
"Olive, ke ruanganku sekarang!" teriak Indra ketika melewati meja Olive.
Olive mengernyitkan dahi. Ia hanya bisa menganga. Pikirannya menerka-nerka apa yang telah terjadi antara Kiara dan Pamannya. Indra keluar dari ruangan Kiara dengan wajah merah padam. Olive yakin telah terjadi perang kedua antara Paman dan bos nya itu.
Sejak pernyataan Kiara yang ingin dinikahi pria beristri itu diketahui Pamannya, Indra dan Kiara terlibat perang dingin. Mereka tidak bertegur sapa. Jangankan menyapa, untuk bertemu saja mereka tidak mau. Mereka seakan saling menjauh. Indra tak pernah hadir dalam rapat yang dipimpin Kiara. Ia juga sering berada di luar kantor. Alasannya, dinas luar.
Kiarapun tak ambil pusing. Olive melihat bos nya itu seakan menganggap Pamannya sudah menghilang dari perusahaan. Tak pernah sekalipun Kiara menanyakan keberadaan Indra. Meskipun Kiara tidak pernah melihatnya saat rapat.
Olive segera beranjak dari tempat duduknya, melangkah dengan cepat menuju ruang kerja Indra. Olive mengetuk pintu dengan pelan dan segera ia masuk setelah mendengar suruhan Indra.
"Mr. Indra...!!!"
Brakkkk......
Olive terkejut. Baru saja masuk dia sudah mendapat gebrakan meja dari Indra. Olive diam. Jujur saja Olive sangat ketakutan berada di ruangan Indra.
Atmosfir ruangan ini menyeramkan bagi Olive. Ruangan ber AC tapi tak terasa dingin bagi Olive malah sebaliknya. Olive berkeringat dingin, melihat Paman atasannya seperti gunung merapi yang siap memuntahkan isi materialnya pada Olive.
"Gila...gila...gila..!!!" Indra berjalan mondar-mandir sambil menjambak rambutnya.
Olive tetap diam. Kedua mata coklatnya terus mengikuti gerak gerik Indra yang mirip cacing kepanasan. Mulutnya tak henti mengumpat.
"Kau... berada di pihak siapa?" tanya Indra.Tangannya menunjuk tepat pada wajah Olive.
"Maksud Anda apa, Tuan Indra? Ma..maaf saya tidak paham" jawab Olive gelagapan.
"Ya Tuhan!!!! Kau ini sekretarisnya tetapi tidak tahu apa-apa mengenai atasanmu"
Olive menelan ludah mendengar Indra memakinya. Kenyataannya memang begitu. Olive tidak tahu apa-apa. Olive paham jika Indra sekarang sedang emosi sehingga menumpahkan kekesalannya pada sembarang orang. Olive tetap berdiri tegak dalam diam.
"Kau tahu? Istri Alex menyetujui pernikahan Kiara dan suaminya" ucap Indra yang tentu saja membuat Olive membulatkan matanya.
"Apa? Anda serius,Tuan?" tanya Olive tak percaya.
"Tentu saja aku serius, Olive. Kalau aku becanda mana mungkin aku segelisah ini? Kau benar-benar tidak peka" Indra kembali memaki Olive.
"Maaf,Tuan" ucap Olive sambil membungkuk.
"Simpan maafmu! Aku tidak butuh itu. Sekarang kita fokus pada kasus Kiara. Ini masalah genting. Jika keluarga besarku tahu apa yang sudah ia lakukan, pasti akan terjadi perang. Ini bisa mencoreng nama baik keluarga kami. Olive, katakan padaku kau di pihak siapa?" tanya Indra.
Olive menggigit bibirnya.
"Saya tidak berada dipihak Nona Kiara. Jujur saya tidak mau pernikahan ini terjadi"
"Bagus! Kau harus bantu aku menggagalkan rencana konyol ini"
"Tuan punya rencana?" tanya Olive
"Tentu saja dan aku butuh bantuanmu"
"Saya siap membantu, Tuan Indra"
__ADS_1
"Kau kembalilah dulu ke mejamu! Saya akan menghubungi seseorang" ucap Indra yang dibalas anggukan oleh Olive.
Olive segera keluar dari ruangan Indra. Ia kembali ke mejanya. Seketika ia teringat pada Rio. Terakhir kali Evan mengatakan jika Rio sudah berangkat ke Jakarta. Ini sudah dua hari dan seharusnya Rio sudah tiba di Jakarta.
Olive segera mengambil ponselnya, mendial nomor Rio. Tidak aktif, begitu jawaban dari operator yang diterima Olive. Olive langsung merasa cemas. Ia kemudian mendial nomor Evan.
"Halo, Olive..."
"Evan...!!!!"
"Ya, ada apa? Kenapa kau terdengar panik?"
"Rio. Apakah Rio menghubungimu?" tanya Olive.
"Rio? belum. Apakah dia belum sampai?"
"Sepertinya Rio belum sampai ke Jakarta. Aku baru saja menelponnya tetapi nomornya tidak aktif"
"Apa? Ini sudah dua hari. Seharusnya Rio sudah tiba di Jakarta. Sebentar Olive aku akan menghubungi Ivana dan pihak bandara. Aku tutup dulu teleponnya"
Olive meletakkan ponselnya di atas mejanya. Cemas? tentu saja. Jika Rio belum tiba di Jakarta, Olive tidak bisa menggagalkan pernikahan konyol Kiara.
Ponsel Olive berdering kembali. Nama Evan muncul di layar ponselnya.
"Evan..bagaimana?"
"Olive...!!!!!" Evan berteriak histeris dan itu membuat Olive semakin yakin tentang hal buruk yang akan terjadi.
"Evan...Evan...kenapa? ada apa??? Evan... berhentilah berteriak...!!!,"
Prang....
Ponsel Olive seketika jatuh.
"Hei, Olive ada apa?"
Olive kaget mendengar suara yang menegurnya. Kiara, bosnya berdiri tepat di hadapan Olive.
"Hei, kau kenapa? kau sakit? wajahmu pucat?" tanya Kiara lagi.
Olive menggeleng. Ia menarik nafas, mencoba mengembalikan sikapnya agar terlihat biasa.
"No..nona Kiara. Saya..."
"Kalau kau sakit, beristirahatlah!" perintah Kiara.
"Tidak, Nona. Saya baik-baik saja" ucap Olive berbohong.
"Yasudah kalau begitu. Ayo kita pergi! Aku ingin makan ketoprak" ucap Kiara kemudian berlalu.
Olive segera membereskan mejanya. Ia mengambil ponselnya yang kini sudah tidak utuh lagi. Dengan tergesa-gesa, Olive segera mengikuti langkah Kiara.
__ADS_1
____***____
"Aisha....!!!! Aisha....!!! Kemari kau!!!!"
Aisha berlari ketika mendengar suara Ale memanggilnya. Sejak tadi ia tertidur karena kelelahan. Aisha langsung bangun ketika mendengar teriakan Ale.
Plakkkk
Satu tamparan mendarat di pipi Aisha. Aisha kaget menerima tamparan Ale yang tiba-tiba itu.
"Kau kenapa, Mas? Mengapa menamparku?" Aisha meringis memegangi pipinya.
"Kau masih tanya mengapa? Aku menamparmu agar kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan!!!" bentak Ale.
"Aku? Apa yang aku lakukan?" tanya Aisha tak mengerti.
"Kau masih pura-pura bodoh hah? Apa hak mu menyetujui agar aku menikahi Kiara? dimana otakmu hah?" maki Ale pada istrinya.
"Mas...., aku...hanya..."
"Hanya apa??? bisakah kau tidak menambah berat pikiranku? Diam di rumah! Jangan lakukan apapun!" bentak Ale.
"Mana mungkin???? kau sedang mengalami hal sulit dan aku harus diam saja? aku tidak mau kau menderita sendirian, Mas" ucap Aisha mulai terisak.
"Tapi tidak dengan menyetujui pernikahan konyol ini. Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"
"Aku sadar...!!! sangat sadar!!! Aku sadar perusahaan itu sudah bangkrut. Aku sadar kita tidak akan punya apa-apa lagi. Aku sadar aku tidak bisa memberimu anak. Aku sadar semua kekuranganku. Aku sadar, Mas!!!"
Ale membisu. Ucapan Aisha seperti pisau belati yang tepat mengenai jantungnya.
"Meski aku tidak punya apa-apa. Setidaknya kau masih disampingku, Aisha" ucap Ale kembali melunak.
"Aku tak peduli jika hartaku habis. Aku tak peduli jika kita belum memiliki keturunan. Yang terpenting, kau masih di sampingku"
Aisha menatap suaminya. Aisha bisa melihat ada air mata lolos dari netra suaminya. Aisha menangkup wajah Ale dengan kedua tangannya. Menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Ale.
"Aku tak mau kau kehilangan semuanya. Aku tidak rela kerja kerasmu hilang begitu saja. Aku melakukan ini agar kau bahagia" ucap Aisha yang dibalas gelengan kepala oleh Ale.
"Kau salah, Aisha. Harta bisa di cari lagi. Aku bisa membangun perusahaan lagi dari awal. Kita sedang diuji saat ini"
"Sejak awal kita sudah diuji, Mas" potong Aisha cepat.
"Aku belum bisa memberikan keturunan. Itu adalah ujian"
"Jika perihal keturunan yang kau pikirkan, kita bisa mengadopsi anak" sanggah Ale.
"Tidak!!! Kau harus memiliki keturunan dari darah dagingmu sendiri. Aku tidak boleh egois. Kau juga tidak boleh egois. Karyawanmu membutuhkan uang"
Ucapan Aisha kembali membungkam mulut Ale.
"Menikahlah dengan Kiara. Itulah solusi masalah kita saat ini. Aku ikhlas. Aku ikhlas, Mas" ucap Aisha dengan suara bergetar.
__ADS_1
Ale memeluk Aisha dengan erat. Mereka berpelukan dalam tangis. Baik Ale dan Aisha menumpahkan emosi mereka. Ini adalah pilihan sulit bagi keduanya. Ujian yang harus mereka lalui.
"Percayalah, kita ikuti saja alurnya. Jangan melawan takdir!" bisik Aisha.