Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 12


__ADS_3

Dira membuka tirai jendela kamar Kiara. Sudah seminggu berlalu sejak Kiara memilih menangis dan mengurung diri di kamarnya. Dira berkali-kali mengajaknya keluar tetapi hanya dijawab gelengan kepala oleh Kiara. Dira benar-benar habis akal. Adiknya benar-benar terluka karena cinta, cinta yang terlambat diutarakan.


Dira menatap wajah adiknya yang sedang tidur. Wajah Kiara pucat. Dira tahu sudah seminggu ini Kiara tidak mau makan. Dira bahkan kerap menyuapinya dengan paksa agar Kiara mau makan.


“Bangun!!!" Dira menepuk-nepuk pipi adiknya dengan sayang sehingga membuat Kiara membuka matanya dengan perlahan.


“Cepat bangun dan ikut aku!” titah Dira yang dijawab dengan gelengan kepala Kiara.


“Bangun gue bilang...!!! Stop mengurung diri!!! Gue nggak suka liat lu begini!!!”


Dira mengeraskan rahangnya. Kiara tidak menyahut. Air matanya kembali menetes. Dira langsung geram melihat Kiara kembali menangis. Ia menarik tubuh Kiara dan menggendongnya ke kamar mandi. Tanpa ba bi bu Dira mengguyur tubuh Kiara berkali-kali.


Byurrr...


Byurrr...


Byurrr


"Sampai kapan lu mau begini?” Dira terus mengguyur tubuh Kiara dengan kesal.


Kiara menggigil kedinginan. Dira menuangkan sampo dan menggosok rambut Kiara dengan cepat.


“Kemarin rambut lu udah cantik tapi gara-gara lu nangis terus jadinya apek. Untung nggak kutuan” Dira kembali mengguyur air sampai rambut Kiara bersih dari busa sampo.


“Sabun badan lu dan sikat gigi. Gue tunggu di luar. Kalau dalam sepuluh menit lu nggak keluar-keluar juga. Terpaksa gue yang nyabunin lu” ancam Dira memberikan handuk kepada adiknya. Ia kemudian keluar dari kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Kiara keluar dari kamar mandi. Dira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya ini.


“Cepat pakai baju terus ikut gue. Lu udah seminggu nggak keluar kamar. Gue khawatir lu mateng disini” ucap Dira lalu keluar dari kamar Kiara. Dira memilih duduk di sofa sambil menunggu adiknya.


Kiara keluar dari kamar. Wajahnya masih tanpa senyuman. Kiara melangkah mendekati Dira.


“Lu nggak bisa terus-terusan begini. Kalau lu memang suka sama si Ale harusnya lu ngomong bukannya menjalani hubungan palsu. Sekarang ketika janur kuning sudah melengkung, lu nyesel kan?" tanya Dira.


Kiara diam tak menyahut.


“Gue ngijinin lu di sini dengan dua pilihan kan? Berkarier atau lanjut ambil gelar master. Nggak ada pilihan nangis galau ditinggal nikah. Kalau lu mau punya pacar. Lu tinggal tunjuk laki-laki mana yang lu mau atau kalau lu mau juga gue bakalan kenalin sama kolega-kolega gue. Rugi banget lu nangis bombay sampek seminggu begini”.


Ponsel Dira berbunyi. Dira beranjak dari sofa, berbicara menjauh dari adiknya dan kembali mendekati Kiara setelah obrolannya selesai.


“Sekarang pilih lu ikut gue ke acara ulang tahun kolega gue atau lu jalan-jalan sendiri keliling New york. Gue bakal utus pengawal buat mantau lu dari jauh biar lu nyaman.”


“Gue mau jalan-jalan sendiri aja” ucap Kiara. Dia malas jika harus ikut Dira bertemu kolega- koleganya. Kiara yakin Dira pasti akan mencoba menjodohkan dirinya dengan salah satu koleganya.


“Yakin nggak mau ikut gue? Disana banyak cowok-cowok ganteng lho” rayu Dira terkekeh geli.


Kiara menggelengkan kepalanya. Dira mengambil sesuatu dari sakunya.


“Ambil buat jajan!” Dira menyodorkan sebuah black card pada adiknya.


“Terserah lu mau beli apa aja. Nggak usah lihat harganya berapa. Itu jatah lu dari Papa. Gue harap lu jangan sedih lagi. Gue pergi dulu.”


Dira memeluk Kiara dan mengecup keningnya. Ada rasa bersalah dalam diri Dira karena tidak berada di sisi adiknya selama bertahun-tahun.


Dulu Dira pergi ketika Kiara berumur sepuluh tahun. Sekarang adiknya itu sudah menjadi gadis yang menyimpan luka. Ia menutupi lukanya dengan tawa riang yang selalu ia tampakkan dihadapan banyak orang.


Kiara yang selalu mengalihkan sedihnya agar Dira tidak tahu bahwa dia terluka karena cinta. Kiara yang selalu menunjukkan sikap manja dan kesalnya pada Dira namun tak menunjukkan air matanya.

__ADS_1


Andai Kiara tahu, Dira sering melihat Kiara meneteskan air mata saat tidur. Dira juga yang selalu menghapus air mata Kiara tanpa sepengetahuannya.


Dira mengambil kunci mobilnya dan pergi saat salah satu pengawalnya datang. Melihat mobil Dira sudah pergi menjauh, Kiara segera berlari ke kamarnya dan mengambil tas selempangnya.


"Antar gue jalan-jalan!” perintah Kiara pada pengawalnya.


                        ____ ***_____


 Kantor Evan Scandz                                                  *


Rio tersenyum-senyum menatap foto Kiara di layar ponselnya. Hasil jepretannya beberapa hari yang lalu memang sengaja ia pajang di halaman lovagramnya. Tak lupa Rio menuliskan caption puitis di bawahnya “The beautifull of Aurora. I love you My Aurora” yang seakan memberikan kode pada Kiara bahwa Rio telah jatuh hati padanya.  Rio benar-benar telah terjerat dengan pesona Kiara, gadis cantik yang tidak sengaja dia kenal di sebuah cafe.


Evan masuk ke ruangan Rio tanpa permisi. Ia langsung mendengus kesal ketika melihat tingkah konyol fotografer pribadinya itu. Evan bahkan lupa alasan apa yang membuatnya menerima Rio bekerja di tempatnya.


“The beautifull of Aurora. I love you My Aurora. Gombal....gombal" ejek Evan sambil terkekeh.


Dia segera duduk di hadapan Rio yang menatapnya dengan malas.


“Hei..hei..hei... ada yang jatuh cinta nih. Aduh... si playboy rupanya sudah terjerat dalam penjara cinta si gadis model dadakan" ejek Evan lagi.


Evan tahu selama ini Rio memang sering berganti-ganti pacar. Namun baru sekarang Rio terlihat berbeda. Rio tak pernah memajang foto perempuan di halaman lovagram pribadinya apalagi dengan caption seperti itu walaupun itu kekasihnya. Biasanya hasil jepretan Rio akan di pajang di lovagram khusus milik Evan.


“Berhenti menggodaku, Evan!” ucap Rio namun netranya masih setia menatap layar ponselnya. Evan mengambil ponsel Rio dengan cepat.


“Dengar! Ini sudah seminggu sejak gadis model dadakan itu.....”


"Kiara, namanya Kiara" potong Rio cepat.


“Yes, Kiara. Ini sudah seminggu sejak Kiara menjadi model dadakan di sini,” Evan mengulang ucapannya.


Rio menghela nafas.


“Aku tidak bertemu lagi dengannya” ucap Rio menunduk sedih.


Brakkkk….


“Apa katamu?” teriak Evan dan berdiri menggebrak meja dengan spontan.


“No! ini tidak boleh terjadi. Apa kau tidak punya nomor ponselnya?” tanya Evan lagi. Jari-jarinya mulai bergerak tak beraturan.


“Aku punya. Aku sempat mengirimkan beberapa foto hasil pemotretan kemarin padanya dan kami sempat mengobrol. Tapi besoknya aku sudah tidak bisa menghubunginya lagi” jelas Rio.


"Aaa….. jangan-jangan kau membuatnya kesal" Evan mondar mandir tak karuan.


“Pergi! Datangi rumahnya” titah Evan mencekram leher baju Rio.


Meskipun gaya Evan melambai seperti perempuan tapi tetap saja dia adalah seorang laki-laki yang bisa saja kasar ketika panik seperti ini.


“Aku tidak tahu dia tinggal dimana, Evan" ucap Rio lagi membuat Evan kembali berteriak. Wajah Evan penuh dengan keringat dingin.


“Aku bertemu Kiara di sebuah café. Aku tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Aku mengajaknya menjadi bagian dalam acaramu dan memberinya kartu namaku. Anehnya, dia tiba-tiba muncul di kantormu keesokan harinya. Itupun aku tak tahu darimana dia dapat alamat kantormu” jelas Rio.


“Bodoh…bodoh…bodoh..!!! Harusnya kemarin kau mengantarnya pulang, Rio! Sekarang kau tidak bisa menghubunginya. Tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Lalu bagaimana aku bisa menjadikannya bagian dalam pergelaran fashion ku minggu depan?????” umpat Evan.


“Asal kau tahu Rio…. Aku juga memajang foto-foto Kiara di halaman Lovagramku  dan ada beberapa perusahaan yang menginginkannya menjadi brand ambassador produk mereka. Kalau Kiara belum bergabung dalam managementku Bagaimana semua itu bisa terjadi????" bentak Evan kesal.


"Sekarang…. Cepat pergi!! Cari gadis itu………!” teriak Evan lagi.

__ADS_1


Ck…Rio mencibir Evan. Evan sangat gegabah memajang foto Kiara dalam lovagram pribadinya. Kiara belum resmi bergabung dalam management milik Evan tetapi Evan main pajang-pajang foto saja, gumam Rio dalam hati.


Rio beranjak dari tempat duduknya. Dia meninggalkan Evan yang masih memijit kepalanya. Sebenarnya tanpa disuruh Evan, Rio berniat mencari Kiara. Rio merindukan Kiara yang hilang tanpa kabar. Rio berniat mendatangi café dimana dia bertemu dengan Kiara pertama kali. Rio memilih berjalan kaki karena memang jarak café dan kantor Evan tidak terlalu jauh. Mungkin saja dengan berjalan kaki, Rio bisa berpapasan dengan Kiara di jalan.


Sesampainya di café, Rio mengedarkan pandangannya. Rupanya café sedang ramai, tidak ada kursi kosong yang bisa Rio tempati. Rio mencoba kembali mengedarkan pandangannya, mungkin saja masih ada meja kosong dengan berpenghuni minimalis. Netra biru Rio membulat ketika melihat sosok berbaju merah muda sedang menunduk sambil memainkan sedotan di gelasnya.


Rio mempercepat langkahnya dan berhenti ketika jarak mereka hanya tinggal dua langkah saja. Rio memastikan bahwa sosok di depannya adalah gadis yang selama ini dia rindukan.


“Ki..a..ra..” panggil Rio.


Kiara mengangkat wajahnya perlahan dan Happpp Rio memeluk Kiara dengan erat. Rasa rindunya pada Kiara benar-benar membuatnya lupa segalanya. Kiara yang mendapat pelukan mendadak dari Rio tentu saja kaget. Pasalnya dia tidak pernah berpelukan di tempat umum seperti ini, dengan Elang yang berstatus pacarnya saja tidak pernah apalagi dengan orang asing yang baru ia kenal seperti Rio. Tentu saja Kiara merasa canggung.


Kiara melirik dengan ekor matanya. Bodyguard Dira pasti melihat adegan ini. Kiara ingin melepas pelukan Rio tetapi entah mengapa dia hanya memilih diam berdiri mematung tanpa reaksi.


Rio melepas pelukannya. Kedua tangan Rio memengang pipi Kiara memastikan bahwa sosok di hadapannya sekarang benar-benar Kiara yang beberapa hari ia rindukan.


"Kau kemana saja? Mengapa kau menghilang? Aku tidak dapat menghubungimu. Apa aku membuatmu marah? Atau ada masalah?” serbuan pertanyaan keluar dari bibir Rio.


Kiara tidak menjawab. Dia hanya menyunggingkan senyumnya. Senyum getir yang tidak semestinya dia tampakkan pada Rio.


“Kiara, apa kau baik-baik saja? Aku sangat merindukanmu,” ucap Rio lagi.


Rio tak dapat menahan kedua tangannya untuk memeluk Kiara. Pelukannya kali ini lebih erat. Kiara mengarahkan pandangannya ke arah jam 3 dimana bodyguard Dira sedang menunggunya di mobil.


Kiara memang sengaja menyuruhnya agar membiarkan Kiara duduk sendiri dan hanya memantaunya dari jauh. Kiara tidak ingin terlihat kemana-mana membawa tukang pukul. Berlebihan, begitu pikir Kiara.


Bodyguard  Dira membuka pintu mobil hendak keluar. Namun Kiara memberi kode dengan jarinya agar tetap di tempat. Bodyguard itu paham dan kembali masuk ke dalam mobil, dia tetap memantau karena khawatir terjadi apa-apa dengan adik bos nya.


“Rio…. sampai kapan kau akan memelukku seperti ini? Aku tidak bisa bernafas,” akhirnya Kiara membuka suara.


“Upss maaf!” Rio dengan cepat melepas pelukannya.


“Sebenarnya aku tidak mau melepas pelukanku karena aku takut kau menghilang lagi," ucap Rio terkekeh mencoba menetralkan jantungnya yang sejak tadi berdetak tak karuan.


“Hei, apa kau sedang ada masalah?” tanya Rio.


Rio menatap Kiara, wajah Kiara terlihat kusut dengan mata bengkaknya. Kiara menggeleng. Rio menghela nafas sepertinya Kiara belum mau bercerita kepadanya.


“Aku selalu ada untukmu. Ceritalah jika memang kau punya masalah. Aku akan membantumu sebisaku” janji Rio.


Kiara tetap tak menjawab ia hanya menampakkan kembali senyum getirnya.


“Katakan! Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?” tanya Rio.


“Ponselku hilang” jawab Kiara berbohong.


“Sungguh?” selidik Rio.


“Sungguh. Kalau kau tak percaya. Bongkar saja tasku” kata Kiara menyodorkan tasnya dan Rio tentu saja menolak dengan cepat.


“Oke… kalau begitu sekarang kau harus ikut denganku. Evan mencarimu”. Rio menarik tangan Kiara dan melangkah meninggalkan café.


Kiara yang berjalan di belakang Rio segera memberikan kode pada bodyguard Dira agar mengikutinya dan tetap tenang. Bodyguard itu mengangguk.


Kiara mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Rio. Rio mengubah posisi tangannya. Ia merangkul Kiara dengan sayang.


Sepanjang perjalanan Rio tak henti bercerita dan bertanya banyak hal pada Kiara dan Kiara hanya menjawab pertanyaan Rio dengan singkat. Kiara tidak tahu bahwa meskipun jawaban singkat yang keluar dari mulutnya, bagi Rio itu sudah menjadi obat penghilang rindunya yang paling ampuh dan mahal.

__ADS_1


__ADS_2