
“Siapa perempuan itu, Mas?” serbu Aisha pada Ale ketika mereka sudah tiba di kamar.
Ale nyengir kuda. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Dilihatnya Aisha yang sedang duduk di atas ranjang sedang menatap tajam ke arahnya.
“Dia Ara” jawab Ale pendek.
Ale memilih segera berjalan mendekati Aisha dan duduk di hadapannya.
“Aku tidak tanya namanya, Mas! Aku tanya siapa dia?"
Kali ini Aisha bertanya dengan suara agak tinggi. Kedua tangannya mencekram bantal dengan kuat. Dari ekspresinya sangat terlihat jika Aisha sedang terbakar cemburu.
“Dia mantan kekasih Elang...”
“Mantan kekasih Elang apa mantan kekasihmu?" sambar Aisha dengan cepat.
Aisha tidak percaya begitu saja dengan jawaban Ale. Melihat bagaimana Ara menatap Ale. Aisha bisa merasakan ada kerinduan dalam tatapan mata Ara. Ale mungkin saja bisa berbohong tapi apa yang Aisha lihat tidak mendukung ucapan Ale. Suaminya itu juga terlihat canggung ketika bertemu Ara. Pantaslah jika Aisha merasa ada sesuatu diantara mereka.
“Aisha, Ara adalah kekasih Elang. Kau ingatkan Elang pernah hampir gila gara-gara putus cinta? Nah, si Ara itu kekasihnya" ucap Ale tetap santai meskipun ia tahu istrinya itu sedang emosi.
“Jika perempuan itu adalah mantan kekasih Elang. Mengapa dia menatapmu seperti itu? Aku bisa melihat ada kerinduan pada sorot matanya" ucap Aisha.
"Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Elang" ucap Ale menghela nafas.
Aisha membuang muka. Rasa kesal, cemburu dan takut berkecamuk di hati Aisha. Aisha melihat perempuan yang jauh dibandingkan dirinya, menatap suaminya dengan tatapan rindu. Perempuan itu lebih muda darinya, lebih cantik darinya, bahkan lebih sempurna dari Aisha.
Aisha meyakini Ale memiliki hubungan spesial dengan perempuan itu di masa lalu. Aisha merasa rendah diri apalagi sampai saat ini dirinya belum bisa memberikan Ale seorang keturunan. Aisha semakin merasa rendah. Dia khawatir Ale akan berpaling darinya.
“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Ale membuyarkan lamunan Aisha.
Aisha menggeleng. Ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Aisha akan mencoba untuk tidur meskipun ia tidak yakin bisa memejamkan mata dengan hati yang kalut seperti ini.
“Aku mau keluar. Kau tidurlah!" pamit Ale dan Aisha tidak memberikan respon pada Ale.
Ale beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar. Ale membuka pintu yang tadi ia kunci. Ale keluar dan menutup pintu dengan pelan. Ale membawa kakinya melangkah keluar dari villa milik Elin.
Udara di Labuan Bajo memang panas. Tetapi angin pantai mampu mendinginkan otak Ale yang sedikit ruwet akibat tingkah Aisha yang cemburu pada Ara.
Ale berjalan tanpa tujuan. Ale benar-benar menikmati pemandangan sekitar. Lelah berjalan, Ale memilih duduk di sebuah cafe sederhana yang ia lihat. Ale memesan es teler untuk mengobati dahaganya.
Sambil menunggu pesanannya datang, Ale mengedarkan pandangannya. Pandangannya terhenti ketika melihat sosok yang duduk seorang diri tak jauh dari tempat duduknya. Sosok itu sedang fokus menatap laptop sambil sesekali meminum jus di sebelahnya.
“Kau banyak berubah, Ara. Dulu saja Elang gila karena kau tinggalkan apalagi sekarang jika dia melihatmu seperti ini?" gumam Ale dalam hati. Ale tidak menyadari ujung bibirnya tertarik ke atas.
__ADS_1
Kiara yang sedari tadi fokus membaca email yang dikirim Dira merasakan jika ada seseorang mengamatinya. Ia mengangkat wajahnya dan menoleh sekilas. Sedetik... dua detik... mata Ale dan Kiara saling bertemu. Kiara tersenyum simpul dan kembali menatap laptopnya. Stay cool , ilmu warisan dari Dira yang diterapkannya.
Berbeda dengan Ale yang tertangkap basah. Ale gelagapan. Ia menenangkan jantungnya yang masih deg degan.
“Huffttt...” gumam Ale.
Ale segera melahap pesanannya ketika pesanannya mendarat cantik di mejanya.
“Boleh aku gabung?”
Deggg..
Ale kaget melihat Kiara yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Ia membisu dengan mulut menganga menatap Kiara.
“Diam artinya iya. Aku duduk ya" ucap Kiara tanpa basa-basi segera duduk berhadapan dengan Ale. Kiara memasang tampang imutnya dan itu benar-benar membuat Ale merasa gemas.
“Kenapa gugup, Om?” tanya Ara setengah menggoda Ale.
“Upss.... sepertinya aku tidak perlu memanggilmu Om lagi. Bagaimana kalau aku panggil Mas?" kali ini Kiara mengedipkan sebelah matanya.
“Uhuk...uhuk...uhuk....” Ale terbatuk mendapat serangan lagi dari Kiara.
Kiara tersenyum senang. Rupanya sosok Ale tidak seperti yang ia bayangkan. Ia yakin jika Ale mulai terpesona dengannya. Kiara kembali melancarkan serangannya. Ia beranjak duduk di samping Ale, menepuk bahu Ale pelan dan memberinya air mineral. Ale sedikit gugup mendapat perlakuan seperti itu dari Kiara.
Ale berusaha menghindar dari sentuhan Kiara. Kiara mengerti. Ia segera kembali ke tempat duduknya.
“Mas Ale apa kabar? Lama tidak bertemu membuatku rindu dengan Mas Ale" ucap Kiara.
Ale menelan ludahnya. Ia heran mengapa Kiara berubah menjadi sosok agresif seperti ini? Ale ragu jika perempuan di hadapannya ini adalah mantan kekasih keponakannya dulu. Perempuan pendiam pencinta es krim yang lugu dan manis.
“Kenapa diam, Mas?" tanya Kiara sedikit memiringkan kepalanya agar mata mereka kembali bertemu.
“Ara, kau banyak berubah. Kemana saja kau selama ini? Elang mencarimu kemana-mana. Dia hampir gila olehmu. Elang...” ucapan Ale terhenti karena Kiara menutup bibir Ale dengan jari telunjuknya. Lagi-lagi Ale dibuat kaget dengan tingkah gadis di hadapannya.
“Jangan membahas seseorang yang tidak ada di sini. Bahaslah kita. Apa Mas Ale tidak merindukanku?” tanya Kiara membuat Ale bingung harus menjawab apa.
“Oh iya, kau sedang apa disini?" tanya Ale mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sedang bertemu jodohku" ucap Kiara disusul dengan gelak tawanya.
“Mas Ale sendiri sedang apa disini?” Kiara menaikkan kedua alisnya berkali-kali. Rupanya ia senang menggoda Ale yang terlihat gugup berhadapan dengannya.
“ A..aku..aku.. sedang.. honeymoon. Ya honeymoon" ucap Ale terbata.
__ADS_1
“Oohhhh....honeymoon" ada rasa sakit ketika mendengar kata itu di hati Kiara. Namun, ia berusaha tetap tenang dan kembali melancarkan serangannya.
“Kalau aku tidak salah kalian udah lama menikah. Lalu mengapa baru honeymoon sekarang?”
“Oh... itu karena kami merasa perlu mengadakan honeymoon lagi. Sekalian mau program bikin anak” ucap Ale mencoba berbicara dengan santai.
Kiara mengangguk. Terlintas sebuah ide dalam otaknya. Kiara memajukan wajahnya sehingga jarak antara dirinya dan Ale semakin dekat.
“Andai kau dulu menikah denganku, pasti sekarang kau sudah bermain-main dengan anak-anak yang lucu. Aku tidak meragukan ketokceranmu. Karena Mas Ale juga mantan playboy" ucap Kiara tertawa.
Ale diam, mencoba mencerna kalimat Kiara.
“Jika perempuan itu tidak bisa memberimu anak, aku bisa memberikan anak untukmu” ucap Kiara membuat wajah Ale merah padam.
Kiara beranjak dari kursi dan kembali ke tempat duduknya. Cukup untuk hari ini. Panggilan video dari Dira membuatnya harus mengakhiri sesi bermain-mainnya dengan Ale.
Kiara kembali menatap laptopnya, tenggelam dalam pembicaraan serius dengan Dira. Sedangkan Ale masih duduk mematung, mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar-debar akibat dibombardir Kiara.
“Ternyata kau di sini, Mas" ucap Aisha mengagetkan Ale kembali.
“A..a..isha. kenapa menyusulku? Aku pikir kau tidur" ucap Ale.
“Mengapa? Kau tidak suka aku susul?” Aisha kembali emosi.
Ale dengan segera mendudukkan Aisha di kursi. Ale tidak mau Aisha mengamuk di tempat umum. Ia menenangkan Aisha dengan cepat.
Ale meminta Aisha menunggu karena ia akan masuk ke dalam untuk memesan makanan untuk Aisha. Aisha mengangguk dengan wajah yang masih cemberut. Ale berlari dengan cepat ke dalam cafe.
Aisha mengedarkan netranya untuk menikmati pemandangan sekitar cafe. Netranya membulat ketika mendapati sosok yang duduk sendirian tak jauh dari tempatnya. Aisha mengepalkan tangannya. Aisha menyangka Ale ke cafe ini agar bertemu dengan Kiara. Aisha menatap Kiara dengan kesal. Tanpa diduga Kiara menoleh ke arahnya dan tatapan keduanya bertemu.
Kiara menaikkan ujung bibirnya, menampakkan senyum sinisnya pada Aisha. Aisha semakin tajam menatap Kiara. Kiara yang memang memakai ilmu turunan dari Dira memilih memperlihatkan wajah angkuhnya pada Aisha, mengintimidasi Aisha hingga Aisha merasa kalah. Perang dingin terjadi. Aisha menghentakkan kakinya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi. Kiara tertawa melihat tingkah Aisha.
“Segitu aja?? Cihhh....!!! Lu bukan level gue" umpat Kiara.
Kiara kembali menatap laptopnya. Pembicaraan dengan Dira belum selesai.
“Sepertinya gue harus punya hiburan disini” batin Kiara.
“Kadir... ganti tukang pukul itu dengan Olive. Gue bakalan angkat Olive sebagai asisten pribadi gue”
Haii... Maaf baru up lagi. Yuk ramaikan dengan komen, like dan vote buat author.
love unlimited dari Author buat kalian yang sudah setia membaca pilihan hati kiara
__ADS_1
terima kasih.