Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 79


__ADS_3

Suara tepuk tangan Ivana terdengar sarkas di telinga Rio ketika ia tiba di butik milik Ivana. Rio yang semula ingin langsung ke ruangannya, harus menahan diri. Ia melihat Ivana berdiri dengan pongahnya, bertepuk tangan seakan memujinya tapi dengan tatapan dan senyum sinisnya.


Ivana berjalan menghampiri Rio. Wajahnya menampakkan kemarahan. Rio memilih diam, menunggu apa yang akan dilakukan bos nya itu.


"Kau masih punya keberanian untuk kembali kesini setelah apa yang kau lakukan?," tanya Ivana geram. Ia menatap Rio dengan tatapan tidak suka dan penuh amarah.


"Kamu pergi, menghilang tanpa kabar hingga banyak proyek yang batal akibat ulahmu. Dan hello? sekarang kau menampakkan batang hidungmu, Tuan Vaston!" kata Ivana dengan meninggikan nada suaranya ketika menyebut nama Rio.


"Apa kau pernah berfikir siapa dirimu itu? Bagaimana nasibmu jika tidak ada aku? Hello, Rio! Kau memang orang tidak tahu terima kasih. Aku hampir mati berdiri karena ulahmu!!!" kembali Ivana berteriak pada Rio.


Rio menghela nafas panjang. Ia paham mengapa Ivana sangat marah padanya. Rio tidak kembali ke butik Ivana setelah ia menemui Kiara di rumah sakit. Rio yang merasa patah hati memilih berjalan tanpa arah daripada kembali bekerja. Padahal Ivana sudah memberi tahunya jika Ivana mempunyai banyak klien-klien kelas kakap yang akan memakai jasanya. Akibat hilangnya Rio, Ivana pasti kehilangan fotografernya dan sesi pemotretan yang memang telah diagendakan dapat dipastikan batal.


"Maaf," hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Rio.


Ivana berdecih dan membuang muka dengan tangan bersedekap. Ia menyeret langkahnya menuju kursi kebesarannya. Ivana menghempaskan tubuhnya dengan keras seakan memberi kode pada Rio jika ia sedang marah besar.


"Kamu tahu berapa kerugianku akibat ulahmu hah?"


"Banyak," jawab Rio seadanya.


"Itu kau paham kan? Lalu kenapa kamu menghilang, Rio? Kau benar-benar membuatku hampir bangkrut," Ivana menggebrak meja kerjanya, menyalurkan emosinya yang beberapa hari tertahan.


Maafkan aku Ivana. Aku tahu aku memang tidak profesional dalam bekerja. Aku telah membuatmu rugi. Aku telah membuatmu hampir bangkrut. Maaf, aku pantas kau hukum. Kau boleh memecatku."


Ivana tertawa terbahak-bahak. Tawanya sangat jelas jika ia sedang mengejek Rio.


"Segampang itu? Enak saja kau," maki Ivana.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku Ivana?," tanya Rio mulai frustasi. Jujur saja saat ini Rio belum bisa berfikir jernih. Hatinya masih gundah. Rio pasrah apapun yang menimpanya akan ia terima.


Ivana berdiri dan membalikkan badannya. Ia memilih membelakangi Rio dengan tangan yang bersedekap kembali.


"Bereskan barang-barangmu. Pergilah dalam waktu satu jam. Aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Ivana kemudian berjalan meninggalkan Rio.


Rio kembali menarik nafas panjang. Ia menyeret kakinya menuju ruangan yang ia gunakan sebagai kamarnya. Rio akan berkemas secepatnya. Pergi, seperti yang diinginkan Ivana.


Rio menatap pintu kamarnya, membuka dengan malas. Kamar ini gelap karena memang beberapa hari ini tidak dihuni oleh Rio. Rio meraba saklar lampu dan ....


"Kejutan...!!!!!"


Seketika tubuh Rio menjadi kaku. Ia sulit bernafas akibat seseorang memeluknya dengan erat.


"Boy....!!!! Aku kangen, Boy!!! Aku kangen.....!!!!!" teriak Evan histeris.


Evan memeluk Rio dengan erat. Evan tidak sadar jika tubuhnya yang tambun bisa saja membuat Rio remuk dalam sekejap. Rio berusaha memberontak, meminta Evan melepaskan pelukannya. Belum juga lepas, Rio kembali mendapat pelukan dari belakang.


"Boy..... aku juga kangen!!! Aku sangat khawatir ketika mendengar kau menghilang," suara lembut Olive terdengar di telinga Rio.


"Boy... aku belum percaya jika bisa memelukmu. Awww... ingin rasanya aku berteriak seharian," pekik Evan yang tentu saja membuat telinga Rio hampir pecah.


"Kalian bisa melepaskanku? Aku bisa mati jika lama-lama kalian peluk seperti ini," ucap Rio membuat Evan dan Olive seketika tersadar.

__ADS_1


"Maaf, Boy. Aku terlalu senang," ucap Evan dan ia kembali memeluk Rio. Tapi tak lama karena Olive segera menarik tangan Evan untuk memberikan ruang bernafas bagi Rio.


"Kesenanganmu hampir saja membuatku menjadi arwah penasaran, Evan. Kau hampir membuatku mati," tegur Rio dan ia memilih duduk di atas kasur, merebahkan tubuhnya yang lelah.


Baru beberapa detik Rio merasakan nyamannya kasur, Evan tiba-tiba melompat ke samping Rio dan...


Brakkkk


Ranjangpun patah. Niat hati ingin tidur disamping Rio, apa daya ranjang tempat tidur itu tidak mampu menahan tubuh Evan. Rio dan Evan jatuh bersamaan membuat keduanya meringis.


Mendengar suara ribut-ribut dari kamar Rio, membuat Ivana segera mempercepat langkahnya. Betapa terkejutnya Ivana melihat pemandangan tragis di kamar itu.


"Oh, No Evannnnn !!!! Apa yang kau lakukan? Belum setengah hari kau berada di tempatku dan kau sudah merusak barangku..!!!!" teriak Ivana.


Ivana berjalan menghampiri Evan, mengulurkan tangannya untuk membantu Evan berdiri. Ivana hanya bisa mengelus dada dengan tingkah tamu-tamunya ini. Niat hati ingin memberikan kejutan untuk Rio, tapi kenyataannya malah dirinya yang mendapatkan kejutan. Ivana tidak berhenti memaki Evan sembari memukul lengannya yang sudah mirip dengan samsak tinju.


Olive berjalan, ia membantu Rio untuk bangkit. Ketika Rio telah berdiri sempurna, Olive kembali memeluk Rio menyalurkan rasa rindunya kepada sahabatnya itu.


Melihat Olive dan Rio berpelukan, tentu saja membuat Ivana panas. Ivana hendak melangkah ingin melerai pelukan diantara mereka. Namun, rupanya Evan lebih dulu bergerak. Ia menarik tubuh Olive, memisahkan dari Rio.


"Aku masih kangen sama si Boy," kata Evan posesif.


"Kalau mau peluk, Rio. Nanti aja kalau aku sudah kenyang," lanjut Evan lagi membuat Olive terkekeh geli.


Mereka berempat masih saja berdebat, melepas rindu dengan cara mereka sendiri. Sebenarnya Ivana tadi hanya mengerjai Rio, memberinya spot jantung sebelum mendapatkan kejutan dari Evan dan Olive yang baru tiba dari New York. Ivana senang akhirnya Rio dan Evan kembali bertemu.


"Hmmm.... rupanya saya terlambat,"


Keempat anak manusia yang sedang bercanda itu seketika diam dan menoleh ke arah datangnya suara yang tentu saja tidak asing di telinga mereka.


"Tuan Adiraka, maaf saya tidak menyambut kedatangan Anda," ucap Evan takut.


Dira tersenyum dingin. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Rio dan Olive.


"Hai cantik, lama tidak bertemu. Apa kau tahu jika aku merindukanmu?," Dira menyondongkan wajahnya ke wajah Olive. Tangannya menoel dagu Olive berkali-kali.


"Tuan... An.. da bisa saja," Olive mundur, merasa tidak enak dengan perlakuan Dira.


"Haii, Vaston! Bagaimana kabar hatimu? Apakah masih baik-baik saja?," tanya Dira menyindir Rio.


Rio tak menanggapi ucapan Dira. Ia memilih pergi meninggalkan Dira yang menatapnya dengan tajam.


"Berhenti jika kau masih ingin hidup," titah Dira membuat Evan segera berlari menarik tangan Rio agar berhenti melangkah.


Rio menurut. Ia membalikkan badannya menghadap Dira. Meski jarak diantara mereka tidak terlalu dekat. Namun, aura panas sangat terasa diantara mereka.


"Apa maumu? Apa kau belum puas menghancurkan hidupku?," tanya Rio.


"Aku rasa kita sudah impas. Aku pernah mematahkan hatimu dan sekarang kau sudah membalasnya," lanjut Rio lagi.


"Boy...." Evan menarik tangan Rio, memberikan kode agar tidak melampiaskan amarahnya saat ini.

__ADS_1


"Aku kesini ingin meminta maaf," kata Dira membuat semua orang yang berdiri disana kaget.


"Maaf, aku telah membuatmu menderita dan patah hati. Maaf.. karena menjauhkanmu dari..."


"Kenapa harus minta maaf? Keinginan Anda sudah terwujud. Harusnya Anda senang, bukan meminta maaf," kata Rio memotong ucapan Dira.


Dira melangkah ke arah Olive, Dira memeluk Olive dari belakang. Perlakuan Dira yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Olive menegang.


"Seharusnya kau bisa begini dengan Kiara? iya kan?," tanya Dira sembari menghirup aroma tubuh Olive.


"Tapi aku merusak impianmu karena memang aku tidak menginginkan kalian bersatu. Kau boleh membenciku tapi aku akan meminta maaf atas apa yang telah ku lakukan padamu," ucap Dira tanpa melepas pelukannya pada Olive.


Olive melirik kepada Evan dan Rio, memberi kode agar membantunya lepas dari Dira. Evan bingung harus berbuat apa. Dira adalah bos nya, Olive adalah bawahannya dan tentu saja Evan tidak bisa menolong Olive. Evan melirik Rio, meneruskan kode dari Olive yang meminta pertolongan. Namun, Rio rupanya enggan menanggapinya.


"Sebenarnya apa mau Anda datang kesini ?," tanya Rio gusar.


"Aku ingin meminta maaf padamu, Tuan Vaston," ucap Dira santai.


"Meminta maaf kepadaku tetapi Anda malah memeluk sahabatku," Rio berdecih.


"Karena tidak mungkin aku memelukmu, Vaston. Aku masih normal. Gadis cantik ini tentu saja lebih enak untuk dipeluk," kata Dira sembari meniup-niup telinga Olive.


"Tuan Dira... geli," kata Olive membuat Dira semakin jadi meniup-niup telinganya.


"Terserah, Anda mau apa. Saya rasa Anda kesini hanya membuang waktu saya," ucap Rio.


"Aku akan membayar waktumu yang terbuang, Vaston. Karena aku membutuhkan bantuanmu, kamu, kamu dan tentu saja kau cantik," ucap Dira menunjuk Rio, Ivana, Evan dan terakhir Olive.


"Aku tidak mau membantumu," kata Rio


"Boy....!!!," tegur Evan.


"Untuk apa aku membantunya, Evan? Kau tahu dia mengurungku berbulan-bulan agar tidak bertemu dengan Kiara. Dan setelah Kiara akan menikah, dia datang meminta maaf dan berharap aku akan membantunya? Ah kalian jangan becanda karena aku tidak sudi membantunya," ucap Rio meluapkan amarahnya.


Dira melepaskan pelukannya pada Olive dan hal itu membuat Olive merasa sangat lega.


"Kau tidak punya pilihan, Vaston. Mau atau tidak. Kau akan tetap membantuku," ucap Dira penuh percaya diri.


"Apa kau tega melihat bosmu yang gembul ini menjadi kurus kerempeng karena semua sahamnya aku tarik? Tidak hanya itu, butik kecil inipun akan menjadi korban. Dan aku pastikan kalian berempat akan menjadi gembel," tegas Dira.


Mendengar ancaman Dira membuat Evan dan Ivana pucat pasi. Mereka kompak menatap Rio, memohon agar Rio tidak menolak permintaan Dira. Ivana bahkan mulai mengeluarkan bulir bulir bening di kelopak matanya dan itu tentu saja membuat Rio tidak tega.


" Baiklah, kau selalu menang," gerutu Rio.


" Nah begini lebih baik. Sekarang mari kita duduk untuk membahas apa rencanaku," kata Dira dengan senyuman misteriusnya.


**haii reader pilihan hati kiara up lagi. Semoga suka dengan episode kali ini.


Sambil Nunggu Pilihan hati Kiara up lagi. Author ada recomendasi novel bagus nih karya kak Alana. Yuk mampir**.


__ADS_1


bisa juga koq mampir ke novel temen Author yang satu lagi.... Novel keren karya Nofriza Rahma bisa dijadikan pilihan lho. yuk segera melipir.



__ADS_2