
Ting..
Ting..
Ting..
Rio segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya ketika mendengar beberapa kali notif di ponselnya masuk. Rio menatap layar ponselnya dan membuka pesan dari Olive dengan cepat.
Duarrrr..
Jantung Rio seakan meledak saat melihat foto yang dikirimkan Olive. Matanya seketika berkabut. Rio mengusap-ngusap layar ponselnya dengan sayang.
Rio melihat foto Kiara yang memakai gaun pemberiannya. Rio tak menyangka Kiara mau memakainya. Kiara benar-benar terlihat anggun dan menawan mengenakan gaun itu.
Ting..
[Olive]
Malam ini Nona Kiara mengenakan gaunmu di acara wedding anniversary rekannya. Boy, andai kau disini dan berdiri di sampingnya. Sungguh kalian akan menjadi pasangan yang serasi.
Rio diam. Andai...andai...andai...Andai saja takdirnya begitu. Andai saja kakaknya bukan Adiraka. Andai saja Evan bukan dipungut Adiraka. Andai saja kekasih Adiraka tidak tidur dengan Rio.
Sejuta Andai yang terlintas dipikiran Rio sekarang. Andai... semua berjalan seperti keinginan Rio. Rio hanyalah manusia yang tidak bisa menolak takdir dari Tuhan. Rio hanyalah makhluk lemah yang tak mempunyai kuasa.
Rio kembali menatap layar ponselnya, melihat foto Kiara satu persatu tanpa membalas pesan Olive. Rio terlalu fokus melihat foto Kiara hingga tak sadar jika Evan masuk ke ruangannya.
“Boy...!” panggil Evan pelan.
Evan tahu Rio sedang melamun. Oleh sebab itu dia tidak mau mengagetkannya.
“Pemotretan segera di mulai. Aku tunggu di studio foto” ucap Evan sambil menepuk bahu Rio dengan lembut.
Sejak tragedi perpisahan Rio dan Kiara, sikap Evan berubah. Dia tak pernah ketus pada Rio. Evan selalu berbicara lembut pada Rio. Evan paham, sahabatnya ini tengah menahan luka dan egonya demi menyelamatkan banyak orang.
“Pergilah. Aku akan segera menyusul” ucap Rio dengan posisi tetap menatap layar ponselnya.
Evan melirik dengan ekor matanya. Sedikit penasaran dengan apa yang Rio lihat di ponselnya. Evan sedikit mendekat dan betapa terkejutnya Evan ketika melihat foto Kiara memakai gaun yang ia rancang atas permintaan Rio.
Evan mengambil ponsel Rio dengan cepat, melihat foto-foto Kiara satu-persatu. Ada perasaan gemas di hati Evan. Kiara selalu membuatnya berdebar- debar. Berkali-kali Evan menggelengkan kepalanya. Seakan-akan tak percaya jika gaun rancangannya seperti bernyawa ketika Kiara memakainya.
“Benar-benar titisan dewi!!!! Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku lihat!!!” Evan berteriak histeris.
Rio segera mengambil ponsel miliknya dan bergegas pergi dari ruangannya. Evan segera berlari mengejar Rio.
“Boy...” panggil Evan dengan terus melangkah berusaha menyamai langkah Rio.
__ADS_1
“Kalau kau ingin menyusul Nona Kiara, aku mengizinkanmu"
Rio tak menjawab. Dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang studio. Rio bahkan tak peduli jika Evan terus berbicara kepadanya. Rio menghentikan langkahnya dan itu sukses membuat Evan menabraknya dari belakang.
“Berhentilah! Aku akan menemui Kiara jika sudah waktunya!” ucap Rio kemudian melanjutkan langkahnya.
Rio masuk ke studio foto dan mulai melakukan tugasnya. Hari ini dia akan memotret model-model Evan untuk iklan shampo.
Evan memandangi Rio dari jauh. Ada rasa bersalah di hati Evan. Sudah bertahun-tahun Rio berkorban untuk dirinya. Evan rasa sudah waktunya Evan maju. Evan harus menemui Adiraka dan berusaha membujuknya. Bagaimanapun masalah Rio dan Adiraka adalah masa lalu yang seharusnya sudah mereka kubur dalam-dalam. Evan berjanji dia akan mendatangi Adiraka secepatnya.
____***____
Hotel ABC
Kiara memasuki ballroom hotel ABC bersama Olive. Ia mengedarkan pandangannya, mengamati siapa saja yang hadir di acara Elin. Senyum di bibir Kiara terbit ketika sosok yang ia cari terlihat berbincang dengan Elin dan Wima. Kiara menarik tangan Olive, mengajaknya melangkah ke tempat Elin.
“Mr. Wima, Mrs Elin, happy wedding anniversary” ucap Kiara.
Ia menjabat tangan Elin sambil memberikan kecupan di pipi Kiri dan kanan Elin. Elin sedikit terkejut dengan perlakuan Kiara. Pasalnya sejak bertemu di villa, Kiara adalah sosok yang menyebalkan bagi Elin.
“Terima kasih, Nona Kiara" ucap Elin dengan tawa yang dipaksakan.
Kiara beralih menjabat tangan Wima dan memeluknya. Tak lupa ia juga mengucapkan selamat pada Wima. Wima menerima ucapan dari Kiara dengan senang hati.
“Terima kasih, Mr. Wima. Aku memang cantik sejak dulu. Tapi sayangnya masih ada orang yang tidak bisa melihat kecantikanku,” ucap Kiara sambil melirik pada Ale. Ale yang merasa mendapat lirikan Kiara hanya tersenyum tipis.
Elin melihat Aisha berjalan mendekat ke arahnya. Posisi Kiara dan Elin berhadapan sehingga Kiara tidak melihat Aisha yang berjalan ke arah mereka.
Aisha memang tadi berkumpul dengan mereka. Namun, dia pamit untuk ke toilet. Kini Aisha sudah berjarak beberapa langkah. Elin harus segera bertidak agar tidak terjadi perang dunia di sini.
“Nona Kiara, sepertinya Anda harus mencicipi makanan di sini. Saya yakin Anda pasti suka. Semua dibuat oleh chef-chef lokal yang bertarif internasional” ucap Elin sambil menggiring Kiara dan Olive menjauh dari Wima dan Ale.
Elin memberikan kode pada Ale agar pergi ke arah berlawanan dan Ale mengangguk.
“Anda pasti suka. Silakan Nona!” ucap Elin.
Elin memberikan piring kecil pada Kiara dan Olive. Elin dengan cepat meletak beberapa kue pada piring mereka. Sesekali Elin mencuri pandang, mencari posisi Ale dan Aisha.
“Anda suka?” tanya Elin.
Kiara dan Olive mengangguk kompak.
Elin kemudian pamit meninggalkan mereka karena ingin menyambut beberapa tamu yang baru hadir. Tak lupa Elin mempersilakan Kiara dan Olive agar mencicipi makanan yang lain sebelum akhirnya Elin kembali ke tempat Wima.
“Acara kita mulai saja ya?” tanya Wima ketika Elin baru saja menghampirinya.
__ADS_1
Elin hanya mengangguk.
Acara pun di mulai. Kiara mengikuti acara itu dengan malas. Sebenarnya ia datang hanya ingin bertemu Ale dan menggoda Aisha. Entah mengapa Kiara sangat senang menggoda Aisha karena seperti mendapat hiburan baru.
Setelah acara sambutan yang panjang dan nyanyian happy wedding anniversary, kini tibalah pada acara dansa. Elin dan Wima mengawali masuk ke area dansa dan satu persatu undangan mulai mengikuti mereka. Kiara bisa melihat Ale dan Aisha sedang berdansa. Senyum sinisnya terbit. Kiara meletakkan piring makanannya dan mengajak Olive mendekati area dansa.
“Nona mau berdansa? Dengan siapa?” tanya Olive heran.
“Sudahlah. Kita mendekat saja" ucap Kiara tenang.
Olive menurut. Olive melangkah di belakang Kiara. Baru lima langkah, seorang pemuda tampan mengulurkan tangan pada Kiara. Olive sedikit kaget dengan apa yang dilihatnya. Kiara menoleh ke belakang, memberikan isyarat pada Olive jika Kiara akan berdansa. Olive mengangguk.
Kiara dan pemuda itu memasuki area dansa. Mereka bergabung dengan tamu yang lain. Tiba-tiba iringan musik yang semula syahdu dan romantis berubah menjadi agak cepat. Estafet dance!!!
Kiara seperti dejavu. Seringai kecil muncul dari bibir Kiara. Kiara mengikuti jalannya estafet dance dengan senang. Ia sangat menikmati sesi ini dan
Hap!!!.
Seolah sudah diatur sebelumnya. Kiara tersenyum penuh kemenangan ketika pasangannya kini adalah Ale. Ale yang tak menyangka jika pasangan selanjutnya adalah Kiara, tentu saja kaget. Ale gugup dan ragu menyentuh tangan Kiara.
Kiara menangkap keraguan Ale. Kesempatan emas tidak boleh dilewatkan. Kiara segera menggenggam tangan Ale dan mengiring langkahnya.
"Ini sudah takdir, Mas Ale. Aku pun tidak menyangka jika kita dipasangkan" bisik Kiara tepat di telinga Ale.
Ale diam tak bersuara, berbeda dengan jantungnya yang kini ramai seperti demo anak sekolahan. Ale mengikuti begitu saja gerakan Kiara. Ia seakan terhipnotis dengan pesona Kiara.
Musik kembali melambat. Estafet dance selesai. Kiara merapatkan tubuhnya pada Ale. Kini jarak wajah Ale dan Kiara sangat dekat. Ale benar-benar lupa diri. Ia menikmati berdansa dengan Kiara hingga melupakan keberadaan Aisha.
Mereka terus berdansa dengan tatapan saling beradu. Hingga akhirnya...
Cup...
C i u m a n Kiara mendarat tepat di bibir Ale. Ale terbelalak dengan apa yang ia dapatkan. C i u m a n berdurasi tak lebih dari tiga detik itu sukses membuat Ale berkeringat dingin.
Kiara melepas c i u m a n nya ketika musik berhenti. Ia tersenyum bangga kemudian berlari meninggalkan Ale yang masih berdiri mematung.
Tanpa Ale sadari, Aisha dan Elin berdiri tak jauh di belakang Ale. Mereka shock berjamaah melihat pemandangan yang baru saja terjadi.
Wajah Aisha berubah pucat pasi. Ia berlari meninggalkan ballroom hotel ABC. Tangis Aisha pecah. Aisha terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang melihatnya.
Elin beranjak untuk mengejar Aisha. Namun Wima mencegahnya. Wima memberikan isyarat pada Elin agar tetap diam. Bagaimanapun mereka tidak boleh ikut campur dengan urusan Aisha. Biarlah mereka menyelesaikan sendiri masalah mereka.
Haii readers..jangan lupa like dan komen setelah baca ceritaku ya..
biar Author tahu jika karyaku yang masih amatiran ini ada yang baca.
terima kasih sebelumnya
__ADS_1