Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
EXTRA PART - AFTER WEDDING


__ADS_3

Warning!!!


Yang masih bocil menyingkir dulu yak..!!!


Hotel XX21, Spanyol


Elang menempelkan kepalanya di atas meja rias milik Kiara. Ia sedang menunggu istrinya yang masih berjibaku di kamar mandi sejak setengah jam yang lalu. Entah apa yang Kiara lakukan di dalam.


Sudah berkali-kali Elang mengetuk pintu kamar mandi, meminta agar Kiara membuka pintunya. Namun, Kiara seakan menulikan indra pendengarannya, mengacuhkan Elang yang sejak tadi berteriak-teriak dari luar.


Klek...


Pintu kamar mandi terbuka. Kiara muncul dengan mengenakan piyama dan handuk yang membungkus rambutnya. Elang segera bangkit. Ia memberi akses pada Kiara untuk duduk di kursi yang tadi ia tempati.


"Sayang.... kenapa tadi kamar mandinya di kunci?" tanya Elang, tangannya membuka handuk milik istrinya dan menggosok-gosokkan handuk itu pada rambut Kiara yang basah.


"Ara kan lagi mandi, kalau pintunya tidak dikunci bisa-bisa airnya nyembur keluar" ucap Ara sembari mengoleskan cream malam pada kedua pipinya.


Elang menarik nafas panjang. Tangannya masih setia mengeringkan rambut Kiara yang basah. Kedua netra Elang sesekali melihat wajah istrinya di kaca.


"Sayang...."


"Hmmm...." sahut Kiara, tangannya masih sibuk meratakan cream malam pada kedua pipinya.


Elang menarik kursi di sebelah Kiara, meletakkan di belakang kursi yang diduduki Kiara. Elang duduk tepat di belakang tubuh istrinya. Ia kemudian memeluk tubuh Kiara dari belakang.


Cup


Cup


Cup


Elang mencium kedua pipi Kiara bergantian. Sesekali ia mendusel-dusel hidungnya pada pipi Kiara.


"Tamu bulananmu sudah pergi?" tanya Elang dengan hidung yang masih setia menempel di pipi istrinya.


"Masih" jawab Kiara dingin.


"Kapan perginya? Sejak kita menikah sampai semua acara resepsi ini selesai, tamu bulananmu belum juga pergi" tanya Elang, kedua tangannya sudah bergerilya me re mas dua gundukan kenyal milik Kiara.


Kiara mulai menggeliat ketika menerima sentuhan dari suaminya. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak terpengaruh permainan yang dimulai Elang.


"Dua puluh hari lagi" jawab Kiara membuat Elang menghentikan aktifitas tangannya.


"Kenapa lama sekali??? ini sudah enam hari. Jika ditambah dua puluh hari berarti totalnya dua puluh enam hari lagi??? Sayang... kau jangan becanda" ucap Elang dengan wajah memelas.


Kiara tak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu. Kiara bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat tidur. Kiara merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi lehernya.


Elang berdecak kesal. Ia kemudian bangkit menyusul Kiara ke tempat tidur.


"Sayang...." panggil Elang lagi.


"Hmmm...."


"Besok ke dokter ya..." bujuk Elang.


"Untuk apa ke dokter? Bukankah besok kita akan terbang ke Milan?" tanya Kiara, posisinya masih tetap membelakangi Elang.

__ADS_1


"Konsultasi. Apa ada cara untuk mengusir tamu bulananmu lebih cepat" ucap Elang polos membuat Kiara bangkit dan tertawa terbahak-bahak.


Tok... Tok... Tok...


Kiara menghentikan tawanya. Ia hendak turun untuk membuka pintu. Namun, Elang segera mencegahnya. Elang turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.


"Edward? Ada apa??" tanya Elang heran.


"Maaf mengganggu malam keenam, Anda. Saya diperintahkan Tuan Adiraka untuk mengantarkan ini" ucap Edward sembari menyodorkan sebuah paperbag pada Elang.


Edward langsung permisi meninggalkan Elang yang masih kebingungan menatap paperbag pemberian Dira. Elang membuka paperbag itu, mengambil isinya yang ternyata beberapa botol minuman yang tidak pernah Elang tahu sebelumnya.


Elang mengernyitkan dahi ketika membaca label pada botol itu " TAUK UMAJ". Kata asing yang sama sekali belum pernah ia dengar. Elang menerka-nerka apakah isi dari botol itu. Apa mungkin Dira mengiriminya racun mengingat label pada botol itu yang tidak ia mengerti?


"Siapa?" tanya Kiara.


"Edward"


"Untuk apa dia kesini?" tanya Kiara lagi.


"Dia menyerahkan titipan dari Abang Dira buat Elang" ucap Elang sembari menyodorkan paperbag pemberian Edward tadi.


Kiara membuka paperbag itu dan mengambil isinya. Ekspresinya tak beda jauh dengan Elang ketika mengetahui isi dari paperbag itu. Tangan Kiara kembali mengacak-acak isi paperbag itu dan ia menemukan sebuah kertas kecil yang dilipat menjadi dua bagian.


"Ada kertasnya" teriak Kiara.


Elang segera merebut kertas itu dari tangan Kiara dan membacanya.


Minum satu botol sebelum tidur. Kau sangat payah. Sudah malam ke enam belum juga berhasil membobol gawang Kiara. Baca dari belakang, maka kau akan tahu isinya.


"Nggak berguna" gumam Elang yang masih terdengar oleh Kiara.


Elang merasa sangat kesal dengan tindakan Dira. Kakak iparnya itu mengirim minuman unfaedah disaat Kiara sedang kedatangan tamu bulanan.


Elang bukannya payah. Ia bahkan sangat menginginkan melakukan itu sejak malam pertama mereka. Namun, dia bisa apa jika lawan mainnya masih kedatangan tamu bulanan bahkan sampai acara resepsi di New York dan Spanyol sudah selesai.


"Kenapa cemberut? Apa isi kertas itu?" tanya Kiara.


"Bukan apa-apa. Abang hanya menjahili kita saja" ucap Elang.


"Ayo cepat tidur. Besok kita harus terbang ke Milan. Ara lelah sekali setelah acara resepsi tadi" ajak Kiara yang kini kembali masuk ke dalam selimutnya.


"Elang mau ganti baju tidur dulu" ucap Elang kemudian bangkit mengambil koper miliknya.


Elang membuka koper dengan kasar. Kedua netranya membelalak ketika melihat isi dari koper itu. Rupanya Elang salah membuka koper. Elang bukan membuka kopernya melainkan koper milik Kiara yang memang berwarna sama dan letaknya bersebelahan. Tak heran jika ia menemukan banyak sekali kaca mata kuda milik Kiara bukan sem pak atau kolor miliknya.


Elang hendak menutup koper milik Kiara. Namun, entah mengapa tangannya malah mengacak isi koper itu lebih dalam. Elang mengeluarkan semua isi koper Kiara. Wajahnya menampakkan tanda tanya besar ketika ia tak mendapati benda yang seharusnya ada di dalam koper Kiara.


Pembalut. Ya, tidak ada pembalut di dalam koper Kiara. Jika istrinya sedang datang bulan, mengapa benda keramat itu tidak ada? Elang menyeringai. Sepertinya ia harus turun tangan langsung untuk memastikan jika dugaannya itu benar.


Elang segera menaiki ranjang. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi miring sehingga bisa memeluk Kiara dari belakang.


Elang mulai mencium tengkuk Kiara sedangkan kedua tangannya bergerilya me re mas benda kenyal yang tadi sempat ia mainkan.


Tangan kiri Elang bergerak turun ke arah belakang Kiara, meraba-raba apakah ada benda keramat itu di balik ce la na da lam milik istrinya.


"Bodoh!!!"

__ADS_1


Elang mengumpat dalam hati karena tidak menemukan benda itu. Langsung saja ia membalikkan badan Kiara dan me lu mat bibirnya dengan rakus. Kedua tangannya kini membuka kancing piyama Kiara dengan cepat.


Kiara langsung membuka matanya, menggerakkan kepalanya agar terlepas dari ci u man Elang. Kiara juga mendorong kedua tangan Elang yang kini mencengkram kedua aset miliknya dengan kencang.


"Sayang...., kau berani sekali membohongi suamimu" bisik Elang. Tangannya menarik kasar kacamata kuda yang dipakai oleh Kiara.


Kiara memekik. Ia kemudian memukul Elang dengan keras. Bukannya meringis kesakitan, Elang malah tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya.


Elang segera mencekal kedua tangan Kiara dan mengunci pergerakan istrinya. Ia segera menempelkan wajahnya di belahan da da istrinya, menggesek-gesekkan wajahnya sehingga Kiara merasa geli.


"Geliiiiiiii....." teriak Kiara. Ia berusaha melepaskan tangannya dari Elang.


"Istri nakal. Kau harus mendapatkan hukuman karena sudah membohongi suamimu" ucap Elang sembari menggigit bukit di hadapannya.


"Arrggghhh... Apa maksudmu, Elang????" tanya Kiara sedikit meringis kesakitan.


"Kau bilang sedang datang bulan, iya kan?" tanya Elang sembari tetap melakukan aktifitas di tempat yang sama.


"A.. a... ku.. me.. mang.. da.. tang bu... lan" ucap Kiara sedikit men de sah sehingga membuat Elang semakin bersemangat.


"Bohong...!!!" Elang menggigit puncak bukit kiri Kiara dengan keras.


"Tidakkkkk.... Kiara nggak bohong!!!"


"Baiklah jika kau tidak mau mengaku, biar Elang yang membuktikannya sendiri"


Elang bangkit. Ia membuang selimut yang sejak tadi menutupi sebagian tubuh mereka. Elang mencekal kedua kaki Kiara dan dengan cepat menarik bawahan yang di pakai Kiara sekaligus.


"Katanya datang bulan. Kenapa tidak pakai pembalut?" tanya Elang dengan seringai yang membuat Kiara bergidik ngeri.


Tanpa basa basi, Elang mengungkung tubuh Kiara. Ia melampiaskan hasrat yang sudah tertahan selama berhari-hari.


Kiara yang semula menolak dan memberontak, akhirnya hanyut juga mengikuti permainan Elang. Elang terus saja melancarkan aksinya, hingga akhirnya ia sukses membobol gawang Kiara setelah beberapa kali menghujamkan senjatanya.


Setelah kurang lebih dua jam melakukan pergulatan, akhirnya Elang menyudahi gempurannya. Ia mengambil selimut yang tadi ia buang untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Maaf, kalau Elang kasar" ucap Elang sembari memeluk tubuh istrinya.


"Maaf, kalau Kiara bohong" ucap Kiara terkekeh geli dalam dekapan pelukan Elang.


"Kau nakal sekali. Berani-beraninya membohongi suamimu. Apa kau tidak mau menjadi milikku seutuhnya, hah?" tanya Elang sembari menggigit telinga Kiara.


"Bukan tidak mau, Sayang. Ara hanya tidak ingin kelelahan. Kau tahu sendiri acara resepsi kita hanya berselang dua hari di setiap negara. Jika di malam pertama kau sudah menggempurku, pasti aku akan kembali absen di resepsi kedua dan ketiga" kata Kiara membuat Elang tersenyum mendengar panggilan sayang darinya.


"Lalu, menurutmu kapan waktu yang tepat untuk menggempurmu hah? Kau benar-benar menguji kesabaranku, Sayangggg" ucap Elang.


"Tentu saja di Milan. Bukankah kita akan bulan madu disana? Disana kau bisa menggempurku sampai puas tanpa ada gangguan dari si Kadir atau yang lainnya" kata Kiara membuat Elang tertawa.


"Memangnya kenapa kalau aku menggempurmu sekarang?" tanya Elang jahil. Tangannya mulai bergerilya kembali tapi langsung dicekal oleh Kiara.


"No! Ara tidak mau kelelahan. Besok kita akan terbang ke Milan. Ara tidak mau kita terlambat. Sudah cukup kau mencuri jatahmu malam ini. Tidak ada ekstra part apalagi reka adegan ulang. Ara mau tidur. Ti... dur.....!!! Bye!!!" ucap Kiara lalu mengecup bibir Elang dengan cepat.


Elang kembali terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Ia kemudian merapatkan tubuhnya, memeluk tubuh istrinya lebih erat. Tak lupa Elang mengecup kening Kiara sembari membisikkan kata cinta untuknya.


Mana suaranya????


krik...krik... krik

__ADS_1


__ADS_2