
"Mas...." panggil Aisha.
Ale hanya menoleh ke arah Aisha tanpa menjawab panggilannya. Laki-laki itu kini tengah duduk lemas dengan setelan jas hitamnya. Laki-laki itu tengah menguatkan hatinya dengan apa yang akan ia lakukan sebentar lagi.
Ya, hari ini Ale akan menikahi Kiara sesuai permintaan Aisha. Meskipun berkali-kali Ale menolaknya, berkali-berkali pula Aisha mendorongnya untuk melakukan hal ini. Pernikahan tanpa cinta, apa yang bisa Ale harapkan?
Jika keturunan yang diharapkan Aisha dari pernikahan ini, sungguh Ale tidak berharap begitu. Ale lebih ingin mengadopsi anak daripada harus menikah lagi untuk memperoleh keturunan.
Sedangkan jika masalah finansial perusahaan yang menjadi penyebab utama Aisha mendorongnya untuk menikahi Kiara, Ale siap hidup miskin untuk saat ini.
Ale masih berharap ada seseorang yang bisa membantunya membatalkan pernikahan ini. Berkali-kali ia menghubungi Elang, dengan harapan keponakannya itu bisa pulang ke Indonesia dan kembali pada Kiara. Setidaknya keberadaan Elang akan menjadi penghalang Kiara mendekatinya.
Tapi sialnya baik Elang maupun orang tuanya sama-sama tidak bisa dihubungi. Sungguh, Ale ingin menjerit. Ia benar-benar tidak ingin melakukan pernikahan ini.
"Mas, kenapa kau diam? Apa kau gugup?" tanya Aisha membuyarkan lamunan Ale.
Ale menggeleng. Bibirnya terus bergerak melantunkan doa-doa yang mungkin bisa menyelamatkannya.
"Ini bukan pertama kalinya untukmu. Jangan gugup!" ucap Aisha tersenyum yang lagi-lagi tak ditanggapi Ale.
Aisha menyodorkan sebuah kotak yang tentu saja tidak asing bagi Ale. Kedua alis hitam Ale bertaut menampakkan ekspresi tak suka pada Aisha.
"Mahar pernikahan kalian" jawab Aisha cepat sebelum Ale bertanya.
"Setiap pernikahan pasti ada mahar. Karena kondisi keuangan kita yang begini, aku tidak bisa membeli mahar untuk Kiara. Maka aku putuskan memberikan ini" ucap Aisha yang membuat Ale kembali naik darah.
"Kau gila, Aisha! Ini perhiasan yang aku berikan ketika kita merayakan ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Apa ini sudah tidak berarti bagimu, hah?" tanya Ale dengan wajah kesal dan nada suara yang tinggi.
"Hanya ini yang bisa aku serahkan, Mas. Aku tak mungkin menyerahkan kalung mahar pernikahan kita. Hanya ini yang bisa aku lepaskan"
"Kemana perhiasanmu yang lain hah?" tanya Ale geram. Karena seingatnya Ale sering membelikan Aisha berlian dan perhiasan lainnya.
"Sudah aku jual dan hanya dua benda ini yang tersisa" ucap Aisha lirih.
Ale menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh baru kali ini ia kehabisan stok sabar menghadapi istrinya. Istrinya yang penurut dan tak banyak berulah, kini berubah menjadi sosok yang menyebalkan bagi Ale.
Ale beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan Aisha. Namun, baru satu langkah Aisha mencekal tangan Ale.
"Apa???" bentak Ale.
"Kau mau kemana, Mas? Sebentar lagi rombongan Kiara akan sampai"
"Aku mau ke ruang tengah, mau nonton televisi. Kalau mereka datang, kau saja yang menyambutnya. Ini kan kemauanmu" ucap Ale sembari menghempaskan tangannya hingga terlepas dari tangan Aisha.
\_\_\_\_\*\*\*\_\_\_\_
Kiara tengah duduk di depan meja rias dengan mata terpejam. Saat ini Olive sedang meriasnya, menata rambut Kiara dengan sederhana tapi elegan. Olive juga menyapukan make up natural pada wajah Kiara.
Bagi Olive, Kiara sudah cantik dari dasarnya. Kiara tak perlu banyak make up untuk mempercantik wajahnya sehingga Olive hanya memberikan sedikit sentuhan pada wajahnya.
Kiara memakai gaun pengantin yang dulu pernah ia pakai saat pemotretan dengan Rio. Gaun itu memang sengaja diberikan Evan untuknya dengan harapan Kiara akan memakainya di hari bahagianya.
__ADS_1
Tepat hari ini, Kiara akan menikah dengan Ale. Sejak semalam Kiara tidak berhenti tersenyum. Kiara sampai tidak bisa tidur, membayangkan bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi istri Ale.
"Selesai, Nona" ucap Olive membuat Kiara membuka matanya. Senyum Kiara terbit. Ia puas dengan hasil tangan Olive.
"Olive, apakah sopir sudah siap mengantar kita?" tanya Kiara.
"Sudah, Nona" jawab Olive singkat.
"Olive, aku sudah tidak sabar segera menjadi istri Mas Ale. Kau ingat kan perkataanku? Pernikahan ini akan terjadi jika kami berjodoh dan sekarang kau lihat sendiri kan?" ucap Kiara tertawa bangga.
"Nona, melihat Anda memakai gaun ini saya jadi teringat foto ini" ucap Olive berusaha mengalihkan topik.
Olive menyodorkan ponselnya pada Kiara dengan harapan hati Kiara mengingat momen dirinya bersama Rio.
Kiara mengambil ponsel yang disodorkan Olive, menatap foto dilayar ponsel itu. Senyum kecut Kiara muncul melihat foto dirinya dan Rio ketika memakai baju pengantin itu.
Perlahan raut wajah Kiara berubah sendu. Olive bisa melihatnya. Dia memang sengaja melakukan itu agar hati Kiara goyah.
"Waktu Nona melakukan pemotretan dengan Rio, saya sangat berharap hal itu menjadi kenyataan. Anda dan Rio sangat cocok. Apa Anda lupa dengan foto itu?" tanya Olive.
"Aku tidak ingat pernah melakukan pemotretan dengan Rio. Ponselku sudah ku buang" ucap Kiara sembari mengembalikan ponsel Olive.
Olive tidak habis akal. Ia kembali melakukan serangan pada Kiara. Bagaimanapun pernikahan konyol ini tidak boleh terjadi.
"Nona, lihatlah foto-foto ini sangat bagus. Jika Anda mau, saya bisa mengirimkan file nya pada Anda" ucap Olive sembari memperlihatkan kembali foto-foto pemotretan Kiara dan Rio.
"Sudahlah,Olive. Aku dan Rio sudah selesai. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Berhentilah membicarakan Rio. Dia berhak hidup tenang di kehidupannya sendiri"
"Sudahlah. Aku tidak mau membicarakan Rio. Playboy seperti dia pasti dengan mudah mendapatkan wanita manapun. Sekarang ayo kita segera berangkat. Dimana tempat akad nikahnya?" tanya Kiara.
"Di rumah Tuan Ale"
"Apa???? di rumah Ale? dasar wanita sialan! Mengapa dia tidak mengadakan di hotel atau di gedung mewah? memangnya aku tidak punya uang untuk menyewanya?" ucap Kiara geram.
"Pasti wanita itu tidak ikhlas aku menikah dengan suaminya" maki Kiara membuat Olive memutar bola matanya dengan malas.
"Mana ada istri yang ikhlas suaminya menikah lagi, Nona" batin Olive.
Kiara dan Olive segera melangkah keluar dari apartemen Kiara. Sopir pribadi Kiara sudah menunggu di depan. Laki-laki itu segera membungkuk ketika melihat Kiara dan Olive tiba di hadapannya. Dengan sigap, ia membukakan pintu untuk Kiara dan Olive. Kiara masuk ke dalam mobil dibantu Olive yang memegangi gaun Kiara.
"Apakah Paman Indra sudah kau hubungi?" tanya Kiara saat mobil mulai melaju perlahan.
"Sudah, Nona"
"Pastikan laki-laki tua itu menjadi waliku. Hubungi dia, aku ingin tahu dia sedang ada dimana!" perintah Kiara yang segera dilaksanakan oleh Olive.
Olive mengambil ponselnya dan menghubungi Indra. Mereka terlibat pembicaraan singkat yang membuat Olive bernafas lega.
"Tuan Indra sudah ada di rumah Tuan Ale" ucap Olive setelah menutup ponselnya.
Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sudah tiba di depan rumah Ale. Sopir Kiara segera membukakan pintu untuk Kiara. Kiara keluar dan kembali Olive membantunya melangkah. Senyum licik Kiara terbit. Ia melangkah dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
__ADS_1
Aisha membuka pintu, menyambut kedatangan Kiara. Ia terkejut melihat penampakan Kiara yang sangat anggun. Aisha melihat Kiara seperti boneka berbie hidup. Aisha tersenyum kecut. Dia mulai merasa kecil hati.
"Andai saja aku tahu sejak dulu tentang Kiara. Mungkin aku akan mundur, Mas. Dia memang lebih pantas untukmu daripada aku" gumam Aisha. Tanpa ia sadari beberapa tetes butiran bening lolos membasahi pipinya.
"Sampai kapan kau akan berdiri di depan pintu? Kau menghalangiku" ucap Kiara dengan tatapan dinginnya.
Aisha segera sadar dari lamunannya. Ia segera bergeser memberi celah agar Kiara dan rombongannya bisa masuk. Kiara dan Olive segera masuk. Senyum Kiara kembali terbit melihat Indra sedang duduk berbincang dengan Ale.
Ya, Kiara menunjuk Indra sebagai walinya meskipun Indra sudah berkali-kali menolaknya. Indra mengatakan jika dirinya tidak berhak mengingat Kiara masih mempunyai Dira sebagai kakak kandungnya.
Alasan Indra ditolak Kiara. Kiara bahkan mengancam Indra akan menendangnya dari perusahaan jika Indra tidak bersedia menjadi wali nya. Dengan berat hati, Indra menyetujuinya.
Kiara segera duduk di sebelah Ale. Ale tak menoleh sedikitpun ke arah Kiara. Dihadapan mereka duduk Indra dan seorang penghulu yang akan menikahkan Ale dan Kiara. Sopir Kiara dan asisten Ale duduk di samping Ale dan Kiara. Mereka bertindak sebagai saksi pernikahan keduanya.
Dug
Dug
Dug
Jantung Ale berdegup kencang. Ingin rasanya ia kabur dari rumahnya, meninggalkan acara konyol yang dibuat istrinya itu. Ale melirik Aisha dengan ekor matanya, memakinya dalam hati. Sungguh jika pernikahan ini benar-benar terjadi. Maka neraka buatan Aisha akan dimulai.
Ale berganti menatap Indra. Ale menangkap kegelisahan dalam hati Indra. Beberapa kali Indra mengecek ponselnya dari bawah meja. Ale paham, Indra pasti tidak ingin Kiara tahu apa yang sedang dilakukannya.
Penghulu meminta acara segera di mulai. Ia meminta Indra dan Ale berjabat tangan. Baik Indra maupun Ale sama-sama mengangkat tangan kanan mereka dengan gemetar.
"Waduh... Ini kenapa gemetar semua? Bapak Ale dan Bapak walinya si mempelai perempuan gugup begitu?" goda pak penghulu.
Kiara menatap Indra dengan tajam. Matanya memberikan isyarat agar Indra tidak macam-macam. Indra menunduk. Ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
"Mari bapak-bapak, kita mulai sekarang saja. Saya masih banyak acara di tempat lain" ucap penghulu membuat Ale dan Indra kembali berjabat tangan.
"Alexander Barata Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya. Kiara Putri Sanjaya binti almarhum Arman Sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan kalung seberat 30 gram di bayar tunai" ucap Indra lantang sembari menghentakkan tangan Ale agar mengikutinya.
"Sa...sa..saya terima..... terima....terima... hah..." ucapan Ale terputus. Ale menghembuskan nafas. Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya.
Kiara sontak menoleh ke arah Ale dengan geram. Kiara tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ale. Kiara mencengkram tangan Ale dengan kuat sehingga membuat Ale menoleh ke arahnya. Kiara menatap Ale dengan tajam seakan ingin memangsanya.
"Maaf" ucap Ale lirih membuat Kiara melonggarkan cengkramannya.
"Jangan tegang atuh, Bapak....! Hayuk kita mulai lagi" ucap penghulu itu lagi dan segera Ale berjabat tangan dengan Indra.
"Alexander Barata Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya......"
Braakkkkkkkkkkk
Pintu rumah Ale terbuka dan muncullah sosok laki-laki menyeramkan, berdiri tegak di ambang pintu. Ia berdiri dengan tangan memegang pistol yang diarahkan pada Indra.
"Hentikan! Jika Paman Indra berani menikahkan Kiara dengan laki-laki itu. Jangan salahkan peluru di pistol ini jika menembus kepala, Paman!!!"
Semua orang di ruangan itu berdiri mematung.
__ADS_1
"Kadir......"