
"Kadir....." teriak Kiara dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi.
Semua orang berdiri melihat kedatangan Dira. Berbagai ekspresi ditunjukkan oleh mereka. Ada yang heran, ada yang ketakutan bahkan ada juga yang tersenyum simpul. Semua ekspresi mereka tak luput dari penglihatan Dira yang masih memasang wajah menyeramkannya.
Dira berjalan ke arah Indra dengan tangan yang masih memegang pistol. Langkah kakinya berhenti tepat di hadapan Indra. Dengan raut wajah penuh amarah, Dira menempelkan pistolnya di dahi Indra dan mencengkram kerah kemeja Indra dengan kuat.
"Hai, Paman Indra! Rupanya kau sudah bosan hidup. Berani-beraninya kau melangkahiku dengan menjadi walinya, hah?" seringai Dira muncul.
"Kadir...." teriak Kiara.
"Diam kau!!! Aku tidak berbicara padamu" bentak Dira.
"Katakan apa motivasimu melangkahiku! Kau sudah bosah hidup hah???" tanya Dira lagi dengan tangan yang semakin kuat mencengkram kerah baju milik Indra.
"Di... Di...Dira. Pa...Pa..paman sudah tidak mau melakukan ini. Tapi Kiara memaksaku" ucap Indra terbata-bata.
"Paman...!!!!" teriak Kiara kesal.
"Diam kau!!! Sudah ku katakan untuk diam" bentak Dira membuat nyali Kiara ciut.
"Kau, aku kirim ke sini untuk mengurus perusahaan bukan untuk menikahi suami orang. Dimana otakmu, hah? Kau benar-benar membuatku kecewa!!!" bentak Dira lagi.
"Tapi, Kadir...."
Kiara mencoba mendekati Dira. Namun langkahnya urung dilaksanakan ketika Dira dengan cepat mengarahkan pistol ke arahnya.
"Kau sudah berani melangkahiku. Kau harus aku hukum!!!"ucap Dira tegas.
Dira berteriak memanggil pengawalnya yang sedari tadi berada di depan rumah Ale. Dalam hitungan detik beberapa orang bertubuh kekar, berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitamnya masuk ke rumah Ale. Ale dan Aisha menelan ludah melihat adegan yang terjadi di rumah mereka.
"Bawa Ketiga orang ini ke dalam mobil. Seret mereka keluar dari sini! Cepat! " tangan Dira menunjuk Kiara, Indra dan Olive.
"Baik, Tuan" ucap mereka dengan serempak.
Tanpa ba bi bu lagi beberapa pengawal Dira segera melaksanakan tugasnya. Dua orang pengawal mencengkram kedua tangan Kiara dan menyeret Kiara keluar dari rumah Ale. Sedangkan Indra dan Olive dengan sukarela mengikuti langkah pengawal Dira.
Kiara memberontak. Ia terus berteriak memanggil Dira. Namun Dira seakan tuli dengan teriakan adiknya.
__ADS_1
Dira memasukkan kembali pistolnya ketika telinganya sudah tidak mendengar teriakan Kiara. Dira yakin pengawalnya sudah mengamankan adiknya itu. Dira melangkah mendekati Ale.
"Tuan Alexander!" Dira mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Ale.
Ale dengan tatapan bingung menerima uluran tangan Dira dan mereka berjabat tangan dengan erat.
"Maafkan atas perbuatan adik saya" ucap Dira.
"Adik?? Jadi Kiara adalah..." ucap Ale terpotong.
"Benar, Tuan Alexander. Kiara adalah adik bungsu saya. Kami hidup terpisah sejak Papa meninggal"
"Oh begitu, Tuan Kadir"ucap Ale yang dibalas pelototan oleh Dira dan cekikikan pengawal Dira yang tersisa.
"Tuan Alex, nama saya Adiraka. Anda bisa memanggil saya Dira. Kadir adalah panggilan menyebalkan dari adik saya. Anda jangan ikut-ikutan anak itu" ucap Dira dingin.
"Upss maaf Tuan Dira. Saya pikir nama Anda Kadir karena Kiara memanggil Anda begitu" ucap Ale malu.
"Tidak apa-apa. Kali ini saya maafkan dan saya meminta maaf juga atas kelakuan adik saya yang hampir saja merusak rumah tangga Anda. Saya benar-benar malu dengan tingkahnya" ucap Dira tulus yang dibalas dengan senyuman Ale dan Aisha.
Dira dan Ale kembali berjabat tangan. Mereka lalu berpelukan dengan hangat. Dira pamit dan segera meninggalkan rumah Ale.
Ale dan Aisha mengantar kepergian Dira. Mereka melambaikan tangan ketika mobil Dira mulai melaju meninggalkan rumah mereka.
Ale dan Aisha kembali masuk ke dalam rumah mereka. Namun baru beberapa langkah, mereka kembali terhenti dan membalikkan badannya. Ale membulatkan kedua matanya melihat rombongan mobil hitam melaju dan berhenti di depan gerbang rumah mereka.
"Ale........!!!!"
Seorang perempuan keluar dari salah satu mobil hitam itu dan berlari ke arah Ale. Perempuan itu langsung memeluk Ale dengan berurai air mata.
"Mbak Sandra....," panggil Ale lirih.
Ale membalas pelukan Sandra. Andai Ale tidak ingat umur, ia pasti akan menangis seperti saat mereka kecil dulu.
"Maaf, Mbak baru datang. Mbak tidak ada disaat kau butuh bantuan" sesal Sandra dengan tangis yang makin menjadi.
"Sudah, Mbak. Mbak tidak salah" ucap Ale sembari mengelus punggung kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana perusahaanmu? Apa yang bisa kami bantu?" tanya Robert.
"Ale butuh investor, Mas. Ale butuh dana yang besar untuk membayar gaji karyawan dan memulai kembali usaha Ale" ucap Ale membuat Sandra mengurai pelukannya.
"Kau tenang saja. Mbak Sandra dan Mas Robert sudah ada disini. Kami pasti membantumu. Iya kan, sayang?" tanya Sandra yang di jawab anggukan Robert.
"Oh iya, apakah Elang tidak ikut bersama kalian?" tanya Ale.
"Tentu saja aku ikut, Om. Aku dari tadi berdiri di pojok sana karena tidak ingin mengganggu acara pelukan kalian" ejek Elang.
Ale terkesima melihat sosok Elang yang berdiri tepat di hadapannya. Ale sedikit tak percaya dengan perubahan pada diri Elang.
Elang yang sekarang sangat berbeda dengan Elang dulu. Ia tampak lebih berisi dan lebih bersih. Elang terlihat lebih merawat dirinya. Tak ada lagi rambut gondrong dan rambut-rambut halus yang menutupi wajah bagian bawahnya. Elang benar-benar tampan.
"Kenapa diam, Om? Sepertinya Om terkesima dengan Elang"
"Harus Om akui, kau semakin tampan" puji Ale yang disambut gelak tawa yang lainnya.
"Kalau kau tampan begini, Kiara pasti makin terpikat padamu" sambung Ale lagi membuat tawa mereka seketika mereda.
Sandra dan Robert saling pandang. Mereka sebenarnya tidak ingin ada pembahasan mengenai Kiara lagi. Sudah cukup Kiara membuat Elang hancur. Sandra dan Robert berusaha keras agar Elang bisa bangkit kembali.
"Hanya orang buta yang tidak terpikat padaku, Om"
"Sebaiknya kita masuk dulu. Mbak Sandra dan Mas Robert pasti lelah dan ingin beristirahat" ucap Aisha mengalihkan topik. Ia paham jika Sandra dan Robert tidak suka membahas Kiara.
Mereka semua mengangguk. Mereka segera masuk dan langsung menuju kamar masing-masing. Tanpa diberitahupun, keluarga Elang sudah hafal harus tidur dimana ketika menginap di rumah Ale.
Elang membuka pintu kamarnya. Ia menatap ke sekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah. Aisha memang membersihkan kamar Elang setiap hari. Ia juga tidak mengubah apapun pada kamar Elang.
Elang membuka tirai kamarnya. Seketika bayangan kelam dirinya muncul. Elang yang frustasi. Elang yang menyakiti dirinya sendiri ketika ditinggalkan Kiara. Elang menarik nafas. Kepergiannya ke Spanyol memang untuk mengobati lukanya. Namun, tetap saja nama Kiara tetap terpatri di hatinya.
"Hai Ara, apa kabar? apa kau masih mengingatku? apa kau tahu setiap hari aku merindukanmu? Apa kau juga merindukanku? Aku harap kita bisa bertemu lagi" gumam Elang sembari tersenyum menatap langit dari jendela kamarnya.
Aindra Elang Putra Wilson
__ADS_1