Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
EXTRA PART - FLASHBACK


__ADS_3

Malam hari, setelah pulang dari menemui keluarga Elang.


"Ssttt... Mamae... Mamae... sini" panggil Dira yang bersembunyi di balik pintu ruang keluarga. Ia sesekali menampakkan kepalanya untuk mengintip Edo dan Widya yang sedang menonton televisi.


"Mamae.... mama... mamaeee......" panggil Dira lagi dengan volume suara yang ditingkatkan sedikit. Namun, masih dalam level berbisik.


Widya dan Edo kompak menoleh ke belakang. Mereka memasang wajah datarnya pada Dira yang melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka.


"Apaaaaa???!!" bentak Widya.


Perasaan kesal di hati Widya masih belum pudar. Ia benar-benar marah dengan perilaku Dira yang menyebabkan Nenek Syarmila bertambah gusar kepada keluarganya. Bahkan Widya merasa tidak mempunyai muka atas ucapan-ucapan Dira yang tidak di rem ketika berbicara dengan keluarga Elang.


"Mamae.... Om Ed... pindah ke ruang kerja Dira, yuk" ajak Dira masih dengan suara berbisik.


Mereka kompak memalingkan muka, mengacuhkan Dira dan lebih memilih kembali menonton acara lawak di televisi.


"Mamae.... sssttt.... Om Ed... come on. Ikut Dira. Penting, Ma" tangan Dira melambai-lambai memanggil Widya dan Edo.


Widya melempar bantal sofa ke arah Dira. Meski lemparannya asal, bantal sofa itu nyaris mengenai kepala Dira yang mengintip di balik pintu ruang keluarga.


"Mamaeeeee.... aduuuuhhhhh!!!"


Dira tidak sabar. Ia akhirnya keluar dari persembunyiannya, berjalan dengan cepat menghampiri Widya dan Edo.


Dira menarik tangan Widya dan Edo, menggiring mereka masuk ke dalam ruang kerjanya. Sesekali Dira menoleh ke arah kamar Kiara untuk memastikan jika pintu kamar adiknya tidak terbuka.


"Mau apa kau?" teriak Widya ketika mereka baru saja masuk ke ruang kerja Dira.


"Duduk dulu Mamae" perintah Dira dengan tenang.


Widya mendengus kesal. Ia dan Edo mendudukkan bokongnya di sofa.


"Dira mau mengatakan sesuatu. Tapi kalian harus janji bisa diajak kerja sama" ucap Dira memulai pembicaraan apa.


"Tergantung" ucap Widya dan Edo kompak.


"Dira tidak menerima jawaban seperti itu. Kalian seharusnya mengangguk dan berkata setuju" ucap Dira menyipitkan kedua matanya.


"Langsung saja. Apa yang mau kau katakan?" tanya Widya dengan emosi yang belum mereda.


"Mamae jangan teriak-teriak terus. Nanti Kiara bisa dengar" ucap Dira.


Edo memberikan kode agar Widya diam. Karena jika Widya terus saja berbicara. Maka hal penting yang akan disampaikan Dira tidak akan terucap.


"Sebenarnya Dira berkerja sama dengan Nenek Elang untuk membuat skenario jika pernikahan Kiara dibatalkan" ucap Dira berbisik.


satu detik


dua detik


tiga detik


Dira mengerutkan dahi ketika melihat tidak ada respon dari Widya dan Edo.


"Mamae, Om Ed...." panggil Dira pelan


Tiba-tiba Widya bangkit dan langsung menghampiri Dira. Widya mencekik leher Dira dengan geram.


"Dimana otak kamu, Diraaaaaaaaa??????? Apa maksud kamu membuat skenario seperti ituuuuu????????? Kau tega menyakiti adikmu sendiri hah?????" teriak Widya.


Dira terbatuk-batuk. Ia tidak menyangka respon Widya seperti itu. Dira menggeliat, berusaha melepas cengkraman tangan Widya dari lehernya. Namun, hal itu sia-sia.


Widya yang sedang dalam emosi level dewa, berubah layaknya wonder women yang memiliki kekuatan ekstra. Ia benar-benar menyalurkan emosinya kepada Dira sehingga Dira tak bisa lepas dari cengkramannya.

__ADS_1


"Apa salah Kiara sama kamu sampai kamu tega membohongi dia??? Kamu pikir Kiara tidak punya hati?? Kamu jahat Dira!!! Kamu jahat!!! Entah gen siapa yang kamu bawa hingga kamu bisa setega ini????" teriak Widya lagi.


Edo segera bangkit. Ia menarik tubuh Widya agar melepas cengkramannya.


"Ayah... jangan ikut campur! Mama harus beri pelajaran anak satu ini!" ucap Widya, tangannya menghempas tangan Edo yang sedari tadi memeganginya.


"Ma.. ma.. mamae..." ucap Dira terbata karena masih merasa nyeri pada kerongkongannya.


"Jangan panggil aku Mama! Aku tidak punya anak jahat sepertimu!" ucap Widya, tangannya mengambil bantal sofa dan melemparnya ke wajah Dira.


Edo kembali memegangi Widya. Mengajaknya duduk kembali di sofa agar emosinya reda.


"Mamae... jangan marah dong! Dira tidak bermaksud jahat pada Kiara. Dira hanya ingin memberi kejutan kepada Kiara"


"Kejutan?? Kamu mau buat Kiara jantungan???" tanya Widya, tangannya sudah siap melempari Dira dengan bantal sofa yang lain. Namun, segera dicegah oleh Edo.


"Bu... bu.. bukan seperti itu, Mamae. Dengarkan Dira dulu. Dira tidak ada niat jahat sedikitpun untuk Kiara. Dira hanya ingin mereka memiliki kenangan indah menjelang hari pernikahan mereka"


"Kenangan indah katamu??? Kau malah membuat Kiara bersedih" potong Widya lagi.


"Mamae, ingat kata pepatah. Akan ada pelangi setelah hujan. Habis gelap terbitlah terang. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian"


"Hidup segan, mati tak mau" sambung Edo.


"Tak ada gading yang tak retak" ucap Dira.


"Besar pasak daripada tiang" sambung Edo lagi.


"Ayah...!!! Dira....!!! Kenapa malah berbalas peribahasa??? Kalian pikir sedang ulangan???" kata Widya sembari mencubit Edo dan Dira bergantian.


Dira dan Edo kompak mengaduh. Edo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang kerja Dira.


"Mamae... dengarkan dulu! Dira tidak ada niat sedikitpun untuk melukai Kiara. Ini murni untuk memberinya kejutan. Mamae harus setuju" ucap Dira meyakinkan Widya.


"Kamu pernah mikir nggak banyak prosesi yang harus dilalui sebelum menikah??? gara-gara ide konyol kamu, adik kamu tidak mengikuti prosesi-prosesi itu. Paham kamu???" bentak Widya.


"Kiara akan melakukannya di Bali. Meskipun tidak sama seperti di sini setidaknya......"


Plakkkkk


Widya menampar pipi Dira dengan geram. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.


"Mama.... mama me-nam-par Di-ra?" tanya Dira tam percaya.


Dira memegang pipinya yang perih akibat tamparan Widya. Ia kemudian menjatuhkan badannya, berlutut di hadapan Widya.


"Mamae.... mengapa kau tega menampar anakmu yang tampan dan rupawan ini? hu...hu...hu...."Dira menangis tersedu-sedu. Ia memeluk kedua kaki Widya dengan erat.


"Apa salah dan dosaku, sayang? Cinta tulusku kau buang-buang"


"Dira....!!!!" teriak Widya. Ia menghentakkan kakinya hingga Dira terjungkal.


"Maaf, Mamae. Dira terbawa suasana. Tadi habis ngapalin lagu buat nikahannya Kiara" ucap Dira sembari menghapus air mata palsunya.


"Mamae... percayalah padaku. Aku hanya ingin memberikan kenangan indah untuk Kiara. Asal Mamae tahu, Dira sudah mengundang Anggun C Sasmi untuk bernyanyi di acara pernikahan Kiara. Kita nanti bisa duet bareng" bujuk Dira yang masih diacuhkan Widya.


"Apapun alasan kamu, kamu tetap salah" ucap Edo yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


"Kalau kamu mau buat kejutan untuk Kiara, berikan saja dia penthouse atau pulau. Jangan malah membuat drama seperti ini. Ini sama saja kau membohongi dia, mempermainkan perasaannya" lanjut Edo sembari menyeruput lagi kopi hangatnya.


"Terus sekarang bagaimana dong, Om Ed? Dira sudah terlanjur mempersiapkan semuanya. Elang sudah berangkat ke Bali. Rio dan tim nya juga" tanya Dira.


Edo diam. Ia tampak berfikir sejenak.

__ADS_1


"Dira juga sudah merancang tarian keren. Nanti kita akan menari bersama-sama" ucap Dira dengan raut wajah sedih.


"Ah.. sudahlah. Karena drama sudah berjalan, tidak ada pilihan lain. Kita harus mengikutinya" ucap Edo membuat Dira tersenyum senang.


"Ayah!!! Mengapa kau membela anak nakal ini? Mama kecewa pada Ayah. Mama kecewa...!!! teriak Widya. Ia kemudian mengambil piring berisi pisang goreng dan melemparnya pada Dira.


"Mamae... panas...Mamae.... addoohhhh!!! Dah kayak siksa kubur aja hidupku ini" ucap Dira sambil meniup-niup kulitnya yang terkena pisang goreng.


Widya membalikkan badannya. Ia mengacuhkan Dira yang meringis karena kulitnya kepanasan.


Melihat pertengkaran sengit antara ibu dan anak yang tak kunjung usai membuat Edo segera bangkit. Ia mengambil pisang goreng yang berserakan karena merasa sayang dengan rezeki Tuhan yang menjadi pelampiasan kekesalan istrinya.


"Om Ed, bantulah anak sambungmu yang tampan ini" mohon Dira. Tangannya mencomot pisang goreng yang dibawa Edo dan memakannya dengan cepat.


Edo semula berniat membawa pisang goreng itu sembari duduk di sofa. Namun, melihat Dira yang tak henti mencomot pisang goreng itu membuatnya membatalkan niatnya.


Edo menyodorkan pisang goreng itu kepada Dira. Dira mengubah posisi duduknya. Sekarang ia duduk bersila menikmati pisang goreng pemberian Edo.


"Om Ed, bantu Dira bujuk Mamae. Nanti kalau sukses, Dira akan belikan pajero buat Om Ed" bisik Dira sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Widya.


"Om Edo nggak bisa nyetir mobil. Percuma nyogok Om Edo dengan begituan" bisik Edo sambil terkekeh.


Dira kembali mengecek Widya yang masih berdiri membelakangi mereka. Setelah merasa aman, Dira kembali mendekat ke arah Edo.


"Kalau seperangkat alat sholat?" bujuk Dira lagi.


"Memangnya kamu mau melamar Om?" ucap Edo balik bertanya.


Dira menepuk jidatnya. Ia kemudian berpikir apa yang akan ia berikan kepada Edo sebagai upeti agar Edo mau diajak kerja sama.


"Bagaimana kalau sebidang tanah di Pare yang luasnya 100 hektar?" ucap Dira dengan menaik turunkan alisnya.


Edo diam, menimbang penawaran Dira.


"Dengan tanah seluas itu, Om Ed bisa memperluas tempat kursusan berkali-kali lipat" bujuk Dira lagi membuat Edo akhirnya mengangguk.


"Oke deals. Om Edo terima sogokan kamu" ucap Edo terkekeh. Ia tidak menyangka anak sambungnya ini bisa menyogoknya dengan mudah.


"Om Ed, urusan Mama akan Dira serahkan sama Om Ed. Dira mau lanjutin makan pisang goreng dulu. Heran deh, Om Ed nemu dimana pisang goreng seperti ini?" ucap Dira kemudian menyuruh Edo untuk pergi.


Edo kembali terkekeh melihat tingkah anak sambungnya. Ia bangkit dan berjalan mendekati Widya. Edo merangkul pinggang Widya dan menggiringnya keluar dari ruang kerja Dira.


"Apa-apan sih Ayah???" ucap Widya sedikit memberontak dari rangkulan Edo.


"Sssttt... Mama mau nonton bioskop?" tanya Edo.


"Nggak!!!"


"Makan di restoran mahal?"


"Nggak!!!"


"Beli tas kremes kayak punya artis idola Mama?


"Nggak!!! Eh.. iyaaaaa" teriak Widya segera meralat.


"Kalau mau tas kremes, Mama harus ikutin kemauan Dira" tawar Edo membuat Widya kembali kesal.


Widya diam. Ia kembali membalikkan badannya.


"Mama... Mama... tas kremes lho. Mama dari dulu kan pengen banget beli tas itu. Kalau Mama setuju, kita langsung berangkat sekarang" bujuk Edo membuat Widya akhirnya mengangguk.


Dira menganga melihat Edo yang berhasil membujuk Widya dengan mudahnya. Dira mengumpat kesal. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Jika membujuk Mamanya semudah dan semurah itu, untuk apa Dira menyogok Edo dengan sebidang tanah? Rugi, Dira benar-benar merasa rugi.

__ADS_1


__ADS_2