Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 10


__ADS_3

Ruang studio


Rio berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Sudah satu jam lebih Rio menunggu kedatangan Evan dan Kiara. Kepala Rio penuh dengan tanda tanya yang tak bisa ia jawab sendiri.


Apa yang akan dilakukan Evan untuk memoles wajah Kiara? Apakah Evan benar-benar melakukan dengan baik? Bagaimana hasil make over Kiara di tangan Evan?  Ada rasa sedikit khawatir jika Evan memoles wajah Kiara dengan standart jauh dari bayangan Rio. Rio sangat yakin jika Kiara ditangani dengan tepat, maka model-model lain yang selama ini pernah ia potret bisa langsung jatuh pamor.


Rio melirik arloji di pergelangan tangannya. Masak iya selama ini? batin Rio karena biasanya Evan bekerja dengan cepat menangani model-modelnya. Entah waktu terasa berjalan sangat lambat baginya.


Mungkin karena hati Rio ingin segera dan segera melihat Kiara dan memotretnya. Ingin rasanya Rio kembali ke ruang kostum untuk melihat Kiara, tapi niat itu ia urungkan. Rio mencoba berfikir positif bahwa Evan akan menangani Kiara dengan baik.


Di ruang kostum, Evan baru saja selesai memberi sentuhan terakhir di wajah Kiara. Hmmm... wajah blasteran Asia ini benar-benar unik dan sepertinya insting si playboy benar, batin Evan dalam hati. Evan melanjutkan dengan menata rambut Kiara. Rambut hitam Kiara yang hitam berkilau dan panjang sangat indah. Evan hanya memberi sentuhan sedikit dengan membuat sedikit bergelombang.


“Selesai....!!!” teriak Evan bersorak riang.


Evan memegang pinggang Kiara untuk membantunya berdiri sehingga kini Kiara berdiri sejajar dirinya. Evan menempelkan wajahnya di samping wajah Kiara. Dua pasang mata itu sama-sama menatap sosok cantik yang nampak pada cermin besar di hadapan mereka. Evan membuka mulutnya seakan tidak percaya dengan hasil karyanya.


“ Sialan, playboy itu benar!” umpat Evan sambil terkekeh.


Gadis yang tadi dia remehkan sekarang berubah menjadi putri yang cantik jelita. Kiara benar-benar menyatu dengan gaun yang dia kenakan. Kiara benar-benar memperlihatkan aura yang dapat mencengangkan mata pada setiap orang yang melihatnya. Andai saat ini ada pemilihan kontes kecantikan tentu saja Evan akan menyodorkan Kiara sebagai calon peserta dari manajemennya.


Evan lalu menyuruh assistennya untuk mengambil heels dan meminta Kiara segera memakainya. Kiara diam tak bergeming. Bagaimana bisa dia memakai heels tinggi seperti ini? Kiara takut dia akan jatuh karena memang selama ini tidak pernah memakai heels.


“Maaf, Tuan Evan, saya tidak pernah memakai heels dan jujur saya takut sekali” ucap Ara yang membuat Evan tertawa geli.


“Kenapa kau memanggilku Tuan? Memangnya kau babuku?” Evan kembali tertawa.


“Sudahlah jalan saja dulu. Kau pakai saja heels itu di ruang studio. Si Playboy itu pasti sudah menunggumu dengan tidak sabar ” perintah Evan dan bergegas pergi dari ruang kostum.


Kiara berjalan membuntuti Evan dari belakang dengan beberapa assisten Evan yang juga ikut mendampingi Kiara. Beberapa dari mereka membantu membawakan gaun Kiara yang memang berekor panjang dan lebar sedangkan yang lain membawa beberapa properti yang akan dipakai untuk pemotretan.


“Heiiii semuaaaaaaaa.... apakah sudah siap....????” teriak Evan begitu dia memasuki ruang studio. Teriakan Evan yang melengking tentu saja mengejutkan semua orang di studio.


Kiara masuk bersama assisten Evan yang membawa beberapa properti yang akan digunakan saat pemotretan. Rio bangkit dari tempat duduknya dengan mulut menganga melihat Kiara. Matanya tak berkedip sedikitpun.


Ada perasaan kagum sekaligus bingung dalam benak Rio. Kagum, karena melihat penampilan Kiara yang memukau kedua netranya. Bingung, karena Kiara tidak memakai gaun yang tadi ia berikan.

__ADS_1


"Kenapa memakai gaun ini?" tanya Rio


"Gaun yang kau pilihkan ternyata terlalu besar untuk Nona Kiara. Jadi aku memilihkan gaun yang lain. Bagaimana? tetap memukau kan?" tanya Evan sambilmenggerakkan kedua pundaknya secara bergantian.


Rio mengangguk. Meskipun gaun yang dipakai Kiara berbeda, tapi kesan yang didapat Rio tetaplah sama. Tidak hanya Rio, semua orang di studio Evan terpukau dengan penampilan Kiara. Mereka diam mematung, lupa dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Kiara seakan menghipnotis orang-orang di ruangan itu. Rio berjalan mendekati Kiara. Menatap wajahnya lekat-lekat.


"Sempurna" gumam Rio sambil mengurai rambut Kiara dengan tangan kanannya.


Plak...


Evan menepuk pipi Rio agar tersadar dari lamunannya.


“Heiii..... modelmu sudap siap! Kapan kau akan mulai memotretnya jika dari tadi kau hanya menganga begini?” teriak Evan tepat di telinga Rio.


Rio mengusap-ngusap telinganya yang panas akibat teriakan Evan. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Malu, begitulah perasaan Rio saat ini.


“Oh maaf, Kiara” ucap Rio


Rio kemudian mengamati Kiara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia kembali mengernyitkan dahi ketika melihat kaki polos Kiara yang menggunakan sandal jepit.


“Dia tidak pernah pakai heels. Oleh sebab itu aku menyuruhnya memakai sandal jepit dahulu dan baru akan memakai heels saat pemotretan. ” Evan melempar heels Kiara pada Rio dan tentu saja dengan sigap Rio menangkapnya.


“Pakaikan! Aku mau siap-siap di kursi kebesaranku,” ucap Evan berlalu dan tentu saja membuat senyum Rio terbit.


Rio menarik tangan Kiara dan mendudukkan badannya di kursi. Kiara yang memang sedang dalam keadaan bingung, tentu saja menurut mengikuti arahan Rio.


“Izinkan aku memakaikan sepatu kaca ini, Tuan putri!” goda Rio membungkukkan badannya. 


Tangan kiri Rio memegang kaki kanan Kiara sedangkan tangan kanannya memegang heels. Rio memasangkan dengan perlahan setelah itu dia berlanjut pada kaki kiri Kiara.


“Rio...” panggil Kiara lirih membuat Rio mengangkat wajahnya.


“Aku... takut... jatuh. Aku... tidak... pernah... memakai... heels ,” ucap Kiara perlahan.


“Jangan takut, Kiara. Ada aku yang selalu siap menjagamu. Aku pastikan kau tidak akan jatuh ke lantai saat memakai heels ini melainkan akan jatuh dalam pelukanku ” ucap Rio, kembali menarik tangan kanan Kiara dan mencium punggung tangannya dengan mesra.

__ADS_1


“Gombal....gombal....” teriak Evan dengan speakernya.


Jarak Evan dan Rio memang cukup jauh sehingga perlu speaker agar Rio mendengar teriakan Evan.


Sialan, umpat Rio. Ia kesal karena Evan telah merusak suasana romantis yang ia ciptakan untuk Kiara. Rio segera membawa Kiara dan menempatkan posisinya di depan background.


Pemotretan dimulai. Olive yang bertugas mengatur gaya memberikan arahan pada Kiara. Kiara mengikuti arahan Olive dengan kaku. Kiara memang jarang berhadapan dengan kamera. Jika melihat galeri di ponsel Kiara, bisa dihitung dengan jari berapa foto Kiara yang terpampang.


Beberapa kali Evan berteriak memberikan arahan dari jarak jauh. Untunglah Olive sabar mengarahkan Kiara sehingga Kiara yang semula kaku perlahan mulai memperlihatkan keluwesannya.


Cekrek...cekrek..cekrek... Rio menghentikan gerakan tangannya. Hatinya berdesir melihat hasil karyanya.



“Sial...!!!” umpat Rio.


Kiara benar-benar terlihat anggun. Hatinya berdesir melihat potret Kiara pada kameranya. Ingin sekali Rio membuang kameranya, berganti kostum dan berdiri disamping Kiara menjadi pasangan dalam pemotretan kali ini. Sungguh ada rasa tidak rela jika dirinya tidak menjadi objek fotografi bersama Kiara.


“Kiara, bisa tidak kau tersenyum sinis dan alismu angkat sebelah. Berikan kesan bahwa kau adalah gadis dingin yang sulit ditaklukkan” perintah Rio yang dijawab anggukan oleh Kiara.


Cekrek...


cekrek..


cekrek...


“Luar biasa” seru Rio tak percaya.


Rio memberi kode bahwa pemotretan sudah selesai namun Evan kembali berteriak.


“Tunggu....!!!! Siapa bilang sudah selesai?” teriak Evan tentu saja dengan speaker kesayangannya. Rio menautkan alisnya, tak mengerti dengan ucapan Evan.


Evan beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Kiara yang tadi hendak melepas heelsnya.


“Hei Nona, kau sudah datang jauh-jauh kemari dan aku rasa akan mubazir biaya perjalananmu jika kau hanya mencoba satu baju. Mari kita kembali ke ruang kostum dan mengambil beberapa baju yang cocok denganmu. Aku rasa aku mempunyai stok baju kebaya yang sepertinya sangat cocok untukmu!” ucap Evan seraya mendorong tubuh Kiara ke luar studio meninggalkan Rio yang berdiri mematung.

__ADS_1


“Sialan kau, Evan!” umpat Rio.


__ADS_2