
Tap Tap Tap...
Dira berlari tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit. Ketika mendapat kabar jika Kiara masuk rumah sakit, Dira yang saat itu sedang memimpin rapat langsung saja meninggalkan ruang rapat tanpa permisi. Dira langsung meminta Edward menyiapkan mobil dan mereka langsung menuju rumah sakit tempat Kiara di rawat.
Selama perjalanan Dira tak henti-hentinya mengamuk pada anak buahnya, meluapkan emosinya pada sembarang orang hingga Edward harus menyumbat telinganya agar ia bisa menyetir dengan konsentrasi.
Dira melepas jas hitamnya dan melempar asal ke depan. Sial, bagaimana bisa Dira kali ini kecolongan? dan parahnya nyawa adiknya menjadi korban. Dira sudah memperketat penjagaan di rumahnya, memperketat pengawalan untuk adiknya. Namun, Dira tidak menyangka pengawalnya bisa tumbang dengan mudah.
Braakkkk...
Dira memukul meja pendaftaran pasien dengan keras sehingga beberapa petugas yang berjaga kaget ketakutan.
" Dimana Kiara di rawat???," bentak Dira.
Petugas rumah sakit itu saling pandang. Mereka saling mengangkat bahu, tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh orang di hadapan mereka.
" Kenapa kalian diam saja hah???? Jawab!!! Kalian tidak tahu siapa yang sedang berbicara dengan kalian sekarang???," Dira kembali membentak petugas rumah sakit itu.
Edward yang muncul dengan setengah berlari segera menghampiri Dira. Edward menarik tangan Dira, bermaksud ingin menghentikan amukan Dira.
" Apa-apaan kau, Edward?," bentak Dira sembari menepis tangan Edward.
" Maaf Tuan, sebaiknya Anda jangan marah-marah disini," kata Edward.
" Apa katamu? Jangan marah? Bagaimana aku tidak marah jika mereka diam saja tidak menjawab dimana Kiara dirawat? Apa mereka bisu hah? Aku akan menutup rumah sakit ini jika pelayanannya seperti ini," kata Dira tetap dengan emosi menggunung.
" Tuan, sabar. Tolong sabar! Tuan tidak perlu bertanya dimana ruang rawat Nona Kiara. Saya sudah mengetahuinya. Lagipula ini meja pendaftaran jadi mana mungkin mereka tahu," kata Edward membuat wajah Dira merah padam menahan malu.
" Kau mengapa tidak memberitahuku, hah? Sengaja kau mau membuatku malu?," Dira melotot ke arah Edward.
" Ma... ma.. maaf, Tuan. Bagaimana saya bisa memberitahu Tuan kalau Tuan langsung saja berlari tanpa menunggu saya," ucap Edward membela diri.
Buggg
Dira membogem pipi Edward.
" Jangan diam saja! cepat antarkan aku ke kamar Kiara!!!," Teriak Dira.
Edward memegang pipinya yang sakit akibat bogeman spontan Dira. Edward mulai melangkah menahan perih, membawa Dira memasuki lift ke lantai dua. Menurut informasi bawahannya, Kiara sudah dipindahkan ke kamar anggrek di lantai dua. Kondisinya sudah stabil tetapi belum sadar.
Ting...
Dira langsung berlari ketika pintu lift yang membawa mereka terbuka.
" Tuan.... ke kanan!!!," teriak Edward ketika melihat Dira berbelok ke arah kiri.
Dira berhenti menunggu Edward melangkah di depannya. Edward segera mengambil langkah panjang menuju kamar rawat Kiara. Dira langsung mendahuluinya ketika melihat Widya sedang duduk melamun di depan kamar rawat.
__ADS_1
" Mama.....," teriak Dira membuat Widya tersentak kaget dan langsung berlari memeluknya. Tangisan Widya tumpah dalam pelukan anak sulungnya.
" Mama sudah melarangnya tapi Kiara tetap saja ngotot ingin keluar. Maafkan Mama, Dira. Maafkan Mama," kata Widya dengan tangis semakin jadi.
Dira menepuk-nepuk bahu Widya, menenangkan Mamanya yang Dira yakin pasti sedang khawatir berkali-kali lipat melebihi kekhawatirannya.
" Kau sudah menghubungi Elang?," tanya Widya.
" Sudah. Edward yang menghubunginya. Dia pasti sedang perjalanan kesini," ucap Dira.
" Mama takut, Dira. Mama takut Kiara tidak selamat," ucap Widya kembali dengan tangis yang tak bisa dibendungnya.
" Jangan berkata seperti itu, Mama! Kita harus berfikir positif. Dira yakin Kiara bisa melewati masa sulitnya. Lagipula Edward tadi mengatakan jika Kiara sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya menunggunya sadar," kata Elang mengeratkan pelukannya.
Tap
Tap
Tap
" Abang...!!!."
Dira menoleh ke belakang ketika mendengar namanya dipanggil. Tampak Elang sedang berlari menghampirinya bersama Ale dan Aisha yang mengekor di belakangnya.
" Apa yang terjadi? Kenapa Ara bisa masuk rumah sakit?," tanya Elang dengan gusar. Sebenarnya Elang ingin mengamuk tapi ia menahannya mengingat Dira adalah calon kakak iparnya yang harus ia hormati.
" Keracunan? Apa ada orang yang sengaja ingin meracuni Ara?," tanya Elang tak sabar.
" Sepertinya begitu dan Edward sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kasus ini," kata Dira.
" Entah ini hanya perasaanku atau bagaimana. Aku mencurigai seseorang tapi mana mungkin kan dia menjadi tukang siomay," lanjut Dira membuat semua orang disana mengernyitkan dahi.
" Siapa maksud, Abang?," tanya Elang.
" Mantanmu, si kriwul," kata Dira datar.
Ale mengembungkan pipinya menahan tawa mendengar perkataan Dira. Aisha yang melihat tingkah konyol suaminya itu segera menyikut lengannya dan melotot ke arah Ale.
Klek.
Pintu kamar rawat Kiara terbuka dan muncullah seorang dokter laki-laki paruh baya dengan seorang perawat dan dua orang koas.
" Kita bahas nanti," titah Dira yang langsung saja berlari menghampiri dokter.
" Keluarga Nona Kiara???," tanya dokter itu.
" Saya...." ucap Widya, Dira dan Elang bersamaan.
__ADS_1
Dira menoleh ke arah Elang.
" Masih calon, belum sah," kata Dira memperingatkan.
" Saya Mamanya."
" Saya Kakaknya."
" Saya calon suaminya," Elang tak mau ketinggalan memperkenalkan diri.
Dira kembali menoleh ke arah Elang.
" Ehem...ehem... baiklah keluarga Nona Kiara. Saya dokter Leo yang menangani Nona Kiara. Keadaan Nona Kiara sudah stabil. Beruntung sekali pasien segera dibawa ke rumah sakit sehingga kami bisa cepat bertindak. Kami sudah mengeluarkan semua racun dari tubuh Nona Kiara dan sekarang kita tinggal menunggu pasien sadar," kata dokter Leo menjelaskan panjang kali lebar.
" Boleh kami melihatnya, dok?," tanya Widya.
" Silakan, tapi bergantian. Bagaimanapun pasien masih harus diawasi secara intensif. Jika dalam waktu 8 jam dari sekarang pasien belum sadar, segera panggil dokter atau perawat yang sedang bertugas," lanjut dokter Leo lagi.
Widya dan Dira mengangguk bersamaan. Dira meminta masuk terlebih dahulu. Tanpa persetujuan yang lainnya Dira melangkah masuk ke kamar Kiara. Seketika netranya basah melihat berbagai macam terpasang di tubuh adiknya. Dira yang tak paham dengan dunia medis tentu saja merasa asing dengan alat-alat itu. Dira berjalan perlahan mendekati brankar tempat Kiara berbaring.
" Sarang burung, bangun!," Dira menggenggam jari tangan Kiara, mengelus punggung tangan Kiara dengan jari jempolnya.
" Gue udah bilang jangan keluar rumah. Lu jadi adik bandel banget sih," kata Dira lagi.
" Gue janji akan bikin perhitungan sama orang yang bikin lu kayak gini. Gue salah karena biarin dia bebas. Gue salah biarin dia bermain-main sama lu. Pegang janji gue."
Dira kemudian bangkit dan keluar dari kamar rawat Kiara. Ia menyuruh Widya masuk dan baru setelah itu Elang.
" Kau mau kemana, Dira?," tanya Widya ketika melihat Dira hendak pergi meninggalkan mereka.
" Dira harus menyelesaikan urusan penting, Ma. Mama dan Elang jaga Kiara. Dira pasti kembali kalau urusan Dira selesai," ucap Dira tanpa menoleh ke arah Widya.
Dira melanjutkan langkahnya, bergerak dengan cepat dan tentu saja dengan Edward yang setia mengekorinya.
" Apa benar dugaanku?," tanya Dira dingin.
" Benar, Tuan," jawab Edward yang mengerti arah pembicaraan Tuannya.
" Ringkus dia dalam waktu 24 jam dari sekarang. Kalau kalian gagal, nyawa kalian taruhannya!," titah dira yang tentu saja membuat Edward ketar-ketir tak karuan.
**haiii reader...
terima kasih sudah setia membaca novelku.
jangan lupa like, koment dan vote ya..
agar penulis lebih semangat berkarya**...
__ADS_1