Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
EXTRA PART - FLASH BACK


__ADS_3

"Kalian semua duduk!" perintah Dira kepada Rio, Evan, Olive dan Ivana.


Saat ini Dira sedang berada di butik Ivana untuk membriefing keempat orang itu tentang tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Mereka berlima duduk mengelilingi meja bundar di ruang kerja milik Ivana.


"Kau, pesan makanan dan minuman untuk mereka. Ingat jangan yang murah dan promo! Aku tidak mau kalian makan makanan seperti itu" tunjuk Dira pada Ivana.


Ivana mengangguk. Dia segera mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan antar makanan dan memilih makanan yang mahal dan tidak promo sesuai perintah Dira.


"Sedangkan kau, buatkan jus jeruk penuh cinta dan kasih sayang khusus untukku" ucap Dira dengan jari menunjuk Olive.


Olive menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia merasa bingung dengan perintah Dira. Bagaimana dia bisa membuatkan jus jeruk penuh cinta dan kasih sayang untuk Dira jika tidak ada jeruk di butik itu?


Evan menggeser kepalanya, mendekatkan mulutnya pada telinga Olive. Ia paham akan kebingungan Olive saat ini. Butik Ivana tidak dilengkapi dapur sehingga tidak ada kulkas yang digunakan sebagai tempat menyimpan makanan dan minuman.


"Keluar! di belakang butik ini ada kedai jus. Beli di sana sekalian pinjam sama gelasnya" bisik Evan pada Olive.


Olive mengangguk. Ia segera berdiri dan berlalu meninggalkan ruang kerja Ivana. Ia berjalan dengan cepat agar tidak membuat Dira menunggu lama.


Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Olive agar bisa kembali menuju ruang kerja Ivana, berkumpul dengan yang lainnya untuk membahas rencana Dira dalam pernikahan Kiara.


Olive mengernyitkan dahi ketika melihat makanan yang tersaji di atas meja. Tiga bungkus kacang kulit dan tiga gelas es teh. Telinganya masih normal ketika mendengar perintah Dira pada Ivana. Makanan mahal dan tidak promo. Lalu mengapa hanya ada kacang kulit dan es teh di atas meja?


Olive ingin bertanya tapi ia urungkan. Ia segera meletakkan gelas berisi jus jeruk yang dibelinya tadi di hadapan Dira.


Olive segera memutar badannya, hendak melangkah menuju kursinya yang terletak di sebelah Evan. Namun, langkahnya terhalang ketika ia merasakan tarikan seseorang pada tangan kanannya.


"Kau mau kemana, cantik?" tanya Dira dengan tatapan memuja pada Olive.


Olive menelan ludah. Tatapan Dira yang seperti itu terlihat menakutkan baginya. Seketika tubuhnya kaku, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Dira.


"Kem-ba-li ke-sa-na, Tuan" ucap Olive sambil menunjuk kursi kosong yang tadi di dudukinya.


"Vaston, pindah kesana! si cantik ini akan duduk di tempatmu" usir Dira pada Rio.


Rio segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju kursi kosong yang ditempati Olive tadi. Setelah kursi Rio kosong, Dira menarik tangan Olive agar duduk di kursi itu.


"Aku tidak perlu basa-basi dengan kalian. Karena wajah kalian sudah basi semua, kecuali kamu cantik" ucap Dira kepada Olive ketika memulai rapatnya.


Evan menyenggol lengan Olive sedangkan Rio memutar bola matanya dengan malas. Olive diam saja, mengacuhkan Evan yang terus saja menggodanya.


"Pernikahan Kiara saya pindahkan ke Bali. Adele resort dan hotel, gedung yang saya pilih"

__ADS_1


"Kenapa di Adele, Tuan? Apakah Tuan akan memakai konsep outdoor?" tanya Ivana.


"Ya, karena nanti mempelai laki-laki akan datang dengan helikopter. Dia akan terjun payung dari helikopter dan mendarat di pinggir pantai" ucap Dira membuat mereka mengangguk.


"Aku sudah membuat skenario jika keluarga Elang membatalkan pernikahan.."


"Maksudmu apa???" tanya Rio memotong ucapan Dira.


"Diam! Aku belum selesai menjelaskan" ucap Dira sambil melempari Rio dengan kulit kacang.


"Ini hanya pura-pura. Aku sudah bekerja sama dengan nenek Elang untuk membuat skenario ini"


"Dimana otakmu, Adiraka? Kau tidak memikirkan perasaan Kiara? Kiara pasti sedih dan kacau!!!" bentak Rio emosi.


"Sudah berani kau mengumpatku??? Aku bisa memotong lehermu jika kau sekali lagi mengumpatku, Vaston" ancam Dira membuat Evan harus turun tangan menenangkan Rio.


"Aku sengaja membuat Kiara sedih dan kau, Vaston bertugas mendampingi Kiara saat dia sedih. H-1 kau mendampingi Kiara melihat gedung. Kebetulan hari itu adalah hari pernikahan Joe dan Emily"


"Secara detail tugas kalian ada di kertas ini. Baca! Jika ada yang tidak dipahami, silakan bertanya" ucap Dira kemudian memberikan beberapa kertas kepada mereka.


Evan, Rio, Ivana dan Olive membaca kertas yang berisi skenario dan tugas mereka selama di Bali. Sesekali mereka saling melirik, memberikan kode satu sama lain.


"Tuan, mengenai baju pengantin. Apakah tetap memakai kebaya kemarin?" tanya Ivana.


Ivana langsung menoleh ke arah Evan. Ia menatap Evan dengan raut wajah kecewa. Evan mengangguk. Ia paham akan kekecewaan Ivana.


Ivana telah bekerja keras untuk menyelesaikan kebaya milik Kiara yang dirancang Dira secara mendadak. Sekarang setelah kebaya itu selesai, Dira dengan entengnya kembali mengubah konsep tanpa memperdulikan kerja keras saudara kembarnya itu.


"Evan, bukankah kau ada pergelaran fashion show di Bali? Aku tahu kau sedang ada proyek kerja sama dengan sebuah produk skincare terkenal di sana dan kau akan memamerkan gaun pengantin rancanganmu, bukan?" ucap Dira membuat Evan terkejut setengah mati.


"Kau tinggal membawa Kiara ke butikmu di sana. Suruh dia memilih gaun pengantin yang dia sukai. Katakan saja untuk keperluan pemotretan promosi" ucap Dira yang langsung menutup mulut Evan yang hendak protes.


Mereka kembali diam, melanjutkan membaca kertas pemberian Dira. Mereka kembali mengernyitkan dahi ketika membaca part ada sesi menari setelah penampilan tunggal Dira.


"Aku tidak mau menari! Kau pikir aku lelaki lemah gemulai?" tolak Rio.


"Semua ikut menari! tidak ada penolakan" ucap Dira dingin.


"Terserah apa maumu! Aku tetap tidak mau menari" ucap Rio.


"Tuan...Tuan... Biarkan saja Rio tidak menari. Saya kan ikut menari. Anggap saja saya terhitung dua orang. Jadi Rio sudah saya wakili" bujuk Evan memberi solusi.

__ADS_1


Dira terkekeh mendengar ucapan Evan. Terhitung dua katanya? Badan sebesar itu mau dihitung dua? Jangankan dua, lima saja masih kurang.


"Baiklah, kau tidak menari. Kau main musik saja mengiringku bernyanyi" ucap Dira yang langsung disambut tepuk tangan oleh Evan.


"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Dira.


Mereka berempat menggeleng membuat Dira tersenyum puas.


"Kalian bertiga akan berangkat nanti sore. Orang suruhanku akan menjemput kalian disini" tunjuk Dira pada Evan, Rio dan Ivana.


"Dan kau cantik..., kau datanglah ke rumahku lusa. Kau akan berangkat bersama Kiara" ucap Dira lagi. Tak lupa tatapan memuja dan senyum konyol yang Dira tampakkan pada Olive membuat semua yang melihatnya bergidik ngeri.


Setelah merasa cukup dan tidak ada pertanyaan lagi, Dira segera bangkit dan pergi meninggalkan butik Ivana. Mereka langsung bernafas lega setelah Dira benar-benar pergi dari pandangan mereka.


"Menyebalkan!!!" teriak Ivana. Tangannya langsung saja melempar gelas berisi jus jeruk yang tadi diminum Dira.


"Tenang! Dia memang menyebalkan. Bukan Adiraka namanya kalau tidak menyebalkan" kata Evan menenangkan saudara kembarnya.


"Bagaimana aku bisa tenang, Evan? Dia selalu mengubah konsep tanpa mengenal waktu. Aku sudah bersusah payah membuat kebaya sesuai keinginannya dan dia dengan enteng mengatakan tidak jadi. Oh Tuhan! Ingin ku mencekik lehernya" umpat Ivana.


"Sebenarnya calon suami Nona Kiara sudah memesan gaun pengantin kepadaku dan aku sudah membuatnya" ucap Evan.


"Paling nanti tidak cocok lagi dengan selera Tuan Dira!" cibir Ivana tetap dalam mode kesalnya.


"Sudahlah! Ini pernikahan Kiara dan calonnya bukan pernikahan Tuan sombong itu. Kalian turuti saja kemauan mempelai. Jangan menuruti kemampuan lelaki gila itu" ucap Rio memberi solusi.


"Kalau dia marah bagaimana? pasalnya selera Nona Kiara sangat berbeda jauh dengan selera Kakaknya" ucap Ivana khawatir.


"Dia tidak akan sempat marah pada kalian. Apa kalian tidak membaca susunan acara pernikahan Kiara?" tanya Rio yang dibalas dengan gelengan kepala mereka.


"Baca! Ini lebih mirip acara show dari Adiraka dari pada acara pernikahan Kiara. Menyebalkan!!!" kali ini Rio mengeluarkan umpatannya dengan ringan.


"Kasian Nona Kiara. Pernikahannya penuh dengan drama buatan kakaknya. Aku tidak sampai hati melakukan ini padanya" ucap Evan dengan raut wajah sedih.


"Sebenarnya aku tidak mau terlibat dalam skenario konyol ini. Dia benar-benar tidak memikirkan perasaan Kiara" ucap Rio.


"Kalau kau tidak ikut bisa-bisa perang dunia pecah kembali, Boy" ucap Evan terkekeh.


"Oh iya, ngomong-ngomong mengapa hanya kacang kulit dan es teh yang ada di atas meja? Bukankah Tuan Dira tadi menyuruhmu memesan makanan yang mahal dan tidak promo?" tanya Olive berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah memesan steak dan spagetti. Tapi ketika pesanan itu datang, juragan sombong itu mengembalikan kepada driver dengan alasan itu adalah makanan promo. Menyebalkan!" umpat Ivana.

__ADS_1


"Dan lucunya juragan sombong itu malah mengambil tiga bungkus kacang kulit milik Ivana yang dia simpan di tas nya. Dia bilang jika itu adalah makanan yang tidak promo" ucap Evan terkekeh.


"Sudah.. sudah.. berhenti membicarakan orang gila itu. Sekarang kita harus bersiap-siap karena nanti sore kita harus berangkat" ucap Rio.


__ADS_2