
Keluarga Kiara kini sudah berada di kediaman Elang. Semula Dira akan menuju rumah Ale karena setahu Dira disanalah Elang tinggal. Namun, ketika Dira menghubungi Ale untuk menanyakan keberadaan orang tua Elang, Ale berkata bahwa mereka berada di rumahnya. Untung saja, dan berkat Ale pula lah yang memberikan info lokasi rumah Elang, mereka bisa sampai disini. Duduk jejer bertiga di sofa panjang ruang tamu keluarga Elang.
Widya yang berada di tengah, tak henti-hentinya mencubit paha Dira dan Edo secara bergantian. Ia merasa cemas karena sejak tiga puluh menit kedatangan mereka, tak satupun dari tuan rumah yang muncul. Menurut salah satu maid yang tadi mengantarkan minuman untuk mereka, orang tua Elang sedang berusaha membujuk Nenek Mila agar mau menemui mereka.
"Sakit, Mamae...."
Dira meringis ketika cubitan Widya semakin tajam. Sudah tak terhitung berapa kali pahanya menjadi sasaran cubitan Widya. Dira yakin, pasti banyak sekali bekas biru yang muncul akibat ulah mamanya itu.
"Untuk apa kalian kemari?" suara parau khas Nenek Mila terdengar jelas di telinga mereka bertiga. Nenek Mila tengah duduk di kursi roda yang didorong oleh Robert.
"Sudah aku katakan keputusanku sudah bulat. Aku membatalkan rencana pernikahan cucuku dengan putri kalian" ucap Nenek Mila.
Orang tua Elang duduk di sofa, berhadapan dengan keluarga Kiara sedangkan Nenek Mila berada di samping sofa yang diduduki orang tua Elang.
"Maaf, jika kami membatalkan rencana pernikahan ini secara mendadak. Kami salah menerima perjodohan Elang dan Kiara tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga besar" kata Robert dengan nada suara penuh penyesalan.
"Kami juga tidak mau membatalkan pernikahan ini mengingat putra kami sangat mencintai putri kalian. Tapi...." ucapan Robert terhenti. Ia seakan kesulitan berbicara di hadapan orang tua Kiara.
"Tak usah bertele-tele, Robert! Aku membatalkan pernikahan ini karena aku sudah menjodohkan Elang dengan cucu sahabatku sejak mereka masih dalam kandungan. Janji ini tidak mungkin aku ingkari" ucap Nenek Mila.
Edo menoleh ke arah Widya dan Dira, meminta izin untuk berbicara sebagai perwakilan dari mereka. Dira mengangguk karena sebenarnya ia juga malas meladeni Nenek Mila yang judes itu.
"Nenek dan orang tua Elang yang saya hormati. Saya selaku ayah sambung dari Kiara menyayangkan pembatalan acara pernikahan ini. H-3 dan kalian dengan teganya ingin membatalkan acara yang sudah terkonsep rapi bahkan nyaris selesai. Tolong, janganlah karena kepentingan seseorang. Kalian malah memisahkan dua insan yang saling mengasihi"
"Jadi kau bilang ini hanya kepentinganku, hah???" bentak Nenek Mila.
"Tentu saja iya. Semula orang tua Elang sudah sepakat. Namun, tiba-tiba Nenek datang dan ingin membatalkan acara ini dengan alasan perjodohan Elang yang nenek buat dulu. Ini sungguh tidak adil bagi Elang dan Kiara yang menjadi korban atas perjanjian yang nenek buat" kata Edo tidak mau kalah.
Dira mengacungkan kedua jempolnya ke arah Edo, memuji keberanian Edo dalam bernegosiasi dengan Nenek Mila. Tak lupa, Dira juga mendelikkan matanya ke arah Nenek Mila yang masih menunjukkan taring kepadanya.
"Nenek, kita ini sudah tua. Umur kita tinggal menghitung hari. Alangkah lebih bagusnya jika kita melakukan banyak hal baik dalam sisa waktu yang kita miliki. Elang dan Kiara saling mencintai. Sebagai orang tua harusnya kita merestui bukan malah menghalangi" tambah Edo lagi.
"Cakepppppp....!!!!" teriak Dira tiba-tiba dan bertepuk tangan gembira. Rasanya bahagia sekali melihat muka masam Nenek Mila setelah mendengar perkataan Edo barusan.
Widya menyenggol kaki Dira agar berhenti. Widya melotot ke arah Dira sehingga Dira kembali duduk dengan tenang.
"Ma, benar kata Pak Edo. Kita seharusnya merestui Elang dan Kiara" bujuk Robert masih berharap Mamanya luluh.
"Haissshhh....Robert! Kau malah mendukung mereka daripada Mama mu sendiri? Dimana baktimu kepadaku hah?" bentak Nenek Mila yang langsung saja membuat Robert mati kutu.
"Asal kalian tahu. Elang itu cucu kesayanganku. Aku pasti akan memilihkan jodoh terbaik untuknya. Keturunan terhormat seperti kami, pantasnya mendapatkan pasangan yang sepadan"
"Kami kurang sepadan bagaimana, Nek? Kolor saya aja belinya di San Fransisco. Kurang terhormat apa lagi coba?" celetuk Dira yang langsung mendapat pelototan tajam dari Widya.
__ADS_1
"Aku tidak mau berbesan dengan penjual kolor!!!" teriak Nenek yang membuat Edo ingin tertawa tapi di tahannya.
"Kau jangan merasa sepadan dengan kami. Sampai kapanpun adikmu tidak bisa disamakan dengan Lily. Mereka beda jauh bagaikan langit dan sendok" ucap Nenek Mila lagi.
"Lily?" tanya Robert dan Sandra bersamaan.
"Jadi Mama akan menjodohkan Elang dengan Lily?" tanya Robert lagi.
"Lily, yang di kamar tamu?" sambung Sandra.
"Ya. Dia yang aku jodohkan dengan Elang. Aku membawa Lily kemari agar kalian semua tahu. Siapakah gadis yang sudah aku jodohkan dengan cucuku" ucap Nenek Mila tersenyum sinis.
Sandra dan Robert saling menatap tak percaya. Pasalnya mereka memang tidak tahu apa-apa perihal perjodohan ini.
"Lily, cucu dari Maria dan Ramon. Keturunan terhormat, orang terpandang di Spanyol. Hanya dia yang pantas menikah dengan Elang" ucap Nenek Mila kembali merasa jumawa.
"Nek, dengarkan ini! Kiara, adik dari CEO tampan dan rupawan bernama Adiraka. Orang terpandang di Amerika. Meskipun terpandang, kami tetap rendah hati. Jangankan satu Lily dari Spanyol. Seribu Lily dari seluruh duniapun tidak sebanding hebatnya dengan adikku" kata Dira tak mau kalah.
"Jangan sombong anak muda!"
"Nenek duluan yang sombong"
"Dira...!!!"
"Kau sepertinya harus aku kenalkan dengan Lily agar tahu seberapa hebat calon cucu menantu pilihanku" ucap Nenek Mila geram.
Nenek Mila menyuruh salah satu maid untuk memanggil Lily yang sedang beristirahat di kamar tamu. Tidak butuh waktu lama, muncullah seorang gadis berparas cantik berjalan perlahan menghampiri mereka. Gadis itu memakai busana yang sangat terbuka sehingga sangat mengekspose kulitnya yang putih.
Dira menatap Lily tanpa berkedip. Ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Widya.
"Mamae... itu dakocan dari mana? koq wajahnya dempulan semua?," bisik Dira yang membuat Edo yang mendengarnya hampir tersedak.
Lily duduk di sofa yang berada di sisi kanan Dira. Ia tersenyum dan menyapa semua orang disitu dengan bahasa Spanyol.
Dira kembali melirik Lily. Dia mengamati Lily dengan ekor matanya. Tidak ada seincipun yang dilewatkan oleh Dira. Dira memutar kepalanya kembali ke arah Widya.
"Mamae..., lihat tuh pilihannya si nenek. Barangnya implan semua. Semok sih semok, tapi kalau nggak asli buat apa? Mending juga Kiara, meski nggak semok tapi masih asli semua" Dira kembali berbisik pada Widya.
"Diam, Dira!!!" Widya menegur Dira dengan berbisik juga.
Dira tak menurut. Dia malah memundurkan kepalanya dan mencolek punggung Edo.
"Om, kalau cewek model begini kira-kira ketok magic nya dimana ya?" tanya Dira sambil berbisik. Pertanyaan Dira itu tentu saja terdengar oleh Edo. Edo tidak menjawab karena ia sibuk menahan tawanya.
__ADS_1
Nenek Mila mulai memperkenalkan Lily pada keluarga Kiara. Ia memuji-muji kehebatan Lily yang menurut Dira tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Kiara. Nenek Mila menjelaskan silsilah keluarga Lily yang tentu saja membuat Dira mengantuk. Hingga akhirnya Nenek Mila meminta Lily mencium pipinya sebagai ungkapan rasa sayangnya.
"Om... Om... lihat! Itu bibirnya tebal banget. Habis ditambal dibengkel mana ya?" bisik Dira lagi dan kali ini pertanyaan Dira sukses membuat Edo tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Edo mengiyakan apa yang dikatakan Dira. Sejak tadi Edo sudah berusaha menahan tawanya. Namun, pertahanannya kali jebol akibat gibahan Dira yang tak kunjung usai.
Widya sangat gemas melihat tingkah Dira yang semakin menjadi. Ia menginjak kaki Dira agar diam. Dira mengaduh dan memilih untuk diam mengikuti perintah Mamanya.
"Apa yang lucu?" tanya Nenek Mila tiba-tiba ketika melihat Edo tertawa terbahak-bahak.
"Tidak, Nek! Tidak ada apa-apa" jawab Edo masih berusaha menghentikan tawanya.
Widya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nek, Bagaimana kalau Lily dijodohkan saja dengan Dira. Putra saya ini masih single lho, Nek" kata Widya memberikan usul.
"Tidak...!!!!" ucap Nenek dan Dira bersamaan.
"Mamae!!! Dira ini tampan dan rupawan masak mau dijodohin sama perempuan dempulan kayak gini?" protes Dira yang lagi-lagi membuat tawa Edo meledak.
"Apa maksud kamu? Kamu bilang kalau Lily adalah perempuan dempulan?" Nenek Mila kembali berteriak.
"Ya, eh.. nggak. Eh.. emang iya nenek. Dia udah kayak dakocan. Wajahnya dempulan semua" ucap Dira ceplas-ceplos membuat Widya kini memukul mulutnya berkali-kali. Andai saja Widya membawa jarum dan benang, pasti Widya sudah menjahit mulut Dira sejak tadi.
Nenek Mila semakin naik pitam. Iya tidak terima dengan ucapan Dira. Nenek Mila berdiri dengan bantuan tongkat yang sejak tadi dipegang *mai*d di belakangnya.
"Kalian semua sungguh tidak sopan!!! Berani- beraninya kau menghina Lily!!! Sepertinya keputusanku sudah tepat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Pernikahan ini Batal!!!!!"
"Mama..!!!" teriak Sandra dan Robert.
Nenek Mila tidak bergeming. Ia meminta Lily membawanya pergi dari ruang tamu. Lily mengangguk, ia segera mendorong kursi roda dan membawa Nenek Mila pergi.
Widya memukul bahu Dira dengan keras. Gara-gara mulutnya yang bocor, Nenek Mila naik darah dan benar-benar membatalkan pernikahan Elang dan Kiara. Harusnya Widya tidak mengajak Dira. Jika sudah begini bagaimana nasib anak bungsunya?
"Pak Robert, Bu Sandra..." panggil Widya.
" Maaf, sepertinya keputusan Mama sudah bulat. Kami tidak bisa membujuknya" ucap Robert menunduk.
Edo mengangguk. Ia bangkit dan mengajak Widya dan Dira untuk pulang. Sepertinya usaha mereka untuk datang ke rumah Elang sia-sia.
"Papa tetap akan cari cara. Mama tenang saja" kata Edo ketika mereka sudah berada di mobil.
jangan lupa like, komen, vote, gift atau apalah.. hahahaha. Yang mau tahu visualnya Lily.. nih Author kasik lihat.
__ADS_1