
Ale segera berlari memasuki cafe dan mencari Indra. Laki-laki itu sedang duduk sambil menyeruput kopi panasnya di kursi pojok di area luar cafe. Ale bergegas menghampiri Indra yang tengah menikmati minumannya.
“Indra...!” panggil Ale.
“Hai Alex! Duduklah! Keponakanku masih ke toilet. Kau mau pesan apa?” tanya Indra dengan ramah.
“Tidak perlu. Aku baru saja dari sini. Perutku masih penuh” ucap Ale yang disambut gelak tawa Indra.
“Jadi benar kan keponakanmu mau menjadi investor di perusahaanku?" tanya Ale memastikan yang dijawab anggukan oleh Indra.
Ale bersorak dalam hati. Ia bisa sedikit bernafas mendengar kabar dari Indra. Setidaknya ada harapan untuk perusahaannya saat ini.
“Kau bilang apa padanya sampai dia mau menjadi investor?"
“Ya.. aku ceritakan apa adanya. Perusahaanmu butuh suntikan dana dan aku tidak bisa membantunya karena perusahaan itu sudah dipegang olehnya dan tak tahulah dia lalu memintaku untuk mempertemukanmu dengannya” jelas Indra kembali menyeruput kopinya.
“Keponakanmu pasti hebat sekali”
“Biasa saja. Dia masih bocah. Baru lulusan S-2 di NYU. Nah itu orangnya..!” tunjuk Indra.
Ale menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Ale melihat sosok yang berjalan ke arahnya. Gadis cantik berkemeja putih yang sudah tak asing lagi baginya. Ale menelan ludah semoga saja apa yang ia pikirkan salah.
“Kiara, ini Alex, teman paman yang tadi paman ceritakan. Alex ini Kiara keponakanku" ucap Indra memperkenalkan mereka satu sama lain.
Ale diam mematung. Badannya spontan terasa lemas. Kiara mengulurkan tangannya. Ditariknya tangan Ale yang masih setia menganggur di samping tubuh Ale. Kiara menaikkan sudut bibirnya sehingga nampak seringai tipis dari bibirnya.
Ale dan Kiara masih saling berhadapan dalam diam. Mereka seakan bercakap dalam hening. Ale seakan bisa membaca gerak tubuh yang diperlihatkan Kiara. Firasatnya mengatakan perempuan di hadapannya ini memiliki misi terselubung. Wajah Ale berubah pias berbeda dengan Kiara yang menampakkan wajah penuh percaya dirinya.
“Kenapa kau diam saja, Alex? Dia Kiara keponakanku yang akan menjadi investor di perusahanmu" ucap Indra membuat Ale tersadar dari lamunannya.
“Pak Alex, mari duduk dulu! Sepertinya Anda butuh sesuatu yang segar untuk menenangkan pikiran Anda. Saya tahu Anda sedang dalam masalah besar” ucap Kiara dan berjalan melewati Ale yang kemudian kembali duduk di posisinya.
“Paman, bisa pesankan minuman untuk Pak Alex. Dia terlihat tegang sekali” ucap Kiara. Ia sedikit memiringkan kepalanya, menggoda Ale dan senyum jahilnya.
Indra mengangguk. Dia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam cafe untuk memesan minuman
untuk Ale.
Kiara melirik, memastikan Indra tidak melihat ke arahnya. Kiara mendekatkan wajahnya pada wajah Ale.
__ADS_1
“Sepertinya kau memang jodohku, Mas Ale. Kemanapun kau pergi, kita selalu bertemu padahal aku tidak pernah mengikutimu” bisik Kiara membuat Ale semakin gugup.
Kiara segera menjauhkan wajahnya. Dia melihat Indra berjalan menuju ke arahnya. Kiara memasang tampang biasa berbeda dengan Ale yang tetap saja tegang.
“Kiara, Paman sudah memesankan minuman untuk Alex dan sepertinya Paman harus meninggalkan kalian berdua karena Paman harus kembali ke kantor. Sekretarismu menelpon Paman. Katanya ada tamu”
Kiara bersorak dalam hati. Lagi-lagi dewi fortuna berpihak kepadanya. Tanpa ia usir, pamannya sudah pergi dengan sendirinya.
Kiara menyuruh Indra segera pergi untuk menemui tamunya. Kini tinggallah Ale dan Kiara yang duduk berhadapan dalam diam.
“Ara...”
“Kenapa? Mas Ale mau aku cium lagi?” tanya Kiara tertawa jahil.
Ale kaget. Ucapan Kiara membuatnya malu mengingat kejadian yang seharusnya tidak terjadi. Ale benar-benar merutuki kebodohannya yang hanya diam ketika Kiara menciumnya di depan banyak orang. Seharusnya Ale marah. Apalagi ada Asha yang melihat peristiwa itu.
“Ara...!!!” panggil Ale dengan nada sedikit tinggi.
“Iya, Mas Ale sayang”
Cup
Lagi-lagi Kiara berhasil mencuri ciuman bibir Ale. Ale terlonjak kaget. Ia mengelus dada berkali-kali.
“Ara....!!! Serius sedikit! Om Ale butuh bantuanmu” ucap Ale dengan kesal.
"Aku bukan keponakanmu. Jadi jangan memintaku memanggilmu Om"
“Araaaaa...!!!”
“Iya Mas Ale sayang. Aku tidak budek jadi jangan berteriak. Sekarang katakan apa yang bisa aku bantu" ucap Kiara sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
Ale menjambak rambutnya dengan kasar. Kiara benar-benar membuatnya semakin frustasi. Bisa saja masalah Ale tidak selesai tetapi malah bertambah.
"Ara bisa membantu Mas Ale. Mas Ale tenang saja"
“Sungguh?" tanya Ale tak percaya.
“Tentu saja. Ara akan menjadi investor tunggal bahkan kalau Mas Ale mau perusahaan yang Ara pegang sekarang bisa dipimpin Mas Ale"
Ale menajamkan pendengarannya. Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ale menatap Kiara dengan tajam, memastikan jika Kiara tidak sedang ngelantur.
__ADS_1
“Asal....” ucap Kiara menggantung.
“Asal...?” tanya Ale.
“Nikahi aku"
Jeddarrrrrrrrrrrrrrrrr
Ale menghempaskan tubuhnya. Lagi-lagi badannya lemas tak berdaya. Ale seakan disambar petir. Ia benar-benar tidak menyangka dengan ucapan Ara. Apa Ara sudah tidak waras dengan meminta dinikahi? Ara sendiri tahu jika Ale sudah mempunyai istri.
Ara adalah gadia yang cantik, pintar dan mapan. Dia bisa mendapatkan laki-laki lajang manapun yang ia mau. Kemana arah pikirannya? Mengapa malah meminta dinikahi Ale?
“Om Ale sudah lama menikah dengan perempuan itu dan belum memiliki anak. Menikahlah denganku! Aku yang akan memberimu anak" ucap Kiara penuh keyakinan.
Ale menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Perusahaanmu selamat. Keturunan juga dapat. Lalu apa lagi yang Mas Ale pikirkan?”
“Cukup, Ara!" bentak Ale menggebrak meja.
Kesabarannya habis menghadapi Kiara yang seakan tidak mau berhenti mempermainkannya. Ale tidak bisa lagi menganggap remeh Kiara. Ale harus tegas. Dia tidak boleh terus diam menghadapi serangan Ara.
“Apa kau sudah gila , hah? Putus dari Elang membuatmu seperti ini!! Kembalilah pada Elang. Dia masih mencintaimu. Aku akan menelponnya agar Elang kembali padamu”
“Apa?? Elang?? Ha..ha..ha... untuk apa aku kembali padanya? Sedikit rasa pun aku tak punya untuknya. Hatiku sejak dulu hanya untukmu Mas Ale” ucap Kiara, tangannya memegang tangan Ale yang segera dihempaskan Ale.
“Sadar, Ara!! Sadar!! Aku ini sudah beristri"
“Tapi istrimu tidak berguna. Memberikan keturunan saja tidak bisa" potong Kiara cepat.
Ale langsung diam. Ucapan Kiara seperti hunusan pedang yang tepat mengenai jantungnya.
“Mas Ale jangan munafik. Aku tahu kau sudah bosan dengan Aisha yang tidak berguna itu. Kau sudah lama menginginkan anak kan? Tapi kau diam agar tidak menyinggung perasaan Aisha. Bagaimanapun kau juga butuh penerus, Mas Ale. Pikirkan tawaranku dan hubungi aku jika kau setuju"
Kiara mengambil tas miliknya dan memasukkan ponselnya. Ia bangkit dan mendekatkan wajahnya di samping kepala Ale.
“Aku masa depanmu. Jika kau menikahiku, kau akan mendapatkan semuanya. Perusahaan, kemapanan dan anak. Pikirkan itu Mas Ale” bisik Kiara tepat di telinga Ale.
Kiara berlalu, pergi meninggalkan Ale yang masih duduk tegak mematung di kursinya. Baru beberapa kali kakinya melangkah, Kiara berhenti dan menoleh ke belakang. Senyum Kiara mengembang melihat Ale yang masih duduk. Ia yakin saat ini Ale sedang goyah.
Ale menyandarkan kembali tubuhnya di kursi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
“Ya Tuhan. Mengapa kau beri cobaan seberat ini kepadaku? Mbak Sandra... Kau kemana? Aku butuh bantuanmu” gumam Ale lirih.