
" Haiiii....... "
Dira muncul di depan pintu kamar Kiara dengan memasang tampang konyolnya. Tangannya melambaikan, menyapa Kiara yang sedang asyik bermain dengan kucing barunya. Dira berjalan menghampiri Kiara dengan sedikit berpose layaknya seorang model yang sedang catwalk. Sesekali Dira melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri seakan-akan ia sedang berada dalam acara fashion show.
"Lu masih waras kan?," tanya Kiara ketika Dira sudah mendaratkan bokongnya tepat di sebelah Kiara.
Dira tidak membalas. Ia memilih menampilkan senyum tiga jarinya yang justru membuat Kiara mual.
"Lu kesambet ya? Kemarin lu kan nggak pulang? Ngomong sama gue kesambet dimana lu, Kadir?," tanya Kiara lagi. Ia khawatir Dira akan kumat lagi mengingat hari pernikahannya semakin dekat. Jika Dira kumat, lalu siapa yang akan menjadi wali nikahnya? Bagaimanapun Kiara harus menjaga Dira agar tetap waras. Setidaknya sampai acara pernikahan Kiara selesai.
"Gue ketemu cewek cantik," kalimat itu muncul dari mulut Dira.
"Terus???."
"Kayaknya gue jatuh cinta deh," kata Dira lagi sambil senyum-senyum.
"Apa???," teriak Kiara. Mendengar perkataan kakaknya itu, tentu saja membuat Kiara kaget. Teriakan Kiara itu tentu saja membuat kucing yang sedari tadi dipegangnya melompat.
"Siapa perempuan itu? Siapa, Kadir?," tanya Kiara kepo.
"Ah... lu udah kenal kok," jawab Dira. Ia merebahkan tubuhnya di kasur Kiara, memeluk guling Kiara dan berguling-guling ke kanan dan ke kiri.
Kiara bergidik ngeri, ternyata kakaknya ini akan menjadi lebih konyol ketika jatuh cinta. Dalam jati Kiara penasaran, siapakah perempuan yang berhasil membuat kakaknya menjadi kurang waras seperti ini. Setahu Kiara, Mamanya pernah bercerita jika dokter yang menanganinya sepertinya jatuh hati pada Dira. Namun, Dira terkesan cuek pada dokter itu.
Sekarang, tidak ada angin tidak ada hujan Dira datang ke kamarnya dan mengatakan jika ia sedang jatuh cinta. Hal ini tentu saja membuat Kiara kaget bahkan Kiara menduga jika Dira terkena pelet janda gatal. Karena tingkah Dira yang aneh dan tidak wajar.
"Jatuh cinta.... berjuta rasanya...,"
Suara fals Dira kembali muncul setelah lama vakum. Ia gerakkan badannya meliuk-liuk persis seperti ulat bulu. Kiara memilih diam. Ia tersadar jika kucingnya terlepas. Kiara segera turun dari kasurnya dan mencari kucing itu. Ternyata kucing itu sedang bersembunyi di bawah meja ruang tamu. Kiara memanggil kucing itu dan seketika kucing itu keluar dan melompat ke pangkuan Kiara. Kiara kembali ke kamarnya dan...
"Ah iya... gue hampir lupa!!!" teriak Dira. Teriakan Dira yang tiba-tiba membuat Kiara kaget sehingga kucing itu kembali terlepas.
Kiara kesal. Ia mengambil sandal di kaki kanannya dan melemparnya ke bokong Dira. Kiara kembali keluar mencari kucingnya, mengacuhkan Dira yang berteriak memanggil namanya.
"Gue mau ngomong...!!!!," Dira berteriak mengejar Kiara.
Kiara berhenti. Ia mengambil sandal kirinya dan melempar kembali ke arah Dira.
"Berhenti teriak. Kucingnya kaget tau!!!," bentak Kiara.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lu."
"Ngomong ya ngomong aja. Jangan pakai ngagetin kucing gue," jawab Kiara ketus.
"Udah nggak usah ngurus kucing. Ini lebih penting."
Dira menarik Kiara dan mendudukkannya di sofa. Lalu Dira berlari ke dapur dan kembali lagi dengan membawa segelas jus alpukat dan roti maryam bertoping keju untuk Kiara.
"Gue mau ngomong tapi janji ya jangan marah, soalnya hati gue lagi berbunga- bunga sekarang," kata Dira sembari menyodorkan jus alpukat dan roti maryam bertoping keju itu pada Kiara.
__ADS_1
"Mau nyogok nih?," tanya Kiara sinis. Meskipun begitu Kiara tidak sungkan untuk langsung meminun jus alpukat pemberian Dira.
"Janji dulu nggak bakalan marah."
"Iya, gue janji. Lu mau ngomong apaan sih?," tanya Kiara. Kini tangannya sudah mencomot roti maryam dan menyuapkan pada mulutnya.
"Gue... gue.. kemarin ketemu Vaston dan gue udah minta maaf sama dia."
"Terus ?,"
"Ya dia mau maafin gue kalau gue ngaku sama elu."
"Ngaku tentang?,"
"Tentang gue yang udah nyekap dia ketika Vaston mau terbang kesini nemuin lu."
Byurrrrrrr
Kiara menyemburkan jus yang baru saja ia teguk. Untung saja tidak terkena Dira.
"Apa??? lu nyekap Rio? lu waras?," suara Kiara mulai meninggi.
"Eh... tadi kan janji nggak akan marah," ucap Dira mengingatkan Kiara.
"Gimana gue nggak marah, Kadir. Lu sadar nggak sih apa yang lu lakuin itu tindakan kriminal????"
"Gue nggak berpikir sampai sana. Yang gue pikirin bagaimana lu nggak bisa ketemu si Vaston," kata Dira sembari menghela nafas panjang.
"Gue kehabisan kata-kata buat ngamuk sama lu."
"Nggak usah ngamuk. Hati gue lagi berbunga- bunga lho."
"Persetan dengan hati lu sekarang. Lu nggak mikir apa gimana perasaan Rio? Lu jahat, Kadir. Rio memang pernah jahat sama lu. Tapi lu udah berkali-kali membalas dia."
"Namanya juga lagi sakit hati. Tapi sekarang gue udah sadar kok," ucap Dira memasang tampang imutnya yang justru membuat Kiara makin gusar.
"Sakit hati lu bikin gue malu sama Rio. Lu keterlaluan Dir, benar-benar keterlaluan. I hate you, Kadir. I hate you more than comberan water . Lu udah nggak nepatin janji."
"Lebih malu mana sama gue waktu lu mau rebut suami orang? Lu waktu itu mikir nggak sih? Lu bikin gue nggak punya muka di hadapan banyak orang. Wajah gue ini yang biasanya bersinar jadi mendung, penuh dengan awan kelabu."
Kiara diam. Ucapan kakaknya memang benar. Setidaknya sekarang ia impas mendapat karma dari Dira yang dulu pernah dibuatnya malu.
"Gue mau ketemu Rio," kata Kiara.
"Buat apa????,"
"Gue harus ngomong sama dia, Kadir. Setidaknya sebelum gue nikah sama Elang, gue nggak ada tanggungan sama Rio"
"Tanggungan? Lu punya utang sama si Vaston?," tanya Dira dengan kedua matanya yang sudah melotot.
__ADS_1
Plak..
"Sembarangan kalau ngomong," Kiara memukul mulut Dira.
" Trus?"
"Gue cuma mau menyelesaikan apa yang belum selesai. Tiap gue lagi ngomong sama Rio, lu selalu muncul dan merusak semuanya. Asal lu tahu Rio pasti mempunyai banyak pertanyaan buat gue yang belum sempat gue jawab. Itu yang membuat dia diam di tempat,"
"Huuuu... kepedean sih lu!!! si Vaston sudah move on. Dia sekarang pacaran sama Ivana," kata Dira ngasal.
"Lu jangan bohong. Rio belum move on. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan gue harus menyelesaikan semuanya sekarang," kata Kiara berapi-api.
Kiara mengambil tas selempangnya dan berlari meninggalkan Dira. Sadar Dira ditinggalkan, Dira secepat kilat mengejar Kiara.
Happp...
"Kena kan lu," Dira mengungkung tubuh Kiara dalam pelukannya.
"Lepasin!!! Gue harus ketemu Rio sekarang,"
"No, Kiara. No!!! Lu lagi dipingit. Jadi lu tetap disini nggak boleh kemana-mana."
"Tapi gue mau ketemu Rio, Kadirrrrrrrr!!!," teriak Kiara.
" Tenang... tenang.. tenang..." Dira menepuk-nepuk Kiara seakan-akan Kiara sedang dalam keadaan pingsan.
"Tenang, Kiara.... Oh Kiara... tenang. Gue akan telpon Ivana biar ngirim si Vaston kesini," kata Dira yang tentu saja langsung membuat Kiara diam tak memberontak lagi.
Dira segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ivana. Mereka berbicara sebentar, langsung pada intinya karena Dira memang tidak suka basa-basi.
"Si Vaston lagi sibuk. Lagi pacaran sama Ivana," goda Dira yang langsung dibalas Kiara dengan cubitan keras di perutnya.
"Cemburu nih yeee...,"
"Nggak..."
"Cemburu....."
"Nggak..."
"Cemburu gue bilang"
"Nggak, Kadir. Gue nggak cemburu!!!"
"Cemburu tanda cinta... marah tandanya sayang...", Dira kembali berdendang menggoda Kiara.
"Kadir.....I hate you more than comberan water. hate, hate, hate very much!," teriak Kiara lalu berlari menuju kamarnya.
"Eh... Kiara... Kenapa malah ke kamar lagi sih? Lu mau tidur? Bentar lagi si Vaston kesini. Dia udah di jalan," teriak Dira tetapi tidak ditanggapi Kiara.
__ADS_1
Kiara membanting pintunya dengan keras, menguncinya agar Dira tidak dapat masuk. Kiara melompat ke atas kasurnya dan memilih tidur meskipun samar-samar telinganya masih bisa mendengar teriakan Dira yang memanggilnya.