
"Elangggg......."
Ellea langsung berlari memeluk tubuh Elang dengan erat. Ia tidak akan menyangka jika sosok yang selalu ia rindukan kini berada dalam dekapannya. Ellea merasakan detik demi detik bagaimana ia dapat memeluk lagi tubuh hangat Elang setelah bertahun-tahun tak lagi dapat menikmatinya.
Elang seketika mematung mendapatkan serangan Ellea. Namun, dengan cepat Elang tersadar dan mendorong tubuh Ellea dengan kuat. Ellea kaget mendapat reaksi tidak menyenangkan dari Elang. Ellea bisa melihat kilatan mata tajam Elang yang menampakkan permusuhan padanya.
"Elang. Aku tidak menyangka kita bertemu lagi disini" ucap Ellea.
"Aku tidak mengenalmu dan tak mau mengenalmu lagi" ucap Elang membuang muka.
"Elang, tolong jangan bersikap seperti itu kepadaku"
"Lalu aku harus tersenyum manis menyambutmu? memelukmu dengan erat dan memberimu setangkai bunga? Jangan mimpi, Ellea! Aku sudah muak melihatmu" ucap Elang.
"Elang, tolong berhenti menghukumku! maafkan aku, Elang. Tolong, maafkan aku!" pinta Ellea dan kini butiran-butiran bening mulai membasahi pipinya.
Elang membuang ludah. Dia merasa jengah dengan drama yang dibuat Ellea. Elang merutuki dirinya yang mengalami nasib sial bertemu dengan Ellea. Andai saja ia segera kembali ke penginapannya, pasti ia tidak akan bertemu dengan Ellea.
"Elang, aku masih mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tolong berikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon Elang"
"Aku tidak peduli kau cinta padaku atau tidak, yang jelas aku sangat membencimu. Sangat, sangat dan sangat. Sudahlah Ellea, aku muak dengan tingkahmu" ucap Elang hendak bergegas pergi.
Ellea menarik tangan kanan Elang sehingga membuat Elang membatalkan langkahnya. Seketika pandangan Ellea tertuju pada jari manis Elang. Ellea terkejut, ia menatap jemari Elang dengan nanar.
Sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ellea tetap menggenggam tangan Elang. Sadar, Ellea masih memegang tangannya membuat Elang segera menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Elang... kau... kau... sudah menikah???" tanya Ellea dengan nada suara bergetar.
"Belum. Tapi akan" ucap Elang pendek yang langsung menusuk jantung milik Ellea.
"Tidak. Mana mungkin. Kau bohong, Elang!!! Kau bohong!!!" pekik Ellea. Ia menjambak rambutnya dengan kasar.
"Terserah kalau kau tak percaya. Aku tak memaksa" ucap Elang acuh.
"Siapa perempuan itu? Siapa?" teriak Ellea lagi.
"Siapa? kau masih tanya siapa? tentu saja kekasihku, Ara" ucap Elang santai.
Tubuh Ellea serasa dihantam palu besi yang sangat berat ketika mendengar nama yang disebutkan Elang. Remuk. Ellea menegang. Andai tubuhnya terbuat dari kaca, bisa dibayangkan tubuh Ellea sudah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Ellea tidak dapat menerima kenyataan ini. Laki-laki yang selalu ia rindukan akan menikah dengan seseorang yang pernah menjadi kekasihnya. Ellea tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Ia pernah kehilangan Elang sekali dan sekarang ia tidak mau kehilangan Elang untuk kedua kalinya.
Ellea masih ingat percakapannya dengan Ara ketika mereka bertemu beberapa bulan yang lalu. Ellea yakin Ara pasti terpaksa menikah dengan Elang. Ellea tidak rela. Ellea yakin cintanya lebih besar daripada Ara. Ellea akan berjuang membuat Elang jatuh cinta lagi kepadanya.
"Ara tidak mencintaimu. Sampai kapanpun dia tidak akan mencintaimu" ucap Ellea dingin. Kini ia biarkan butiran bening membasahi pipinya.
"Tutup mulutmu, Ellea! Kau tidak tahu siapa Ara" ucap Elang geram.
"Aku tahu dia! Aku tahu, Elang! Kami pernah bertemu disini. Dia tidak mencintaimu"
Elang tidak mau ambil pusing. Ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Ellea. Ellea membulatkan matanya. Ia dengan cepat mengejar Elang dan memeluknya dari belakang.
"Kau tidak boleh pergi!"
"Lepaskan!" bentak Elang.
"Aku tidak mau. Kau tidak boleh pergi Elang"
"Aku bilang lepaskan!!!" hardik Elang.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau kau pergi dariku"
Ellea tidak bergeming. Ia tetap memeluk Elang dengan erat. Elang yang merasa geram segera menghempaskan kedua tangan Ellea. Ellea jatuh tersungkur, ia terduduk di atas pasir.
"Aku peringatkan kepadamu. Jangan coba-coba muncul di hadapanku! Aku muak melihatmu, Ellea! Aku membencimu...!!!" ucap Elang menatap penuh kebencian pada Ellea. Elang kemudian melanjutkan langkahnya dengan setengah berlari.
Ellea menangis menatap kepergian Elang. Ia tidak menyangka Elang bisa bertindak kasar seperti ini kepadanya. Ellea bisa melihat bagaimana kebencian Elang kepadanya. Ellea tidak tahu harus bagaimana agar bisa meluluhkan hati Elang.
Bagaimanapun Ellea masih mencintai Elang. Ellea tidak rela jika Elang dimiliki perempuan lain, terlebih Ara yang setahu Ellea tidak pernah mencintai Elang.
Ellea menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia bangkit dan berjalan dengan susah payah. Ellea menyeret langkahnya, berjalan dengan lunglai dan hati yang perih. Saat ini pikirannya sedang kacau.
Tak jauh dari tempat Elang dari Ellea bersitegang. Seorang gadis berkacamata hitam sedang mengamati mereka dari dalam mobil. Kiara, sedang duduk di dalam mobil bersama Edward dan supir pribadinya. Ia sedang dalam perjalanan menuju penginapan untuk bertemu Elang. Tapi ternyata di tengah jalan Kiara melihat Elang dan Kiara meminta mobil berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Kiara mengingat-ingat wanita berambut ikal yang sedang beradu mulut dengan Elang. Seketika ia mengingat siapa wanita itu. Wajah Kiara langsung muram. Kiara jadi mengerti mengapa ia seharusnya melarang Elang pergi ke Labuan Bajo. Pemandangan yang baru saja dilihatnya benar- benar membuat kepala Kiara sakit dan moodnya berantakan.
"Nona Kiara masih ingin terus disini atau..." tanya Edward membuyarkan lamunan Kiara.
"Pulang," ucap Kiara pendek.
__ADS_1
"Pulang? Kita ke penginapan sekarang?" tanya Edward lagi.
"Kita pulang ke Jakarta" kata Kiara lagi
"Maaf, Nona tidak bisa. Tuan Adiraka bisa membunuh saya kalau kita kembali sekarang"
"Aku tidak peduli"
"Nona Kiara, saya mohon kasihanilah saya! " ucap Edward memelas.
Kiara menghela nafasnya. Entah dadanya terasa sesak melihat pemandangan tadi. Kiara menutup jendela mobilnya dan menyuruh supir untuk melajukan mobil.
"Cari penginapan lain! Aku tidak mau bertemu Elang"
"Tapi perintah tuan Adiraka...."
"Aku tidak mau dibantah!!!" Kiara berteriak membuat Edward kaget setengah mati.
"Asal kau tidak buka mulut, Dira tidak akan tahu" kata Kiara membuang muka.
Edward mengangguk. Ia memerintahkan supir untuk mencari penginapan lain. Dua bos nya ini memang bertolak belakang dan ini sering sekali membuat Edward sakit kepala.
"Satu lagi. Jangan sampai Elang tahu kalau aku ada disini"
"Nona ingin memata-matai Tuan Elang?" tanya Edward.
"Ya"
"Apa Nona meragukan Tuan Elang?"
"Aku tidak meragukannya tapi aku hanya ingin tahu bagaimana Elang menyelesaikan masa lalunya"
"Maaf Nona. Menurut saya jika Nona berada di samping Tuan Elang, setidaknya perempuan itu bisa mundur"
"Aku tidak peduli dia mau mundur atau tidak. Yang aku mau aku menjadi penonton drama mereka. Paham kan?"
"Baik, Nona"
"Satu lagi. Dira jangan sampai tahu. Katakan saja aku mendampingi Elang bertemu klien-kliennya" perintah Kiara lagi.
__ADS_1
Edward mengangguk.