Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
EXTRA PART - RESEPSI


__ADS_3

"Kir... Kir... Kir... Kiaraaaaa!!! Bangun Woy!!! Kebo banget sih nih anak?" teriak Dira kesal.


Sejak setengah jam yang lalu, Dira berusaha membangunkan Kiara yang tidur di ruang ganti tapi belum juga berhasil. Sudah berbagai cara Dira lakukan, mulai dari menggoyang-goyangkan badan Kiara, berteriak di telinga Kiara, bahkan Dira sudah mencoba menyemprotkan air di wajah adiknya. Namun tetap saja, Kiara masih tidur dengan nyenyak tanpa merasa terusik sedikitpun.


"Kir... Kiaraaa... bentar lagi resepsi lho. Masak lu nggak mau bangun sih?" teriak Dira lagi. Ia kali ini mencoba menarik rambut Kiara hingga gelungannya terlepas.


"Bangun Kiaraaaaa!!! Gue udah ngundang Anggun C. Sasmi buat nyanyi di resepsi elu!!!! Jauh-jauh gue import dari Perancis. Lu nggak mau nyanyi ama dia apa? Lu kan hafal lagunya yang begini. Yang aku tungguuuuu... pasti ku cari. Yang aku tunggu' tuk hilangkan rasa sepi. Yang aku tungguuuuuu...."


Dira bernyanyi tepat di telinga Kiara. Tangannya dikepal untuk dijadikan microphone jadi-jadian.


"Abang... Abang... sudah! Sepertinya Kiara memang mengantuk sekali" ucap Elang menepuk-nepuk bahu Dira yang sedang serius bernyanyi. Elang menarik lembut badan Dira agar menjauh dari Kiara.


"Kamu ngasik obat tidur ya sama Kiara? Kenapa dia nggak bangun sama sekali padahal sudah berkali-kali dibangunkan?" tanya Dira seakan-akan menyalahkan Elang.


"Ti... tidak, Abang. Elang mana tahu Kiara kenapa? Ketemu saja tadi pas selesai akad" ucap Elang membela diri.


Dira manggut-manggut. Benar juga ucapan Elang. Adik iparnya itu baru saja bertemu Kiara setelah beberapa hari ia kurung. Tidak mungkin Elang memberi obat tidur pada Kiara. Dira berpikir lagi, mencari penyebab mengapa adiknya tertidur senyenyak ini.


"Maaf, Tuan Adiraka. Nona Kiara memang tidak tidur selama di Bali. Nona baru bisa tidur semalam, setelah melakukan ritual melukat" jelas Olive yang tadi memang masuk bersama Elang.


"A.. apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Elang kaget.


"Ehmm.. ehmm... karena... karena... Eh penyanyi yang Abang undang sudah datang belum?" tanya Dira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah. Baru mulai menyanyi" jawab Elang.


"Apa dia menyanyikan lagu yang aku tunggu pasti ku cari?" tanya Dira yang memang hanya tahu lirik lagunya tetapi tidak tahu judul lagu.


"Tidak, Abang. Dia menyanyikan lagu selamat malam duhai kekasih" jawab Elang asal.


Dira mengernyitkan dahi mendengar lirik lagu yang diucapkan Elang. Seingat Dira, ia memerintahkan Edward untuk mengundang Anggun C. Sasmi, penyanyi idolanya, bukan Evie Tamala, penyanyi idola Mama Widya.

__ADS_1


Widya masuk ke ruang ganti bersama Edo. Mereka ingin melihat keadaan Kiara yang tak terlihat sejak mereka selesai menari. Widya langsung menghampiri Kiara yang masih tidur dengan nyenyak meskipun banyak orang berisik di tempat itu.


"Kenapa tidak dibangunkan? Itu tamu undangan sudah mulai berdatangan" ucap Widya dengan gusar.


"Mamae.... anak bungsumu ini kayaknya lagi mati suri. Sejak tadi Dira yang tampan dan rupawan ini belum berhasil membangunkannya" ucap Dira tertunduk lesu.


Bukkkk.


Widya memukul punggung Dira dengan kipas yang dibawanya.


"Ini semua gara-gara kamu!!! Kiara pasti kelelahan dan banyak pikiran sehingga sulit tidur. Sekarang saat acara penting seperti ini, Kiara pasti sangat mengantuk. Tanggung jawab kamu, Diraaaaa"


"Mamaeee... sakitttt.. Adowwww" rintih Dira yang masih menerima pukulan dari Widya.


Widya terlihat sangat marah dengan ulah Dira yang membuat Kiara seperti itu. Edo segera menarik Widya agar berhenti memukuli Dira. Tak hanya Edo, Elang dan Olivepun berusaha menarik badan Widya yang terus memberontak ingin memukul Dira.


"Mama... sudah. Kalau Kiara tidak bangun. Nanti Elang saja yang menemui tamu undangan" ucap Elang mencoba membujuk Mama mertuanya yang sedang naik darah itu.


"Yasudah kalau begitu Dira sama Olive aja yang naik ke pelaminan. Elang sama Kiara langsung ke hotel" ucap Dira yang langsung saja berjalan sambil menarik tangan Olive.


"Apa-apaan kamu?" teriak Widya. Ia kembali naik darah. Tangannya berhasil menjambak rambut Dira sehingga mau tidak mau Dira berhenti melangkah.


"Kenapa lagi sih, Mamae? Dira kasih solusi malah dijambak begini?"


"Solusi apa modus? Dasar anak nakal. Kalau kamu mau di pelaminan, sana ajak Lily!" teriak Widya lagi.


"Dira? ama si dakocan? Oh No!"


Bukkk


Punggung Dira kembali dipukul dengan kipas. Kali ini bukan Widya pelakunya melainkan Syarmila.

__ADS_1


"Hei, mengapa kau masih memanggil Lily dengan sebutan dakocan? bukankah drama buatanmu sudah selesai hah?" ucap Nenek Mila yang berdiri di belakang Dira tanpa diketahui olehnya.


"Eh... ma... maaf, Nenek. Biasa kalau aktor papan atas kayak gini, aktingnya memang totalitas sampai terbawa ke dunia nyata" ucap Dira beralibi.


"Ciiihhh... aktor papan atas katanya. Penjual kolor di Tanah Abang aja pakai ngaku-ngaku artis papan atas" cibir Nenek Mila kemudian berlalu menghampiri Elang.


"Elang, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Nenek Mila khawatir.


"Kiara belum bangun, Nek. Mungkin dia kelelahan dan kurang tidur karena kata Olive Kiara memang sulit tidur sejak berada di Bali" ucap Elang menjelaskan.


"Oh... kasian sekali. Nenek menjadi merasa bersalah mengikuti sandiwara orang ini" ucap Nenek Mila sembari mendelik ke arah Dira.


"Apa yang Nenek lakukan sampai Kiara begini?" tanya Elang lagi. Ia sangat kesal karena tidak mengetahui apa yang terjadi saat ia tidak berada di samping Kiara.


"Nenek....." ucap Nenek Mila terputus karena Dira langsung memotong dan mengalihkan pembicaraan.


"Eh... itu pembawa acara memanggil kita semua! Ayo sebaiknya kita keluar menemui para tamu. Mereka pasti kebingungan mencari tuan rumah. Elang, kamu bawa Kiara ke hotel. Mau sekalian istirahat disana juga boleh. Lagian kan resepsimu masih ada dua lagi, di New York dan di Spanyol. Jadi nggak usah sedih diresepsi sekarang" ucap Dira yang secara spontan berjalan menarik tangan Nenek Mila dan Olive secara bersamaan.


Widya dan Edo saling melirik. Mereka paham dengan tindakan Dira yang mencoba mengelak dari amukan Elang. Pasalnya Elang memang tidak tahu drama apa yang diciptakan Dira sehingga menyebabkan Kiara seperti itu. Widya yakin jika menantunya pasti akan mengamuk jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama.... Om Edo... Ayo keluar!!! Itu Anggun C. Sasmi sudah datang. Kalian nggak mau apa goyang bang kadir lagi di panggung?" teriak Dira dari luar ruang ganti.


Widya menoleh ke arah Elang. Ia merasa kasian kepada menantunya itu. Tadi dia sendiri saat akad nikah, sekarang dia terancam tidak tampil di resepsi akibat Kiara yang tertidur dan sulit dibangunkan.


Widya ingin sekali membawa Kiara ke kamar mandi dan memandikannya. Siapa tahu Kiara bisa bangun. Namun, ia ragu melakukannya ketika melihat wajah damai putri bungsunya yang tertidur.


"Mama sama Papa Edo ke depan saja. Biar Elang bawa Kiara ke hotel" ucap Elang sembari tersenyum.


"Tapi Elang... ini kan acara kamu dan Kiara" tolak Widya.


"Tidak apa-apa, Mama. Seperti yang Abang Dira bilang. Masih ada dua resepsi lagi. Kita tidak mungkin memaksa Kiara untuk bangun. Elang tidak tega" ucap Elang lagi.

__ADS_1


Dengan berat hati, Widya mengikuti ucapan Elang. Ia melangkah meninggalkan ruang ganti bersama Edo. Setidaknya para tamu undangan masih bisa bertemu dengan tuan rumah meskipun mempelai pengantinnya sedang absen.


__ADS_2