Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 61


__ADS_3

"Pagi, Om Ale! Pagi, Bibi Aisha" sapa Elang.


Elang menarik kursi di hadapan Ale, membalikkan piring dan segera mengisinya dengan nasi goreng, menu yang disajikan Aisha pagi ini. Elang tidak pernah absen ikut sarapan dengan Ale dan Aisha, sesibuk apapun dirinya. Karena disaat pagi seperti ini mereka bisa berkumpul, bercengkrama dan bersenda gurau.


"Dira sudah menghubungimu?" tanya Ale.


"Belum, Om. Memangnya ada apa?" Elang balik bertanya.


Ale dan Aisha saling melirik.


"Pernikahanmu dimajukan bulan depan" ucap Ale.


"Apa???? uhuk...uhuk...uhuk......."


Ale dan Aisha kompak terkekeh geli. Aisha menyodorkan air putih agar Elang berhenti batuk.


"Serius, Om?" tanya Elang lagi.


"Memangnya calon kakak iparmu itu pernah becanda? Dia selalu serius" ucap Ale mengelap bibirnya yang basah setelah meneguk kopinya.


"Yes.....!!!! Akhirnya Om... detik-detik kemerdekaan untuk Elang akan tiba" ucap Elang membuat Ale melemparkan kain serbet ke wajah Elang.


"Om Ale sudah menelpon orang tuamu dan mereka juga setuju" lanjut Ale lagi.


"Kalau Mama dan Papa tidak setuju, ya, kebangetan Om Ale" gerutu Elang.


Ale tersenyum simpul. Ia menatap Elang. Tak terasa Bayi yang dulu ia rawat sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Ale merasa baru kemarin ia mendengar tangisan Elang yang baru lahir, membantu Elang berjalan, mengajarinya bersepeda.


Ternyata waktu bergulir sangat cepat. Elang tumbuh menjadi laki-laki tampan yang akan berstatus menjadi suami, mengemban amanah yang tidak ringan. Ale sangat terharu menyadari kenyataan ini.


"Kenapa, Mas?" tanya Aisha yang menyadari jika Ale sedang melamun.


"Mas, hanya terharu saja. Bayi yang dulu Mas ganti popoknya sebentar lagi mau menjadi suami" ucap Ale terkekeh membuat Aisha dan Elang meneriakinya bersamaan.


"Jangan baper, Om!" ucap Elang meledek Ale.


Ale kembali tersenyum mendengar sindiran keponakannya. Bagaimana mungkin Ale tidak baper. Masa-masanya bersama Elang dimulai sejak Elang lahir. Ale adalah orang ketiga yang menggendong Elang setelah Sandra dan Robert. Ale yang saat itu masih berusia 10 tahun, sudah belajar merawat bayi.


Entah mengapa melihat Elang kecil, membuat jiwa kebapakan Ale muncul dalam masa remajanya. Elang kecil lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Ale daripada Robert, ayahnya sendiri. Jadi tak heran jika Ale merasa sangat baper ketika menyadari waktu yang sudah berjalan sangat cepat.


"Elang, apakah kau sudah ada rencana akan menikah dimana?" tanya Aisha kembali membuyarkan lamunan Ale.


"Hmmmmm.... belum kepikiran, Bibi. Kalau aku melihat karakter Ara, sepertinya dia tidak akan mau dengan konsep indoor" ucap Elang dan hal itu dibenarkan oleh Ale.

__ADS_1


"Pikirkan dari sekarang! Waktu kalian hanya satu bulan. Kalau memang mau konsep outdoor, ya... bisalah menikah di Bali atau dimana gitu" saran Ale.


"Di Labuan Bajo saja Elang, bukannya kalian sedang ada proyek kerja sama dengan Jeng Elin? Ini bisa jadi ajang promosi villa Elin juga" saran Aisha.


"Tidak" sahut Elang.


"Kenapa?" tanya Aisha tak mengerti.


"Ada pengganggu di sana. Elang tidak mau acara sakral kami jadi berantakan"


"Iya, benar. Jangan di sana. Om jadi inget seseorang yang cemburu buta sampai merusak acara honeymoon kami" ucap Ale terkekeh geli.


Elang melirik Aisha. Aisha yang mengerti sedang disindir Ale segera menginjak kakinya. Ale mengaduh tetapi tetap saja dia tertawa mengingat kejadian konyol saat mereka di Labuan Bajo.


"Memangnya Ara ngapain sih, Om? Kenapa Bibi Aisha bisa se cemburu itu?" ucap Elang sembari ikut tertawa.


"Tunanganmu itu benar-benar menyebalkan, Elang. Setiap saat dia selalu menggoda Mas Ale" ucap Aisha dengan wajah cemberut.


"Sebenarnya bukan menggoda tapi mengerjaimu, Aisha. Ara memang sengaja memanas-manasi Aisha" ucap Ale yang kembali disambut cekikikan Elang.


"Mengerjai macam apa kalau dia berani-beraninya menciummu?" tanya Aisha gusar.


Glek...


"Nggak sengaja, Elang. Nyiumnya nggak sengaja. Iya kan Aisha?" Ale menoleh ke arah Aisha, memberikan kode lewat isyarat matanya agar Aisha mengiyakan.


" I.. i..iya Elang. Kejadian itu tidak sengaja terjadi. Ara terjatuh karena tersenggol seseorang ketika di pesta dan tidak sengaja men... ci... um.. Mas... Ale. Benar begitu ceritanya" ucap Aisha sengaja berbohong.


Elang melipat kedua tangannya di depan da da nya. Menatap Ale dan Aisha secara bergantian.


"Berapa detik Ara mencium Om Ale?" tanya Elang dingin.


Ale menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mana mungkin ia menghitung berapa detik. Jangan menghitung, bernafas saja ia susah ketika Ara menciumnya.


"Nggak lama kok Elang. Namanya juga nggak sengaja. Paling sedetik, ya kan Aisha? cuma nempel sedetik lalu Ara pergi" ucap Ale yang diangguki dengan cepat oleh Aisha.


"Kalau begitu Om harus ganti rugi" kata Elang.


"Ganti rugi? ganti rugi apa?" tanya Ale tak paham.


"Om sudah mencium calon istriku...."


"Salah! Calonmu yang mencium Om Ale" sambar Ale cepat.

__ADS_1


"Terserah, Elang nggak peduli. Karena Om sudah mencuri ciuman perdana calon istri Elang... mau tidak mau... Om harus ganti rugi. Relakan Elang mencium Bibi Aisha" ucap Elang.


"Uuuwaannnjaayyyyy...!!!" teriak Ale sembari melempar kembali serbet ke muka Elang.


Ale tertawa mendengar ucapan konyol keponakannya itu sedangkan Aisha mengembungkan pipinya pertanda ia sedang kesal dipermainkan oleh Elang.


"Kau mau cium Bibimu? Sana laksanakan! Siapa tahu nanti Aisha menampar pipi kanan dan kirimu" ucap Ale yang dibalas pelototan Aisha.


Elang berdiri. Ia melangkah menuju kursi Aisha. Elang sengaja memonyongkan bibirnya seakan-akan sudah siap mencium Aisha.


Aisha yang melihat tingkah tidak waras Elang tentu saja berteriak. Ia melempari Elang dengan kain serbet berkali-kali. Namun, bukannya Elang berhenti. Elang malah semakin maju mendekatinya.


Aisha bangkit dari kursinya dan berlari menuju kamarnya. Terdengar makian dari mulut Aisha untuk Elang. Elang dan Ale tertawa terbahak-bahak melihat tingkah ketakutan Aisha. Elang kembali duduk di kursinya, membereskan sisa sarapannya yang tertunda.


"Jangan di Labuan Bajo disana ada mantanmu yang lain" ucap Ale yang membuat Elang mengernyitkan dahi.


"Ellea?," tanya Elang yang di jawab anggukan kepala oleh Ale.


"Abang Dira sudah mengatasinya. Kemarin dia sempat akan mencelakakan kami"


"Apa? Ellea di Jakarta? Dan apa maksudmu Elang?"


Elang menarik nafas. Kejadian beberapa waktu lalu memang sengaja ia rahasiakan dari Ale. Sekarang Elang keceplosan. Mau tidak mau Elang harus bercerita kepada Ale.


Ale mendengarkan cerita Elang dengan geram. Ia tidak menyangka jika gadis yang terlihat polos dan lugu seperti Ellea bisa melakukan tindakan seperti itu. Ale hanya bisa mengelus dada mendengarkan cerita Elang. Setidaknya Ale bersyukur ada Dira yang siap menjadi pelindung Elang dan Kiara saat ini.


"Elang berangkat dulu, Om. Kelamaan di sini kapan Elang bekerjanya" ucap Elang mengakhiri ceritanya.


"Bagus... kerja yang rajin. Calon istrimu itu presdir, lulusan magister NYU lagi. Kau harus bisa mengimbanginya" ucap Ale memberi nasehat.


"Tentu, Om. Bagaimanapun nantinya Ara tidak mungkin memegang perusahannya sendiri. Dia pasti butuh bantuan Elang juga"


"Ngomong-ngomong Apa kau tidak mau mengambil gelar magister juga?" tanya Ale.


Plak...


Elang menepuk dahinya.


"Elang sudah ambil gelar magister waktu di Spanyol, Om. Please! Om Ale apa tidak liat nama yang terpampang di meja kerja Elang?" kata Elang dengan raut wajah yang tak bisa dibaca ekspresinya.


"Oh ya? berarti Om Ale ketinggalan informasi. Hahaha...." ucap Ale yang dibalas tatapan sengit dari Elang.


Elang bangkit dari kursinya. Semakin lama ia berada bersama Ale, semakin besar kemungkinan ia naik darah. Elang pamit kepada Ale dengan suara malas. Ia melangkahkan kakinya keluar rumah. Tak lama terdengar suara mobil Elang melaju dengan pelan.

__ADS_1


Ale ikut bangkit dari tempat duduknya dan meraih tas kerjanya. Meskipun Ale dan Elang satu kantor, mereka tidak pernah berangkat bersama. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai agenda masing-masing yang tak jarang membuat mereka mendatangi tempat yang berbeda.


__ADS_2