
Widya segera menarik tangan Kiara agar meninggalkan ruang ganti. Untung saja gaun Kiara sekarang tidak berekor panjang seperti gaun pertamanya sehingga ia bisa mengimbangi langkah Widya.
Widya menuntun Kiara menapaki jalan setapak menuju pelaminan. Di sana Elang sudah menunggu Kiara sembari menyunggingkan senyum bahagianya. Berbeda dengan Kiara yang masih dalam mode bingung. Ia nampak menoleh ke kanan ke kiri mengamati sekelilingnya.
Kiara terkejut ketika melihat Evan dan Olive berada di kursi undangan. Mereka melambaikan tangan ke arah Kiara. Heran, Evan dan Olive sudah berganti baju. Evan dengan setelan jas hitamnya sedangkan Olive dengan gaun warna maroon membuatnya terlihat sangat cantik.
Kiara mengedarkan pandangannya. Jika Evan dan Olive berada di tempat ini, pasti Rio juga berada di sini. Kiara terus mencari dimana keberadaan Rio sampai ia tak sadar jika mereka sudah sampai di pelaminan.
"Kiara, lihat ke depan! Suamimu di hadapanmu. Mengapa kau malah celingak -celinguk tidak jelas seperti ini sih?" tegur Widya kemudian berlalu meninggalkan Kiara dengan Elang.
Kiara sedikit kaget dan memutar kepalanya menghadap ke depan. Ia menatap lekat-lekat lelaki yang kini berdiri sembari tersenyum kepadanya. Pakaiannya masih sama seperti pertama kali ia melihatnya di pinggir pantai.
"Kenapa menatapku seperti itu hah? Aku memang tampan tapi kata abang Dira tidak boleh lebih tampan darinya" ucap Elang sembari tersenyum kecil.
Plak...
Kiara menampar Elang dengan keras. Semua tamu undangan berdiri, kaget melihat apa yang dilakukan Kiara pada Elang. Bahkan ada beberapa tamu yang sedang makan, tersedak melihat adegan tadi.
"Sayang, mengapa kau menamparku?" tanya Elang. Ia meringis sembari memegang pipinya yang sakit akibat ditampar Kiara.
Kiara menatap telapak tangannya. Sakit, ia merasakan sakit. Artinya Kiara tidak sedang bermimpi.
"Ternyata aku tidak bermimpi. Tanganku sakit karena menamparmu" ucap Kiara tanpa dosa.
Elang tertawa. Ia langsung memeluk Kiara dengan erat. Biarkan saja tamu undangan yang menjadi penonton kemesraan mereka. Toh mereka juga bisa pergi atau makan jika tidak ingin melihat adegan ini.
"Sudah sejak di pantai aku mengatakan jika ini bukan mimpi. Kau masih saja mengira ini khayalanmu saja. Sayang, ini aku Elang! Kita sudah sah. Kita sudah menjadi suami istri sekarang" teriak Elang dengan mata berbinar-binar.
"Sah? Kapan kau ijab kabul?" tanya Kiara gusar.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakannya kepadamu, Sayang. Dandananmu berantakan jadi aku memintamu agar dirias ulang sedangkan aku melakukan ijab kabul" ucap Elang menjelaskan.
"Lalu siapa yang menjadi wali nikahku?" tanya Kiara lagi.
"Tentu saja Abangmu yang katanya tampan dan rupawan. Kau pasti bingung kan? Sudahlah kau bisa mengintrogasinya nanti. Sekarang nikmati saja hari bahagia kita" ucap Elang sembari menaik turunkan kedua alisnya, menggoda Kiara dengan senyum nakalnya.
Kiara memutar tubuhnya, kakinya hendak melangkah namun segera di tahan oleh Elang.
"Kau mau kemana, Sayang? Lihat para tamu sudah siap untuk bersalaman dengan kita!"
"Bodo amat. Aku mau cari si Kadir" ucap Kiara dengan raut wajah yang sudah merah menahan amarah.
"Kau tidak perlu mencarinya. Dia akan muncul sendiri" ucap Elang.
__ADS_1
"Maksudmu?"
Ciiitttttttt..........
Tiba-tiba terdengar suara speaker berdecit. Kemudian disambut dengan bunyi hentakan drum. Dira muncul di atas panggung. Ia mengenakan mengenakan jaket kulit hitam, kacamata hitam, celana hitam lengkap dengan kain panjang berwarna merah yang melingkari kepalanya. Maksudnya mau bikin ikat kepala seperti punya artis sebelah.
Dira berdiri dengan tangan kanan memegang stand mic. Dibelakangnya beberapa orang sudah siap dengan membawa alat musik masing-masing.
Entah siapa yang memulai, para tamu undangan yang semula duduk anteng kini berhamburan menuju area di depan panggung.
"Are you ready?????" teriak Dira yang tidak disambut oleh para tamu yang berada di bawah panggung.
Melihat dandanan Dira yang metal abis, Kiara yakin bahwa kakaknya yang konyol itu akan menyanyikan lagu rock. Namun, ia juga ragu mengingat saat Dira kesulitan menggapai nada tinggi saat menyanyikan lagu pop.
"Tu... Wa... Tu... Wa...Ga....Pat..." ucap Dira memberi aba-aba
Dug...dug...dug....dug.. dug...
Jeng....jeng....jeng...jeng...jeng....
"Apa salah dan dosaku sayang. Cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang 'kan ku berikan. Jaran goyang...Jaran goyang"
Kiara menganga mendengar lagu apa yang dinyanyikan Dira. Lagu dangdut yang dibawakan dengan musik rock tapi tidak didukung dengan kualitas vokal Dira. Dira lebih mirip berteriak asal dari pada bernyanyi sesuai nada.
Kiara menutup wajahnya, ia merasa malu. Ingin sekali ia naik ke atas panggung, menarik Dira turun agar tidak menambah daftar sikap konyolnya selama ini.
Kiara benar-benar heran. Apa mungkin Dira membayar para tamu agar menikmati konsernya padahal mereka merasakan sakit luar biasa pada indra pendengarannya?
Dira terus bernyanyi dan Kiara baru menyadari jika Rio berada di atas panggung juga. Rio memainkan gitar mengiringi Dira bernyanyi.
Setelah selesai menyanyikan lagu jaran goyang, Dira tak langsung undur diri. Lagu jaran goyang berganti menjadi lagu unity milik Alan Walker. Musik lagu itu dibawakan dalam genre EDP oleh seorang Dj yang tiba-tiba saja muncul di samping Dira.
Dira membuka jaket hitamnya dengan asal. Kiara menganga melihat kaos bunga-bunga berwarna ungu yang dikenakan Dira. Dira juga melepas pita yang ia gunakan sebagai ikat kepala, menggantinya dengan topi warna putih. Tak lupa handuk kecil berwarna kuning yang melingkar di lehernya.
Kiara semakin ingin kabur. Bisa-bisanya kakaknya itu berdandan layaknya penjual es lilin di hari pernikahannya. Ini bukan pesta pernikahan impiannya, lebih tepatnya konser konyol Dira.
"Elang, bisakah kita pergi dari sini?" tanya Kiara.
"Kenapa sayang? Kau lelah?" Elang balik bertanya.
"Aku bukan lelah tapi aku malu setengah mampus melihat Kadir seperti itu" ucap Kiara yang sukses membuat Elang tertawa.
"Biarkan saja, Sayang. Kakakmu memang unik. Biarkan dia berkreasi di hari bahagia kita" ucap Elang yang dibalas dengusan kesal Kiara.
__ADS_1
Dira mengambil speaker. Volume musik mulai mengecil. Dira mengarahkan speaker pada microphone dan mulai berpidato.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan happy wedding kepada adik saya tercinta Kiara Putri Sanjaya. Abangmu yang tampan dan rupawan ini sangat berbahagia melihatmu bersanding dengannya" ucap Dira.
Volume musik kembali kencang. Dira memindahkan speaker dan stand mic ke sisi pinggir panggung. Ia mulai melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan. Tak lupa gerakan tangan yang sebenarnya kaku tapi dibuat gemulai.
Perlahan, satu persatu keluarga Kiara dan Elang muncul. Tidak ketinggalan Evan dan Olive yang juga mengambil bagian dalam sesi ini. Mereka berbaris di belakang Dira sambil mengikuti gerakan tarian Dira.
"Eeee....aaaaa... goyang Bang Kadir!"
"Eeee.....aaaa..... goyang Bang Kadir!" teriak mereka bersama-sama disela-sela mereka menari.
Kiara serasa ingin pingsan melihat tarian yang mereka lakukan di atas panggung. Kompak, bagaimana mereka bisa se kompak itu meniru gerakan Dira yang nota bene aneh? Kiara bisa melihat bagaimana orang-orang di belakang Dira menampakkan ekspresi suka cita saat menari. Bahkan Nenek Mila dan Evan terlihat paling bersemangat menirukan goyangan Dira sambil terus berteriak.
"Kenapa? Sepertinya kau terpukau dengan menampilan mereka" ucap Elang terkekeh geli melihat ekspresi Kiara saat ini.
"Malu bukan terpukau. Bagaimana mereka bisa dengan santainya menari tarian konyol seperti itu? Dan lihatlah mereka kompak sekali" ucap Kiara sengit.
"Bagaimana tidak kompak jika mereka rajin latihan selama dua hari ini? Salah satu tujuan Abang Dira mengirimmu kesini terlebih dahulu agar mereka dapat berlatih dengan tenang tanpa ketahuan dirimu, sayang" ucap Elang kembali terkekeh.
Plak...
Kiara kembali memukul Elang. Ia kesal karena merasa dikerjai oleh keluarganya. Bisa-bisanya mereka bekerja sama membuat drama seolah-olah pernikahan Kiara batal. Geram, kesal, lihat saja Kiara akan membuat perhitungan dengan dalang dari semua kejadian ini.
"Mau kemana lagi?" tanya Elang ketika melihat Kiara kembali memutar tubuhnya.
"Aku mau tidur! Terserah jika kamu masih mau disini melihat konser si Kadir. Kiara capek mau tidur"
"Eh sebentar, kita belum foto!"
Elang memberi kode kepada fotografer yang merupakan salah satu tim yang bekerja bersama Rio. Dalam hitungan ketiga, Elang mencium bibir Kiara. Setelah itu ia merangkul Kiara dari belakang.
Cekrek... (1 foto)
Cekrek...(2 foto)
Cekrek...(3foto)
Kiara kemudian mendorong Elang dan berlalu meninggalkan gedung pernikahan. Ia sangat lelah. Sudah cukup ia menjadi korban kurang tidur. Sekarang Kiara ingin tidur dengan nyenyak, tak peduli jika acara pesta pernikahannya belum selesai.
Akhirnya... Part tersulit dan paling menguras emosi kelar. Othor harus bergelut dalam merangkai kata dan tentu saja sinyal yang membuat cerita ini nggak bisa terpublish dengan lancar.
__ADS_1
Cerita Kiara dan Elang sudah tamat. Tapi jangan buru-buru diunfav, ada beberapa extra part yang akan othor up diepisode selanjutnya.
terima kasih sudah mendukung karya othor dari awal hingga akhir. like, komen dan Vote selalu othor terima dengan hati berbunga-bunga. Salam jauh dari Othor