Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 18


__ADS_3

“Kiara, kau itu milikku. Tidak ada seorang laki-laki pun yang boleh dekat denganmu. Aku biarkan dulu kau bersamanya karena aku harus menyelesaikan urusanku dengan lelakimu disini dan foto ini sepertinya akan membantuku melancarkan semuanya"


\_\_\_\_\*\*\*\_\_\_\_\_


Elang mengernyitkan dahinya ketika sebuah pesan berantai masuk melalui aplikasi hijaunya. Nomor tidak dikenal, tanpa foto profil. Nomor itu mengirimkan beberapa foto yang memang tidak langsung terunduh secara otomatis, sesuai pengaturan yang diatur Elang.


Elang menekan pilihan unduh agar dapat melihat dengan jelas foto apa yang diterimanya. Tak lama satu persatu foto yang ia unduh mulai nampak dengan jelas.


Degggg.....


Jantung Elang serasa dihujani timah panas ketika foto pertama mulai jelas. Mata Elangnya memerah panas dengan mulut yang terus menganga. Elang tak mampu mengeluarkan satu katapun dari mulutnya, kerongkongannya seperti tersumbat kayu yang berduri.


“Tidak mungkin" batin Elang dalam hati.


Foto-foto lainnya mulai terbuka dan membuat nyeri di hati Elang semakin terbuka juga. Wajah Elang langsung memucat, dengan geram Elang melempar ponselnya pada cermin besar di hadapannya.


Elang berteriak, berteriak sekencang mungkin meluapkan amarahnya. Tak puas dengan ponsel yang ia lempar, Elang mengambil kursi kayu dan kembali melemparnya dengan asal, kali ini jendela kamar Elang menjadi korban patah hati Elang.


Kegaduhan yang dibuat Elang tentu saja mengagetkan seisi rumah yang saat itu tengah bersiap-siap memulai aktifitas. Ale dan Aisha yang berada di kamar mereka langsung berlari berhamburan. Beberapa pembantu mereka juga terlihat berlari ketakutan menuju kamar Elang.


“Ambil kunci cadangan kamar Elang!” perintah Ale pada salah satu pembantunya.


Prangggg....


Kembali terdengar suara kaca pecah. Aisha me re mas lengan Ale dan memberikan isyarat agar Ale segera melakukan tindakan. Suara gaduh kembali terdengar dan bertambah kencang.


“Sial !! dia mau membuat rumahku hancur!” umpat Ale.


Tanpa menunggu lama Ale mendobrak pintu kamar Elang.


Brakkkkk........


dengan sekali tendang, Ale berhasil membuka pintu kamar Elang. Aisha dan beberapa pembantu lainnya segera berhamburan masuk ke kamar Elang.


Ale mengamati keadaan kamar keponakannya itu yang sudah tidak bisa ia tolerir. Pecahan kaca dimana-mana, bau asap rokok dan alkohol, beberapa botol minuman keras juga berserakan. Entah mungkin Elang benar-benar sudah gila, pekik Ale. Ale menatap geram ke arah Elang yang duduk berlutut menangis.


Plakkk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Elang. Aisha dan beberapa pembantu Ale sampai berteriak melihat apa yang dilakukan oleh Ale. Aisha segera menarik tangan Ale namun segera dihempas Ale.


“Sudah berani kau menghancurkan rumahku? Dasar anak tidak tahu diuntung!!!” umpat Ale.


Elang tak berkutik, ia seperti patung yang siap disiksa kapan saja oleh Ale.


Buggg...


buggg..

__ADS_1


buggg...


Bogem mentah Ale berhasil mengenai wajah Elang. Aisha menjerit dan menutup matanya, dia tak kuasa melihat adegan di hadapannya. Elang yang memang sudah tak bertenaga langsung tersungkur dan tergeletak di lantai.


“Dasar anak tidak berguna!!! Laki-laki lemah!! Baru ditinggal perempuan saja kau hancur seperti ini!!!” umpat Ale lagi.


“Mas....!!!” teriak Aisha.


Ia mencoba menahan Ale agar tidak berbuat kasar lagi terhadap Elang. Aisha sangat paham Elang sedang butuh teman dan perhatian bukan amarah. Elang sedang mengalami depresi, kekerasan akan membuatnya semakin parah.


“Bunuh Elang saja, Om. Elang sudah tidak mau hidup lagi" ucap Elang lirih menahan sakit di jiwa dan raganya.


“Elang...!!! jangan berkata seperti itu!!!” Aisha menghampirinya, mengusap wajah Elang yang sudah tampak layu. Mata elangnya meredup, tak sesuai lagi dengan namanya.


“Oke kalau kau memang mau mati"


Ale keluar dari kamar Elang dan kembali lagi dengan membawa senjata apinya.


“Mas....kau sudah gila!!!" teriak Aisha.


“Dia yang minta dan aku akan mengabulkannya" Ale bersiap menarik pelatuknya.


Aisha bergerak cepat melindungi Elang dengan badannya. Aisha tidak mau terjadi pertumpahan darah di rumah ini.  


“Jangan, Mas Ale!!” pinta Aisha dengan badan yang gemetar.


Aisha tetap tak bergeming. Beberapa pembantu Ale malah membantu Aisha menutupi Elang.


“Kalian semua sudah bosan bekerja disini??? Minggir atau kalian semua saya tembak! ” ancaman Ale rupanya tidak mereka gubris.


Dengan berurai air mata, Aisha dan beberapa pembantu Ale semakin erat melindungi Elang. Ale menyeringai. Rupanya dia tidak main-main dengan ucapannya. Tangannya sudah bersiap menekan pelatuk senjata apinya.


“Tahan Ale! Apa yang akan kau lakukan..???” seorang laki-laki dan wanita paruh baya muncul di depan pintu kamar Elang.


“Elang....!!!” teriak si wanita paruh baya.


Dia kemudian berlari menghampiri Elang yang sedang dilindungi Aisha dan pembantunya. Dengan cepat mereka menyingkir, memberikan ruang bagi wanita itu melihat Elang.


Ale menurunkan senjata apinya.


“Untung kalian datang tepat waktu. Andai kalian terlambat, aku pasti bingung mau menembak kemana" ucap Ale santai.


Aisha berlari dan langsung merapatkan tubuhnya dalam pelukan Ale. Tangis Aisha semakin pecah. Sebenarnya ia bersyukur Ale tidak jadi menembak Elang. Aisha tidak bisa membayangkan jika benar-benar terjadi pertumpahan darah disini. Dirinya pasti akan mengalami trauma berat.


“Kau kenapa? Kau pikir aku benar-benar akan melakukannya?" ucap Ale terkekeh.


“Apa-apan kau Ale? kau mau membunuh anakku?" ucap Sandra yang tak lain adalah mamanya Elang.

__ADS_1


“Coba saja kalau kau berani melukai Elang sedikit saja, ju ni or mu itu aku tembak balik" ancam Robert, papanya Elang.


Ale terkekeh. Ngeri juga ancamannya, pikir Ale.


Sandra menatap wajah anaknya. Ada raut penyesalan dalam dirinya. Bertahun-tahun Sandra menitipkan Elang pada Ale, adiknya, tanpa Sandra tahu perkembangan Elang.


Ya sejak Elang berusia tujuh tahun, Sandra dan Robert menyerahkan Elang pada Ale. Mereka berdua harus terbang ke Spanyol karena mengurus perusahaan mereka yang baru saja mereka rintis. Elang tidak mereka bawa karena saat itu kondisi Elang tidak sehat.


Elang terlahir dengan kelainan jantung. Dirinya sering sakit-sakitan. Oleh sebab itu Elang tak pernah dijinkan keluar rumah karena dia bisa saja merasakan sakit secara tiba-tiba. Namun setelah beberapa kali operasi dan mendapatkan donor jantung yang cocok, Elang bisa hidup normal sampai sekarang.


Elang tetap memilih tinggal bersama Ale meskipun keadaannya sudah sehat. Ia merasa nyaman tinggal di indonesia sehingga merasa enggan untuk menyusul kedua orang tuanya di Spanyol.


“Anakmu patah hati. Sudah aku tawarkan banyak wanita, tetapi dia tetap tidak mau" ucap Ale asal.


“Siapa perempuan yang berani membuat anakku seperti ini?" tanya Sandra geram.


“Jangan salahkan yang perempuan, Mbak. Anakmu saja yang bodoh" ucap Ale sambil tertawa.


Sandra dan Robert hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ale.


“Kalau sudah begini sepertinya aku harus bertindak" ucap Robert.


“Harusnya dari dulu, Mas” sambar Ale, mencibir iparnya.


“Maksudmu, Mas?" tanya Sandra pada Robert.


“Kita bawa Elang ke Spanyol. Sudah saatnya dia mengurus perusahaan kita di sana" ucap Robert mantap.


“Saya setuju. Lebih cepat lebih baik. Aku juga sudah lelah menjaganya ” ucap Ale kembali terkekeh. Rupanya Ale sangat senang menggoda kakak dan iparnya itu.


Sandra mengangguk, menandakan dirinya juga sepakat dengan ide suaminya. Robert segera memanggil beberapa pengawalnya dan menyuruh mereka membawa tubuh Elang keluar. Siap dan sigap mereka mengangkat Elang dengan hati-hati.


“Eh..eh.. mau di bawa kemana anak itu?” tanya Ale keheranan ketika melihat Robert bergerak dengan cepat.


“Tentu saja aku akan membawanya kembali ke Spanyol. Katamu lebih cepat lebih baik" jawab Robert enteng dan itu berhasil membuat Ale menatapnya tak percaya.


“Ya nggak detik ini juga kan Mas? Kita belum duduk, ngopi, makan atau apalah” tawar Ale yang dijawab gelengan kepala oleh Robert.


“Kami sibuk.Terima kasih sudah merawat Elang selama ini. Kami pamit" ucap Robert kemudian berlalu diikuti Sandra yang mengekor di belakangnya.


Ale dan Aisha dibuat takjub dengan tingkah orang tua Elang. Baru juga tiba di Indonesia sudah berangkat lagi ke Spanyol. Mereka masih berdiri mematung, heran, mengapa suasa tegang yang tadi tercipta malah berganti suasana canggung dan konyol seperti ini?


Ale dan Aisha melangkah keluar rumah dan benar saja Robert dan rombongannya sudah tidak nampak. Ale menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Dasar gila kerja!” umpat Ale.


mana nih like sama komentarnya??? :)

__ADS_1


__ADS_2