Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
EXTRA PART - EMPAT TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

Dira mengerang kesal ketika merasa tidurnya terusik. Ia merasakan tarikan di kedua tangannya yang tak berkesudahan. Dira sebenarnya ingin bangun. Namun, kedua matanya tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Netranya lebih memilih terus tertutup mengacuhkan teriakan dua bocah yang saat ini menarik kedua tangan Dira bergantian.


"Uncle Dir.... bangun! Akila minta uang buat beli es krim" rengek Akila sembari menarik tangan kanan Dira.


"Daddy, wake up! Dio juga mau minta uang buat beli coklat" ucap bocah laki-laki yang menarik tangan kiri Dira.


Dira pura-pura mendengkur. Ia masih mengacuhkan rengekan dua bocah yang terus saja menarik tangannya. Dira sengaja mendengkur sekeras mungkin agar mereka mengira jika ia benar-benar tidur.


Dua bocah itu menghempaskan tangan Dira bersamaan. Mereka saling tatap dengan bibir yang mengerucut dan tangan bersedekap.


Akila, bocah perempuan yang lebih tua beberapa bulan dari Dio mulai bangkit. Ia berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang nampak sedang berpikir. Sedangkan Dio, bocah laki-laki itu memilih duduk bersila dengan raut wajah yang dibuat serupa dengan Akila.


"Dedek Dio, Daddymu apakah sudah mati?" tanya Akila asal. Ia masih berjalan mondar - mandir mencari ide untuk membangunkan Dira, unclenya.


"Dio tidak tahu, Kakak Kila. Tadi waktu Dio pipis, Daddy masih duduk sambil minum kopi" jawab Dio polos.


Akila mengangguk-ngangguk. Ia kembali berjalan mendekati Dira dan menjewer telinganya. Dio yang memang suka meniru tingkah Akila tentu saja langsung melakukan hal yang sama.


"Telinga Uncle Dir tidak copot. Kakak pernah liat kalau orang mati dijewer, nanti telinganya bisa copot" ucap Akila yang tentu saja membuat Dira ingin tertawa tapi ia tahan.


"Daddy hanya tidur, Kakak apa tidak dengar itu suara kodok Daddy kenceng banget" ucap Dio.


"No, No, No, Dio. Kamu salah. Itu bukan suara kodok tapi suara orang tidak punya duit" ucap Akila bersungut kesal.


"Daddy aku banyak uang, kakak. Dio sering nemu uang koin di saku baju Daddy" ucap Dio tak terima dengan ucapan Akila.


Akila kembali berfikir. Bocah berumur empat tahun itu rupanya sedang memeras otak untuk membangunkan Dira yang sedari tadi tidak bergerak meskipun sudah ia tarik tangannya dan menjewer telinganya.


"Sepertinya Uncle Dir pingsan" ucap Akila membuat praduga sendiri.


"Daddy sepertinya tersandung, Kakak. Lihat itu posisi tidurnya nyungsep" ucap Dio polos.


Dira kembali harus menahan tawa mendengar ucapan jagoannya. Dira memang sengaja memilih tidur di atas karpet dengan posisi badan tengkurap. Rasa lelah akibat perjalanan udara dari New York ke Jakarta membuatnya langsung ambruk ketika tiba di kamarnya.


"Akila punya ide bagaimana caranya agar Uncle Dir bangun" ucap Akila dengan jari telunjuk mengacung di samping kepalanya.


"Bagaimana caranya Kakak?" tanya Dio polos.


"Pakai minyak telon. Sebentar Kakak akan ambil di dapur. Dedek Dio jaga Uncle Dir, disini tidak aman. Banyak kucing berkeliaran" perintah Akila yang dibalas anggukan kepala oleh Dio.


Akila segera berlari keluar dari kamar Dira. Ia menuju dapur. Dio yang mendapat tugas untuk menjaga Dira, benar-benar menjalankan tugasnya. Ia berjalan mondar-mandir layaknya seorang tentara yang sedang menjaga tawanannya.


"Itu minyak telon, Kak?" tanya Dio ketika melihat Akila datang dengan membawa botol minyak di tangannya.


Akila mengangguk. Ia kemudian membuka tutup botol minyak dan menuangkan pada tubuh Dira. Dira yang merasa tubuhnya dijatuhi benda cair yang lengket, tentu saja kaget dan segera bangkit.


"Asyeeemmmmmmm.....!!!! Apa-apaan ini???? Akila... Dio... kenapa nyiram Daddy sama minyak goreng??????" teriak Dira yang malah disambut tepuk tangan kedua bocah itu.


"Kakak hebat!!! Daddy sudah sadar" kata Dio berseru senang.


"Sadar...sadar... kalian pikir Daddy kenapa hah?" bentak Dira yang kembali disambut tepuk tangan kedua bocah itu.


"Kakak hebat! Baru satu botol Daddy sudah bisa teriak dari pingsan" ucap Dio lagi.


"Diooooo!!!! Akilaaa....!!!!" teriak Dira.


"Uncle Dir....!!!"


"Daddy...!!!"


Teriak Akila dan Dio bersamaan. Mereka tidak mau kalah dengan Dira yang berteriak memanggil namanya.


Pletak..!!!


Sebuah botol susu formula terbang, masuk ke kamar Dira melewati kepala Akila dan Dio. Namun, apesnya botol susu malah sukses mendarat di kepala Dira sehingga membuatnya kembali berteriak.


"Kadir, berhenti berteriak! Anak gue nangis denger suara cempreng elu" kata Kiara. Ia menggendong anaknya yang sedang menangis karena terkejut saat mendengar teriakan Dira.


Ya, Kiara baru saja melahirkan anak keduanya seminggu yang lalu. Bayi laki-laki itu lahir setelah Akila berumur empat tahun. Kiara memang sengaja memberi jarak antara Akila dan adiknya karena ingin fokus terlebih dahulu pada Akila.

__ADS_1


"Lu... ke... na... pa...?" tanya Kiara terbata. Ia menatap Dira yang kini penuh dengan minyak goreng.


"Ini ulah anak dan keponakan lu???? Gimana gue nggak teriak kalau mereka nyiram gue pakai minyak goreng????" teriak Dira lagi.


Kiara menatap Akila dan Dio secara bergantian. Ia meminta jawaban atas pertanyaan Dira kepada dua bocah itu yang sedang menari-nari kegirangan itu.


"Uncle nyungsep, Mama. Pingsan. Akila ke dapur ambil minyak telon biar Uncle bangun" ucap Akila masih bersorak senang.


"Nyungsep... nyungsep. Uncle lagi tidur, Akilaaaa!!! Lagipula itu minyak goreng bukan minyak telon" bentak Dira yang langsung dibalas tabokan Kiara di mulutnya.


"Ngomong sama anak-anak itu jangan teriak-teriak! Pelan-pelan. Mereka nggak budek" ucap Kiara memperingati.


"Gimana gue nggak teriak, Kir!!! Mereka... dua bocah ini nyiram gue pakai minyak goreng. Kenapa nggak sekalian ama tepungnya???" ucap Dira kesal.


Ck... Kiara berdecak. Ia memanggil salah satu maid dan meminta dibawakan sekilo tepung terigu.


"Sesuai permintaan!!!" ucap Kiara menaburkan tepung terigu ke wajah Dira.


Akila dan Dio kembali bersorak senang ketika melihat wajah Dira putih dan lengket, persis seperti adonan ayam geprek yang belum jadi.


"Sayang... Papa pulang" teriak Elang membuat kedua bocah itu berhenti bersorak dan berlari keluar dari kamar Dira.


Elang tersenyum melihat dua bocah yang berlomba menghampirinya. Ia merentangkan kedua tangannya memeluk Akila dan Dio bersamaan.


"Gendongggg....!!!" teriak Akila dan Dio bersamaan.


Elang kembali tersenyum. Ia kemudian mengangkat kedua bocah itu dan mengecup pipi mereka bergantian.


"Papa El, Akila mau beli es krim" ucap Akila manja tak lupa ia mengecup balik pipi kanan Elang dengan senang.


"Dio mau beli coklat, Uncle El" ucap Dio. Ia mengikuti tingkah Akila, mengecup pipi kiri Elang dengan senang.


"Boleh, tapi tunggu sebentar. Papa mau melihat adik bayi dulu. Dimana Mama dan adik bayi?" tanya Elang.


"Di kamar Uncle Dir" jawab Akila.


Elang mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju kamar Dira dengan Akila dan Dio yang masih digendongnya. Mereka menuju kamar Dira sambil bernyanyi riang. Namun, betapa terkejutnya Elang ketika ia tiba di kamar Dira.


"Ini gue, Elang!!! Dira...!!! Dua bocah tengik itu udah bikin gue kayak gini!!!" ucap Dira yang langsung aja kembali mendapat tabokan dari Kiara.


Elang menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian menoleh ke arah Akila dan Dio, meminta jawaban atas ucapan Dira.


"Akila cuma bantuin Uncle Dir, Papa. Uncle Dir pingsan" ucap Akila.


"Uncle tidur bukan pingsan" potong Dira cepat.


"Kalau Uncle tidur kenapa nggak bangun-bangun juga? Akila kan sudah nggak sabar mau beli es krim" ucap Akila cemberut.


"Uncle ngantuk. Lagi pula kalau cuma mau beli es krim, minta anter Mang Ujang kan bisa. Nggak perlu bangunin Uncle kayak gitu"


"Abang... sudah... mereka masih anak-anak. Maafkan mereka ya?" bujuk Elang.


"Maaf... maaf... belum lebaran. Lagian gue heran ya sama nih anak dua. Kenapa sama elu mereka manis banget kayak gula. Tapi kalau sama gue, bar-bar banget kayak monster"


Plak...


Lagi-lagi Dira mendapat tabokan dari Kiara.


"Sembarangan kalau ngomong! Kalau Akila monster, berarti gue emaknya monster. Kalau Dio monster, ya elu bapaknya monster" omel Kiara kemudian berlalu meninggalkan kamar Dira karena bayinya yang terus menangis.


Elang menurunkan Akila dan Dio. Ia menyuruh kedua anak itu agar menemui Widya dan Edo yang sedang duduk di teras depan. Kedua anak itu mengangguk, mereka kemudian berlari berhamburan menuju teras depan.


Elang berlalu dari kamar Dira. Ia melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Elang membuka pintu perlahan. Nampak Kiara sedang menyusui bayi laki-lakinya yang tadi menangis.


Elang berjalan mendekati Kiara. Ia memeluk Kiara dari belakang. Seulas senyum tercetak di bibir Kiara. Ia sangat senang jika mendapat perlakuan manis dari suaminya.


"Haii Mama, Sayang! Apa kabar jagoan, Papa? Apa hari ini dia rewel?" tanya Elang tak lupa memberi kecupan hangat di kening Kiara.


"No, Papa. Jagoan kita anteng sekali. Berbeda dengan Akila sewaktu bayi yang bar-bar. Dia tadi menangis karena terkejut mendengar teriakan Dira" ucap Kiara yang masih memberikan ASI kepada bayi laki-lakinya.

__ADS_1


"Papa, kau belum memberikan nama pada jagoan kita. Ini sudah seminggu sejak dia lahir. Apa kau belum menemukan nama yang bagus untuk jagoan kita?" tanya Kiara.


"Sebenarnya ada banyak. Papa Robert, Mama Sandra, Mama Widya dan Om Edo banyak memberikan saran nama sehingga Papa bingung mau pilih yang mana" ucap Elang sembari menggaruk tengkuknya.


"Pilih saja pakai kopyokan arisan, Papa" usul Kiara yang dibalas kekehan Elang.


"Bagaimana kalau Eldier Arnaviar Putra Wilson?" tanya Elang meminta pendapat Kiara.


"Bagus. Panggil saja dia baby Ar, Arnav" ucap Kiara yang dibalas anggukan kepala oleh Elang.


Kiara menyudahi memberi Asi pada baby Arnav. Ia meletakkan bayi itu di dalam box bayi. Jagoannya itu sudah terlelap setelah kenyang menyedot ASI dari ibunya.


Elang berdiri di balkon kamar mereka. Ia memanggil Kiara agar menemaninya menikmati pemandangan taman di samping rumah mereka.


Kiara berjalan menghampiri Elang, berdiri di samping kiri suaminya.


"Terima kasih" bisik Elang di telinga Kiara. Ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya. Tak lupa Elang mengecup kening Kiara kembali dan memeluknya dengan erat.


"Untuk?"


"Untuk cintamu dan kesempurnaan yang kau berikan dalam hidupku" ucap Elang.


"Akulah yang harus berterima kasih karena kau selalu berada di sampingku sampai saat ini. Kau menepati janjimu, menghilangkan keraguanku dengan keyakinan cintamu" ucap Kiara. Kini ia membalas, mengecup kening Elang dengan penuh cinta.


"Terima kasih karena hatimu sudah memilihku menjadi pendampingmu, memilihku menjadi ayah dari anak-anakmu, memilihku sebagai penjagamu..." telunjuk Kiara menempel di bibir Elang sehingga ucapannya terputus.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau tak pernah lelah berjuang untuk meluluhkan hatiku. Kau tak pernah lelah mencintaiku. Elang, tetaplah disisiku. Menjagaku dan anak-anak kita sampai kita menua, sampai maut memisahkan kita" ucap Kiara yang dibalas anggukan kepala dari Elang.


Elang dan Kiara mengeratkan pelukannya. Mereka tertawa bersama menikmati angin sore yang seakan ikut bahagia melihat kemesraan mereka.


"Akila... Dio.. ikuti arahan Oma! satu... dua... "


cekrek...


cekrek...


Elang dan Kiara melihat ke bawah. Mereka tersenyum ketika melihat Widya sedang sibuk memotret kedua cucunya. Widya mengarahkan Akila dan Dio dengan berbagai gaya. Untungnya baik Akila maupun Dio sangat gampang diarahkan sehingga foto-foto hasil jepretan Widya sangat bagus.


"Jadi ingat seseorang yang dulu sering memotret istriku" sindir Elang yang dibalas Kiara dengan cubitan keras di perutnya.


"Kau masih cemburu padanya?" tanya Kiara.


"Hmmm... bagaimana ya???"


"Sudahlah, Rio sudah menikah. Kau tak perlu cemburu lagi padanya" kata Kiara.


"Kiara... Elang... Ayo, turun! Lihat foto-foto Akila dan Dio bagus sekali! Mereka cocok jadi model papan atas" teriak Widya dari bawah.


"Bukan papan atas tapi papan penggilasan, Mamae" teriak Dira dari jendela kamarnya. Teriakan Dira itu membuat Kiara dan Elang tertawa.


Kiara segera masuk ke dalam kamar, mengecek box bayi saat mendengar suara tangis jagoannya. Rupanya baby Arnav merasa tidak nyaman akibat popok yang penuh. Kiara segera mengganti popok baby Arnav dan menggendongnya lagi hingga bayi itu kembali tidur.


"Sayang....." bisik Elang tepat di telinga kanan Kiara.


"Apa??"


"Bikin lagi yuk! Dua lagi biar genap empat" bisik Elang terkekeh.


Kiara menyikut lengan Elang. Ia tidak menjawab dan memilih berlalu meninggalkan Elang yang masih terkekeh dengan ucapannya sendiri.


------TAMAT-------


Author hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah mendukung karya pertama Author dari awal sampai akhir.


Terima kasih sudah like, fav, koment dan vote untuk karya ini. Author nggak bisa balas apa-apa, hanya ucapan terima kasih yang bisa Author sampaikan.


Semoga kita bisa bertemu di karya Author selanjutnya. Sampai Jumpa... Salam Kenal juga dari Akila dan Dio.


(Yang penasaran sama istrinya si Kadir, nanti yah.. di karya selanjutnya. Entah kapan)

__ADS_1



__ADS_2