Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 38


__ADS_3

“Boy, ini tiketmu! Penerbanganmu dua jam lagi"


Evan melempar tiket pesawat Rio di atas meja kerjanya. Rio yang sejak tadi sibuk berhadapan dengan laptop, mengedit foto-foto hasil karyanya tentu saja kaget. Ada angin apa Evan hingga memberinya tiket?


“Penerbangan? Tiket? Memang aku mau kemana?” tanya Rio gagal paham.


Evan menepuk jidatnya. Pembicaraan mereka belum berlangsung seminggu tetapi Rio sudah melupakan tugasnya.


“Kau kan aku tugaskan ke Jakarta karena akan bekerja untuk Ivana, saudara kembarku, Riooooooo. Kau lupa hah???"


“Hah?? Sekarang? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku akan berangkat minggu depan?"


Rio belum pikun. Jelas-jelas kemarin Evan mengatakan jika keberangkatannya masih beberapa hari lagi karena ia masih menyelesaikan gaun untuk Kiara.


“Tidak jadi. Keberangkatanmu dipercepat" ucap Evan enteng.


“Tapi aku belum bersiap-siap, Evan. Bagaimana aku bisa berangkat sekarang?"


“Kau jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau tinggal berangkat. Aku sudah mempersiapkan taksi yang akan mengantarmu ke bandara"


Rio mengernyitkan dahi. Ada perasaan curiga atas kelakuan Evan yang aneh seperti ini. Rio menduga Evan pasti sedang merencanakan sesuatu.


“Boy...!!! Cepat berangkat!!! Aku tidak mau kau ketinggalan pesawat"


Evan segera menarik Rio dan menyeretnya keluar dari ruang kerjanya. Evan mengacuhkan Rio yang berkali-kali berteriak agar Evan melepaskannya.


“Masuk!!!” perintah Evan.


“Laptop dan kameraku"


“Sebentar"


Seseorang berlari mengantarkan barang-barang Rio dan menyerahkan pada Evan.


“Ini barang-barangmu. Pakaianmu dan segalanya sudah ada di bagasi taksi" ucap Evan. Ia kemudian menyerahkan sebuah kotak dengan hiasan pita merah muda pada Rio.


“Apa ini?” tangannya menerima kotak pemberian Evan.


“Untuk Nona Kiara. Aku doakan kau bisa bertemu dengannya" ucap Evan sambil tersenyum menggoda Rio.


Evan memberikan isyarat agar taksi segera berangkat. Evan melambaikan tangannya hingga taksi yang membawa Rio hilang dari pandangannya.


“Tuhanku, aku mohon lancarkan rencanaku"


Evan segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


“Olive, Rio baru saja berangkat ke bandara. Dua jam lagi pesawatnya berangkat"


“....................................”

__ADS_1


“Oke. Aku serahkan langkah selanjutnya kepadamu"


“......................................”


Evan menutup ponselnya. Ia kembali masuk ke dalam kantornya. Sementara Rio, dia masih dalam perjalanan menuju bandara John F.Kennedy. Rio menyandarkan tubuhnya. Entah mengapa ia merasa mengantuk. Rio berpesan kepada supir taksi agar membangunkannya jika sudah sampai di bandara. Tak butuh waktu lama Rio terpejam.


                                     ____ ***____


“Target sudah berada dalam genggaman, Tuan" ucap seseorang bertubuh kekar dengan jas hitam dan kacamata hitam yang melekat pada dirinya. Orang itu tengah berbicara via telepon.


“Kerja bagus. Pastikan bersih" ucap laki-laki di seberang telepon.


“Tentu saja, Tuan. Kami sangat profesional tentang hal ini"


“Aku percaya padamu" ucap laki-laki itu tertawa menyeringai.


“Baiklah, Tuan. Apakah orang ini kita habisi, Tuan?”


“Tidak perlu. Cukup kurung dia sampai aku menyuruh kalian melepasnya. Pastikan dia tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Jangan lukai dia sedikitpun. Aku hanya ingin menghentikan gerak geriknya bukan ingin melenyapkannya”


“Baik, Tuan! Perintah Tuan akan kami laksanakan dengan baik.”


Sambungan  telepon terputus.


                                       ___ ***___


"Pak Alex, karyawan perusahaan melakukan demo menuntut pembayaran gaji mereka” Alvian menghubungi Ale yang sedang berada di rumahnya.


“Apa-apan ini Alvian? Apakah mereka tidak bisa melihat perusahaan tempat mereka bekerja sudah rata dengan tanah?” ucap Ale kesal.


“Kami sudah berusaha menenangkan mereka sebisa mungkin, Pak. Tapi tetap saja tuntutan mereka harus kita penuhi. Itu adalah hak mereka mendapakan gaji"


“Alvian, kalau perusahaan dalam keadaan baik-baik saja tanpa kamu suruh saya pasti sudah membayarkan gaji mereka. Tolong bantu saya! Saya masih berusaha mencari suntikan dana"


“Saya juga bingung harus berbuat apa, Pak Alex"


“Alvian....!!!! kau itu digaji untuk membantu saya bukan malah mempersulit saya"


Ale tanpa sadar menggebrak meja.


“Tapi saya belum bapak gaji" ucap Alvian lirih.


Ale menghela nafas. Ia memutuskan sambungan teleponnya.


“Bodoh................!!!!” Ale berteriak dengan tangan yang sukses melempar gelas yang sejak tadi dipegangnya. Ale yang biasanya tenang dan santai kini menjadi temperamen.


Aisha segera keluar dari kamar ketika mendengar suara ribut di rumahnya. Aisha menuruni tangga dengan cepat. Ia berteriak memangil-manggil Ale. lngkahnya terhenti ketika ia sampai di dapur, melihat kekacauan yang telah diperbuat suaminya itu.


“Kau kenapa, Mas??” dilihatnya Ale yang membentur-benturkan kepalanya di atas meja makan.

__ADS_1


Aisha berjalan perlahan, menghindari pecahan kaca. Aisha segera memeluk Ale agar menghentikan tingkah konyolnya.


“Hentikan! Kau akan melukai dirimu sendiri. Apa yang terjadi?"


"Mereka melakukan demonstrasi menuntut pembayaran gaji. Alvian tidak bisa menenangkan mereka. Aku belum mendapatkan investor. Bagaimana aku bisa membayar gaji mereka?"


Aisha memeluk Ale dengan erat. Disaat genting seperti ini dia tidak dapat membantu suaminya. Aisha merasa sangat tidak berguna. Aisha bukannya tidak tahu, mereka hanya tinggal menghitung hari bisa tinggal di rumah ini. Jika Ale belum juga mendapatkan investor, Ale dan Aisha harus siap kehilangan semua aset kekayaan mereka.


"Haruskah aku berkorban kali ini? Haruskah aku merelakan suamiku pada perempuan itu?” batin Aisha.


Sejak tadi Aisha sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam kehidupan mereka. Aisha juga memikirkan apakah dia akan merelakan suaminya menikahi Kiara. Jika memang tidak ada jalan lain, satu-satunya jalan memang ia harus ikhlas.


Aisha harus bersikap dewasa. Selama ini Ale sudah banyak berkorban untuknya. Jika saat ini gilirannya untuk berkorban, maka Aisha harus membuang egonya jauh-jauh.


“Mas, apakah kau siap jika kita kehilangan segalanya?" tanya Aisha memancing Ale.


“Aku tidak siap. Aku tidak siap...!!!!” Ale berteriak membuat Aisha semakin yakin dengan keputusannya.


Ale tidak ingin jatuh miskin. Bagaimanapun perusahaan itu dirintis Ale mulai nol. Ale pasti akan berusaha sekuat tenaga agar perusahaan itu tidak bangkrut.


“Jika memang itu jalan satu-satunya. Aku ikhlas” ucap Aisha bersamaan dengan lolosnya air mata miliknya.


“Apa maksudmu?" Ale mendongakkan kepalanya. Hatinya terkejut mendengar ucapan istrinya barusan.


"Terima tawaran Kiara. Aku ikhlas"


“Jangan ikut-ikutan gila, Aisha! Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan???" ucap Ale dengan nada suara meninggi.


Ale tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aisha. Mana mungkin Ale menikah lagi? Ale tidak akan tega menyakiti hati Aisha maupun Kiara. Pernikahan tanpa cinta tidak pernah terbesit dalam pikiran Ale.


“Kau bisa mendapatkan segalanya. Terima tawarannya. Aku sudah menyetujui kalian menikah" ucap Aisha.


Air matanya kembali lolos membasahi pipinya. Hatinya sakit saat mengucapkan kalimat itu.


“Kau tidak akan kehilangan perusahaan yang sudah kau rintis dari nol. Kau bahkan akan mendapatkan lebih dari itu.....”


“Tapi aku tidak akan mengorbankan rumah tanggaku demi hal itu” potong Ale. Emosinya kembali naik.


“Kau tidak mengorbankan rumah tangga kita. Kau akan menyelamatkan rumah tangga kita. Rumah tangga kita akan sempurna jika kau menikahi Kiara"


Aisha melepaskan pelukannya. Ia melangkah beberapa langkah dan berdiri membelakangi Ale.


"Kiara akan memberimu keturunan, sesuatu yang belum bisa aku berikan selama ini. Menikahlah dengannya. Lengkapi rumah tangga kita" ucap Aisha kemudian berlalu meninggalkan Ale yang masih terdiam mematung.


Aisha melangkah menaiki tangga dengan gontai. Berkali-kali air matanya lolos dengan sempurna. Aisha masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu agar Ale tidak menyusulnya.


Aisha melorotkan badannya. Ia duduk menangis sambil memeluk lutut. Aisha menggigit ujung bajunya agar tangisnya tak terdengar.


Aisha memandangi cincin kawin yang melingkar indah di jari manisnya. Aisha mengelus cincin itu dengan sayang. Ini adalah keputusan terberat yang harus ia ambil.

__ADS_1


Aisha menciumi cincin itu berkali-kali. Seketika cincin itu basah dengan air matanya. Aisha melepas cincin kawinnya dan menggenggamnya dengan erat.


“Aku harus ikhlas....!!! Aku harus ikhlas....!!!” ucap Aisha lirih.


__ADS_2