
New york, Apartemen Dira
Dira melihat apartemennya sepi ketika ia tiba. Biasanya suara cempreng Kiara akan menyambutnya dan Dira harus siap dengan sesi introgasi yang dilakukan adiknya. Dira melempar asal jas kerjanya. Pandangannya kembali meneliti, mencari keberadaan Kiara. Mungkin dia di kamarnya, batin Dira.
Dira melangkahkan kakinya menuju kamarnya, kamar yang sekarang dipakai oleh Kiara. Dira membuka pintu dengan perlahan. Kamar Kiara gelap. Ini baru pukul tujuh malam waktu New York, tidak mungkin adiknya sudah tidur jam segini.
Dira mencoba masuk. Dia berniat akan mengecek apakah benar Kiara sudah tidur seperti pikirannya. Dira menyalakan lampu kamar dan menemukan kasur Kiara kosong.
“Kiaraaaa.......” teriak Dira.
Terdengar jelas jika Dira sangat khawatir dengan Kiara. Dira terus mengedarkan matanya mencari sosok Kiara di kamarnya.
“Opo....??? hiks hiks hiks...” jawab Kiara dengan terisak.
Dira menajamkan pendengarannya. Dimana sosok adiknya itu?
“Kiara... lu dimana?” teriak Dira lagi. Kakinya terus berjalan mencari sosok Ara.
“Opo..? gue disini, Kadir...hiks hiks hiks” teriak Kiara sambil mengangkat tangan kanannya memberi tanda keberadaannya pada Dira.
Dira menghela nafas. Ada-ada saja tingkah adiknya ini. Sudah seminggu Kiara tinggal bersama Dira dan Dira selalu dikejutkan dengan tingkah Kiara yang nyeleneh.
Dira mendekat. Ternyata Kiara sedang duduk memeluk lutut di samping kasurnya. Pipi Kiara basah. Dira yakin adiknya pasti sedang menangis. Kiara mematikan lampu kamarnya agar tidak ketahuan jika ia sedang menangis.
“ Lu kenapa lagi? Lu nangis?” tanya Dira yang dijawab anggukan oleh Kiara.
“ Apa yang lu tangisin? Sudah seminggu lu disini dan lu belum cerita apa-apa sama gue” ucap Dira lagi. Dira kemudian duduk di samping Kiara dengan gaya yang sama, memeluk lututnya.
“Dia tunangan dan gue yakin sebentar lagi mereka... pasti... akan....nikah. Hiks... hiks.. hikss... atau bisa jadi sudah menikah" ucap Kiara sambil berurai air mata.
“Dia? Dia siapa? Pacar lu?” tanya Dira menebak asal.
“Bukan, Kadir” jawab Kiara.
“Lha... kalau bukan pacar lu terus siapa?” tanya Dira heran.
“Om Ale, Om nya Elang. Hiks...hiks...hiks..” jawab Ara
“Who is Elang? Bird?” tanya Dira lebih ngawur lagi.
“No... !!! Elang pacar gue. Eh bukan mantan gue. Sudah gue putusin kemarin” ucap Kiara membuat Dira semakin bingung.
“ Wait...! Elu pacaran sama Elang. Yang tunangan dan mau nikah itu Om Ale alias Om nya si Elang dan Why.... lu nangis kayak orang patah hati gini? Tell me gue nggak ngerti sama lu” ucap Dira dengan bahasa campurannya.
“Gue nggak cinta sama Elang tapi gue cinta sama Om nya” jawab Ara pelan.
“What? Lu suka sama om om? Lu selama ini jadi sugar baby? Come on Kiara. Jangan bikin malu gue!” ucap Dira. Matanya melotot mendengar ucapan adiknya.
“Jaga tuh mulut. Sialan lu Kadir! Gue masih waras dan nggak kepikiran buat jadi bayi gula (sugar baby). Meskipun Mama nggak pernah ngasik gue uang, tapi gue nggak pernah jadi begituan. ” ucap Kiara sambil menjambak rambut Dira. Ia kesal dengan kakaknya itu. Kenapa otaknya bisa berpikir kesana.
__ADS_1
“Lepasin rambut gue! Heh... lu senang banget sih ngerusak dandanan gue!’ bentak Dira.
“Lu tuh nggak waras. Gue manggil dia Om karena dia Om nya si Elang. Lu harus tahu Om Ale itu seumuran sama Elu. Gue sebenarnya nggak mau manggil Om. Gue pengennya manggil ayang. Tapi apa mau dikata yang nembak gue itu bukan Om Ale tapi si Elang dan....” ucap Kiara terputus.
“Gobloknya elu naksir si Ale-ale, tapi malah jadian sama si burung Elang. Otak lu dimana, Kiarang sarang burung?” ucap Dira melanjutkan kalimat Kiara.
“Kan gue nggak tahu, Kadir, kalau yang nembak itu si Elang. Gue pikir Om Ale yang nembak gue... hua... hua..hua....” tangis Kiara akhirnya pecah juga. Kiara merutuki kebodohannya dulu. Bagaimana bisa dia salah sangka.
Dira menggeleng-gelengkan kepalanya. Bodoh sekali adiknya ini. Dira tidak habis pikir kenapa ada kisah begini dalam hidup adiknya? Ada-ada saja. Dira jadi tahu mengapa adiknya bisa seaneh ini. Kebanyakan mengalami hal aneh makanya jadi aneh. Begitu pikir Dira.
“Lu ceritain ke gue. Bagaimana ceritanya bisa salah jadian begini," perintah Dira.
Flash Back on
“Kita ke Bromo” ucap Ale tiba-tiba.
Kiara dan Elang yang sedang sibuk berebut es krim pemberian Ale langsung berhenti ketika mendengar ucapan Ale.
“Bromo? Camping, Om?” tanya Kiara yang dijawab anggukan oleh Ale.
“Kapan, Om?” tanya Elang yang kini sudah melepaskan es krim yang tadi menjadi rebutan dengan Kiara.
“Lusa” jawab Ale cepat.
“Lusa? Cepat amat,Om?” tanya Kiara kaget.
“Jangan diajak, Om. Ntar dia nyusahin” goda Elang yang sebenarnya berharap sebaliknya.
“Elang, Ara dan siapa saja yang mau kalian ajak. Semua kalau mau ikut, ikut saja dengan catatan bayar urunan” ucap Ale terkekeh.
Kiara mencibirkan bibirnya pada Elang karena Ale juga mengajaknya. Kiara berlari ke arah Ale dan merangkul lengannya dengan manja.
“Om, urunannya berapa? Ara sanggup kok bayarnya, satu milyar juga Ara sanggup asal Om Ale jangan jauh-jauh dari Ara” ucap Ara sambil memainkan matanya menggoda Ale.
Bukan kali ini saja Ara menggoda Ale tapi sudah berkali-kali. Namun Ale hanya menanggapinya sebagai bahan candaan saja.
“Eiitssss..... jangan dekat-dekat Om gue. Gue tuh nggak mau berbagi Om sama orang lain” ucap Elang. Tangannya segera memisahkan Kiara dan Ale.
“Apaan sih Elang?” ucap Kiara ketus.
Elang memang selalu mengganggu Kiara jika dekat-dekat dengan Ale. Elang cemburu melihatnya. Namun tak pernah ia ungkapkan karena saat ini Elang dan Kiara belum mempunyai status apapun.
“Kiara..., Elang... berhenti! Kalian berdua siap-siap. Lusa jam 5 pagi harus sudah ada disini. Masalah biaya dan lain-lain nanti Om akan kirimkan lewat pesan. Paham?” jelas Ale.
“Siap...!!!!” teriak Elang dan Ara kompak.
______***_____
Ranu kumbolo
__ADS_1
Kiara keluar dari tendanya dengan tubuh gemetar. Saat ini suhu di Ranu kumbolo benar-benar tidak bersahabat dengan tubuhnya. Kiara sudah memakai baju berlapis-lapis. Tidak tanggung- tanggung, tujuh lapis baju yang dipakai olehnya. Kiara juga memakai sarung tangan, syal dan kaos kaki berlapis hingga hanya wajahnya yang tidak tertutup kain. Namun tetap saja hawa dingin bisa menusuk tubuhnya.
Kiara memang tidak tahan dengan suhu dingin. Kulitnya bisa bentol-bentol kemerahan dan parahnya ia bisa saja mimisan dan pingsan jika tubuhnya sudah tidak dapat bertahan.
Kiara berjalan dan mendekat ke arah api unggun yang sudah dibuat Ale dan rekan-rekan yang lain. Tubuh Kiara mulai sedikit merasa hangat. Elang menyodorkan kopi panas tapi segera ditolaknya.
“Kenapa? Biar tubuhmu tidak dingin” ucap Elang.
“Aku nggak minum kopi” tolak Kiara.
Elang mengangkat bahu dan pergi meninggalkan Kiara. Kiara seperti biasa mengacuhkan perhatian Elang. Kiara mengedarkan pandangannya mencari sosok Ale yang belum dilihatnya sejak ia keluar dari tenda.
"Kemana ya Om Ale?" tanya Kiara dalam hati.
Kiara beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin menikmati pemandangan ranukumbolo lebih dekat. Kiara mengambil ponselnya , memasang headphone dan memutar lagu kesukaannya.
Kiara bersenandung lirih sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Lagu Surga Cinta milik Ada Band ia pilih karena lagu itu sesuai dengan keadaan hatinya. Malam ini yang penuh dengan cinta. Entah Kiara juga tidak mengerti mengapa malam ini dia seperti sedang jatuh cinta.
Kiara melamun, membayangkan jika Ale menembaknya malam ini di tempat itu. Ale yang datang dengan membawa setangkai mawar merah dan berlutut di hadapannya. Oh... so sweet hati Kiara akan senang sekali jika itu benar-benar terjadi. Lama Kiara melamun hingga ia menyadari bahwa tempat kemah telah sepi.
Kiara beranjak dari tempat duduknya. Kemana orang-orang yang lain?, pikirnya. Kiara berjalan dengan sedikit ketakutan. Kiara berfikir mereka pasti meninggalkannya sendirian.
Kiara masuk ke dalam tendanya dengan cepat dan ia sangat terkejut dengan apa yang dilihat oleh kedua netranya. Kiara mengucek matanya berkali- kali, menepuk pipinya, menyubit lengannya. Untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan mimpi semata.
Kiara melihat sebuket mawar merah, coklat, boneka di dalam tendanya. Tidak mungkin! Teriak Ara dalam hati. Kiara masuk perlahan mengambil mawar itu dan menghirup wanginya. Terselip kartu bertulis “Love me, please” di tengah buket bunga itu. Saat ini hati Kiara benar-benar terbang melayang. Kiara meyakini kalau benda-benda romantis itu dari Ale.
Kiara mengambil boneka beruang di hadapannya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat kertas terlipat di perut boneka itu. Hmm... pasti kata-kata romantis lagi, pikirnya. Kiara segera mencabut kartu itu dan membaca tulisannya.
ARA, AKU MENCINTAIMU. MAUKAH KAU MENJADI PACARKU ???
“Aaaaa........................” Kiara berteriak histeris.
Berkali-kali ia membaca kalimat di kertas itu. Ia takut dia salah baca. Kiara melompat-lompat kegirangan sambil mencium boneka itu berkali-kali.
“Tentu saja aku mau.... Aku juga mencintaimu...!!!” ucap Kiara sambil memeluk boneka itu dengan erat.
Tiba-tiba Kiara dikagetkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang. Pelukannya sangat erat. Terdengar sorak sorai dan tepuk tangan banyak orang yang membuat dirinya mulai tidak nyaman.
“Terima kasih, kau sudah mau menjadi pacarku”
Mata Kiara membulat. Ia menoleh ke belakang dan sosok yang memeluknya tidak seperti dalam angannya.
"Elang...." pekik Ara dalam hati.
Kiara membatu dan pikirannya langsung ngeblank. Kiara membiarkan Elang tetap memeluknya. Ia salah sangka. Ia pikir semua benda-benda itu dari Ale. Ia terburu-buru menjawab.
Elang melepas pelukannya. Ia memutar tubuh Kiara hingga berhadapan dengannya. Elang menggenggam tangan Kiara dan menciumnya dengan nikmat. Dari kejauhan Ale tersenyum melihat adegan romantis itu. Misinya berhasil.
Flash back off
__ADS_1