
"Nona, bangun!"
Olive mengetuk pintuk kamar Kiara dengan agak keras karena sejak tadi pintu kamar Kiara belum juga terbuka. Sudah setengah jam Olive berdiri di depan pintu kamar Kiara, mengetuk dari volume rendah sampai akhirnya volume maksimal yang bisa ia hasilkan untuk membangunkan Kiara.
"Olive.... kenapa berisik sekali?" Kiara muncul dengan mata masih terpejam. Beberapa kali ia menguap sembari meregangkan otot-otot tubuhnya.
Olive bisa bernafas lega karena akhirnya boss perempuannya ini terjaga juga. Olive sudah berencana akan meminta Elin untuk membangunkan Kiara jika dalam lima menit ke depan tetap tidak ada jawaban. Namun, syukurlah rencana Olive urung terlaksana.
"Nona, kita harus segera bersiap" ucap Olive mengingatkan Kiara.
"Bersiap? Memangnya kita mau kemana? dan heii Olive jam berapa ini? langit masih gelap dan kau datang kesini mengganggu tidurku" gerutu Kiara hendak menutup kembali pintunya tetapi langsung dicegah Olive.
"Kita akan pemotretan, Nona. Apakah Nona lupa?" tanya Olive.
"Aku ingat ada pemotretan. Tetapi untuk apa kau membangunkanku sepagi ini? Aku masih mengantuk" teriak Kiara kesal dan ia kembali berbaring ke kamarnya, menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya.
Olive menghela nafas. Ia kemudian menelpon bodyguard Kiara yang kemarin sudah dikirim oleh Dira. Olive harus bergerak cepat agar tidak terkena amukan Evan dan lainnya.
"Cepat bawa Nona Kiara ke mobil! Bawa hati-hati karena Nona sedang tidur" perintah Olive yang segera dijawab anggukan kepala bodyguard itu.
Kedua bodyguard berkepala plontos itu segera masuk ke dalam kamar Kiara, mengangkat tubuh Kiara secara perlahan dan membawanya sampai di mobil.
Di dalam mobil sudah menunggu sopir yang akan membawa mereka ke tempat Evan.
"Jalan, Pak!" perintah Olive dan mobilpun segera melaju sesuai perintah.
Perjalanan menuju tempat Evan tidak membutuhkan waktu yang lama dan selama perjalanan Kiara tak sedikitpun terjaga. Olive harus kembali berfikir bagaimana ia akan membangunkan Kiara nanti?
----\*\*\*\*-----
"Nona Kiara kenapa?" tanya Evan ketika melihat dua orang bodyguard membopong tubuh Kiara masuk ke dalam.
"Tidur dan dia sangat susah di bangunkan. Maklumlah Nona Kiara sudah lama tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi sepertinya sekarang dia akan mengganti jam tidurnya" ucap Olive.
"Apaaaaa??? Ini tidak bisa dibiarkan. Olive, cepat bangunkan Nona Kiara! Jika tidak, kita semua tamat hari ini" ucap Evan cemas.
Tak ada pilihan. Olive meminta bodyguard tadi membopong Kiara ke kamar mandi, meletakkan tubuhnya di bath up. Olive menarik nafas panjang. Berkali-kali ia berdoa agar Kiara tidak mengamuk padanya.
Olive membuka kran air dan mengisi bath up dengan air dingin. Perlahan dan benar saja Kiara berteriak karena kedinginan. Olive mematikan kran air dan lamgsung membungkus tubuh Kiara dengan handuk tebal.
"Maaf Nona, saya terpaksa melakukan ini agar Nona bangun" ucap Olive ketakutan.
"Apa sih maumu, Olive?" tanya Kiara kesal.
Olive tak menjawab. Ia kemudian bergerak cepat memandikan Kiara dalam bath up. Kiara berkali-kali berteriak meminta Olive untuk keluar tetapi diacuhkan Olive.
Setengah jam adegan mandi memandikan selesai. Olive segera membawa Kiara menuju ruang ganti karena akan berganti memakai gaun pengantin.
"Ini apa?" tanya Kiara ketika Olive membawa sebuah gaun pengantin di hadapannya.
__ADS_1
"Gaun pengantin ini yang akan Nona kenakan untuk pemotretan" ucap Olive.
"Kenapa berbeda? Bukan ini yang akan aku kenakan untuk pemotretan, Olive" ucap Kiara.
"Emmhhh... itu... itu... saya tidak tahu, Nona. Evan hanya memberikan gaun ini kepada saya" ucap Olive gemetaran.
Evan masuk. Rencananya ia akan mengecek keberadaan Kiara yang tak kunjung muncul di ruang make up. Ia langsung mempercepat langkahnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari ruang ganti.
"Ada apa ini? Olive, mengapa Nona Kiara belum juga diantar ke ruang make up?" tanya Evan tentu saja dengan suara nyaring dan sangaunya.
"Nona tidak mau memakai gaun yang ini, Evan" ucap Olive membuat Evan langsung frustasi.
"Nona, mohon maaf atas masalah ini. Saya mohon Nona pakai gaun pengantin yang ini ya? Gaun pengantin yang kemarin sudah di ambil oleh utusan Pangeran Inggris" ucap Evan mencoba membujuk Kiara.
Kiara menggeleng. Ia tetap pada pendiriannya. Evan mengedipkan sebelah matanya kepada Olive. Evan langsung berlari keluar dan beberapa orang datang membantu Olive memasangkan gaun pengantin itu pada Kiara.
Kiara berteriak-teriak menolak memakai gaun itu. Namun, Kiara kalah tenaga. Kiara yang seorang diri tentu saja kalah dengan 10 orang.
Setelah Kiara selesai memakai gaun pengantinnya. Evan masuk membawa peralatan make up nya. Ia bergerak cepat, mulutnya tak henti berdoa sembari sesekali melirik jam dinding untuk memastikan waktu yang tersisa untuknya.
"Nona, maaf kami hanya ingin selamat. Tolong kerja samanya" ucap Evan ditengah-tengah sesi make up nya.
Setelah selesai dengan make up, Evan segera menata rambut Kiara. Ia kembali melirik jam dinding. Tak ada waktu untuk membuat model yang ribet. Evan memilih menggelung rambut Kiara menjadi sanggul kecil dengan beberapa anak rambut yang ia biarkan lepas.
Selesai, Evan segera menuntun Kiara masuk ke dalam mobil. Mereka membawa Kiara menuju tempat pemotretan sesuai petunjuk yang diberikan Rio lewat GPS.
Rio dan beberapa orang yang tergabung dalam tim nya sudah berada di Uluwatu sejak pukul dua dini hari waktu setempat. Mereka juga bergerak cepat dalam mempersiapkan pemotretan Kiara. Berkali-kali Rio meminta pada tim nya untuk mengecek peralatan yang akan di pakainya, memastikan jika alat-alat itu tidak akan memberinya masalah.
"Hei... hei... hei... kenapa calon model pengantinku cemberut seperti ini? ada masalah?" tanya Rio ketika melihat Kiara keluar dari mobil dengan wajah di tekuk.
"Baju pengantinnya diganti dan Nona tidak mau yang ini" ucap Olive membuat Rio mengalihkan pandangannya ke arah Evan.
"Apa? Kau mau protes juga? Ini sudah perintah dan aku tidak bisa menolak" ucap Evan yang tentu saja langsung dipahami oleh Rio.
"Kiara, kau selalu cantik dengan baju pengantin model apapun yang akan kau pakai. Tersenyumlah! Jika kau mau tetap bisa bernafas sampai kiamat, tolong jangan tekuk wajahmu" bujuk Rio.
Kiara menghela nafas. Moodnya sudah terlanjur buruk. Ia mencoba tersenyum tetapi tetap saja hatinya merasa dongkol. Evan dan Olive saling menatap dengan perasaan cemas.
"Apa kita berikan saja gaun itu?" bisik Olive pada Evan.
"Kau gila, Olive. Jika Nona Kiara tetap melakukan pemotretan dengan gaun itu, besok kita semua tinggal nama" bisik Evan di telinga Olive.
"Lalu kita harus bagaimana? Nona Kiara sangat tidak suka gaun penggantinya?" bisik Olive lagi membuat Evan semakin frustasi.
Evan berlari mendekati Kiara yang sedang di bujuk oleh Rio. Ia berhenti tepat di depan Kiara dan langsung menggenggam kedua tangan Kiara.
"Nona Kiara.... tolonglah, bantu kami. Kami hanyalah penyangkul dollar yang ingin bertahan hidup. Saya mohon Nona Kiara mau melakukan pemotretan dengan gaun ini" bujuk Evan sembari meremas jari-jari lentik milik Kiara.
"Aku benar-benar tidak suka gaun ini. Lihatlah! Pundakku tidak terekspose jika menggunakan gaun ini" ucap Kiara masih dalam mode ngambeknya.
__ADS_1
Evan memutar otak. Waktu semakin mepet dan Kiara masih juga menolak dengan gaun pengantin yang dipakainya. Mau tidak mau, Evan harus kembali memberikan penawaran agar Kiara mau bekerja sama dengannya.
"Saya ada gaun lain, Nona yang sepertinya sesuai dengan keinginan Anda. Nona bisa memakai gaun itu tetapi nanti Nona harus kembali menggunakan gaun yang ini. Jadi kita melakukan pemotretan dengan dua gaun pengantin" kata Evan memberi penawaran.
Kiara nampak berfikir sejenak kemudian meminta Evan untuk mengambil gaun lain yang ia katakan. Evan segera menyuruh anak buahnya mengambil gaun pengantin yang sengaja ia bawa untuk cadangan.
Senyum Kiara terbit ketika melihat anak buah Evan membawa patung manequin bergaun pengantin model ballgown off shoulder. Kiara segera meminta Olive membantunya untuk berganti gaun.
Tak lama Kiara muncul dan segera mengambil posisi di tempat semula. Kiara akan melakukan pemotretan di bibir pantai. Ketika Rio hendak melaksanakan tugasnya, Evan berteriak dan meminta mereka pindah lokasi karena baju pengantin itu tidak cocok jika dipakai pemotretan di bibir pantai. Evan meminta pemotretan dilakukan langsung di pelaminan, tempat yang lebih cocok menurutnya.
"Sudahlah, Boy! Jangan menampakkan wajah kesal seperti itu! Bukankah di pelaminan juga sudah terpasang peralatan memotretmu?" bisik Evan.
"Kau gila! Jika kita langsung ke pelaminan apakah Nona Kiara tidak akan curiga?" tanya Rio masih dalam mode kesalnya.
"Tenang, Boy! Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menutup bagian-bagian yang menyolok. Rileks, Nona Kiara tidak akan curiga" bisik Evan lagi yang mau tidak mau segera diiyakan oleh Rio.
"Kalian sejak tadi berbisik-bisik. Apakah ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Kiara.
Evan langsung gelagapan ketika melihat Kiara sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Apa kalian sedang merencanakan sesuatu?" selidik Kiara lagi membuat Evan semakin gelisah.
Rio segera mengambil alih posisi, melihat Evan seperti kehabisan nafas memghadapi Kiara. Rio berjalan, menggeser tubuh Evan agar berada di belakangnya.
"Sepertinya aku harus membawamu mengikuti upacara melukat karena aura negatifmu muncul lagi" ucap Rio yang dibalas pelototan tajam oleh Kiara.
"Lebih baik kita segera ke pelaminan untuk melakukan pemotretan sebelum para tamu undangan datang" ucap Rio membuat Evan langsung memberikan pukulan keras di bahunya.
"Kenapa kau memukulku? Bukankah benar yang ku katakan? Kita akan melakukan pemotretan di pantai bukan di pelaminan. Jika kita berpindah lokasi ke pelaminan maka kita harus bergegas sebelum upacara pernikahan dimulai. Kau pikir kita ini siapa bisa pindah lokasi seenaknya?" gerutu Rio membuat Kiara merasa tak enak hati.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka bergegas menuju pelaminan. Pemotretan segera dilakukan dengan berbagai pose. Selama pemotretan, Evan tak henti-henti nya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang datang ke lokasi itu.
"Selesai!" teriak Rio ketika lensa kameranya sudah berhasil mengambil foto Kiara yang terakhir.
Kiara tersenyum lebar melihat hasil karya Rio. Cantik, Kiara sangat cantik memakai gaun itu. Gaun yang benar-benar mengekspose kedua pundak Kiara dengan sempurna. Ditambah lagi dengan background Samudra Hindia yang menambah kesan cantik dan romantis pada fotonya.
Senyum Kiara seketika memudar. Ia tersadar jika seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya dengan Elang. Kiara memang memakai baju pengantin tapi untuk keperluan pemotretan bukan untuk acara pernikahannya.
"Nona, saatnya berganti gaun pengantin" ucap Olive membuyarkan lamunan Kiara.
"Apakah aku tidak bisa memakai gaun ini seharian? Aku ingin menikmati hari ini seolah-olah adalah hari pernikahanku" ucap Kiara membuat hati Olive trenyuh.
"Maaf, Nona. Gaun ini sebenarnya pesanan milik kerajaan Inggris yang terbawa di mobil saya. Nona tidak bisa memakai gaun ini lebih lama karena akan segera saya packing untuk dikirim ke Inggris" ucap Evan.
Kiara mengangguk. Ia mencoba berlapang dada. Sudah seharusnya Kiara tidak menyusahkan Evan dan timnya. Kiara menurut untuk berganti gaun pengantin meskipun ia tidak suka dengan gaun pengantin yang pertama ia pakai.
Olive kembali menuntun Kiara menuju ruang ganti. Ia menoleh ke belakang sambil mengedipkan mata, memberi kode kepada Evan. Evan mengangguk. Ia segera memanggil anak buahnya ketika Kiara dan Olive sudah benar-benar pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Cepat kembalikan semuanya seperti awal!" perintah Evan kepada anak buahnya.
hufffttt.... Othor mau tarik nafas dulu ya....ditunggu up berikutnya. Lope lope dari othor