Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 53


__ADS_3

Dua minggu kemudian....


Kediaman Alexander


"Wih.... keponakan Om Ale ganteng banget" kata Ale memuji sekaligus menggoda Elang.


Elang hanya melirik, tak membalas godaan Ale. Saat ini Elang lebih memilih menyelesaikan tampilannya dari pada meladeni Ale yang selalu menggodanya.


Bagaimana tidak? Sejak dua hari yang lalu, Ale tak pernah absen menggodanya. Setiap berpapasan dengan Elang, Ale akan langsung melancarkan aksinya entah di rumah maupun di kantor. Hal itu tentu saja membuat Elang kesal sekaligus malu.


Seperti kesepakatan antara Dira dan orang tua Elang, hari ini akan diadakan pertunangan Elang dan Kiara. Acara akan dilaksanakan di kediaman Kiara. Sejak pagi, Elang sudah mengecek segalanya. Mulai dari barang-barang seserahan, cincin dan tentu saja penampilan. Elang ingin tampil sempurna di hari spesialnya ini. Tak ada cela, karena Elang ingin Kiara terpesona dengannya hingga tak mau berkedip.


"Dih... senyum-senyum nih bocah. Sudah nggak sabar ya?" goda Ale lagi.


Ale menggerakkan kedua alisnya sembari menyenggol lengan Elang.


"Apa sih, Om? Ganggu aja! Nggak bisa lihat orang senang," gerutu Elang. Ia masih sibuk menyisir rambutnya, mengubah berbagai macam model dengan gel yang entah sudah berapa kali ia pakai.


"Sebentar lagi keinginanmu terwujud" ucap Ale yang dibalas anggukan Elang.


"Om berharap perjodohan ini memang takdir Tuhan"


"Elang harap juga begitu, Om. Meskipun sedikit ragu" jawab Elang sekenanya.


"Kau harus sabar. Mungkin Ara tidak bisa langsung ditaklukkan. Setidaknya dengan pertunangan ini, ada jalan untuk kalian untuk saling mengenal lagi. Ingat Elang, jangan terlalu cuek!"


"Elang takut Ara masih saja tidak bisa membuka hatinya untuk Elang," ucap Elang sedih.


Bukan tanpa alasan Elang mengatakan begitu. Sejak hari pertama mereka bertemu sampai detik-detik mereka akan bertunangan, hubungan mereka datar-datar saja.


Elang sudah mencoba mencairkan suasana antar mereka berdua. Namun, Kiara selalu saja mencoba menepisnya. Hal itulah yang membuat Elang ragu akan kemajuan hubungannya.


"Sudah jangan banyak pikiran. Semua sudah menunggu kita di bawah"

__ADS_1


Ale dan Elang segera keluar dari kamar dan bergabung dengan Aisha dan orang tua Elang. Mereka semua tampak sumringah menyambut hari bahagia Elang bahkan Sandra dan Aisha sudah berdandan sejak pagi-pagi buta agar bisa tampil maksimal. Mereka berlima segera masuk ke dalam mobil milik Robert. Supir pribadi Robert segera melajukan mobil menuju kediaman Kiara.


Sementara itu di kediaman Kiara. Kiara sedang duduk di depan cermin dengan wajah ditekuk. Saat ini Kiara sedang di make up oleh salah satu make up artis terbaik di Jakarta. Tak ada senyum yang nampak di bibir Kiara. Ekspresinya datar. Kiara kembali gundah. Sejenak terlintas ide untuk kabur. Namun, Kiara sadar jika ia kembali berulah maka Dira akan tidak segan -segan menghukumnya.


"Non.... kusut amat mukanya" tegur perias Kiara, seorang laki-laki melambai dengan suara sedikit sengau.


"Non kan mau tunangan kok kusut sihhhh... ??? harusnya Non ba ha gi ah...ah..ah.." ucapnya dengan de sa han yang membuat Kiara semakin kusut.


"Apa Non dijodohkan sama tuan tanah yang sudah peyot dan kejam? atau dijodohkan dengan laki-laki bulukan?" celoteh perias itu lagi membuat Kiara ingin sekali menyumpal mulutnya dengan kuas.


"Apa sudah selesai?" tanya Dira yang masuk tiba-tiba ke kamar Kiara. Dira tersenyum ketika melihat adiknya sudah kinclong.


Kiara menoleh ke arah Dira dengan tatapan mata mengiba. Perlahan butiran bening mulai memburamkan padangan Kiara. Dira menarik nafas dalam. Ia segera menghampiri adiknya. Kiara rupanya masih ingin membuat drama pada detik-detik terakhir.


Melihat kedatangan Dira, si perias segera menyingkir, tugasnya merias wajah Kiara sudah selesai. Perias itu tak lupa memberikan hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kiara dan Dira.


"Lu masih belum menerima hal ini?" tanya Dira.


Ia membelai rambut adiknya dengan lembut. Merapikan beberapa anak rambut Kiara yang memang dibiarkan terurai.


Kiara memeluk Dira. Ia menumpahkan air matanya di dada Dira. Dira tahu ini memang sangat sulit untuk adiknya. Tapi bagaimanapun, Dira tidak mau Kiara terus-terusan mengharapkan seseorang yang jelas-jelas tak bisa dimilikinya. Dira juga tidak mau Kiara mendapatkan pasangan yang tidak jelas seperti Rio. Dira menginginkan yang terbaik untuk adiknya meskipun Kiara belum memahami niat baiknya.


"Lu belum bisa, bukan nggak bisa. Cinta itu akan datang karena biasa. Pelan-pelan. Gue yakin lu bisa menjalani ini semua" ucap Dira sembari menepuk- nepuk bahu adiknya, menenangkan emosi Kiara yang memang gampang meledak-ledak.


Dira cukup bersyukur, Kiara hanya menangis tidak ada acara mengamuk histeris seperti biasanya.


"Gue itu jodohin lu ama perjaka ganteng, bukan aki-aki peyot atau mafia kejam. Lu kenapa sih kok sampai nangis begini?" goda Dira.


"Cobalah ikuti alurnya! Jangan melawan! Tuhan punya banyak rahasia yang kita tidak tahu seperti apa. Kiara selama ini selalu melawan arus. Sekarang Kiara berubah, ikhlaskan dan ikuti alurnya" nasehat Widya begitu masuk ke kamar Kiara.


Widya memeluk Kiara, merapikan make up Kiara yang sedikit berantakan. Dira tersenyum melihat interaksi Widya dan Kiara. Diam-diam Dira merekam interaksi mereka. Moment indah ini akan menjadi kenangan bagi Kiara suatu saat nanti.


"Anak cantik Mama jangan menangis! Pangeran berkuda sudah datang. Ayo kita keluar"

__ADS_1


Widya menuntun Kiara, dibelakangnya Dira berjalan dengan gagah. Keluarga Elang tiba dan Edo yang didapuk sebagai penerima tamu oleh Dira, menyambut mereka di depan.


Edo mempersilakan keluarga Elang masuk. Mereka bercengkrama dengan hangat. Pembawaan Edo yang tenang dan humble, sangat memudahkan komunikasi antar kedua keluarga itu. Mereka berbincang mengenai topik-topik ringan yang diselingi dengan gelak tawa.


Obrolan mereka terhenti ketika Kiara tiba. Elang segera berdiri, menatap ke arah Kiara tanpa berkedip. Tanpa sadar Elang mengulurkan tangan kanannya hendak bersalaman dengan Kiara. Ale menepuk jidatnya melihat tingkah keponakannya itu. Ia segera menarik tangan kiri Elang agar kembali duduk.


"Sepertinya sang calon pria sudah tidak sabar, seharusnya langsung nikahkan saja mereka tidak perlu acara tukar cincin begini" ucap Dira sambil terkekeh di belakang Widya.


Kiara menyikut lengan Dira agar berhenti tertawa sedangkan Elang, ia menunduk malu mengingat hal bodoh yang baru saja ia lakukan.


"Jangankan sang calon pria. Saya saja juga tidak sabar mau segera mantu" ucap Widya sembari menyalami Sandra dan Robert serta Ale. Widya tak lupa bercipika cipiki dengan Sandra.


"Apalagi calon mantunya ganteng kayak begini ya, Mamae....?" celoteh Dira yang kembali dibalas sikutan keras dari Kiara.


Dira meringis tapi bukan Dira namanya jika ia jera mengusili adiknya lagi.


"Lihat, Mamae... anak perawan Mamae memberi kode biar langsung saja" ucap Dira yang membuat semua orang disana tertawa.


"Baiklah Tuan Robert dan Ibu beserta keluarga. Saya sebagai perwakilan dari keluarga Kiara mengucapkan selamat datang di rumah kami yang sederhana ini. Mohon maaf jika kami hanya menyambut Bapak Ibu dengan sederhana seperti ini. Kami sebagai orang tua dari pihak Kiara merasa sangat tersanjung dengan niat baik ini dan berharap semoga bisa dilancarkan untuk tahapan selanjutnya" ucap Edo memberi sambutan.


"Jadi langsung diterima nih, Om?" tanya Dira pada Edo


"Terus mau bagaimana lagi, Dira. Apa kamu masih ada pertimbangan lain?" ucap Edo tak mengerti.


"Kirain si Elang mau di ospek dulu, Om. Hahahahaha" ucap Dira yang berhasil membuat semua orang tertawa.


Widya meminta acara segera dilanjutkan. Sesuai arahan Edo, Elang berdiri diikuti dengan Kiara. Posisi mereka berhadapan. Elang mengambil kotak cincin dari saku celananya.


Dira menyenggol Kiara agar mengulurkan tangannya. Dengan malas, Kiara menuruti perintah Dira. Elang bisa menangkap jika Kiara belum sepenuhnya menerima pertunangan ini. Namun, Elang sudah bertekad akan terus berjuang sampai hati Kiara kembali luluh padanya.


Elang membuka kotak cincin itu, mengambil cincin dan segera menyematkan pada jari manis Kiara. Semua orang tersenyum bahagia ketika cincin itu mendarat sempurna. Kiara mau tidak mau menampilkan senyum palsunya di hadapan mereka. Walau sebenarnya hatinya ingin menangis saat itu juga.


Acara dilanjutkan dengan sesi foto keluarga dan makan malam. Saat sesi foto, Dira kembali menjaili adiknya dengan menyuruh Elang dan Kiara dengan berpose mesra berkali-kali. Sekalian buat prewedding, kata Dira.

__ADS_1


Dira tak henti menahan tawanya melihat Kiara berusaha menutupi rasa kesalnya ketika di foto. Dira meminta agar Elang dan Kiara dipotret sebanyak mungkin. Dira bisa melihat bagaimana Kiara mencoba tersenyum sampai kering.


Dira tak bisa menahan tawanya. Ia sampai menjauh dari mereka agar tidak ketahuan jika sedang tertawa melihat kekesalan Kiara.


__ADS_2