Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 15


__ADS_3

Rio hanya dapat berdiri mematung ketika melihat seorang laki-laki memeluk Kiara dengan erat. Kiara yang mendapat pelukan mendadak seperti itu rupanya tidak keberatan bahkan tampak senang. Kiara tertawa lepas dan terlihat sangat akrab dengan laki-laki itu.


Rio bisa melihat jika Kiara merasa nyaman dengan laki-laki itu. Berbeda ketika saat bersamanya. Kiara lebih banyak diam dan berbicara seperlunya. Rio mulai bertanya-tanya. Apakah laki-laki itu kekasih Kiara? Bodoh sekali Rio mengapa ia tidak pernah bertanya apakah Kiara mempunya kekasih atau tidak? Apakah karena laki-laki itu, Kiara selalu tidak merespon setiap Rio merayunya?


Rio membalikkan badannya dan melangkah menjauh. Kepalanya menunduk dengan raut wajah lesu. Evan sempat menepuk bahu Rio menguatkan sahabat sekaligus fotografer pribadinya. Meskipun Evan dan Rio kerap adu mulut, tetapi tetap saja mereka saling menyayangi satu sama lain.


Rio masuk ke dalam ruang istirahat milik Evan. Rio mengempaskan badannya di sofa dengan kasar. Matanya menatap langit-langit ruangan dengan sendu.


"Sakit, kenapa hatiku sakit melihat laki-laki itu memeluk Kiara? dan laki-laki itu sepertinya tidak asing bagiku" batin Rio mengingat-ingat.


Rio menggigit bibir bawahnya. Hatinya masih kesal melihat adegan tadi.


"Hei..hei..hei... rupanya ada yang sedang patah hati melihat gadis incarannya ternyata sudah milik orang lain" ejek Evan ketika masuk ke dalam ruangannya.


Evan sebenarnya ingin menghibur Rio namun entah mengapa sepertinya menggoda Rio lebih menyenangkan untuk saat ini. Rio tidak menjawab, dia hanya mendengus kesal. Evan tersenyum sepertinya dia punya ide untuk memanasi sahabatnya itu.


"Beruntung sekali Kiara mendapatkan laki-laki itu. Aku akan mendukung Kiara 1000% jika dia bersamanya" ucap Evan terkekeh.


Bugggg.


Rio melempar sepatunya pada Evan dan tepat mengenai perut Evan yang buncit layaknya gentong air.


“Sialan kau?” umpat Rio.


Evan yang mendapat serangan sepatu terbang dari Rio tentu saja berteriak. Evan melangkah mendekati Rio dengan gaya lemah gemulainya.


“Hei boy, kau tahu siapa laki-laki yang tadi memeluk Kiara?” bisik Evan dan Rio hanya menggeleng.


“Apa kau lupa dengannya?” bisik Evan lagi dan Rio hanya mengangkat kedua bahunya.


Evan menghela nafas. Ia kemudian duduk di samping Rio. Evan membuka kipas pusakanya dan mulai mengipas-ngipas wajahnya.


"Boy, laki-laki yang memeluk Kiara tadi adalah A-di-ra-ka. Bagaimana hah? Sudah ingat?” Evan tertawa cekikikan.


Rio langsung terperanjat mendengar nama yang disebutkan Evan. Adiraka? Mana mungkin dia bisa lupa dengan namanya? Peristiwa kelam itu yang membuat Rio berurusan dengan seorang Adiraka. Peristiwa beberapa tahun lalu yang pastinya menyisakan luka bagi seorang Adiraka karena ulahnya.


"Sepertinya ini karma dari Tuhan untukmu karena pernah merebut kekasihnya" Evan kembali tertawa cekikikan. Wajah Rio langsung pucat.


“Boy, lupakan Kiara! Jangan sampai kau merebutnya lagi dari Tuan Adiraka. Kalau sampai kau melakukan itu, bisnisku ini bisa hancur dalam hitungan detik" ancam Evan.


“Tidak! Tidak bisa begitu Evan!!! Bukan aku yang merebut kekasih Adiraka. Perempuan itu sendiri yang datang padaku......”ucap Rio setengah berteriak. Dirinya belum bisa terima dengan kenyataan yang baru saja Evan sampaikan.


“Dan kau senang hati menampungnya, menjadikan teman tidurmu sampai akhirnya Tuan Adiraka tahu jika kekasihnya main belakang denganmu!!!” potong Evan.


“Kau harus tahu bagaimana dulu bisnisku diambang kehancuran akibat ulahmu itu! Untung saja Tuan Adiraka masih berbaik hati dan tidak menarik sahamnya. Kalau sampai itu terjadi, kita semua jadi gembel dengan sekejap mata" ucap Evan dengan emosi.


Rio bangkit dari duduknya. Rio mengajak kakinya untuk melangkah namun gerakan langkahnya terhenti karena Evan menarik tangannya.


“Mau kemana kau?” tanya Evan.


“Aku mau mencari Kiara” ucap Rio dingin.

__ADS_1


“Hentikan! Jangan bikin masalah lagi!” cegah Evan.


“Aku harus bertemu dengan Kiara dan menanyakan apa hubungannya dan Adiraka?" ucap Rio menghempaskan tangan Evan dan bergegas pergi.


Evan membulatkan matanya. Ia tidak mau ada masalah lagi. Evan segera bangkit dan mengejar Rio meskipun tidak mungkin terkejar juga.


Di ruang persiapan, Kiara sedang duduk bersama Dira. Kiara sedang melepaskan beberapa perhiasan yang tadi dia pakai. Dira tersenyum melihat wajah adiknya pada cermin besar di hadapannya.


“Lu kenapa senyum-senyum begitu, Kadir?” tanya Kiara.


“Make up lu jangan dihapus. Lu pulang begini aja" perintah Dira membuat Kiara menautkan kedua alisnya.


“Sepertinya mulai besok gue bakal nyuruh Evan untuk menjadi stylist pribadi lu" lanjut Dira dengan terkekeh.


“Hah? stylist pribadi? Untuk apa?” tanya Kiara heran.


“Ya buat dandanin elu lah. Kalau dandanan lu begini, lu pantes jadi adik seorang presdir kayak gue" jelas Dira kembali dengan tertawa cekikikan.


“Emang kalau gue tampil sederhana kayak biasanya gue nggak pantes jadi adik presdir?” cibir Kiara.


“Tentu saja nggak pantes. Lebih pantes jadi babu gue ha...ha...ha....” tawa Dira lepas.


Beberapa orang yang melihat Dira tentu saja heran karena selama ini Dira dikenal sebagai sosok yang dingin.


Rio masuk dan dia kembali terhenti ketika melihat Kiara sedang bersama Dira. Tak lama Evan kemudian tiba. Evan melihat pemandangan apa yang membuat sahabatnya mematung seperti itu. Matanya tercengang melihat Kiara yang sedang ditemani boss nya. Evan segera berlari menghampiri Kiara.


“Tuan Adiraka, maaf, saya tidak tahu kalau Tuan ada di sini" ucap Evan sambil membungkuk.


Respon Dira yang tak seperti biasanya itu tentu saja membuat Evan heran. Biasanya Dira hanya akan berdehem dan berlalu. Tak pernah ada kalimat yang keluar dari mulutnya kecuali jika itu sebuah perintah.


Dira menggeserkan kepalanya agar terlihat oleh Rio.


“Hallo Tuan Vaston, apakah kau tidak mau menyapaku?" sapa Dira pada Rio.


Evan m e r e m a s jarinya. Ia lupa jika Rio juga berada di ruangan ini. Rio yang sedari tadi diam, memberanikan diri melangkah mendekati Dira. Rio mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Dira.


"Hallo Tuan Adiraka. Maaf aku telat menyapamu. Apa kabar?" tanya Rio basa-basi.


“Kau menanyakan kabarku? Tentu saja kabarku tidak seburuk beberapa tahun yang lalu" ucap Dira menerima uluran tangan Rio dengan senyum sinis khas presdir Adiraka. Evan menelan ludah. Sepertinya dendam boss nya belum juga hilang.


Kiara diam, dia memilih tidak bergabung dalam obrolan mereka. Bagaimana mau bergabung? Mengerti apa yang sedang mereka bahas saja tidak. Kiara lebih memilih pergi untuk ganti baju.


“Permisi” pamit Kiara namun langkahnya tertunda karena Dira yang tiba-tiba menarik tangannya.


“Pakai ini dan tunggu aku di mobil!” perintah Dira dan Kiara hanya mengangguk lalu pergi.


Setelah Kiara pergi dari ruang persiapan, situasi kembali hening. Melihat situasi yang tidak nyaman seperti ini membuat Evan membuka obrolan.


“Tuan Adiraka, Anda kenal dengan Kiara?”


Dira kembali menarik ujung bibir atasnya.

__ADS_1


“Tentu saja aku mengenalnya. Kiara, my aurora" tatap Dira pada Rio.


Dira menekankan kata my aurora, kata yang ia ambil pada caption foto Kiara yang terpajang di halaman lovagram Rio. Evan tertawa basi.


“Kiara model baru di sini, Tuan, dan Anda sangat serasi dengannya" puji Evan membuat Dira tertawa menyeringai.


“Andai aku tahu Kiara akan bergabung denganmu, aku pasti akan melarangnya,” ucap Dira dengan tatapan tajam.


Mendengar ucapan Dira tentu saja membuat Evan ketakutan.


“Tuan, apakah Anda bercanda? Kiara baru saja tanda tangan kontrak dan Anda harus tahu banyak sekali perusahaan yang menawarinya kerja sama dengannya. Saya yakin meskipun model baru, karier nona Kiara akan melejit" rayu Evan.


“Kiara tidak membutuhkan itu" sambar Dira cepat.


“Tuan Adiraka, aku minta maaf atas perbuatanku dimasa lalu. Aku mohon izinkan Kiara bergabung dengan kami.....” ucap Rio terputus


“Saya berjanji akan menjauhkan Nona Kiara dari Rio" mohon Evan dengan cepat.


“Apa kau yakin bisa?” tanya Dira setengah mengejek.


“Saya yang akan menjadi jaminannya, Tuan" ucap Evan tanpa pikir panjang.


“Ck... aku pegang janjimu. Jika kau lalai melaksanakan tugasmu. Jangan harap kantormu itu masih berdiri kokoh" ancam Dira dan hal itu tentu saja membuat Evan gemetar.


“ Mmm.. satu lagi tugas untukmu Evan. Mulai besok kau aku angkat menjadi stylish pribadi Kiara. Aku percayakan tampilan Kiara dari ujung kaki sampai ujung rambut kepadamu. Aku tidak mau Kiara terlihat seperti babu yang mengurusiku" titah Dira membuat wajah Rio bertambah masam.


“Baik, Tuan Adiraka. Saya pastikan mulai besok kekasih Anda akan tampil memukau" janji Evan membuat Dira mengernyitkan dahinya.


“A...a...apa? Kekasih?? Siapa yang kau maksud dengan kekasihku?" tanya Dira membuat Rio dan Evan saling bertatapan bingung.


“Ten...tu.. saja Nona Kiara. Dia kekasih Anda kan Tuan Adiraka?” ucap Evan memberanikan diri.


Dira mengembungkan pipinya dan seketika itu juga tawanya pecah. Rio dan Evan masih diam saling melirik dengan ekor matanya. Mengapa Dira tertawa? Apakah ada hal yang lucu?, begitu pikir mereka.


“Kiara kekasihku? Kalian pikir dia kekasihku?” tanya Dira dengan tawa yang belum juga reda hingga membuatnya terbatuk.


Dira menenangkan dirinya, mengubah raut wajahnya menjadi dingin kembali. Dira memajukan wajahnya hingga jarak mereka bertiga hanya beberapa senti saja.


“Dengarkan baik-baik apa yang aku katakan. Kiara bukan kekasihku...” ucap Dira.


Ada sedikit rasa senang di hati Rio ketika mendengar kalimat Dira.


“Tetapi dia adikku. Itu artinya dia adalah bos kalian juga" ucap Dira dengan menekankan kata bos pada Rio dan Evan.


“Apa...???” teriak Evan dengan mulut yang masih menganga sedangkan Rio hanya bisa mematung mendengar kalimat lanjutan dari Dira.


Dira tersenyum mengejek ke arah Rio dan menepuk bahunya seakan memberi kode agar menjauh dari Kiara. Dira melangkah pergi dengan santai meninggalkan Evan dan Rio yang masih shock dengan pernyataan Dira.


Evan menepuk bahu Rio.


“Boy, Ku harap kau benar-benar bisa menjauh dari Nona Kiara. Aku belum mau menjadi gembel" ucap Evan dan berlalu dengan langkah gontai.

__ADS_1


__ADS_2