
Kiara masih membeku dengan kedua mata yang mulai mengembun. Kiara mencoba menggigit bibirnya keras-keras untuk meyakinkan dirinya jika sedang tidak bermimpi. Sakit, itu artinya Kiara tidak bermimpi. Namun entah mengapa hatinya tetap menyangkal jika apa yang dilihatnya adalah kenyataan.
"Sayang, kenapa diam begitu? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Elang ketika ia sudah berada tepat di hadapan Kiara.
Kiara tetap tak bergeming. Ia masih mencoba mencerna dan memastikan jika apa yang dilihatnya bukan mimpi. Ia bahkan terus meyakinkan dirinya jika ia masih waras dan belum gila karena tenggelam dalam dunia fantasinya.
Kiara terus menatap tajam ke wajah Elang yang masih menyunggingkan senyum menawannya. Tangannya tergerak menyentuh pipi Elang dan seketika air mata Kiara jatuh setelah kulit tangannya benar-benar merasakan apa yang disentuhnya.
"Sayang, kenapa mena...." ucapan Elang terpotong ketika tubuh Kiara menubruknya dengan kencang.
Kiara menubruk tubuh Elang dan memeluknya dengan erat. Kiara melepaskan rasa rindunya pada sang kekasih. Seketika Kiara tersadar dengan ucapan Nenek Mila yang akan menikahkan Elang dengan perempuan lain.Kiara melepaskan pelukannya. Ia memutar badan dan berjalan menjauhi Elang.
Elang yang menangkap sesuatu yang tidak beres tentu saja bergerak cepat. Ia berlari mengejar Kiara dan langsung memeluknya dari belakang.
"Kenapa? Kenapa pergi?" tanya Elang sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kiara.
Kiara menggeleng. Ia seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Elang. Hanya air mata yang ditampakkan oleh Kiara. Elang segera membalik tubuh Kiara agar berhadapan dengannya.
"Hei, Kenapa menangis? Apa kau bersedih akan menikah denganku?" tanya Elang sembari menghapus jejak air mata di kedua pipi Kiara.
"Menikah denganku?" Kiara balik bertanya.
"Tentu saja aku akan menikah denganmu, sayang" jawab Elang tersenyum.
"Tidak! Nenekmu sudah membatalkan pernikahan kita. Kau tidak akan menikah denganku" ucap Kiara dengan nada suara bergetar menahan tangis.
Elang tertawa kemudian langsung memeluk Kiara. Kekasihnya ini pasti sangat bersedih karena ulah neneknya. Elang mengambil pistol angin di sakunya, mengarahkan ke atas dan menarik pelatuk pistolnya.
Dorr... Dor... Dor...
Seseorang datang menghampiri mereka dengan setengah berlari. Orang itu membawa kotak yang langsung diserahkan kepada Elang.
"Mau ke negeri dongeng?" tanya Elang sembari membuka kotak yang tadi diterimanya. Ia mengeluarkan isinya yang ternyata sepasang sepatu kaca yang cantik.
Elang berjongkok, mengangkat sedikit gaun Kiara untuk memasangkan sepatu kaca itu pada kaki Kiara. Sebelumnya Elang membersihkan telapak kaki Kiara yang penuh dengan pasir sebelum memasukkannya ke dalam sepatu.
"Cinderella itu nggak nyeker, sayang. Jadi aku pakaikan sepatu kaca ini agar kau benar-benar menjadi cinderella" ucap Elang sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Elang kemudian menarik tangan Kiara, menuntunnya berjalan menuju venue pernikahan. Kiara berjalan dengan susah payah sambil mengedarkan pandangan ke berbagai arah.
Heran, itulah yang Kiara rasakan. Kiara bertanya-tanya Mengapa lokasi pantai yang semula ramai menjadi sepi? Kemana Evan dan lainnya? Kiara masih ingat banyak peralatan yang terpasang di tempat itu. Peralatan yang dipakai Rio dan tim nya untuk melakukan pemotretab. Sekarang, alat-alat itu sudah menghilang entah kemana.
Kiara kembali dibuat heran ketika memasuki venue pernikahan itu. Bukankah beberapa jam yang lalu Kiara juga melewati jalan ini? Jalan menuju pelaminan yang menjadi tempat pemotretannya tadi.
Belum sehari tetapi dekorasi tempat ini sudah berubah. Kiara ingat betul jika tadi tempat ini hanya berisi kursi kosong tanpa ada apapun. Tidak ada wedding cake, tidak ada berbagai makanan dan minuman, serta tidak ada penghulu yang berdiri di pelaminan. Penghulu? Kiara semakin merasa jika dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kenapa ada penghulu?" tanya Kiara.
"Kenapa? Mengapa kau masih bertanya kenapa, sayang? Kita akan menikah. Tentu saja kita butuh penghulu" jawab Elang.
"Menikah?" beo Kiara.
"Tentu saja. Bukankah kita akan menikah hari ini?" Elang balik bertanya.
Elang berhenti melangkah di tengah perjalanan menuju pelaminan. Ia memutar badannya hingga kini dirinya bisa berhadapan dengan calon istrinya. Elang mengamati wajah Kiara, sungguh ia ingin tertawa tetapi ia tahan agar tidak terkena amukan Kiara.
Bagaimana tidak? Gaun pengantin Kiara sudah kotor penuh dengan pasir sedangkan rambut dan make upnya berantakan. Elang merasa Kiara perlu di rias ulang.
"Sayang....." ucap Elang membelai lembut pipi kanan milik Kiara.
"Sebenarnya aku ingin mengucapkan janji suci berdampingan denganmu. Tapi, melihat dandananmu yang kacau balau setelah diterpa badai tadi. Sepertinya aku akan mengucapkan janji suci seorang diri. Tidak apa-apa kan?" bisik Elang tepat di telinga kanan Kiara.
Elang memanggil seseorang agar membawa Kiara ke ruang ganti. Elang menyuruh orang itu untuk mengganti gaun pengantin Kiara yang kotor akibat angin ribut dan badai pasir buatannya tadi. Elang juga meminta agar Kiara di make up lagi karena riasannya rusak akibat menangis.
"Ikutlah dengannya dan tunggu aku selesai mengucapkan janji suci di hadapan penghulu! Berdoa saja lidahku ini tidak keseleo nanti" bisik Elang lagi. Tak lupa ia mencuri satu ciuman singkat di pipi kanan Kiara.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\*\*\*\*\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Lelah, begitulah yang dirasakan Kiara saat ini. Ia baru saja selesai mandi, berganti gaun pengantin dan sekarang dalam proses tahap make up ulang. Ada sekitar lima orang di tempat itu. Mereka sejak tadi bekerja dengan cepat mendandani Kiara. Setidaknya, Kiara harus siap setelah Elang selesai mengucapkan janji sucinya di depan penghulu.
Kiara menarik nafas panjang, memijat pelipisnya yang mulai pening. Otaknya belum sepenuhnya menangkap apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Yang Kiara tahu dalam sehari sudah tiga 3 kali dia berganti gaun pengantin. Persis seperti minum obat.
Kiara beranggapan bahwa dirinya masih berada dalam dunia halusinasinya sendiri sehingga membuatnya diam membisu saat orang-orang itu mendandaninya. Mimpi, Kiara masih beranggapan jika dirinya sedang bermimpi.
"Nona, cantik sekali!" seru wanita paruh baya yang bertugas merias wajahnya. Ia berkali-kali berdecak kagum dengan hasil karyanya yang terbilang singkat namun memberikan hasil yang memuaskan.
__ADS_1
Kiara menoleh ke arah wanita itu, hendak bertanya tapi ia ragu. Wanita itu memegang kedua bahu Kiara, membantunya agar berdiri.
"Mempelai pria pasti akan terpesona melihat Anda, Nona" ucap wanita itu seraya sedikit memutar tubuh Kiara ke kanan dan ke kiri.
"Lihatlah, gaun pengantin ini juga sangat cocok di badan Anda. Selera calon suami Anda benar-benar jempolan" lanjut wanita itu.
Kiara kembali duduk. Ia mengamati gaun pengantin ketiga yang ia kenakan. Simple, tidak terlalu ribet seperti gaun pertama yang ia pakai. Tak ada ekor yang panjang serta tidak menutup kedua bahunya.
Kiara melirik wanita yang meriasnya. Ingin bertanya tapi ia malu. Tapi setelah menghitung dari 1-10, akhirnya Kiara memutuskan untuk bertanya saja.
"Ibu, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Kiara.
"Tentu saja, Nona. Anda mau bertanya apa?"
"Sebenarnya ini ada apa ya? Saya bingung. Tolong katakan apakah saya sedang bermimpi?" ucap Kiara membuat wanita itu mengernyitkan dahi.
"Nona bingung? Bingung kenapa, Nona? Saya baru pertama kali menemukan calon mempelai wanita yang bingung di hari pernikahannya" ucap wanita itu kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ceklek...
Pintu ruangan itu terbuka. Kiara mengucek-ngucek kedua matanya, merasa tak percaya dengan sosok yang ia lihat.
"Mama? Ini Mama? Ke kenapa Mama ada disini?" kata Kiara heran ketika melihat Widya masuk mengenakan baju kebaya lengkap dengan riasan pada wajahnya.
Widya berjalan menghampiri Kiara dan langsung memeluknya. Kiara membalas pelukan Widya dengan kaku. Lagi-lagi ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihat kedua netranya.
"Mama....! Ini beneran Mama?" tanya Kiara membuat Widya melepas pelukannya.
"Ini Mama, sayang. Kenapa kau kaget dan bingung seperti ini?"
"Mama bukannya di Jakarta? Kenapa ada di Bali?" tanya Kiara lagi karena sejak tadi Widya belum menjawab pertanyaannya.
"Kau bertanya mengapa Mama ada disini? Jelas saja Mama disini. Anak bungsu Mama akan menikah hari ini. Masak Mama tidak hadir dihari bahagiamu, sayang?" Ucap Widya membelai pipi Kiara dengan sayang.
"Menikah? Siapa yang menikah? Kiara disini sedang pemotretan, Mama. Tunggu! Tadi kan ada angin ribut, ada badai pasir. Pasti Kiara terbawa angin, terus nyangkut di pohon, pingsan dan ini Kiara lagi ada di alam mimpi" ucap Kiara yang disambut gelak tawa orang-orang yang berada di tempat itu sedangkan Widya hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Sudah selesai berhalusinasinya, Kiara! Ini kenyataan. Kamu tidak sedang bermimpi. Sekarang kita harus keluar karena suamimu sudah menunggu di pelaminan" ucap Widya.