Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 25


__ADS_3

Pagi ini Kiara duduk meluruskan kedua kakinya di bibir pantai. Beruntung sekali dia bisa menikmati sunrise di Labuan Bajo. Kiara menatap hamparan awan yang perlahan memancarkan sinar mentari yang hangat.


Kiara memejamkan kedua matanya, membiarkan sinar mentari menyapa wajahnya dengan perlahan. Deburan ombak pantai perlahan membasahi kaki Kiara. Ia membiarkan tubuhnya mendapat sapaan dari alam. Setidaknya dengan begini membuat pikiran dan hatinya tenang.


Kiara membuka matanya dan bangkit dari duduknya. Ia mulai berjalan menyusuri pantai. Sesekali Kiara berhenti menengadahkan wajahnya agar sinar mentari kembali menyapa wajahnya. Kiara tersenyum. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang yang di kenalnya.


“Andai Rio ada disini, pasti dia akan sukarela memotretku" Kiara menghela nafas.


Entah mengapa Kiara teringat dengan Rio. Sejak peristiwa pertengkaran Dira dan Rio, Kiara tidak pernah melihatnya lagi. Pernah suatu hari Kiara hendak menemuinya di butik Evan. Namun, tukang pukul Dira mengetahuinya dan membawa Kiara kembali ke apartemen Dira. Sampai saat ini Kiara belum tahu apa alasan Dira membenci Rio. Kiara enggan bertanya kembali. Biarlah itu menjadi rahasia Dira. Jika Dira memang sudah siap, Dira pasti akan memberitahu kepadanya.


Hmmpppp....


Kiara kaget ketika ada sepasang tangan yang menutup kedua matanya dari belakang. Kiara diam menunggu apakah sosok yang sedang jahil kepadanya akan bersuara. Satu detik..dua detik.. tak ada suara. Kiara memilih mencengkram tangan itu dan menghempaskannya.


“Wadawww... santai dong. Galak banget sama aku?” ringis orang itu.


Kiara membalikkan badan.


“Zian?”


Kiara membuang muka ketika melihat siapa sosok yang ada di hadapannya. Jengah sekali hatinya mendapati sosok ini kembali mengikutinya. Kiara harus tegas sekarang. Kiara tidak mau liburannya rusak hanya karena satu sosok tidak penting ini.


“Surprise...” Zian merentangkan tangan berharap Kiara memeluknya.


“Basi..!!!” cibir Kiara dan berlalu meninggalkan Zian.


Zian berlari menyusul Kiara.


“Jangan marah dong, Ara! Kamu tidak suka aku di sini?” ucap Zian terus berjalan mengekori Kiara.


“Zian...!!!” Kiara berhenti melangkah.


“Kali ini gue harus tegas sama lu!” ucap Kiara tetap membelakangi Zian.


“Berhenti ngikutin gue! Gue nggak suka lu deket- deket sama gue!” ucap Kiara lagi.


Zian melangkah dan berdiri di hadapan Kiara. Dirinya bukan tidak tahu jika Kiara tidak nyaman dengannya. Zian sangat tahu. Tapi, mau bagaimana lagi Zian sudah jatuh hati pada Kiara sejak pertama kali bertemu dengannya. Zian sudah bertekad akan terus mengejar Kiara sampai akhirnya Kiara menjadi miliknya.


“Meskipun kamu tidak suka dekat-dekat denganku. Tapi aku suka dekat-dekat denganmu...”


“Ziaaannnnn.........!!! Tolong!!! Berhenti ngikutin gue! Go away !” usir Kiara sengit. Kiara kembali melangkahkan kakinya.


“Aku suka sama kamu, Kiaraaaa...!!!” ucap Zian berteriak.


Kiara kembali menghentikan langkahnya. Zian kembali berlari mendekati Kiara. Zian berlutut dan menggenggam tangan Kiara.


“Aku suka kamu, Kiara. Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Zian menatap Kiara penuh harap.


Kiara menghela nafas.


“Berhenti membuang waktumu untuk mengejarku! Maaf aku tidak akan bisa membalas perasaanmu. Cari wanita lain yang bisa menerima cintamu...”


“Tapi aku maunya kamu, Kiara" sambar Zian.

__ADS_1


“Maaf, gue nggak bisa"


Kiara menepis genggaman tangan Zian dan kembali melangkah meninggalkan Zian yang masih berdiri mematung.


Dari kejauhan, Ale melihat perdebatan Kiara dengan Zian. Ale sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat. Setahu Ale, Zian adalah sahabat Elang. Apa yang terjadi ? Ale semakin penasaran dan mencoba menarik benang merah atas peristiwa retaknya hubungan Kiara dan Elang.


“Ehem..ehem... segitunya merhatiin mantannya Elang? Jangan-jangan benar dugaanku kalau dia itu mantanmu” Aisha mencibir Ale. Sejak tadi Aisha memperhatikan Ale diam-diam .


“Aisha, berhentilah merajuk! Ara itu mantan kekasih Elang. Kau masih saja tidak percaya padaku" ucap Ale dengan nada kesal.


“Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapanmu jika tingkahmu seperti ini?” ucap Aisha mulai meninggikan suaranya.


“Hentikan Aisha!! Kau bisa merusak acara honeymoon kita jika tingkahmu terus seperti ini”


 Prangggg....


Aisha membanting gelas yang dipegangnya. Ale kaget melihat reaksi istrinya itu. Selama tinggal bersama Aisha, baru sekarang Ale melihat Aisha marah. Istrinya itu sangat lembut dan tak pernah mau ribut dengannya. Aisha lebih sering mengalah dan berusaha menenangkan Ale ketika Ale sedang emosi dengan masalah di kantornya.


“Bukan aku yang merusak honeymoon kita tapi kamu.....!!!” Aisha berkata sambil menunjuk wajah Ale.


Aisha pergi dengan emosi yang masih menguasai dirinya. Ia berjalan memasuki villa dengan mata yang mulai basah. Setiap melihat Kiara, Aisha selalu tersulut api cemburu. Entah mengapa hanya pada Kiara, Aisha merasakan cemburu yang berlebihan.


Aisha bukan sekali dua kali melihat Ale berinteraksi dengan perempuan lain. Namun, tidak satupun yang membuat Aisha merasakan api cemburu seperti ini. Aisha mencoba tegar, menegakkan kepala ketika bertemu dengan Kiara. Namun, tetap saja dirinya adalah wanita lemah. Air matanya itu selalu lolos membasahi pipinya.


Aisha sampai di depan kamarnya. Dia membuka pintu dan menutup dengan kasar. Aisha menjatuhkan badannya ke kasur. Ia memeluk gulingnya dengan erat. Ia menumpahkan segala emosinya di kamar tanpa Ale di sisinya.


“Aku tidak akan membiarkan perempuan itu merebutmu, Mas” ucap Aisha lirih.


                            ___ ***____


Ellea menatap sosok yang tengah sibuk menyantap berbagai makanan yang tersaji di meja makan. Laki-laki itu dengan cueknya melahap makanan yang baru saja di masak oleh pembantunya. Ellea segera menarik kursi dan duduk di hadapan Zian.


“Bagaimana bisa kau datang kesini?” tanya Ellea heran.


Zian tidak menghiraukan sepupunya. Mulutnya masih sibuk mengunyah. Bukannya Zian tidak mendengar pertanyaan Ellea. Namun saat ini dirinya sedang berusaha meredakan amarahnya.


Beginilah Zian jika sedang emosi. Nafsu makannya naik berkali-kali lipat. Mulutnya tidak akan berhenti mengunyah sampai dirinya benar-benar tenang.


Zian mengambil air dan meminumnya sampai kosong.


“Hueekkkkkkk” Zian bersendawa dengan kencang. Ellea hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zian yang tidak pernah berubah.


“Lagi marah? Apa sedang ada masalah?” tanya Ellea lagi.


Zian masih diam. Zian kembali mengambil air putih dan meminumnya sampai habis lagi.


Prangggg....


Zian membuang gelas bekas minumnya.


“Heiii...Kau gila ya?"


Ellea berteriak memanggil pembantunya. Ellea meminta agar pembantunya itu membersihkan percahan gelas yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Ellea menarik tangan Zian dan mengajaknya ke taman belakang rumahnya. Zian langsug saja menjatuhkan badannya di atas rerumputan. Ellea dengan cepat mengambil tempat di samping Zian.


“Ada masalah apa?” tanya Ellea lagi.


“Aku ditolak,” jawab Zian cepat.


“Ditolak? Siapa yang menolakmu?” tanya Ellea lagi.


“Ara.”


“Ara???” Ellea berusaha mengingat nama itu.


“Ara, kekasih Elang?” tebak Ellea.


“Mantan. Ingat! Mantan!!!” ucap Zian tak terima dengan ucapan Ellea.


“Kau menyukai mantan kekasih dari sahabatmu? Zian, sejak kapan kau menyukainya?” tanya Ellea tak percaya.


“Sejak aku pertama kali melihatnya"


“Apa....???? itu artinya Ara masih menjadi kekasih Elang?” tanya Ellea.


Zian mengangguk. Ellea semakin gelisah. Dia sepertinya mulai memahami sesuatu yang terjadi antara dirinya, Zian dan Elang beberapa tahun yang lalu.


“Jangan katakan kau lah yang menjadi penyebab mereka berpisah! Jangan katakan ini ada hubungannya dengan peristiwa Elang yang hampir membunuhmu! Katakan Zian! Katakan sejujurnya!!” Ellea mengguncang-guncangkan tubuh Zian. Zian membisu.


“Mengapa kau diam, Zian???"


“Ya..!! Aku yang membuat mereka berpisah. Aku yang mengatur semuanya...”


Plakkkk


Ellea menampar Zian.


“Aku tidak menyangka kau tega melakukan hal ini, Zian. Elang itu sahabatmu. Kau menusuknya dari belakang. Aku benar-benar kecewa kepadamu" ucap Ellea.


Suara terdengar bergetar. Zian memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan sepupunya itu.


“Harusnya kau mendukungku. Bukankah kau menyukai Elang? Jika mereka berpisah, Elang akan kembali padamu...”


“Tapi kenyatannya tidak...!!! Sampai kapanpun Elang tidak akan kembali padaku. Elang sudah muak denganku!!! Kau benar-benar jahat, Zian!"


“Karena kau tidak mau terus berjuang mendapatkan hatinya kembali, El...”


“Tidak...!! Kau salah!! Aku cukup tahu diri. Aku paham posisiku. Hentikan tingkah konyolmu Zian. Jauhi gadis itu. Kalau kau bisa, satukan mereka kembali!" ucap Ellea berapi-api.


“Apa??? Kau gila, El. Sampai kapanpun aku tidak akan berhenti mengejar Ara. Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikinya, termasuk Elang!!!” ucap Zian. Ia bangkit dan berlalu meninggalkan Ellea.


“Setan apa yang sudah meracunimu, Zian? Masih banyak gadis lain di luar sana. Mengapa kau tega menyakiti sahabatmu?” ucap Ellea lirih, menatap Zian yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


mana nih suaranya yang sudah baca episode ini????


jangan lupa vote, like dan komen ya

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2