Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 27


__ADS_3

POV RIO


Pagi ini Aku melihat Olive membawa koper ke kantor. Dia berpelukan dengan Evan. Aku bisa melihat mata Evan basah. Ada apa gerangan? Apa mungkin Olive pamit mengundurkan diri? Setahuku Olive tidak pernah ada masalah di sini. Aku memutuskan untuk menghampiri mereka.


“Boy, kemarilah! Olive mau pamit” ucap Evan ketika melihatku berjalan ke arahnya.


“Ada apa? Mengapa kau mau pamit? Kau mengundurkan diri?” tanyaku bertubi-tubi.


Olive menatapku sambil tersenyum berbeda dengan Evan yang masih nampak sedih.


“Aku akan ke Indonesia” ucap Olive.


Aku mengernyitkan dahi. Indonesia? Negara yang terletak di belahan Asia tenggara dan jaraknya yaa sudahlah aku tidak mau mengatakannya.


“Untuk apa kau kesana?” tanyaku.


“Aku ditugaskan oleh Tuan Adiraka untuk menjadi asisten pribadi Nona Kiara"


Deg...


Jantungku bereaksi ketika kembali mendengar nama Kiara. Olive diminta menjadi asisten Kiara. Itu artinya Olive akan bersama Kiara setiap saat.


“Kapan kau berangkat?” tanyaku.


“Satu jam lagi aku akan dijemput oleh orang suruhan Tuan Adiraka.”


Satu jam lagi? Secepat itukah? Aku teringat sesuatu. Aku menarik tangan Evan dan membawanya ke ruang produksi.


“Mana pesananku?” tanyaku tidak sabar.


“Pesanan? Pesanan apa?” tanya Evan tak mengerti.


“Gaun. Bukankah aku sudah memesannya kepadamu? “ tanyaku sedikit gusar.


Evan menggaruk-garuk kepalanya sembari berpikir.


“Oh gaun itu. Aku pikir kau becanda. Untung aku tetap membuatnya” ucap Evan kemudian berlalu menuju ruang finishing. Aku berjalan mengekorinya.


Mataku membulat tak percaya ketika Evan menunjukkan gaun yang dipasangkan pada manekin. Sungguh diluar ekspektasiku. Waktu itu aku hanya mengatakan asal model dan warna gaunnya. Tapi, bukan Evan Scandz namanya jika merancang gaun itu dengan biasa-biasa saja. Gaun ini benar-benar indah.


“Bungkus” ucapku pendek.


Aku sudah membayangkan bagaimana cantiknya Kiara jika memakai gaun ini.


“Kau pikir sedang membeli nasi goreng? Gampang sekali kau bilang bungkus” ucap Evan kesal.


Evan segera memeriksa kembali gaun itu, memastikan jahitan dan detil gaun itu benar-benar tidak ada yang miss.


Evan kemudian memanggil salah satu pekerjanya, meminta agar gaun itu di packing. Aku menunggu sambil memainkan ponselku. Tak lama Evan menghampiriku dengan sebuah kotak yang aku yakini itu adalah gaun pesananku.


“Bawalah, Boy!” perintah Evan dan kami  berjalan bersama meninggalkan ruang finishing.


“Apakah kau akan memberikan gaun itu untuk Nona Kiara?” tanya Evan dan aku hanya mengangguk. Evan melihatku dengan tatapan iba.


“Maaf, aku menghalangimu mendekatinya” ucap Evan lirih.


Aku tahu Evan sangat merasa bersalah padaku. Namun aku tidak menjadikan hal ini adalah suatu kesalahannya.


“Sudahlah. Jika memang kami ditakdirkan bersama, akan ada banyak jalan untukku menemuinya” ucapku meskipun dalam hati aku meragukannya.

__ADS_1


Ku lihat Olive sedang duduk di sofa ruang kerja Evan. Dia berdiri ketika melihat kedatangan kami.


“Aku titip ini. Tolong berikan pada Kiara!” aku menyodorkan kotak berisi gaun itu pada Olive.


“Tolong katakan ini adalah hadiah dariku atas kelulusannya kemarin” ucapku berat.


Olive menerima kotak itu dan dia memelukku. Ku lihat Evan menunduk sambil meremas ujung bajunya.


“Rio, aku tahu kau sangat ingin bertemu dengan Nona Kiara. Apakah kau tidak ingin memberikannya secara langsung?” tanya Olive dengan tetap memelukku.


Akupun menggeleng. Aku tetap akan memegang janjiku sampai waktunya tiba. Aku melepas pelukan Olive.


“Tolong potret Kiara ketika memakai gaun ini dan kirimkan padaku” ucapku dengan suaraku bergetar.


Olive mengangguk. Ia kemudian pamit kepadaku dan Evan karena orang yang menjemputnya sudah menunggunya di luar. Aku dan Evan melambaikan tangan kepada Olive dan dia membalas lambaian tangan kami.


“Boy....” panggil Evan.


“Heemmm...” jawabku pendek.


“Kalau kau mau menyusul Nona Kiara, aku akan mengizinkanmu” ucap Evan sendu.


Aku menggeleng dengan cepat.


“Aku tahu kau sangat menaruh hati padanya. Sejak kejadian di pesta ulang tahunku beberapa tahun lalu kau sudah tidak pernah dekat dengan perempuan lain bahkan kau sering menyendiri. Pergilah!” perintah Evan lagi.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Andai kau tahu Evan sejak peristiwa itu, aku selalu ingin menemui Kiara. Namun aku tidak boleh egois. Ada banyak orang yang terkena dampak jika aku mengikuti egoku. Adiraka tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika tempat ini mati. Bagaimana nasib karyawanmu yang lain? Mereka juga mencari nafkah dari sini. Bagaimana nasib keluarganya? Aku tidak tega jika mereka menderita hanya karena ulahku.


“Sudahlah Evan, aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Aku pulang dulu” ucapku dan berlalu meningglkan Evan.


_____***_____


Kiara berteriak histeris ketika melihat sosok yang di bawa tukang pukul Dira ke hadapannya. Saat ini Kiara sedang makan siang bersama Elin dan Wima di villa. Kiara langsung melompat memeluk Olive.


“Aku senang kau sudah tiba” ucap Kiara dengan mata berbinar.


Olive membungkukkan badannya, memberi hormat pada Kiara.


“Kau pasti lelah. Sebentar aku akan meminta pemilik villa untuk menyediakan kamar untukmu. Duduklah dan makan siang bersamaku tak terkecuali kau! ” ucap Kiara menunjuk pada tukang pukulnya.


Kiara menghampiri Elin dan meminta disiapkan sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Elin mengangguk dan segera memanggil salah satu pekerjanya untuk menyiapkan kamar sesuai permintaan Kiara.


Olive mengamati hidangan di hadapannya. Ia mengernyitkan dahinya karena memang tidak pernah melihat bentuk makanan seperti itu.


“Ini bukan NY. Disini kami selalu menyantap nasi bukan salad. Cobalah dulu aku yakin kau nanti akan bisa menyesuaikan diri” ucap Kiara sembari menyodorkan piring pada Olive dan tukang pukulnya.


Olive menurut. Ia memang bukan pemilih makanan. Tidak ada salahnya mencoba makanan di hadapannya. Olive mulai mengunyah makanannya. Meskipun di lidahnya masih terasa aneh.


Tak berapa lama pekerja Elin datang. Ia mengatakan bahwa kamar pesanan Kiara sudah siap. Untung saja Kiara dan Olive sudah menyelesaikan makanannya.


Elin mengajak mereka ke kamar. Sejak peristiwa Kiara menggoda Ale di meja makan, Elin tidak pernah berbicara pada Kiara. Elin yang biasanya ramai dan heboh berubah menjadi pendiam ketika berada dalam satu tempat dengan Kiara.


“Ini kamarnya, Nona. Semoga Anda suka” ucap Elin kemudian pamit undur diri.


Kiara mengajak Olive masuk ke dalam kamarnya.


“Bagaimana kau suka?” tanya Kiara.


“Saya suka, Nona Kiara. Terima kasih” ucap Olive tersenyum.

__ADS_1


Olive segera membuka kopernya dan menata baju-bajunya di lemari. Gerakan tangannya terhenti ketika melihat kotak titipan Rio. Olive mengambil kotak itu dan menyerahkan pada Kiara.


“Ini ada titipan dari Rio. Hadiah untuk kelulusan Nona” ucap Olive.


Kiara menerima kotak itu dan membukanya. Tangannya meraba gaun itu dengan lembut. Seutas senyum terbit dari bibirnya. Tanpa Kiara sadari, Olive memotretnya dan mengirim fotonya pada Rio.


“Rio apa kabar?” tanya Kiara lirih. Tangannya tetap meraba gaun pemberian Rio.


“Rio baik-baik saja, Nona” ucap Olive. Ia sebenarnya bingung harus menjawab apa.


“Apa dia masih bekerja di tempat Evan?” tanya Kiara lagi.


“Tentu saja, Nona” jawab Olive.


“Apa Rio tengah dekat dengan seorang perempuan?” suara Kiara terdengar berat seolah sulit menanyakan hal ini.


“Sudah lama Rio tidak pernah dekat wanita, Nona. Jangankan dekat, melirik saja Rio malas” ucap Olive tersenyum. Kiara membalas senyuman Olive. Ia menutup kembali kotak pemberian Rio.


“Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan kembali ke kamar. Kamarku hanya berjarak dua kamar dari sini. Hubungi aku jika ada masalah” ucap Kiara dan Olive membalas dengan anggukan. Kiara bergegas keluar dari kamar Olive dengan membawa kotak pemberian Rio.


Ting...


Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Olive.


[ Rio]


Bagaimana? Apa dia menyukai hadiahku?


[Olive]


Dia sangat menyukainya


[Rio]


Apakah Kiara sudah memakainya?


[Olive]


Belum. Mungkin dia mencoba di kamarnya. dia baru saja keluar dari kamarku.


[Rio]


Jangan lupa memotretnya jika Kiara memakai gaun itu.


[Olive]


Tenang saja. Aku akan melakukannya untukmu.


[Rio]


Apa dia bertanya tentang aku?


[Olive]


Ya. Sepertinya dia merindukanmu. Cepatlah kesini! Temui dia.


Tak ada balasan lagi dari Rio. Olive meletakkan ponselnya di nakas. Ia melanjutkan merapikan baju-bajunya ke dalam lemari. Setelah semua tersusun rapi, Olive segera mandi dan beristirahat. Perjalan 2 benua yang dijalaninya membuat badannya benar-benar letih. Tak butuh lama bagi Olive untuk memejamkan matanya dan tenggelam ke alam mimpi.


__ADS_1


Olivia Mandella


__ADS_2