
“Oh my god...!!!!!”
Evan berteriak histeris ketika melihat Rio datang membawa Kiara. Evan langsung memeluk Kiara sangat erat hingga Kiara sulit untuk bernafas. Tubuh Kiara yang kecil sangat berkebalikan dengan tubuh Evan yang tambun. Rasanya seperti dililit ular piton, gumam Kiara.
“Nona Kiara, kau kemana saja? Aku hampir gila olehmu,” ucap Evan dengan gayanya yang kemayu.
Rio mencibir ke arah Evan dan berlalu hendak mengambilkan Kiara minum. Evan melepas pelukannya dan langsung membawa Kiara menuju ruangannya. Evan menarik kursi dan mempersilakan Kiara duduk. Evan berjalan menuju laci meja kerjanya dan mengambil beberapa berkas untuk Kiara.
“Nona Kiara, aku mengajak Anda bergabung dengan agencyku. Apakah kau bersedia, sayang? ” rayu Evan to the point .
Evan tersenyum manja, mengedipkan kedua matanya berkali-kali agar Kiara simpati padanya. Evan harus bergerak cepat karena pergelaran busananya tinggal seminggu lagi dan Kiara akan mengambil bagian dalam acara itu.
Kiara diam tak bergeming. Sebenarnya Kiara ingin tertawa melihat tingkah Evan. Namun ia tahan agar image cewek cool yang dia bangun tidak rusak.
Evan menyodorkan kertas berupa perjanjian kontrak antara dirinya dan Kiara. Kiara mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama.
“Tuan Evan, aku bukanlah seorang model yang pantas Anda rekrut. Aku takut akan mengecewakanmu” tolak Kiara dengan halus.
Bagaimana mungkin dia bisa menjadi model, berdiri dengan heels saja sudah membuat kakinya nyeri apalagi jika harus berjalan. Bisa saja Kiara pulang dengan kursi roda jika menyanggupi permintaan Evan.
“Oh tidak, sayang. Kau tidak akan mengecewakanku. Hasil photoshoot mu kemarin sangat mengagumkan banyak orang. Kau jangan khawatir. Aku percaya dengan talentamu 1000%. Aku sendiri yang menjadi mentormu. Aku mohon! Mau ya bergabung denganku?” rayu Evan lagi penuh harap kali ini Evan sedikit berlutut.
Kiara masih tak bergeming. Rasanya ia perlu mendiskusikan hal ini dengan Dira. Kiara orang baru di NY dan dia tidak paham dengan seluk beluk kontrak kerja. Kiara khawatir dia ditipu.
Rio masuk membawa minuman kaleng dan memberikan kepada Kiara.
"Bergabunglah! Aku yakin karirmu akan bagus. Minggu depan Evan akan mengadakan pergelaran busana rancangannya dan ..........,”ucapan Rio terputus.
“Aku pastikan Anda mengambil bagian dalam acaraku,” sambung Evan dengan cepat.
Kiara berfikir sejenak. Sepertinya tidak ada yang salah jika dirinya bergabung dengan Evan. Bukankah Dira telah menyetujui keinginannya untuk berkarier di NY?
“Setahun. Aku hanya ingin kontrak satu tahun kerja,” jawab Kiara membuat Evan dan Rio sama-sama mengernyitkan dahi.
“Setahun? Mengapa Nona?” tanya Evan sedikit kecewa.
“Tujuanku di sini untuk melanjutkan pendidikanku, bukan menjadi model. Aku khawatir pendidikanku akan terbengkalai jika aku mengambil kontrak terlalu panjang”
“Tiga tahun itu tidak telalu panjang, Nona" rayu Evan lagi.
“Bagimu, bukan bagiku. Aku adalah WNA yang tidak mungkin menetap disini selamanya, akan ada masanya aku kembali ke negaraku" ucap Kiara membuat Rio sedih.
“Baiklan kalau maumu begitu,” Evan mengalah.
“Anggap saja aku sedang magang" canda Kiara.
Evan segera merevisi isi kontrak kerjanya dengan Kiara. Setelah semua poin kesepakatan dapat diterima Kiara, ia segera membubuhkan tanda tangan cantiknya.
Evan kembali memeluk Kiara dengan erat. Hari ini Evan selamat dari amukan CEO – CEO perusahaan yang hendak bekerja sama dengannya. Andai saja Kiara tidak mau bergabung dengannya, sudah dipastikan agencynya akan hancur dalam hitungan detik.
“Mulai besok Nona harus datang kesini pukul delapan pagi. Aku akan mengajarimu catwalk, make up dan banyak lagi. Aku benar-benar tidak sabar membimbingmu,” ucap Evan dengan gemas sedangkan Kiara hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Rio menarik tangan Kiara agar keluar dari ruangan Evan. Urusan Kiara dengan Evan sudah selesai. Sekarang tinggal urusannya dengan Kiara yang belum selesai.
Rio membawa Kiara masuk ke dalam ruangannya, tak lupa ia mengunci pintu agar tidak ada pengganggu yang akan merusak momen indahnya dengan Kiara. Rio menarik kursi dan mendudukkan Kiara.
“Tutup mata!” perintah Rio dan itu langsung dilakukan Kiara.
Rio mengambil sebuah kotak di laci meja kerjanya.
“Buka matamu!” Rio menyodorkan kotak itu tepat dihadapan Kiara.
“Untukku?” tanya Kiara yang dijawab anggukan kepala Rio.
“Buka dan aku harap kau suka” perintah Rio.
Seperti robot yang selalu patuh akan perintah pemiliknya, Kiara membuka kotak pemberian Rio dengan perlahan. Matanya terbelalak ketika tahu apa isi di dalam kotak itu. Kiara buru-buru menutup kotak itu dan menyerahkan kembali pada Rio.
“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Rio. Tentu saja dia kaget menerima penolakan Kiara. Selama ini tidak ada satu pun wanita yang menolak pemberiannya. Rio bahkan pernah menghabiskan seluruh gajinya hanya untuk membayar belanjaan pacarnya. Kiara adalah wanita pertama yang menolak pemberiannya. Apa mungkin pemberiannya kurang mahal?, pikir Rio.
“Tidak! Maksudku kau tidak perlu memberikan ponsel ini untukku. Simpan saja uangnya untuk keperluanmu!” jawab Kiara yang tentu saja membuat Rio bertambah heran. Ini hanya sebuah ponsel, membelinya saja tidak perlu merogoh koceknya dalam-dalam. Jika Kiara mau, Rio bisa saja memberikan sebuah berlian atau rumah.
“Aku tidak menerima penolakan. Ambillah agar aku bisa menghubungimu!”
“Aku bisa membelinya sendiri, Rio” bantah Kiara.
“Sudahlah Kiara! Kalau kau tetap menolak, aku akan menciummu” ancam Rio membuat Kiara akhirnya mengalah. Kiara memasukkan ponsel pemberian Rio ke dalam tasnya.
“Terima kasih, Rio. Maaf aku merepotkanmu.” ucap Kiara dengan tulus.
Mata Rio tak berhenti menatap bibir merah Kiara. Ingin rasanya ia m e l u m a t habis bibir mungil dihadapannya. Namun entah mengapa Rio tidak mempunyai keberanian untuk itu.
“Rio, aku mau pulang" ucap Kiara membuyarkan lamunan Rio.
“Oh maaf! Baiklah aku akan mengantarmu” ucap Rio.
“Tidak perlu. Aku naik taksi saja" tolak Kiara cepat.
“Aku mohon izinkan aku mengantarmu pulang" kata Rio lagi.
“Maaf Rio. Untuk kali ini aku tidak mengizinkanmu. Biarkan aku pulang sendiri. Terima kasih atas hadiahmu" ucap Kiara kemudian buru-buru pergi meninggalkan kantor Evan.
Kiara mengedarkan pandangannya dan dengan cepat sebuah taksi berhenti tepat di hadapannya. Kiara buru-buru masuk. Dia takut Rio akan mengikutinya. Mobil taksi segera melaju meninggalkan kantor Evan.
“Cepat!” perintah Kiara.
Sopir taksi tersenyum dan langsung tancap gas.
“Hei... lain kali jika kau diberi tugas oleh Dira untuk mengantarku, pakai saja mobil ini! aku tidak mau terlihat mencolok diantar jemput tukang pukul sepertimu” ucap Kiara yang disambut dengan suara tertawa bodyguard Dira.
Memang sejak awal Kiara tidak mau memakai mobil milik Dira. Kiara meminta pengawalnya itu untuk menyewa mobil taksi agar terkesan umum.
Kiara menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya.
__ADS_1
“Satu lagi. Jangan ceritakan apapun pada Dira. Apalagi kejadian di cafe” kata Kiara dengan wajah cemberutnya.
Bodyguard Dira hanya mengangguk sambil tersenyum. Mobil taksi sewaan Kiara terus melaju sampai akhirnya tiba di apartemen Dira.
***
Satu Minggu kemudian
Kiara sedang bersiap-siap di kamarnya. Hari ini dia akan tampil dalam acara pergelaran busana milik Evan.
Sudah seminggu Evan melatih Kiara agar bisa setara dengan model-model yang lain. Kiara memang belum seluwes model-model Evan yang lain tetapi setidaknya Kiara sudah tidak se kaku kemarin.
Kiara belajar banyak hal dari Evan mulai dari berjalan menggunakan heels, make up, body languange, public speaking dan masih banyak lagi. Kiara juga berapa kali melakukan photoshoot untuk produk kecantikan. Wajahnya kini mulai nampak di beberapa majalah dan televisi.
Acara pergelaran Evan akan dimulai pukul delapan malam, namun Kiara diminta sudah berada di lokasi sejak pukul 9 pagi. Masih ada waktu baginya untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke tempat acara.
Kiara mengambil tas selempang yang biasa dibawanya saat pergi. Kiara menuruni anak tangga dan yups Dira sedang duduk santai di sofa. Tumben sekali dia tidak ke kantor?, batin Kiara.
Kiara mengambil sesuatu dalam tas nya dan kembali melangkah mendekati Dira.
“Nih, buat lu!” Kiara menyodorkan undangan pergelaran busana Evan pada Dira. Dira mengambil undangan itu dan membaca sekilas.
“Lu gabung sama Evan?” tanya Dira yang dijawab anggukan kepala Kiara.
“Lu pasti datang kan?” tanya Kiara.
“Lu jadi apa disana? Kalau cuma jadi tukang mungutin baju modelnya Evan, gue nggak bakalan datang” goda Dira.
Dira sebenarnya bangga pada adiknya karena Kiara pasti menjadi salah satu model yang akan mengenakan baju rancangan Evan. Evan bukan perancang busana kaleng-kaleng. Dia pasti sudah menyeleksi ketat model-model yang akan mengenakan baju rancangannya.
“Kalau lu mau tahu gue disana bagian apa? Ya lu datang dong. Ini undangannya khusus gue minta sama Evan buat lu. Karena gue mau lu datang liat gue nanti,” ucap Kiara tak terpengaruh ejekan Dira.
Dira manggut-manggut.
“Gue nggak janji," ucap Dira bercanda.
Kiara mengangkat kedua bahunya.
“Mana tuh si Mang Ujang? Gue udah bilang kalau minta diantar hari ini. ” tanya Kiara yang membuat Dira mengernyitkan dahi karena tak tahu siapa yang dicari adiknya.
“Mang Ujang siapa?” tanya Dira.
“Tukang pukul lu itu. Gue kan nggak tahu namanya siapa. Jadi biar gampang gue panggil Mang Ujang aja. Dia dimana?”
Dira menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada saja tingkah ajaib adiknya ini.
"Dia sudah di bawah”.
“Oh baiklah kalau begitu. Gue cabut dulu, Kadir.... Bye.”
Kiara mengecup pipi Dira dan segera berlari keluar dari apartemennya. Dira menatap undangan di tangannya.
__ADS_1
'Tanpa diberi olehmu aku pasti hadir. Setiap tahun aku selalu hadir dalam acara Evan" gumam Dira.