Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 67


__ADS_3

Ivana memiringkan kepalanya ketika melihat sebuah kotak putih berukuran cukup besar berada di meja kerja Rio. Ivana yang semula ingin mencari Rio di ruangannya untuk mengajaknya makan siang, harus menelan rasa kecewa karena mendapati ruang kerja Rio yang kosong.


Ivana melirik arlojinya, jam istirahat masih kurang sepuluh menit lagi. Tidak mungkin Rio akan meninggalkan butiknya jika belum tepat jam dua belas siang.


Ivana duduk di kursi Rio. Entah dorongan dari aman, ia merasa tertarik pada kotak putih itu. Perlahan, Ivana membuka kotak putih itu. Netra birunya membola ketika melihat isi dari kotak tersebut.


" Waw...."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ivana. Satu kata yang sudah cukup menggambarkan bagaimana Ivana tertarik dengan gaun itu. Ia mulai membuka lipatan gaun tersebut, memandangi dan meraba setiap detail pada gaun itu. Ivana tersenyum simpul melihat ciri dari gaun yang ia pegang, Ivana tahu jika gaun indah itu adalah hasil rancangan Evan, saudara kembarnya.


"Kau???" tanya Rio terkejut saat memasuki ruang kerjanya mendapati Ivana sedang memegang gaun miliknya.


"Maaf, Rio. Aku tadi mencarimu di sini tapi kau tidak ada dan maaf aku lancang membuka kotak putih itu..."


Rio langsung mengambil gaun itu dari tangan Ivana, melipatnya kembali dengan hati-hati dan memasukkan dalam kotak putih itu. Ivana bisa melihat ekspresi kesal pada wajah Rio dan tentu saja ia merasa bersalah karena ulah lancangnya.


"Maaf, Rio jika aku membuatmu marah" ucap Ivana lagi yang kembali diacuhkan oleh Rio.


Rio mengangkat kotak itu dan hendak melangkahkan kaki untuk pergi. Namun, Ivana dengan cepat menarik lengan tangan Rio sehingga ia urung melangkah.


"Aku tahu kau marah. Kau boleh memakiku. Tolong jangan diam seperti ini" kata Ivana dengan tatapan sendunya.


"Aku mau pergi" ucap Rio.


"Kemana? Apa aku boleh ikut?" tanya Ivana memohon.


"Tidak" jawab Rio cepat sehingga membuat raut wajah Ivana sedih.


"Apa kau akan mengantarkan gaun itu? Kalau ya, siapakah pemilik gaun itu?," tanya Ivana lagi.


"Bukan urusanmu," ucap Rio kemudian melangkah meninggalkan Ivana.


Ivana segera bangkit ingin mengejar Rio. Ivana melangkah secepat mungkin, berharap bisa menyusul langkah lebar Rio. Ivana lupa jika saat ini Ia memakai heels dengan tinggi 10 cm yang tentu saja menjadi masalah ketika ia melangkah dengan cepat.


"Awwww....."


Ivana mengaduh. Ia terjatuh dan dapat dipastikan kakinya keseleo. Rio menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menghela nafas melihat Ivana tengah meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


Rio membalikkan badannya, dengan segera menghampiri Ivana. Saat ini jam makan siang, semua karyawan Ivana pasti berada di luar untuk beristirahat. Rio meletakkan kotak putih miliknya dan beralih menggendong Ivana ala bridal style. Rio dengan cepat membawa Ivana ke ruangannya, mendudukkannya di sofa dan tak lupa melepas kedua heels milik Ivana. Rio keluar dari ruangan Ivana dan kembali dengan membawa kotak putih yang tadi sempat ia tinggalkan.


"Kau ceroboh," ucap Rio sembari memijat kaki Ivana.


Ivana merasakan sentuhan demi sentuhan yang diberikan Rio. Untung saja Rio dalam posisi menunduk, fokus pada kaki Ivana sehingga ia tidak tahu bagaimana meronanya wajah Ivana saat ini.


"Kau masih marah?," tanya Ivana.


"Aku tidak pernah marah," jawab Rio dan kini ia duduk di sofa yang sama dengan Ivana.


"Kau diam dan raut wajahmu tidak dapat membohongiku, Rio. Aku memang salah. Kau pantas marah padaku," ucap Ivana penuh penyesalan.


"Sudahlah Ivana jangan membahas ini lagi. Sudah masuk jam makan siang dan kau tidak mungkin keluar dengan keadaan seperti ini. Aku akan memesankan makanan untukmu," ucap Rio.


"Tidak perlu. Biar aku pesan online saja. Kau mau kan menemaniku? Kita makan siang bersama," ucap Ivana yang dijawab anggukan oleh Rio.


Tak lama setelah pesanan mereka datang, Ivana dan Rio makan siang bersama. Rio menyuapi Ivana tanpa diminta hingga akhirnya makanan mereka habis.


"Rio.....,"


"Ya....,"


"Terima kasih," ucap Ivana tulus.


"Dan maaf karena aku lancang membuka kotak putih milikmu," ucap Ivana lagi.

__ADS_1


"Sudahlah Ivana. Aku tidak menyalahkanmu," ucap Rio.


"Kalau boleh aku tahu gaun itu untuk siapa?," tanya Ivana hati-hati.


Rio diam.


"Kalau aku tidak salah menduga, gaun itu rancangan Evan," selidik Ivana.


"Benar ," jawab Rio pendek.


"Boleh aku melihatnya lagi? sungguh aku sangat tertarik dengan gaun itu," ucap Ivana memohon.


Rio menghela nafas. Ia menyerahkan kotak putih miliknya pada Ivana dan tentu saja Ivana segera membuka kembali kotak putih itu, mengambil gaun yang sejak tadi menarik perhatiannya.


"Andai ukurannya cukup denganku, aku ingin sekali mencobanya," gumam Ivana yang masih bisa terdengar di telinga Rio.


"Rio, apa kau mau memberikan gaun ini untuk seseorang?," tanya Ivana lagi.


"Ya, tapi aku tak tahu dia mau menerimanya atau tidak," jawab Rio memalingkan wajahnya.


Ivana mengamati gaun itu lagi. Menelaah jengkal demi jengkal detail gaun itu.


"Hmmm... entah ini kebetulan atau bagaimana. Aku rasa gaun ini pas untuk Nona Kiara," kata Ivana yang membuat Rio terkejut.


"Apa aku boleh meminjamnya untuk pemotretan besok? jujur saja aku belum menemukan gaun yang tepat untuknya," ucap Ivana memohon.


Rio terdiam mendengar ucapan Ivana. Tentu saja gaun itu pas untuk Kiara karena Rio meminta Evan merancang gaun itu khusus untuknya. Rio berniat memberikan gaun itu sekaligus ingin mengungkapkan perasaannya. Namun, Rio mengurungkan niatnya ketika mengetahui bahwa Kiara akan menikah bahkan ia berencana membuang gaun itu sebagai bentuk rasa kesalnya.


"Terserah kau," ucap Rio kemudian beranjak pergi.


Ivana mengambil ponselnya untuk menghubungi Kiara. Ivana meminta Kiara datang ke butiknya untuk fitting gaun itu. Sebenarnya Ivana sangat yakin jika gaun itu akan pas di badan Kiara. Namun ia tidak ingin terlalu percaya diri sehingga lebih baik meminta Kiara mencobanya terlebih dahulu. Beruntunglah Kiara sedang tidak sibuk sehingga ia bisa langsung menuju butik milik Ivana.


Satu setengah jam kemudian, Kiara datang dan Ivana meminta salah satu karyawannya untuk melayani Kiara. Sebenarnya Ivana ingin turun langsung, tapi kakinya masih sakit untuk digerakkan sehingga ia memilih diam di sofa.


Kiara di bawa masuk ke ruang ganti oleh salah satu karyawan Ivana. Ia juga membantu Kiara memakai gaun itu. Tak lama Kiara keluar dari ruang ganti. Kemunculannya membuat Ivana melongo terkesima. Ivana beberapa kali menelan ludah, tak bisa mengeluarkan kata-kata tentang apa yang dilihatnya. Gaun rancangan Evan sangat indah dan pas dipakai oleh Kiara.


Ivana meminta karyawannya tadi untuk memanggil Rio. Tak butuh waktu lama, Rio datang dan happpp.... Rio berhenti melangkah. Ia diam mematung melihat Kiara yang sedang memakai gaun itu.


"Rio, cepat potret! Lihatlah Nona Kiara sangat cantik memakai gaun itu," perintah Ivana.


Kiara di bawa ke ruang make up, rambutnya di tata sederhana dan wajahnya diberi sedikit polesan tipis. Ivana meminta kursi roda karena jengah terus berbaring di sofa. Ia tidak sabar melihat hasil finishing Kiara ditangan timnya.


Kiara lalu dibawa ke studio dimana Rio sudah siap dengan kameranya. Ivana meminta salah satu karyawannya untuk mendorong kursi rodanya ke tempat studio. Ia juga ingin melihat proses pemotretan Kiara dengan gaun itu.


Cekrek...cekrek...cekrek...


Berkali-kali Rio menahan nafas ketika memotret Kiara. Tubuhnya benar-benar menegang. Andai Rio tidak ingat tempat pasti ia akan melakukan hal yang sama ketika di New York ketika Kiara melakukan pemotretan menggunakan gaun pengantin rancangan Evan. Kaki Rio sudah gatal ingin berlari dan berdiri di samping Kiara. Namun sebisa mungkin Rio menahannya, mengingat Kiara akan menjadi istri orang.


Cekrek... cekrek...cekrek...


"Bagus....!!!!! " Elang berdiri sambil bertepuk tangan, menatap tajam ke arah Rio.


"Sayang......" Kiara segera melepas heelsnya dan berlari memeluk Elang.


"Bagaimana kau bisa tahu aku disini padahal aku tidak menghubungimu?," tanya Kiara terkekeh.


"Elang tadi ke rumahmu dan kata maid Ara sedang ke butik Ivana. Kenapa pergi sendiri? Seharusnya kau menelpon Elang," ucap Elang kesal.


"Maaf, Ara lupa. hi...hi...hi...," ucap Ara membuat Elang mencubit kedua pipinya.


Ciiihhhh,


Rio membuang ludah melihat adegan di depan matanya. Hatinya benar-benar panas. Jauh-jauh dia datang ke Jakarta untuk bertemu Kiara, ingin mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam. Namun, fakta yang ia dapatkan adalah Kiara akan menikah dan yang lebih menyakitkan lagi Rio berperan dalam acara pernikahan Kiara. Rio tidak rela, sungguh tidak rela melihat gadis pujaannya akan bersanding dengan orang lain.

__ADS_1


"Maaf Tuan Elang, ini salah saya tidak menghubungi Anda. Niat saya hanya mencoba gaun untuk Nona Kiara tapi malah berlanjut ke pemotretan," ucap Ivana tak enak hati.


Elang mengamati gaun yang dipakai Kiara. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Elang benar-benar terpukau dengan penampilan Kiara saat ini. Cantik, bahkan lebih dari cantik. Untung saja Elang segera meluncur ke butik Ivana karena jika tidak, pasti fotografer sialan itu tak henti memandang calon istrinya. Elang tidak sudi.


"Bagaimana kalau sekalian foto prewed saja. Lagipula Kiara sudah di make up tinggal saya berganti baju," ucap Elang yang dijawab anggukan oleh Ivana.


Ivana meminta salah satu karyawannya membawa Elang ke ruang ganti. Elang berganti baju dengan cepat, khawatir Kiara akan didekati Rio. Elang segera keluar mengambil posisi di sebelah Kiara untuk memulai foto prewed.


"Siap... satu... dua...tiga...," Ivana memberi aba-aba.


Cekrek... cekrek... cekrek...


Elang dan Kiara berpose beberapa kali dan hasilnya memang sangat bagus. Ivana memperlihatkan hasil jepretan Rio dan tentu saja Elang maupun Kiara sangat puas dengan hasilnya.


"Tidak usah ganti baju, kita pulang sekarang," ucap Elang membuat Kiara melongo.


"Gaun ini kan....," ucap Kiara terputus.


"Bawa saja, Elang akan membelinya."


"Maaf, Tuan Elang. Gaun ini bukan koleksi butik kami. Jadi kami tidak menjualnya," ucap Ivana menyela percakapan Elang dan Kiara.


"Lalu kalau bukan koleksi butik ini, gaun ini milik siapa? aku ingin membelinya untuk Ara," tanya Elang.


"Gaun ini milik Rio yang saya pinjam untuk dipakai Nona Kiara. Sebenarnya hanya coba-coba dan ternyata gaun ini sangat indah dipakai Nona Kiara,"


Rahang Elang mengeras mendengar perkataan Ivana. Gaun itu pasti pesan Rio untuk Kiara. Andai ia tahu sejak awal, pasti Elang tidak mau Kiara memakainya.


"Ara, cepat buka gaun itu! Ganti bajumu!," perintah Elang dingin.


"Hah?," tanya Kiara tak paham dengan perubahan sikap Elang yang menjadi dingin.


"Elang bilang cepat ganti baju!!!!," bentak Elang membuat orang-orang yang berada di tempat itu kaget.


"Hei... Kenapa kau membentakku? Apa salahku?," tanya Kiara membentak balik.


"Elang bilang cepat ganti...!!!!," kali ini suara Elang kembali meninggi.


"Haisshhhh... Kau kenapa sih membentakku?."


"Maaf, Tuan. Jika Anda mau silakan bawa gaun itu....," ucap Rio tetapi terputus.


"Tidak perlu! Saya tidak sudi melihat calon istri saya mengenakan gaun itu!!! Miss Ivana carikan gaun lain untuk Ara dan lakukan foto prewed lagi besok," perintah Elang.


Ivana mengangguk ketakutan.


"Dan cepat lepaskan gaun itu dari tubuh calon istri saya!!!," ucap Elang membuat wajah Ivana pias.


Ivana segera meminta karyawannya membawa Kiara ke ruang ganti. Tak lama Kiara muncul, memakai baju yang tadi ia pakai ketika datang ke butik Ivana.


"Kita pulang!"


"Kiara tadi bareng supir"


"Supirmu sudah pulang. Elang yang suruh"


Kiara mengangguk dengan malas. Ia membiarkan Elang menarik tangan kanannya untuk pergi meninggalkan butik Ivana. Namun, baru tiga langkah Kiara merasakan tangan kirinya ditarik seseorang. Kiara berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Matanya membola ketika melihat Rio sedang menarik tangan kirinya.


Plasss....


Elang memukul tangan Rio dengan keras sehingga terlepas dari tangan Kiara. Elang kembali memberikan tatapan permusuhan pada Rio, seolah memberi isyarat bahwa ia tidak suka Rio menyentuh Kiara. Rio mengerti kesalahannya, ia mundur teratur.


Tanpa banyak cakap, Elang kembali menarik tangan Kiara dan segera pergi meninggalkan butik milik Ivana.

__ADS_1


"Rio, ada apa? Apa kau punya masalah dengan mereka? Lihatlah! Tuan Elang sangat terlihat tidak suka padamu," tanya Ivana khawatir.


Rio mengangkat kedua bahunya. Ia tidak menjawab pertanyaan Ivana dan memilih pergi meninggalkan butik Ivana.


__ADS_2