
Di sebuah cafe, Ale duduk bersama rekan bisnisnya. Hari ini Ale berencana meminta bantuan rekan bisnisnya agar mau menjadi investor di perusahaannya.
“Bagaimana? Kau bisa membantuku kan, Indra?" tanya Ale penuh harap pada seseorang yang duduk di hadapannya.
Orang itu menghela nafas, sepertinya berat mengabulkan permohonan Ale.
“Hanya kamulah satu-satunya harapanku, Indra. Aku sudah berkeliling meminta bantuan dari rekan bisnis yang lain. Tapi semuanya mengacuhkanku. Aku mohon, Indra. Perusahaanku sedang kritis. Banyak karyawan yang harus aku selamatkan" ucap Ale lagi.
“Bukannya aku tidak mau membantumu, Alex. Tapi perusahaan yang aku pegang kini di pegang oleh keponakanku yang menjadi ahli warisnya. Dia sudah mulai bekerja di sini. Aku tidak mungkin bertindak tanpa persetujuannya. Kau tahu sendiri perusahaan itu milik iparku" jelas Indra.
Ale menunduk. Raut wajahnya mulai menampakkan keputus asaan. Kebakaran yang menimpa perusahaan Ale membuatnya diambang kebangkrutan. Jika Ale tidak segera mendapatkan investor yang mau memberikan suntikan dana, maka nasib Ale benar-benar tamat.
Ale bukannya tidak tahu diri. Perusahaannya butuh suntikan dana yang tidak sedikit. Pantas saja rekan- rekan bisnisnya berhamburan mengacuhkannya. Tapi, Ale juga tidak bisa berdiam diri. Nasib semua karyawannya berada di tangannya. Ale tidak tega jika mereka menjadi pengangguran.
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?" tanya Ale lagi.
“Dengan siapa?" Indra balik bertanya.
“Tentu saja dengan pemilik perusahanmu sekarang. Aku akan mencoba meminta bantuan padanya" ucap Ale meskipun ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.
“Aku akan membicarakannya dulu. Nanti aku kabari" janji Indra.
“Kapan?" tanya Ale tak sabar.
“Pulang dari sini aku akan segera membicarakan hal ini. Jika dia mau bertemu denganmu maka kau akan aku hubungi. Bagaimana?" ucap Indra memberi solusi.
“Baiklah. Aku mohon bantuanmu, Indra, sangat memohon bantuanmu. Aku sudah tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi?" ucap Ale.
Indra mengangguk.
“Berdoalah semoga dia mau membantumu. Aku pergi dulu" ucap Indra kemudian menjabat tangan Ale.
Ale menatap kepergian Indra dengan penuh asa. Semoga saja Indra bisa membujuk keponakannya agar bisa membantu Ale. Ale beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan tempat itu.
____***____
“Paman Indra dari mana?" teriak Kiara ketika kaki Indra baru memasuki ruang kerjanya.
Kiara memang sengaja menunggu Indra dan duduk di kursi milik Indra. Kiara kesal dengan pamannya yang pergi tanpa memberitahu dirinya.
Bagaimanapun jabatan direktur utama kini berada di tangannya. Meskipun Indra dulu memegang perusahaan ini, bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya lagi sekarang. Kiara berhak tahu apa
saja agendanya. Apalagi menurut Olive, Indra sedang rapat dengan kliennya.
“Paman baru bertemu rekan bisnis" ucap Indra mencoba berbicara tenang meskipun ia juga kaget melihat Kiara kini berada di ruangannya.
“Paman tahu kan jabatan Paman sekarang apa?" ucap Kiara dengan tatapan tajam ke arah Indra.
Indra menelan ludah. Ia tidak menyangka keponakannya ini bisa setegas ini kepadanya. Indra memang tidak pernah berinteraksi dengan Kiara sebelumnya. Dirinya tidak pernah dekat dengan anak-anak Arman karena Indra hanyalah ipar Arman.
Jika bukan karena desakan Nafisa yang nota bene adalah adik kandung Arman, tidak mungkin Arman menempatkan dirinya pada posisi penting di salah satu perusahaannya.
Brakkk
Kiara menggebrak meja kerja Indra.
“Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenalku. Yang aku tahu kau hanyalah suami dari bibi Nafisa yang merupakan adik dari Papa Arman. Dulu kau yang memimpin perusahaan ini. Tapi tidak untuk saat ini. Aku ingatkan Paman. Apapun agenda Paman mengenai perusahaan ini, aku harus tahu. Paman paham!" bentak Kiara.
“Maafkan Paman. Paman paham" ucap Indra mengalah.
“Katakan padaku Paman tadi bertemu siapa dan membahas apa?"
Indra menarik nafas. Dia merasa seperti maling yang sedang diintrogasi karena tertangkap basah mencuri. Keponakan perempuannya ini benar-benar tegas. Dalam diri Indra, timbul rasa kagum pada Kiara yang tidak pandang bulu dalam menerapkan peraturan.
“Paman bertemu dengan direktur perusaan Xander. Corp. Perusahaannya baru saja kebakaran dan sekarang benar-benar diambang kebangkrutan. Dia meminta Paman menjadi investor karena perusahaannya benar-benar membutuhkan suntikan dana yang sangat besar"
“Lalu?"
__ADS_1
“Paman tidak bisa mengiyakan karena sekarang perusahaan ini sudah dipimpin olehmu, Kiara. Dia meminta bantuan Paman agar bisa menemui untuk meminta bantuan secara langsung” ucap Indra menambahkan.
Kiara tertawa. Perusahaan sudah bangkrut masih sempat-sempatnya meminta bantuan agar berdiri lagi? Apa pemimpinnya sedang melawak?, pikir Kiara.
“Siapa pemimpin Xander.corp.?"
“Alex. Alexander Barata Wijaya"
Deg...
Kiara terkejut mendengar nama yang di sebutkan Indra.
“Paman punya fotonya?"
“Untuk apa kau meminta fotonya? Dia sudah memiliki istri. Jangan menjadikannya calon suami, Kiara” goda Indra.
“No! Aku hanya ingin memastikan apakah Alex yang Paman maksud adalah Alex yang aku kenal. Perlihatkan aku fotonya!” perintah Kiara tak sabar.
Indra mengambil ponsel di saku celananya. Seingatnya, Indra pernah berfoto bersama Alex ketika menghadiri acara pesta pernikahaan Alex. Indra mencari foto itu di galeri ponselnya dan yap... ketemu. Indra menyodorkan ponselnya kepada Kiara.
Kiara membelalakkan kedua matanya melihat foto yang diperlihatkan Indra. Benar dugaan Kiara. Alex yang dimaksud Pamannya adalah Ale, lelaki yang mengisi hatinya.
Kiara meringis. Hatinya bagai disayat sembilu melihat foto pernikahan Ale yang ditunjukkan Indra. Ale dan Aisha tersenyum bahagia dan pastinya diwaktu bersamaan Kiara tengah menangis tersedu-sedu di aparteman Dira.
Kiara menarik nafas dalam-dalam, menetralkan emosinya. Ia tidak ingin Indra mengetahui amarahnya. Kiara ingin terlihat biasa dan seolah-olah tidak mengenal Ale. Lalu terbesit ide gila dalam otaknya.
"Apakah kau mengenalnya?" tanya Indra.
“Pertemuan aku dengan dia!” ucap Kiara tidak menjawab pertanyaan Indra.
“Kapan?” tanya Indra tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kiara.
“Sekarang. Atur pertemuanku dengan dia sekarang!”
“Baiklah! Paman akan menghubunginya dulu"
___ ***___
Kreettttt..........
Ale membuka pintu rumahnya dan segera menutupnya dengan perlahan. Ia melangkah masuk dengan gontai. Kedua kakinya berjalan menuju dapur. Haus, Ale kehausan. Ia membuka kulkas dan mengambil sekaleng jus jeruk, membukanya dan segera meminumnya sampai habis.
Pranggg...
Ale membuang kaleng kosongnya dengan kasar. Ia menumpahkan kekesalannya pada benda mati itu.
“Mas... kau sudah pulang? Mengapa kau tidak memanggilku?" Aisha keluar kamar dengan terburu-buru ketika mendengar suara gaduh dari dapur. Ia pikir rumahnya sedang didatangi maling mengingat beberapa ART sedang dirumahkan oleh Ale.
“Kau kenapa? Apakah belum mendapatkan investor juga?" tanya Aisha lagi.
Aisha menarik tangan Ale dan mengajaknya duduk. Aisha paham suaminya saat ini sedang berada di fase terendah. Sudah sepatutnya dia berperan sebagai istri yang siap menjadi tempat berkeluh kesah bagi Ale.
“Tidak ada yang mau menjadi investor. Tidak ada!!!” teriak Ale.
“Tenang, Mas. Kau jangan putus asa. Kau harus semangat. Aku yakin pasti ada jalan keluarnya" ucap Aisha memberi semangat pada Ale.
Ale menjambak rambutnya berkali-kali. Kepalanya berat seakan ingin meledak saat itu juga. Ale stress. Stress berat.
“Apakah Mbak Sandra sudah bisa kau hubungi?" tanya Aisha.
Setidaknya Kakak perempuan Ale yang nota bene adalah ibu kandung Elang bisa membantunya.
Ale menggeleng.
“Mbak Sandra tetap saja tidak bisa dihubungi. Entah kemana mereka? Di saat genting seperti ini malah menghilang. Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa membantuku?” ucap Ale lirih.
Aisha mengelus bahu Ale perlahan.
__ADS_1
“Mungkin mereka sedang dalam perjalanan ke pulau. Kau sendiri pernah mengatakan jika mereka sangat suka berlibur ke pulau-pulau terpencil" ucap Aisha mencoba memberikan pikiran positif pada Ale.
“Entahlah Aisha. Aku juga bingung. Aku ingin mandi dulu" ucap Ale kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Aisha tetap duduk di dapur, berfikir, mencari jalan untuk membantu masalah yang kini sedang di hadapi oleh suaminya.
Drrtttt...drrrtttttt...drrrttttttt
Aisha merasakan getaran yang disebabkan oleh ponsel Ale. Ale memang meninggalkan ponselnya di meja. Aisha segera mengambil ponsel Ale yang terletak tak jauh dari tangannya. Ia mengusap layar ponsel itu dan muncullah nama Indra. Aisha berlari menuju kamar. Rupanya Ale belum selesai mandi.
Tok..tok..tokk...
Aisha mengetuk pintu kamar mandi.
“Ada telepon dari Pak Indra, Mas...” ucap Aisha setengah berteriak.
Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi. Aisha kembali mengetok pintu kamar mandi dan berteriak memanggil Ale. Suara Aisha yang memang lembut tentu saja akan kalah dengan suara guyuran air meskipun Aisha berteriak setengah mati.
Panggilan telepon berhenti. Aisha menarik nafas. Ia kemudian melangkah menjauhi kamar mandi dan duduk di pinggir kasur. Ia akan menunggu ale selesai mandi.
Klek...
Ale keluar kamar mandi dengan santai. Aisha bisa memastikan jika Ale tidak mendengar panggilannya tadi.
“Mas...” panggil Aisha.
“Apa?" ucap Ale yang kini sibuk memilih baju di lemari.
“Tadi ada telpon. Aku sudah memanggilmu tetapi kau tidak mendengarnya"
“Dari siapa?" tanya Ale.
“Pak Indra"
Ale segera berlari ketika mendengar nama yang diucapkan Aisha. Tanpa ba bi bu, ia merebut ponsel yang dipegang Aisha dan membuka histori panggilan masuknya. Benar saja tertera nama Indra diurutan teratas. Ale segera menghubungi Indra.
Tut.....tut....tut.....
“Halo, Ale”
“Halo, Indra. Bagaimana?" tanya Ale tak sabar.
“Keponakanku setuju menemuimu. Dia ingin bertemu sekarang. Apa kau bisa?"
“Bisa! Tentu aku bisa. Dimana?” tanya Ale dengan mata berbinar-binar.
“Di cafe tadi"
“Baiklah lima belas menit lagi aku berangkat. Sekarang aku sedang di rumah"
“Oke. Aku tunggu"
Panggilan berakhir. Ale berteriak kegirangan. Ia melempar ponselnya pada Aisha dan bergegas menuju lemari, memilih kemeja dengan asal dan memakainya.
“Kau mau kemana lagi?” tanya Aisha.
“Keponakan Indra setuju bertemu denganku. Semoga saja dia mau menjadi investor di perusahaan” ucap Ale berapi-api.
Ale menyisir rambutnya dengan cepat, menyemprotkan parfum sebanyak mungkin agar menimbulkan kesan baik di awal pertemuan mereka. Ale mengambil kembali ponselnya yang dipegang Aisha.
“Aku pergi dulu. Doakan aku! Semoga keponakan Indra mau menjadi investor di perusahaan" ucap Ale, kedua tangannya menggenggam tangan Aisha.
“Pergilah. Aku pasti mendoakanmu dari sini!” ucap Aisha dengan mata berkaca-kaca.
Ale mengecup kening Aisha dengan lembut. Ia segera berlari keluar dari kamarnya, bergegas menuju mobilnya yang terparkir asal di halaman rumahnya. Tanpa ba bi bu Ale segera tancap gas menuju cafe yang tadi sudah sempat disinggahinya.
halooo readersss... hari ini othor ulang tahun. boleh dong Othor minta boom like, koment dan vote nya sebagai kado ultah...🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
terima kasih