
Widya mengernyitkan dahi ketika melihat sosok pria bule berdiri mematung di depan pintu kamar rawat Kiara. Pria itu terlihat ragu untuk mengetuk pintu. Terlihat dari gerakan tangan dan kakinya yang maju mundur berulang kali.
Widya yang baru datang dari membeli bubur untuk Kiara segera menghampiri pria bule itu. Widya pikir tidak mungkin pria itu adalah kenalan Kiara karena baik Dira maupun Kiara tidak pernah memperkenalkan laki-laki itu. Widya yakin jika pria bule itu kesasar hingga berada di depan pintu kamar rawat anaknya.
"Mister...., Mister...., cari siapa?," tanya Widya membuat pria bule itu terkejut dan menoleh ke arahnya. Pria itu yang memang tidak paham dengan bahasa Indonesia tentu saja gelagapan ingin menjawab pertanyaan Widya.
"Mister kenapa diam? Mister kesasar?," tanya Widya lagi dan laki-laki itu kembali bingung menjawab pertanyaan Widya.
Widya menghela nafas. Ia kemudian menarik tangan pria bule itu masuk ke dalam kamar rawat Kiara. Percuma saja bertanya pada pria bule ini. Karena Widya yakin pria bule ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Widya teringat Kiara dan sepertinya ia harus membawa pria bule ini masuk agar bisa berkomunikasi dengan Kiara.
Kiara terpaku ketika melihat sosok pria bermanik biru itu ditarik masuk oleh Widya. Rio, bagaimana laki-laki itu bisa disini? Apakah tidak ada Dira di depan? Kiara mulai cemas tapi berusaha tenang dihadapan mereka.
"Mama menemukan pria bule ini di depan pintu. Kiara tanyain dia, apa maunya? Orang ini sepertinya tidak bisa berbahasa Indonesia," kata Widya kemudian berlalu ke samping kiri Kiara untuk menyiapkan bubur pesanannya.
"Kiara kenal sama dia, Ma. Boleh Kiara bicara berdua dengan dia sebentar, Ma?," tanya Kiara yang di jawab anggukan oleh Widya.
Widya menyerahkan mangkuk berisi bubur pada Kiara dan memintanya makan meskipun ada pria bule disitu. Lalu tanpa ada pertanyaan lagi, Widya keluar dari kamar rawat Kiara meninggalkan mereka berdua.
"Are you OK? What's happen, Kiara?," tanya Rio yang artinya bisa dicari sendiri di kamus.
"Rio, kemarilah! Jangan berdiri mematung seperti itu," ucap Kiara sembari menyuapkan bubur ke mulutnya.
Rio mendekat, ia hendak mengambil alih mangkuk Kiara tapi ditolaknya. Kiara memberi isyarat agar Rio duduk. Kiara menolak disuapi Rio dan memilih makan sendiri.
"I miss you."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rio sehingga membuat Kiara berhenti mengunyah dan menoleh ke arahnya. Mereka saling menatap dalam diam.
"Kiara... Aku senang bisa melihatmu lagi," lanjut Rio dengan seulas senyum terbit di bibirnya.
Kiara diam. Ia masih menatap wajah Rio tanpa bersuara. Kiara sengaja memberi ruang agar Rio mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Kiara tidak bisa menyangkal jika ia merasa bersalah. Kiara bisa melihat netra pria bule dihadapannya berkaca-kaca.
"Aku sempat takut tidak bisa bertemu lagi denganmu. Aku benar-benar merindukanmu," ucap Rio dan air matanya begitu saja lolos membasahi pipinya.
"Sorry, Rio. Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal," ucap Kiara menunduk.
"Aku tidak seharusnya membiarkanmu terus menyimpan rasa kepadaku. Sejak awal aku tahu kau memiliki rasa untukku, tapi aku selalu menepisnya. Aku membiarkanmu semakin tenggelam dengan rasa itu. Rasa yang tak pernah bisa aku balas. Maaf, aku menyakitmu. Aku... aku... memang jahat," lanjut Kiara kemudian ia menghela nafas kasar.
Rio mengangguk. Ia paham dengan status Kiara saat ini. Tanpa perlu bicara panjang lebar, Rio harus tahu diri. Rio harus bisa menempatkan dirinya. Tidak pantas baginya merebut Kiara yang sudah berstatus calon istri orang. Rio juga sadar jika Kiara tidak menaruh rasa padanya. Jadi mana mungkin dia akan memaksa Kiara memiliki perasaan yang sama padanya?
"Tak apa. Aku mengerti," ucap Rio.
"Aku juga meminta maaf atas perlakuan Dira kepadamu. Kau selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan darinya."
__ADS_1
"Tak apa, Kiara. Aku yang salah. Aku pernah...," ucap Rio terputus karena Kiara langsung menyelanya.
"Sudahlah. Lupakan! Berdamailah dengan masa lalumu dan mulailah menata hidupmu lebih baik. Rio, kau fotografer profesional. Kariermu pasti bisa melejit. Aku menunggu karya-karya terbaikmu," ucap Kiara menyemangati Rio.
"Andai kau kembali menjadi model, Kiara. Kita pasti bisa bekerja sama lagi." ucap Rio yang dibalas senyuman oleh Kiara.
"IN YOUR DREAM !!!"
Brakk
Dira mendorong pintu kamar rawat Kiara dengan kencang. Dira menatap tajam ke arah Rio. Namun yang ditatapnya memilih cuek. Dira berjalan dengan cepat dan langsung saja menarik kerah baju Rio.
"Kau masih berani menemui Kiara. Kau berani sekali hah???," ucap Dira dengan tatapan mata yang benar-benar menusuk. Suara berat Dira dan deru nafasnya yang cepat bisa menggambarkan bagaimana level emosi Dira saat ini.
"Kadir!!! Stop it!" teriak Kiara tapi diacuhkan Dira.
"Kenapa aku harus takut Tuan Dira? Aku hanya ingin menjenguk Kiara," kata Rio tenang.
"Kau tidak diharapkan disini."
"Kadir...!!!" teriak Kiara lagi tapi Dira seakan menulikan pendengarannya.
"Jangankan menjenguk adikku. Melihatnya saja tidak akan aku ijinkan," teriak Dira tepat di wajah Rio.
"Tuan, santailah. Aku hanya ingin menjenguk adikmu. Mengapa kau semarah ini?."
"Cukup, Kadir!!! Sampai kapan kau akan begini pada Rio???."
"Diam kau!!! Aku tidak berbicara padamu."
"Tapi ini menyangkut gue dan gue berhak ikut campur dalam masalah ini."
"Gue bilang diam!!! Gue nggak ngijinin lu ikut campur dalam masalah ini."
"Mau lu apa sih, Kadir?"
"Mau gue??? Gue mau dia enyah dari bumi ini. You go to hell...!!!," Dira menghempaskan tubuh Rio hingga membentur pinggir brangkar. Hampir saja Rio jatuh pada tubuh Kiara andai tangannya tidak segera berpengangan pada tiang infus.
Rio menatap jengah pada Dira. Sepertinya kali ini Rio tidak bisa diam. Rio berdiri tegak dan berjalan mendekati Dira.
"Kalau Tuan ingin mengirimku ke neraka? Lalu kenapa Tuan membebaskan saya?," tanya Rio.
Deg...
__ADS_1
"Tuan bisa saja kan langsung mengirim saya ke neraka tanpa harus mengurung saya berbulan-bulan seperti ini?," tanya Rio lagi membuat Dira menegang.
Kiara memicingkan matanya mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Rio.
" Tuan Adiraka yang terhormat. Aku tidak tahu apa rencanamu. Kau yang mengurungku tetapi kau melepaskanku dan lucunya sekarang kau berkata ingin mengirimku ke neraka. Bukankan sejak kau berhasil menangkapku, kau bisa langsung mengirimku ke neraka," ucap Rio membuat Dira mati kutu.
" Kadir.... lu ngapain Rio? Kadir... jawab gue! lu ngapain Rio hah?," tanya Kiara mulai panik.
" Jo .. Na .. Than. Penghianat itu yang membuka kedokku," ucap Dira sembari menertawakan kebodohannya.
" Jawab gue, Kadir!!! Jawab gue!!!" Kiara berteriak kembali.
Kiara tidak sabar menghadapi Dira yang masih saja diam. Kiara turun dari brangkar dan berdiri di hadapan Dira.
Plak...
Kiara menampar pipi Dira dengan tangan kirinya. Tanpa penjelasan Dira, Kiara bisa.mencerna apa yang telah dilakukan kakaknya itu pada Rio. Kiara malu, malu atas apa yang dilakukan Dira. Kiara tidak menyangka jika Dira bisa berbuat sejahat itu.
" Sampai kapan lu dendam sama Rio? Sampai kapan lu nyalahin Rio? Come on Dira. Kejadian itu sudah lama dan lu masih aja belum bisa move on. Lu pernah nggak sih mikir cewek yang lu pikirin saat ini apa masih mikirin lu juga? Dia bahkan tidak menampakkan batang hidungnya bertahun-tahun. Bisa aja dia sekarang lagi asyik sama gebetan barunya. Pernah nggak lu mikir ke sana."
" Lu nggak tahu apa-apa!!! Jadi jangan ngomong macam-macam!!!," bentak Dira.
Ceklek...
Elang dan Widya masuk bersamaan. Elang segera berlari memeluk Kiara sedangkan Widya menarik Dira dan melakukan hal yang sama seperti Elang. Sebenarnya Elang dan Widya berada di depan kamar rawat Kiara sejak tadi. Namun, mereka urung masuk ke dalam ketika mendengar suara ribut-ribut di dalam. Widya dan Elang memutuskan masuk ketika mendengar Dira membentak Kiara. Kiara sedang sakit, tidak seharusnya dia stress.
" Maaf, sepertinya saya pengacau disini," ucap Rio.
" Sudah ku bilang kehadiranmu tidak diharapkan disini," teriak Dira tanpa menoleh ke arah Rio. Dira masih dalam pelukan Widya yang terus mencoba menenangkan dirinya.
" Dira... kamu tidak boleh marah. Anak Mama tidak ada yang pemarah," ucap Widya sembari mengelus punggung Dira.
Rio pamit undur diri. Ia menyeret kakinya meninggalkan kamar rawat Kiara dengan lunglai.
Widya melepas pelukannya. Ia menarik tangan Dira agar keluar dari kamar Kiara. Widya memberi kode pada Elang agar menenangkan Kiara yang mungkin saja masih shock dengan peristiwa barusan.
" Kita mau kemana, Ma?," tanya Dira lirih.
" Kantin. Kamu, tenangkan diri dulu," ucap Widya.
Haii Reader. maaf othor nggak bisa update tiap hari karena memang lagi ribet dengan kesibukan A B C D.
Jangan lupa berdoa sebelum baca, like dan komen sesudah baca. Terima kasih karena tetap stay tune di novel ini.
__ADS_1
Sambil nunggu novel ini up lagi. Othor mau rekomendasiin novel yang tak kalah menarik lo. Bisa juga mampir dulu kesini.. yuk cuss