, Papi. Aku tidak mau kepalaku berdarah lagi," sahut Kiano tetap menolak.
"Mama Yola sudah meninggal, dia tidak jahat lagi, Nak. Kita harus berdoa untuk mama Yola, agar disana dia punya kehidupan yang lebih baik." Tambah Bianca.
"Abang mau mama Yola tidak jahat lagi kan?" Tanya Raka, dan Kiano menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kalo begitu kita doakan ya." Tutur Raka, dan akhirnya Kiano mengangguk mengiyakan ucapan nya.
Raka dan Bianca pun melangkah masuk ke area peristirahatan manusia seperti mereka. Langkah keduanya terhenti ketika akhirnya menemukan batu nisan bertuliskan nama Yola Wulandari.
Raka dan Bianca berlutut, lalu membalik tubuh Kiano agar bisa melihat gundukan tanah dimana jasad Yola sudah beristirahat.
"Ini makan mama Yola, kita berdoa ya." Bisik Raka pelan.
Bianca dan Raka mengangkat kedua tangan mereka untuk berdoa, dan Kiano yang melihat itupun jadi ikut mengangkat kedua tangannya.
Mereka memanjatkan doa pada mendiang Yola. Meski selama hidupnya Yola lebih banyak mengganggu kehidupan Raka dan Bianca, namun sebagai manusia yang masih hidup mereka wajib mendoakan wanita itu.
__ADS_1
"Mbak, semoga mbak bisa beristirahat dengan tenang. Saya, mas Raka dan Kiano akan berusaha untuk menyempatkan waktu datang kesini." Ucap Bianca pelan, tangannya mengusap pelan batu nisan di dekatnya.
"Abang, ucapkan selamat tinggal sama mama Yola, Nak." Tutur Raka.
"Mama, aku pergi ya. Semoga mama bisa hidup menjadi orang baik bersama Tuhan. Aku tidak marah lagi sama mama, dadahh mama …" ucap Kiano diakhiri lambaian tangan.
Bianca dan Raka tersenyum melihat itu, mereka pun lekas pergi meninggalkan area pemakaman. Mereka harus pulang karena Kiano masih harus beristirahat.
***
Mereka sampai di rumah, Kiano langsung digantikan baju dan dibiarkan istirahat di kamarnya sendiri. Ada pelayan yang tentunya menemani Kiano, khawatir bocah itu membutuhkan sesuatu.
Sementara Raka dan Bianca pun ada di kamar mereka. Bianca baru selesai membersihkan diri dan berniat untuk menyisir rambutnya, namun ia malah mendapat pelikan tiba-tiba dari suaminya.
Raka memeluk tubuh sang istri dari belakang, mencium bahu dan mengusap perut yang kini terisi buah cinta mereka.
"Kamu harus istirahat, Sayang. Ingat kan, kamu tidak tidur dengan benar selama di rumah sakit." Tutur Raka lembut.
Bianca tersenyum, lalu mengusap wajah tampan suaminya.
"Ini aku mau istirahat, Mas. Tapi mau sisir rambut dulu sebentar." Sahut Bianca.
Raka melepaskan pelukannya, ia membalik badan sang istri lalu mencium keningnya.
"Iya deh, Mami. Kamu istirahat ya, aku masih ada urusan." Tutur Raka, namun Bianca menggeleng.
"Kamu suruh aku istirahat, tapi kamu sendiri mau bekerja." Celetuk Bianca geleng-geleng kepala.
Raka terkekeh, tanpa bicara apapun lagi ia langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.
Raka ikut berbaring, menarik selimut dan memeluk istrinya.
"Baiklah, ayo tidur." Bisik Raka.
Bianca dan Raka pun sama-sama istirahat, entah besok atau lusa mereka harus melanjutkan aktivitas masing-masing. Terutama Bianca yang belum mengurus cuti kuliahnya.
MAAF BANGET UDAH LAMA NGGAK UPDATE, HUAAAA ....
__ADS_1
Bersambung...............................