Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 82


__ADS_3

"Pernikahan kalian saya batalkan!!!"


Suara melengking dari nenek Elang terasa seperti hentaman ribuan panah timah panas ke jantung Kiara. Kiara ingin berteriak tapi entah mengapa pita suaranya seperti menghilang. Kiara kembali menepuk-nepuk pipinya masih berharap bahwa ini adalah mimpi tidur siangnya. Namun, inilah faktanya. Ia merasakan sakit.


Kiara mundur perlahan dan segera berlari masuk ke dalam rumah. Kiara menuju kamar Dira, membuka pintunya dengan cepat. Untung Kiara tidak mencabut kuncinya sehingga ia bisa membuka pintu kamar Dira dengan cepat.


Brakkkk


"Yes, akhirnya dibuka juga!!!" sorak Dira kegirangan.


"Ikut gue!"


Kiara menarik tangan Dira dan membawanya berlari menuju taman di samping rumahnya. Dira yang baru saja merasa senang tentu saja hanya bisa melongo sambil terus berlari mengikuti langkah adiknya.


"Oh, ternyata selain ada si bule. Kau juga punya pria simpanan lain. Elang cucuku.... malang sekali nasibmu. Mengapa kau mau dijodohkan dengan gadis seperti ini?," pekik nenek ketika melihat Kiara tiba bersama Dira.


"Mama, dia kakak Kiara bukan laki-laki simpanan," kata Robert menjelaskan.


Dira melotot ketika mendengar tuduhan nenek-nenek yang entah Dira tidak tahu siapa dia. Dira menoleh ke arah Kiara, memberi kode agar Kiara menjelaskan siapa nenek itu dan apa yang terjadi. Kiara tak menjawab, ia lebih memilih mengangkat bahu dan menunduk.


"Maaf Pak Sandra dan Bu Robert," sapa Dira memulai pembicaraan.


"Ssttt... Kadir, kebalik," bisik Kiara sembari menepuk jidat Dira.


"Upsss... Maaf! Maksud saya Pak Robert dan Bu Sandra. Lalu nenek ini?," tanya Dira.


"Maaf Tuan Adiraka....." ucap Robert tetapi langsung dipotong nenek Elang.


"Saya Syarmila, nenek dari Elang," kata nenek Elang ketus dengan mata yang memandang sinis ke arah Dira.


"Oh.. Nenek toh. Saya Adiraka, CEO paling tampan dan rupawan sejagat raya. Saya juga calon kakak ipar dari cucu nenek yang bernama Elang," kata Dira memperkenalkan diri dengan jumawa.


"Ciiihhhh... CEO katanya? mana ada seorang CEO menyambut tamu terhormat seperti saya dengan memakai kolor seperti itu? CEO macam apa itu?," Nenek Mila membuang muka.


Deg.


Dira menunduk dan matanya kembali melotot melihat kolor yang sedang ia kenakan. Dira menoleh ke arah Kiara yang saat ini sudah menutup wajah dengan kedua tangannya. Sial!!! Harga diri Dira jatuh di depan nenek-nenek.


"Ehem...Ehem... Nenek Syarmila, ini kolor bukan sembarang kolor. Saya membelinya di San Fransisco. Bayarnya pakai dollar lho. Jadi jangan menatap remeh kolor mahal saya," ucap Dira membela diri sedangkan Nenek Mila sepertinya tidak peduli dengan perkataan Dira.


"Ngomong-ngomong kenapa kalian berkumpul disini? Bukankah ruang tamu di rumah saya ada disana?," tunjuk Dira ke arah dalam.


"Maaf Tuan kalau kami main masuk saja. Kami hanya...," kembali ucapan Robert terpotong.


"Tidak usah basa-basi, Robert. Katakan jika kita kesini karena ingin membatalkan pernikahan Elang dengan gadis itu" ucap Nenek Mila emosi.


"Ap.. ap...apa???!!!! Nenek?? apa maksud perkataanmu tadi?," tanya Dira terkejut.


"Apa kau tuli hah???," bentak Nenek Mila.


"Pak Robert, Bu Sandra, Apa-apaan ini???," tanya Dira meminta penjelasan. Matanya mulai memerah menahan emosi.


"Maaf Tuan Adiraka, sebenarnya kami tidak mau melakukan ini tapi Mama saya tidak setuju dengan pernikahan Elang dan Kiara karena rupanya Mama sudah menjodohkan Elang dengan cucu dari sahabatnya" jelas Robert.

__ADS_1


Dira langsung menegang. Kedua bola matanya mulai nyalang mencari sesuatu yang bisa ia lempar. Tapi sialnya di taman itu hanya tersedia bunga bermekaran yang tak mungkin Dira lempar ke arah Robert.


"H-3 dan kalian membatalkan rencana pernikahan ini??? Sialan!!!" umpat Dira.


"Apa???Batal???"


Widya masuk bersama Edo yang baru saja dijemputnya di Bandara. Widya tadinya hendak ke kamar. Tapi ketika mendengar ribut-ribut di taman samping, membuatnya mengajak Edo ke taman.


"Dira, apa yang kamu katakan? Lalu siapa mereka?," tanya Widya dengan deru nafas yang mulai tak teratur.


Kiara langsung berlari memeluk Widya, menumpahkan rasa sesaknya pada Widya.


"Orang tua Elang dan neneknya. Mereka mau membatalkan rencana pernikahan Elang dan Kiara," ucap Dira malas.


"Apa???? tidak! Tidak! Pak, Bu, Nenek... mari masuk ke dalam dulu. Kita bicara baik-baik di dalam," ajak Widya mencoba bernegosiasi.


"Tidak perlu!!! Buang-buang waktu saja. Keputusanku sudah bulat. Pernikahan ini batal!!!," tolak Nenek Mila tegas.


"Tidak bisa begini, Nenek!!! Semuanya sudah siap. Nenek tidak bisa seperti ini," pekik Widya.


"Kenapa tidak bisa? Terserah saya dong. Lagipula kalian tidak perlu khawatir jika ingin melanjutkan pernikahan anak kalian. Pria bule itu bisa menggantikan cucuku. Tadi kulihat mereka sedang berpelukan mesra," cibir Nenek Mila.


Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal apa yang dikatakan Nenek Mila. Kiara seakan enggan bersuara membela dirinya sendiri dihadapan orang banyak. Kiara tak mungkin berharap Rio membelanya karena Kiara yakin Rio tidak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Nenek pasti salah paham. Pria bule ini saudara kembar Kiara," ucap Dira asal.


"Kau pikir aku bodoh? Mana ada saudara kembar yang satu lokal, yang satu bule? kebohonganmu receh sekali," ucap Nenek Mila kembali membungkam Dira.


"Jangan membuang waktuku lagi, Robert! Aku sudah memutuskan rencana pernikahan ini batal. Permisi!!!"


Robert dan Sandra hanya tersenyum kecut. Mereka menatap kearah Widya sebentar dan ikut pergi meninggalkan rumah Kiara.


"Kiara, Dira apa yang terjadi?," tanya Widya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.


Kiara tidak bersuara, ia malah meremas baju Widya dan menangis kencang.


"Dira nggak tahu. Tadi dikurung sama Kiara. Tiba-tiba saja Kiara datang dan menarik Dira kesini. Nenek itu langsung saja berkata begitu, Mamae," jawab Dira lesu.


Kiara menjauhkan tubuhnya dari Widya dan berlari kencang, masuk menuju kamarnya. Kiara membanting pintu kamarnya dengan kencang sehingga orang-orang yang masih betah berada di taman merasa kaget tak karuan.


Dira menarik nafas panjang. Ia menoleh ke arah Rio dan menyuruhnya pulang. Dira berjalan dengan gontai menuju sofa di ruang tamu.


"Sialan!!!!," umpat Dira sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.


Widya dan Edo menghampiri Dira, duduk berdampingan di hadapan Dira.


"Semua maid kumpul....!!!!" teriak Dira.


Gedubrak....


Gedubrik....


Gedubruk....

__ADS_1


Terdengar langkah terburu-buru dari semua maid yang bekerja di rumah Dira. Jumlah maid yang terdaftar sebanyak 20 orang itu tentu saja menimbulkan kegaduhan di rumah Dira. Mereka langsung berjejer rapi sambil menunduk.


Dira bangkit dari sofa, ia mulai berjalan menghitung jumlah maid di hadapannya.


"Sekarang jawab dengan jujur! Siapa yang mengizinkan tamu tadi masuk ke taman samping? Jawab!" gertak Dira membuat para maid ketakutan.


"Kalian digaji dengan dollar, harusnya kinerja kalian tidak memalukan seperti ini. Kalian tidak memperlakukan tamu dengan sopan malah membiarkan mereka berkeliaran di taman. Siapa yang tadi menerima tamu itu? Jawab!!!" teriak Dira lagi membuat mereka semakin ketakutan.


Salah seorang maid maju. Kepalanya masih menunduk. Ia yang tak lain adalah kepala maid di rumah Dira memilih maju untuk menjawab pertanyaan Tuannya.


"Maaf, Tuan. Kami sedari tadi bekerja disini tidak melihat ada tamu..."


"Lalu bagaimana mereka bisa masuk? Apa mereka bisa terbang ke taman samping tanpa harus masuk dulu kesini?," potong Dira kesal.


"Maaf Tuan, kami lalai" jawab maid serempak.


"Gara-gara kelalaian kalian, saya menemui tamu dengan koloran seperti ini. Harga diri saya sebagai CEO terbaik didunia langsung runtuh. Untung kolor ini saya beli di San Fransisco. Jadi tidak membuat saya malu sekali" ucap Dira.


Widya menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat suasana genting seperti ini, Dira malah membahas masalah kolor. Widya pikir Dira akan memarahi maid karena kasus penting. Tapi kenyataannya malah masalah kolor yang membuat Dira naik pitam.


Widya bangkit dan menarik Dira agar duduk di sofa. Widya menyuruh para maid bubar dan kembali bekerja. Widya kasian melihat mereka yang membuang waktu untuk hal yang tidak penting seperti itu.


"Mamae....." ucap Dira hendak protes.


"Diam!!!" bentak Widya.


"Mama sabar, duduk dulu" perintah Edo yang langsung diikuti Widya.


"Mama, Dira, apa boleh Papa bicara?," tanya Edo yang dibalas anggukan Widya dan Dira.


"Begini, menurut Papa masalah ini muncul karena kesalahan kita sebagai orang tua yang tidak turun tangan langsung. Kita tidak mengenal calon besan kita. Kita tidak ikut terlibat dalam persiapan acara ini. Kita dengan entengnya menyerahkan segalanya kepada Dira yang notabene masih bujangan"


"Om meragukan saya? Jangan lupa kalau saya adalah CEO terbaik di dunia," ucap Dira tak terima.


"CEO terbaik gundulmu!!!," cibir Widya.


"Meskipun kamu CEO terbaik tapi tetap saja kamu masih bujangan, belum berpengalaman. Ini masalah orang tua. Seharusnya kita yang duduk dengan orang tua Elang membicarakan semuanya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pa?," tanya Widya.


"Ayo, kita ke rumah mereka. Kita harus duduk bersama membahas masalah ini. Mereka tidak bisa membatalkan secara sepihak. H-3, pikirkan bagaimana hancurnya perasaan Kiara, Elang dan semua pihak yang sudah mempersiapkan acara ini" ucap Edo yang dibalas anggukan kepala Widya dan Dira.


"Dira, kalau kamu tidak keberatan. Ayo antarkan kami ke rumah Elang sekarang! Masalah ini harus kita selesaikan secepatnya," lanjut Edo.


"Oke, Om! Ayo kita berangkat!"


"Tapi Kiara bagaimana? Mama khawatir dia akan berbuat yang tidak-tidak"


"Tenang saja, Mamae. Nanti Dira akan suruh orang untuk menjaga Kiara," ucap Dira menenangkan Widya.


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita segera berangkat!," ajak Edo yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


**haii readers... mumpung hari Senin, boleh dong bagi Vote nya buat Kiara..

__ADS_1


terima kasih. Lope lope buat kalian**


__ADS_2