
Ciiiiittttttttt.........
Tubuh Kiara hampir saja terpental ke depan jika saja seatbelt yang dipakainya tidak menahan tubuhnya. Elang dengan kasarnya menginjak pedal rem dalam-dalam seakan-akan menyalurkan emosinya pada benda padat tersebut.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Kiara. Kiara berdecak kesal. Ia membuka seatbeltnya hendak keluar dari mobil. Namun, Elang malah mengunci pintu mobil dengan otomatis sehingga membuat Kiara semakin naik darah.
" Kau menyebalkan. Apa sih mau mu?," teriak Kiara. Ini adalah pertama kalinya Kiara berteriak pada Elang sejak mereka menjalin hubungan. Kiara menatap Elang dengan penuh kebencian lalu membuang muka ke arah jendela dengan cepat.
" Kenapa Ara tidak bilang jika ke tempat Ivana? Andai Elang tidak ke rumah Ara, pasti Elang tidak tahu tentang pemotretan itu?," tanya Elang.
" Jangan salahkan aku! Salahkan Ivana yang menelpon mendadak," Kiara tetap dengan nada ketusnya.
" Apa Ara menyembunyikan sesuatu?," tanya Elang.
Ara menoleh ke arah Elang. Ditatapnya wajah Elang dengan ekspresi tidak suka. Ada apa dengan calon suaminya ini? kenapa tiba-tiba menuduh Ara menyembunyikan sesuatu? Makhluk mana yang sudah meracuni pikiran Elang sehingga ia bisa menuduh Ara seperti itu?
" Kenapa diam? Ara tidak mau jujur sama Elang?," tanya Elang lagi dan kini ia mulai frustasi sendiri.
" Jujur tentang apa sih? Bicara yang jelas! Jangan memberi kode-kode pramuka! Elang pikir Ara akan paham jika Elang nggak to the poin?," Ara menyerang balik.
Elang menghela nafas sembari memejamkan matanya. Sebenarnya Elang ingin menanyakan langsung perihal Rio tapi entah mengapa mulutnya seakan berat untuk berkata. Elang seperti tidak siap mendengar kenyataan jika itu akan membuatnya sakit. Namun disisi lain, Elang juga penasaran akan hubungan Ara dan Rio di masa lalu.
" Fotografer itu."
" Fotografer? mana?," tanya Ara celingak celinguk mencari fotografer yang dimaksud Elang.
" Fotografer Ivana maksudku."
" Iya.... dimana?," tanya Kiara lagi.
" Kenapa kau tanya dimana? harusnya Ara jelaskan siapa dia? apa hubungan Ara dengannya?," tanya Elang meninggi.
Plak.....
Kiara memukul pipi Elang.
" Ngomong itu yang bener. Ngomong pendek banget. Nggak jelas lagi. Langsung aja kenapa sih tanya tentang Rio?," ucap Kiara membuat Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Rio itu siapa?," tanya Elang lirih.
" Fotografer Ivana. Elang kan juga tahu. Kenapa masih tanya?," ucap Kiara kesal.
" Ara...!!!!! Jangan becanda! Siapa itu Rio? Ada hubungan apa kau dengan Rio?."
__ADS_1
" Ara nggak punya hubungan apa-apa sama Rio, hanya rekan kerja," jawab Kiara dengan cuek.
" Bohong!!! Jika hanya rekan kerja kenapa Ara dan Rio berfoto menggunakan baju pengantin seperti foto prewed. Jujur sama Elang, Apa kalian pernah memiliki hubungan sebelumnya?,"
" Aku? Foto dengan baju pengantin dengan Rio? Kapan?," Kiara mengingat-ingat.
" Iya... beberapa tahun yang lalu. Seseorang mengirimkan foto itu pada Elang melalui nomer tidak dikenal."
Kiara mengambil ponselnya di dalam tas, mengusap layar ponselnya dan segera membuka aplikasi lovagram. Jari-jemari Kiara dengan cepat meluncur memasuki akun lovagram milik Rio. Kiara mengusap layar ponselnya ke atas guna menggeser foto-foto milik Rio. Tidak butuh waktu lama bagi Kiara menemukan foto yang ia cari.
" Foto ini?,"
Kiara menyodorkan ponselnya pada Elang. Elang buru-buru menerima ponsel Kiara dan menatap foto yang terpampang di layar ponsel itu. Elang menoleh ke arah Kiara. Ditatapnya Kiara dengan ekspresi tidak suka.
" Foto itu maksudmu?," Kiara mengulang pertanyaannya.
" Iya... foto ini," jawab Elang dengan nada berat.
" Baca captionnya. Kalau nggak paham bahasa Inggris, bilang sama Ara. Nanti Ara terjemahin," ucap Kiara mengejek Elang. Elang yang sedang kesal seperti itu langsung saja mencubit kedua pipi Kiara dengan gemas.
" Bersanding denganmu adalah salah satu mimpiku. Aku harap ini akan menjadi kenyataan, my aurora," Elang membaca caption yang tertulis pada foto itu, raut wajahnya bertambah kesal. Mual, Elang merasa mual membaca caption pada foto itu.
" Kenapa? Ada masalah?," tanya Kiara menantang Elang.
" Sebenarnya Ara malas membahas Rio. Tapi karena Elang sepertinya naik darah, ya sudah Ara jelaskan."
Kiara menarik nafas kemudian mulai bercerita bagaimana awal mula ia mengenal Rio, bagaimana ia bisa bekerja sama dengan Rio, perjalanan modelnya hingga akhirnya mereka berpisah. Kiara menceritakan apa adanya, tak ada yang ia tutupi pada Elang. Toh meskipun ia berusaha menutupi, suatu saat nanti pasti Elang akan tahu. Jadi Kiara memilih menceritakan semuanya hingga Elang merasa puas dan lega.
" Ara tidak pernah ada rasa pada Rio. Jadi Elang tidak perlu khawatir," ucap Kiara mengakhiri ceritanya.
" Tapi dia ada rasa padamu," ucap Elang tetap dengan rasa gelisahnya yang tak kunjung hilang.
" Aku tidak peduli!!! Bukankah Elang juga tidak peduli dengan Ellea yang memiliki rasa pada Elang? Ara sudah bilang kan, Ara akan belajar mencintai Elang. Kalau Ara sudah berkata seperti itu artinya Ara ingin menetapkan hati Ara pada Elang," ucap Ara mantap.
Mendengar perkataan Ara sungguh membuat Elang merasa terharu. Ia tidak menyangka jika Ara yang semula menolak dengan hubungan ini, kini berubah memantapkan diri. Elang tidak menyangka dalam waktu secepat ini hubungannya mengalami banyak kemajuan.
" Ara mau masuk ke rumah karena sepertinya kita harus beristirahat menenangkan pikiran kita masing-masing," ucap Ara yang dibalas anggukan oleh Elang.
Elang segera membuka kunci otomatis pintu mobilnya. Ketika Kiara hendak membuka pintu, Elang malah menarik tangan Kiara dan memeluknya dengan erat. Elang benar-benar menikmati momen indah itu dimana tiap detiknya terasa berharga untuknya.
Tok...tok...tok...
Seseorang mengetuk kaca pintu mobil Elang, sontak Elang dan Kiara melepas pelukan mereka. Elang menurunkan kaca mobilnya dan...
__ADS_1
" Minggir.... kalau mau masuk, masuk aja. Kalau mau pergi, geser mobilnya. Mobil Abang mau masuk," ucap Dira dengan tampang coolnya.
Elang nyengir kuda, salahnya juga berhenti tepat di depan gerbang rumah Kiara terlalu lama. Elang segera melajukan mobilnya perlahan hingga mobil Dira bisa masuk.
Dira yang sedari tadi tidak kembali masuk ke dalam mobilnya, memilih berjalan mendekati mobil Elang yang kembali berhenti beberapa meter dari tempat semula.
" Opooo????," tanya Kiara ketika melihat Dira kembali menghampirinya.
" Kalian sudah foto prewed?," tanya Dira.
" Sudah," jawab Kiara dan Elang bersamaan.
" Pilih baju?,"
" Sudah."
" Ngurus undangan?,"
" Sudah."
" KALAU BEGITU CEPAT KELUAR KIARA....!!!!!" Dira berteriak sembari membuka pintu mobil Elang. Dira menarik Kiara agar keluar dari mobil Elang.
Elang yang merasa kaget dengan tingkah Dira segera keluar dan berputar menghampiri Dira.
" Ada apa, Abang? Kenapa tiba-tiba marah?," tanya Elang hati-hati.
" Urusan kalian sudah selesai kan?," tanya Dira lagi yang dibalas anggukan kepala Elang.
" Ya sudah kalau selesai. Kalian akan menikah dua minggu lagi. Kalau urusan kalian sudah selesai artinya sekarang kalian DI PI NGIT !!!!," ucap Dira tegas.
" Maksudnya?????," Elang dan Kiara berteriak bersamaan.
" Dipingit... bocah... bocah. Kalian nggak boleh ketemu dulu sampai hari H nanti," ucap Dira kesal.
" Tapi nanti Elang rinduuuuuuu......," teriak Elang tak rela.
Puk....
Dira menimpuk kepala Elang dengan kertas koran yang entah sejak kapan dipegangnya. Tingkah calon adik iparnya ini lama-lama membuatnya begah.
" You out dari rumah saya. Kita ketemu dua minggu lagi," ucap Dira mengusir Elang.
Dira segera menarik tangan Kiara agar pergi meninggalkan Elang. Dengan cepat, Dira menyuruh satpam mengunci gerbang pintu pagar dan memberi ultimatum pada satpam untuk tidak mengizinkan Elang masuk sampai hari pernikahan mereka.
__ADS_1
Kiara yang memang merasa tidak masalah memilih cuek dan ikut berjalan mengekori Dira meskipun Elang memanggil-manggil namanya dari luar pagar.