
"Hmmmm...."
Rio hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat penampakan gadis perawan di hadapannya. Kusut, rambut berantakan, dan kedua kantung mata yang hitam membuat Rio berpraduga jika gadis ini tidak tidur semalam.
"Aku kira aku menjemputmu terlalu pagi tapi lihatlah jika arlojiku sudah menunjukkan pukul sembilan pagi" ucap Rio membuat gadis yang awalnya setengah sadar saat membuka pintu, ketika mendengar suaranya langsung membola dan bergegas menutup pintu.
Rio terkekeh melihat tingkah Kiara yang sepertinya malu karena Rio mendapatinya dalam keadaan berantakan.
"Kiara, buka pintunya! Bukankah Kita sudah ada janji sebelumnya?" teriak Rio.
"Tunggu sebentar, aku mau mandi" teriak Kiara dari dalam kamarnya dan itu membuat Rio kembali terkekeh.
Lima belas menit kemudian, Kiara membuka pintu dengan wajah ditekuk. Rio paham, Kiara pasti masih merasa malu padanya.
"Sudah wangi rupanya. Tapi melihat kedua kantung matamu yang hampir mirip seperti panda, sepertinya kau semalam kurang tidur" tebak Rio.
Kiara menggeleng. Dirinya bukan kurang tidur tetapi memang belum tidur sejak pulang menghadiri acara pemilihan putri cantik pukul dua dini hari tadi. Entah mengapa kedua matanya tak mau terpejam padahal dirinya merasa sangat lelah.
"Kau akan membuatku dicakar Evan jika melakukan pemotretan dengan kondisimu seperti ini" ucap Rio dengan tangan bersedekap.
"Maaf, aku memang tidak tidur lebih tepatnya aku sulit tidur" ucap Kiara menunduk.
Rio mengangguk sepertinya menunda pemotretan harus ia lakukan karena tak mungkin melakukannya dengan kondisi jiwa Kiara yang seperti ini. Rio tidak ingin mengambil resiko yang tentunya akan membuat dirinya menjadi korban keganasan Evan.
"Mau ikut denganku? sepertinya kau butuh sedikit healing sebelum melakukan pemotretan" kata Rio memberi tawaran.
Kiara diam sejenak lalu mengangguk.
"Tapi dia belum sarapan, Boy. Tunggulah sebentar dan rasanya Nona Kiara juga perlu berganti pakaian" ucap Olive yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi makanan untuk Kiara.
Rio mengangguk dan kembali ia harus menunggu Kiara bersiap-siap sebelum akhirnya ikut berjalan-jalan dengannya.
Setengah jam kemudian, Kiara muncul dengan menggunakan dress berwarna peach tak lupa dengan topi pantai dan tas selempang di bahunya. Olive sengaja memilihkan outfit itu untuk Kiara karena dia sudah mengetahui kemana Rio akan membawa bos nya.
"Kau mendadaninya nyaris sempurna, Olive. Tapi sayang kantung panda ini masih belum tertutup semua" ucap Rio.
"Itu sudah kemampuan maksimalku, Boy. Sudahlah cepatlah kalian berangkat!" ucap Olive.
"Kita kesana naik apa?" tanya Kiara.
"Tuan Adiraka mengirim sopir semalam, Nona. Jadi kalian akan diantar sopir" jawab Olive membuat Kiara mengernyitkan dahi.
"Sudahlah Kiara! Kita harus cepat karena akan banyak tempat yang akan kita tuju" ucap Rio langsung menarik tangan Kiara agar melangkah di belakangnya.
****
"Kita dimana?" tanya Kiara ketika mobil yang membawanya berhenti.
__ADS_1
"Uluwatu" jawab Rio pendek.
Rio membuka pintu dan keluar dengan cepat. Ia mengitari mobil lalu membuka pintu untuk Kiara. Mulut Kiara langsung terbuka lebar begitu ia keluar dari mobil. Matanya tak berkedip sedikitpun.
"Waw.....!!!" pekik Kiara takjub melihat bangunan mewah di hadapannya.
Saat ini mereka berada di sebuah venue pernikahan yang terletak di puncak tebing di kawasan Uluwatu Bali. Venue itu menyuguhkan panorama indah Pulau Dewata dan hamparan luas Samudra Hindia yang bisa dinikmati diwaktu pagi dan matahari terbenam.
"Kau suka?" tanya Rio dan Kiara langsung mengangguk dengan mata yang berbinar-binar.
"Kita masih di luar, belum masuk ke dalam dan kau sepertinya sudah jatuh hati dengan tempat ini" ucap Rio lagi.
Kiara tak menanggapi ucapan Rio. Ia masih terdiam , berdecak kagum memandangi pemandangan indah di hadapannya.
"Ck... sepertinya aku akan menyewa tempat ini jika kau mau menikah denganku" ucap Rio dan itu berhasil menyadarkan Kiara dari lamunannya.
"Kenapa? kau mau aku melakukannya? Aku bisa menyewa tempat ini jika kau mau menikah denganku" goda Rio membuat pipi Kiara langsung memerah seperti tomat.
"Ayo kita masuk! Kau harus liat bagian dalam tempat ini" ajak Rio kembari menarik tangan Kiara memasuki area gedung. Mereka berjalan perlahan memasuki venue pernikahan itu.
"Indah sekali" Kiara kembali berteriak histeris.
Kiara langsung membayangkan bagaimana jika ia dan Elang mengikat janji suci di tempat ini. Berdiri di pelaminan dengan senyum bahagia yang muncul dari bibir mereka. Ditambah lagi pemandangan matahari tenggelam yang akan menambah keromantisan acara pernikahan mereka.
"Sepertinya kita tak perlu berkeliling lagi. Besok kita akan pemotretan disini" ucap Rio membuyarkan lamunan Kiara.
Kiara menunduk. Ia tersenyum kecut. Seketika bayangan keindahan dan romantisme yang muncul di otaknya hilang seketika. Itu hanya khayalan belaka karena kenyataannya tempat ini hanya akan menjadi tempat pemotretannya bukan tempat pernikahannya besok.
"Kita ke dalam! Kau harus melihat bagian lainnya dari venue ini" ucap Rio kembali menarik Kiara agar melangkah mengikutinya.
"Rio....!" panggil Kiara.
Kedua netranya kembali dibuat takjub dengan pemandangan di hadapannya. Sejak Kiara menginjakkan kaki di tempat ini, sudah tak terhitung berapa kali ia bergumam akan kekagumannya akan tempat ini.
Sungguh saat ini Kiara seperti dibawa terbang melayang ke kayangan. Menikmati indahnya surga duniawi yang sangat memanjakan mata dan hatinya. Namun, Kiara akan terjuauh kembali ke bumi mengingat kenyataan apa yang harus ia terima saat ini.
"Berhentilah melamun, Kiara! Kalungkan tanganmu ke lenganku dan kita akan berjalan menuju pelaminan" ucap Rio terkekeh.
Rio meletakkan tangannya kirinya dipinggang dan meminta Kiara agar mengalungkan tangan kanannya ke lengan kiri Rio. Mereka melangkah tetapi tidak menuju kepelaminan melainkan ke sisi samping karena jika mereka melakukan itu, pasti akan merusak tatanan bunga-bunga di lantai yang sudah dibuat oleh pihak WO. Rio tidak mau mendapat amukan dari orang-orang yang sudah bekerja keras untuk menyukseskan acara pernikahan ini. Pasalnya di tempat itu banyak orang yang berseliweran mengatur tempat itu sebelum acara di mulai.
"Apakah akan ada yang menikah di sini?" tanya Kiara sambil berbisik.
__ADS_1
"Tentu saja, namanya juga venue pernikahan" jawab Rio tergelak dengan pertanyaan Kiara.
"Lalu mengapa kita tidak keluar saja? Kita kan tidak di undang" bisik Kiara lagi cemas.
"Jangan khawatir. Ini acara pernikahan temanku, Jonathan, dan aku adalah salah satu tamu undangan di acara ini" jawab Rio sembari mengeluarkan kartu undangan berisi barcode untuk masuk.
Rio membawa Kiara mendekati kue tart yang menjulang tinggi bertuliskan nama sang pengantin "Jonathan and Emily". Wedding cake setinggi dua meter yang didominasi warna putih dan merah muda serta dikelilingi dengan cupcake warna-warni membuat siapa saja pasti merasa gemas dan ingin memakannya.
Kiara kembali membayangkan jika besok akan ada wedding cake setinggi itu pada pernikahannya dan Elang. Kiara akan memilih warna putih dan gold serta memperbanyak bentuk hati dalam dekorasinya. Ah.... lagi-lagi hanya dalam khayalan Kiara.
"Kenapa? kau suka dengan wedding cake ini?" tanya Rio kembali membuyarkan lamunannya.
"Bukan seleraku" jawab Kiara.
"Bagaimana seleramu?"
"Aku akan memilih warna putih dan gold serta mengganti cupcake ini dengan mini tart berbentuk hati bertuliskan nama pengantin. Pasti aku akan memakan sendiri wedding cake itu tanpa berbagi" kata Kiara sambil tertawa.
"Baiklah, nanti aku akan memesan wedding cake impianmu bertuliskan Kiara dan Rio dan kau bisa memakannya sendiri setelah pesta pernikahan kita selesai" ucap Rio menghentikan tawa Kiara seketika. Wajahnya mendadak murung.
Rio merangkul bahu Kiara. Ia tahu apa yang sedang dirasakan wanita di sampingnya walaupun ia merasakan sakit yang sama dalam cerita yang berbeda.
Tak lama para tamu undangan mulai berdatangan memenuhi tempat itu. Rio mengajak Kiara duduk. Ia sengaja memilih tempat duduk di pinggir agar leluasa bergerak. Suasana hening dan hikmat muncul ketika alunan pujian mulai dimainkan.
Tubuh Kiara menegang ketika melihat mempelai pria muncul dan berdiri di pelaminan. Tak lama mempelai wanita muncul bergandengan dengan seorang laki-laki yang bertindak sebagai walinya. Mereka berdiri dihadapan pemuka agama yang akan memimpin upacara penyatuan janji suci kedua mempelai.
Tubuh Kiara bergetar dengan kedua mata yang mulai mengembun. Sakit di hatinya terasa nyeri sekali. Besok, seharusnya ia akan melakukan prosesi seperti ini. Besok, ia dan Elang seharusnya bersanding di pelaminan seperti mereka. Besok, seharusnya menjadi hari bahagianya bersama Elang, laki-laki yang sudah menjadi pilihan hatinya.
"Lepaskan! Jangan ditahan! Pundakku siap menjadi sandaranmu" bisik Rio.
Kiara menggeleng. Ia merasa masih bisa menahan emosi di dalam dirinya. Tanpa menunggu persetujuannya, Rio langsung menarik Kiara dalam pelukannya. Tepat saat pemuka agama itu menyatakan sah kepada kedua mempelai, tangis Kiara pecah dalam pelukan Rio. Tangis yang sudah tertahan selama berhari-hari.
"Kita pergi" bisik Rio, menuntun Kiara pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka berjalan dengan cepat, keluar menuju mobil yang sejak tadi masih setia menunggu kemunculan mereka berdua.
"Menangislah, jika itu bisa mengurangi bebanmu! Aku siap menjadi sandaranmu, Kiara" ucap Rio ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Kiara mengangguk, tangisnya belum juga reda. Setidaknya dengan menangis seperti ini beban yang ia rasa terasa sedikit plong.
"Beji Griya Waterfall" kata Rio kepada supir yang hendak bertanya kemana tujuan selanjutnya.
Sopir itu mengangguk dan mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan venue pernikahan yang membuat Kiara sedih.
**Yuk ramaikan dengan Like + Komen
♡♡♡♡**
__ADS_1