
Kiara menikmati potongan demi potongan roti bakar yang baru saja dipesannya. Sore ini Kiara berada di sebuah cafe sederhana yang terletak di alun-alun kota. Kiara tentu saja tidak sendiri di sana. Ada beberapa pengawal yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Mereka sedang mengawasi Kiara dari jauh. Kiara sudah mewanti-wanti agar pengawalnya tidak terlihat olehnya agar ia merasa nyaman di tempat umum.
Sejak Kiara pulang dari rumah sakit, segala fasilitasnya sudah dikembalikan oleh Dira baim itu ponsel, mobil, serta kartu ATMnya. Dira juga tidak pernah absen menghubunginya untuk memantau kegiatannya selama di Pare. Dira juga memberi kebebasan pada Kiara tetapi dengan syarat pengawalnya selalu mendampingi Kiara.
Jrenggg...
Terdengar petikan senar gitar dari panggung. Melodi indah mulai dimainkan. Cafe ini memang dilengkapi panggung kecil karena setiap sore akan ada penampilan live dari penyanyi atau band lokal. Keberadaan merekalah yang menjadikan cafe ini mempunyai nilai plus. Cafe ini selalu ramai setiap sore menjelang malam karena banyak pengunjung yang ingin menikmati penampilan mereka.
"Lagu ini saya persembahkan untuk belahan jiwa saya yang sedang duduk menikmati hangatnya sore ini," ucap seorang laki-laki yang tentu saja diacuhkan Kiara. Kiara lebih tertarik menghabiskan potongan roti bakarnya daripada mendengarkan laki-laki itu.
"Menghitung hari detik demi detik.
Menunggu itu kan menjemukan.
Tapi ku sabar menanti jawabmu
Jawab cintamu"
Suara laki-laki itu terdengar tidak asing di telinga Kiara. Kiara mengalihkan pandangannya ke atas panggung. Perlahan fokus Kiara teralihkan. Kiara mengamati laki-laki yang sedang bernyanyi itu sembari memetik gitar.
Lirik lagu yang dinyanyikan laki-laki itu terdengar seperti suara hatinya yang tertahan. Entah mengapa Kiara merasa terenyuh dan ikut tenggelam menikmati lagu itu.
Tepat di tengah lagu, laki-laki itu menyerahkan gitar yang ia petik pada rekannya dan mulai berjalan turun dari panggung. Tanpa Kiara sadari, pemuda itu sedang berjalan ke arahnya sembari terus bernyanyi. Beberapa pengunjung merekam aksi pemuda itu, mengabadikan sebagai salah satu momen romantis di sore ini.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, menarik tangan Kiara agar Kiara berdiri. Kini pemuda itu bernyanyi tepat di hadapan Kiara. Kiara seolah membeku, otaknya macet hingga ia tidak melakukan reaksi apapun selain diam.
"Jangan sebut aku lelaki.
Bila tak bisa dapatkan engkau"
Pemuda itu menyanyikan dua lirik lagu terakhirnya tepat di telinga Kiara. Sorak riuh penonton di cafe itu langsung pecah membuat Kiara segera tersadar dari lamunannya. Kiara menoleh, menatap sosok yang tersenyum padanya.
"Kamu siapa?" tanya Kiara membuat sosok itu terkejut.
Kiara mengamati sosok pemuda itu, mengingatnya apakah mereka pernah bertemu. Namun, rupanya otak Kiara belum bekerja sehingga Kiara tidak mengingat sosok di hadapannya.
"Hai, Ara, apa kabar?"
Kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu sukses membuat Kiara nyaris pingsan. Mulut Kiara ingin meneriakkan satu nama. Namun netranya menyangkal. Kiara tidak akan lupa siapa saja yang memanggilnya Ara. Hanya tiga orang yang memanggilnya Ara yaitu Ale, Zian, dan tentu saja mantan kekasihnya, Elang.
"Kenapa diam? Kau tidak mengenaliku?" tanya Elang yang sebenarnya juga sedikit pangling melihat penampakan mantan kekasihnya sekarang.
"Aku Elang. Hai, Ara, kau masih sadar kan?" Elang menggerakkan tangannya di depan wajah Kiara.
"Maaf"
Kiara segera mengambil tasnya dan berlari sekencang mungkin. Elang terkejut melihat reaksi Kiara. Ia langsung berlari mengejar Kiara. Namun, Elang kalah cepat. Kiara sudah masuk ke dalam mobil dan sialnya mobil itu melaju dengan kencang. Elang menghela nafas panjang. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Dira.
"Tuan Adiraka, maaf Ara kabur setelah melihat saya" ucap Elang sedih.
"Tenang saja. Kau ikut orang suruhanku dulu. Beristirahatlah di hotel yang sudah ku pesan. Nanti malam akan ada yang menjemputmu kesini" perintah Dira.
Elang mengikuti perintah Dira. Benar saja, tak lama orang suruhan Dira datang dan membawanya ke sebuah hotel. Elang segera masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan oleh Dira, membaringkan tubuhnya sambil mengingat pertemuan pertamanya dengan Ara. Ada raut kecewa dalam wajah Elang. Ia tidak menyangka jika Ara masih menghindarinya.
__ADS_1
Ditempat lain, Kiara yang sudah tiba di rumah Widya segera berlari menuju kamarnya. Dira memberi kode pada Widya agar diam dan Dira segera melangkahkan kakinya menyusul Kiara.
Dira masuk ke dalam kamar Kiara yang memang tidak dikunci. Dilihatnya adiknya itu sedang duduk memeluk lutut. Kiara membenamkan wajahnya di atas lututnya, menahan suara tangisnya agar tidak terdengar.
"Ada apa?" Dira memeluk tubuh adiknya dari samping. Ia tahu adiknya yang keras kepala ini sangat susah untuk bercerita.
"No. Nothing. Everything is oke" ucap Kiara.
Dira mengangkat wajah adiknya, menyeka air mata yang membasahi pipi Kiara. Dira mengerti pasti adiknya kaget saat bertemu Elang. Bagaimanapun mereka pernah menjalin hubungan meskipun menurut Kiara tidak spesial.
"Berhenti menangis. Gue lebih suka liat lu ngamuk daripada menangis seperti ini. Ada apa?" tanya Dira lagi.
"Nggak ada apa-apa. Bisa kan tinggalin gue sendiri?" tanya Kiara yang dibalas anggukan Dira.
Dira keluar dari kamar Kiara. Ia menutup pintu dan kembali menghampiri Widya yang kini tengah sibuk membuat makanan.
"Bagaimana Kiara?"
"Mama tidak usah khawatir. Dia hanya sedang galau karena mau bertemu calon suami" ucap Dira sambil tertawa.
"Kau ini masih saja sempat tertawa. Jadi ini acara beneran mau mempertemukan Kiara dengan calonnya?" tanya Widya masih tak percaya.
"Tentu saja Mama. Calonnya sudah Dira simpan di hotel Uni. Nanti dia akan datang tepat jam makan malam" ucap Dira bersemangat.
"Beneran ganteng kan calon mantu Mama?"
"Ganteng, Ma, ganteng. Dira yakin Mama pasti setuju sama yang ini. Nih anak kalau senyum. Aduuhhh Mamaeee...... bikin hati meleleh" ucap Dira berpromosi.
"Kiara yang dijodohkan kenapa kamu yang tergila-gila?"
"Bagaimana kalau Kiara menolak? Kau tahu sendiri kan seperti apa keras kepalanya Kiara?" tanya Widya khawatir.
"Tenang, Mamae... Jodoh itu di tangan Tuhan. Manusia hanya memberi jalan. Ini Dira lagi membuka jalan. Siapa tahu memang jodohnya. Kalau bukan ya ikhlaskan. Gampangkan?" ucap Dira kembali tertawa.
Tepat pukul tujuh malam. Dira memanggil Kiara untuk makan malam. Kiara keluar dari kamarnya dengan malas. Peristiwa tadi sore di cafe membuat moodnya jelek. Kiara yang biasanya ribut dengan Dira, meliburkan diri dari dunia peperangan sejenak. Hatinya sedang gundah gulana akibat bertemu mantan.
"Duduk! Jangan melamun aja! Itu Mama sudah masak" tunjuk Dira.
Kiara menarik kursi di sebelah Dira, mengambil piring dan meletakkan nasi beberapa sendok di atasnya. Dira melihat pergerakan lambat adiknya segera mengambil alih komando. Dira mengisi piring Kiara dengan bermacam sayur dan lauk yang di masak Widya.
"Lu makan yang banyak biar tambah semok. Gue nggak mau lu kurus kerempeng kayak nggak keurus" celoteh Dira.
Dira kembali fokus pada piringnya. Dira melahap masakan Widya dengan brutal. Berkali-kali tangannya mengambil lauk hingga masakan Widya yang tadinya banyak nyaris habis.
"Lu berapa hari sih nggak makan? Gue baru sesuap, lu udah sepiring" ucap Kiara.
"Lu aja yang lelet. Masakan Mama seenak ini masih aja lama. Besok-besok kalau Mama masak jangan sedikit kayak gini ya? Ini buat Dira seorang saja masih kurang. Nanti Dira tambahin uang belanja biar bisa masak lebih banyak" ucap Dira sambil terus mengunyah ayam kecap buatan Widya.
Widya dan Edo hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Kehadiran Dira dan Kiara di rumah ini membuat suasana rumah yang sepi menjadi ramai. Edo tidak pernah merasa terganggu dengan keributan anak-anak sambungnya. Justru pemandangan itu menjadi hiburan lucu baginya.
Andai Kiara dan Dira mau menetap terus di rumahnya, Edo pasti merasa senang. Apalagi Edo memang tinggal jauh dari anak-anak kandungnya. Sejak Edo bercerai dari istri pertamanya, Edo tidak pernah bertemu dengan anak-anaknya. Mantan istrinya membawa kedua anaknya pergi jauh hingga Edo tak bisa bertemu mereka lagi.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Dira menghentikan pergerakan tangannya. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu. Sebenarnya Dira sudah tahu siapa yang datang. Namun, dia bersikap cuek seolah tak tahu apa-apa.
"Selamat malam. Maaf mengganggu makan malam kalian"
Semua yang duduk di meja makan segera menoleh ke arah asalnya suara. Sosok pemuda tampan dengan senyum menawan muncul di hadapan mereka. Ia mengenakan baju rajut lengan panjang dengan celana jeans yang menambah kesan cool pada pemuda itu.
"Wah sudah datang rupanya! Sini duduk sebelah Kiara" Dira bangkit dari kursinya dan pindah duduk di sebelah Widya. Tak lupa Dira membawa piring beserta gelasnya juga.
"Kau???" ucap Kiara tertahan. Elang tidak menyahut, dia hanya tersenyum ke arah Kiara.
"Tampan sekali, Ayah! Siapa namamu?" tanya Widya langsung jatuh hati pada pandangan pertama.
"Nama saya, Elang, Tante"
"Jangan panggil, Tante! Panggil Mama sama seperti Kiara dan Dira. Ya ampun, Ayah... kalau gantengnya seperti ini, mana mungkin Mama tidak setuju" teriak Widya sambil bertepuk tangan.
"Tidak setuju untuk apa?" tanya Kiara menyela karena ia yakin ada hal tidak baik yang akan menimpanya.
"Mama tidak mungkin akan menolak jika diberi calon mantu seperti Elang. Iya kan, Mamaeee...???" sambar Dira cepat.
"Maksud lu apa, Kadir???"
"Masih kurang jelas? Gue kan udah bilang mau nikahin lu besok" ucap Dira santai.
"Apaaa???? Lu jangan becanda, Kadir!!!"
"Gue nggak pernah becanda. Bukannya gue udah bilang kalau gue ada calon buat lu waktu di rumah sakit?"
"Tapi kan gue nggak mau"
"Gue nggak terima penolakan. Lihat tuh Mama aja setuju kok. Iya kan, Mamaeee?" tanya Dira sambil mengecup pipi Widya.
"Kiara, sayang. Kalau sama yang ini Mama setuju. Kamu mau nikah besok juga, Mama izinin"
"Mama..!!!" ucap Kiara kesal.
Kiara bangkit hendak meninggalkan meja makan tetapi Dira meneriakinya agar duduk kembali. Kiara tidak peduli, ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Kiara membanting pintu kamarnya dengan kencang sehingga membuat semua orang mengelus dada.
"Tuan Adiraka, sepertinya Ara benar-benar tidak mau dengan perjodohan ini" ucap Elang putus asa.
"Kau tenang saja. Ikuti prinsip saya. Jodoh itu di tangan Tuhan, manusia hanya membuka jalan. Ini saya lagi buka jalan kamu. Kalau jodoh, syukur. Tidak jodoh, ikhlaskan. Bukankah kau sudah setuju kemarin?" ucap Dira santai.
"Elang tenang saja. Kami akan membujuk Kiara. Kiara memang keras kepala. Tetapi sekeras- kerasnya batu, suatu saat bisa hancur juga. Elang hanya perlu stok sabar yang banyak menghadapi Kiara" bujuk Widya.
"Kiara seperti itu karena dia terlalu banyak menyimpan kekecewaan. Kiara kurang kasih sayang kami karena sejak kematian Papa, Kiara tinggal jauh dari kami" ucap Dira membuat Widya tertunduk sedih.
"Kalau Om boleh berpendapat, memang tipikal seperti Kiara harus dihadapi dengan metode tarik ulur sersan mesrul"
"Metode apa itu, Om?" tanya Dira sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada. Nanti Om Edo beri bukunya. Bisa di baca sendiri," ucap Edo yang disambut tawa Dira.
__ADS_1
"Sudah...sudah.. sekarang nak Elang makan dulu. Tapi lauknya tinggal sedikit. Tadi dihabisin Dira" ucap Widya membuat wajah Dira memerah.
Elang bergabung menyantap makan malam dengan keluarga Kiara. Ada perasaan senang di hatinya. Keluarga Kiara benar-benar menerimanya. Elang berharap perjodohan ini berjalan dengan lancar meskipun ia sendiri agak ragu.