
Elang mengamati kamarnya yang tidak berubah sedikitpun. Meski sudah lama tidak ditempati Elang, kebersihan dan kenyamanan kamar ini masih terjaga. Senyum simpul Elang terbit ketika melihat gitar kesayangannya masih berdiri di samping tempat tidurnya. Elang mengambil gitar itu.
Jreng...
Elang menyetel senar-senar gitar itu dengan telaten. Berkali-kali Elang merapatkan dan melonggarkan senar gitar itu agar menghasilkan bunyi nada yang sesuai. Tak lama bagi Elang untuk menyetel gitar kesayangannya dan...
Jreng...
Elang mulai memetik senar gitar perlahan. Kaki kanannya bergerak mengikuti irama lagu Elang. Elang menyanyikan lagu tentang cinta milik Ipang yang menjadi favoritnya setelah berpisah dengan Kiara. Entah mengapa Elang merasa lirik lagu itu sangat sesuai dengan kondisinya saat itu.
Suara Elang meninggi ketika mencapai reffren lagu. Ale yang sedang berada di ruang tengah tentu saja mendengar suara Elang. Ale tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Elang.
Ale membuka pintu kamar Elang dengan perlahan. Posisi Elang yang membelakangi pintu kamarnya membuatnya tak tahu jika Ale sedang berdiri menunggunya selesai bernyanyi.
Prok...prok..prok..
Elang menoleh ke belakang. Wajahnya kembali datar ketika melihat Ale menghampirinya.
"Om tidak tahu jika keponakan Om yang satu ini masih galau meski sudah lama tidak tinggal disini" ejek Ale yang tak ditanggapi Elang. Elang meletakkan gitarnya ditempat semula.
"Elang, ada hal yang ingin Om bicarakan"
"Tentang apa Om?"
"Tentang kau dan dia."
"Dia??? Dia siapa??."
"Ara" ucap Ale membuat wajah Elang menjadi masam.
"Tetaplah disini. Jangan kembali ke Spanyol. Om butuh bantuanmu."
"Maksud, Om?"
"Kau masih ada rasa pada Ara?" tanya Ale yang dibalas anggukan pelan oleh Elang.
"Tapi Elang sudah benar-benar kehilangannya" ucap Elang sedih.
"Maksudmu?" tanya Ale tak mengerti.
"Ara sepertinya sudah menikah. Elang pernah mendapatkan foto pernikahan Kiara, prewedding mungkin, dari nomor tidak di kenal" ucap Elang.
"Apa maksudmu? Jika Ara sudah menikah, tidak mungkin ia meminta Om untuk menikahinya kemarin" kata Ale.
"Maksud, Om?" tanya Elang kaget.
"Om akan menceritakan sesuatu. Tapi kau tidak boleh marah. Apa kau bersedia?" tanya Ale yang dijawab anggukan kepala Elang.
Ale tersenyum dan ia mulai menceritakan peristiwa yang terjadi beberapa menit sebelum kedatangan keluarga Elang. Ale juga menceritakan pertemuan pertamanya dengan Kiara di Labuan Bajo.
__ADS_1
Tubuh Elang gemetar mendengarkan cerita Ale. Kini Elang mendapatkan benang merah atas sikap acuh Kiara selama menjadi kekasihnya.
Kiara memang tidak pernah protes dengan kesibukan Elang, sedikit berbicara padanya, bahkan selama setahun mereka menjalin kasih tidak ada acara malam mingguan berduaan karena Kiara dan Elang selalu berkumpul bersama teman-teman Elang.
Elang merutuki kebodohannya yang sangat tidak peka dengan perasaan Kiara. Ia tak bisa melihat bahwa Kiara memang tidak ada perasaan untuknya. Namun, hatinya juga sakit mengetahui jika Kiara ternyata menyimpan perasaan pada Ale dan mereka hampir saja menikah.
Elang tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya berkecamuk berbagai macam rasa. Andai saja ada samsak yang bisa menjadi korban pelampiasan Elang, pasti Elang akan meninjunya sampai bocor.
"Bantu,Om. Tetaplah disini. Katakan pada Mamamu jika kau ingin membantu Om di perusahaan. Jika Ara masih sendiri, Om yakin dia akan terus saja mengganggu rumah tangga Om"
"Bagaimana aku bisa membantumu, Om jika Kiara saja tidak ada perasaan untukku?"
"Kau dekati saja lagi. Ara yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Ara yang dulu. Kau harus berjuang, Elang" ucap Ale menyemangati.
"Elang bingung harus melakukan apa, Om"
"Jangan bingung, Elang. Oh iya, Om ada janji makan siang dengan Dira, kakak laki-laki Ara"
"Kakak?"
"Iya. Ara mempunyai Kakak laki-laki yang tinggal di New York. Ternyata selama ini Ara berada di sana" ucap Ale.
"Apa??? New York????" tanya Elang tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Ale.
"Ya. Kiara tinggal disana. Ikutlah! Siapa tahu Dira tertarik padamu dan mengizinkan kau menjalin hubungan kembali dengan Ara" ucap Ale memberi jalan.
"Jika dia melarang?"
Elang mengangguk.
Ale bersorak senang. Ia segera menarik Elang keluar dari kamarnya. Mereka masuk ke dalam mobil dan Ale segera melajukan mobilnya menuju cafe XXX, tempat bertemu dengan Dira.
Selama perjalanan Ale terlihat sangat senang sekali. Mulutnya tak berhenti bersenandung. Berbeda dengan Elang yang memilih diam, membuang mukanya ke arah samping.
Perjalanan menuju cafe XXX hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Ale dan Elang memilih tempat duduk di samping cafe agar lebih leluasa menghirup udara bebas. Ale dan Elang memesan minuman sembari menunggu kedatangan Dira.
"Selamat siang, Tuan Alex. Maaf membuat Anda lama menunggu" Dira langsung mengulurkan tangannya. Mereka berjabat tangan dan berpelukan sebentar.
"Selamat datang, Tuan Adiraka. Kami baru saja sampai. Mari silakan duduk!" ajak Ale dengan ramah.
Dira duduk berhadapan dengan Ale. Di sampingnya, berdiri Edward yang selalu setia mendampinginya.
Dira memanggil pelayan dan memesan banyak makanan dan minuman untuk mereka. Tak butuh waktu lama, pesanan Dira datang. Beberapa pelayan menyajikan makanan dan minuman itu di atas meja.
"Silakan!" ucap Dira mempersilakan Ale dan Elang menyantap hidangan yang tersaji di depan mereka.
Tanpa malu dan canggung, Ale dan Elang mulai menyantap satu persatu hidangan itu dengan lahap.
"Oh iya Tuan Alex. Ini siapa? Assisten Anda?" tanya Dira karena merasa asing dengan wajah Elang.
__ADS_1
"Oh maaf, Tuan Adiraka, saya lupa memperkenalkan anak ini. Dia Elang keponakan saya" Elang berjabat tangan dengan Dira.
"Dia mantan kekasih Kiara" kata Ale yang berhasil membuat Dira tersedak.
Edward dengan segera mengambil gelas berisi air putih dan memberikannya pada Dira. Dira meminum air itu dengan perlahan sembari memperhatikan Elang dengan cermat. Kedua bola matanya naik turun memberikan penilaian pada sosok di hadapannya.
"Model bagus begini ditolak Kiara? Jangan-jangan Kiara katarak lagi" umpat Dira dalam hati.
Dira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dira masih tidak habis pikir dengan selera adiknya itu. Pasalnya menurut Dira, Elang memiliki tampilan yang menarik. Elang lebih tinggi dari Kiara, kulitnya putih, alis tebal, senyum yang menawan, dan perlu digaris bawahi juga jika badan Elang sangat bagus. Andai Kiara ada disini, Dira pasti akan langsung menikahkan mereka.
"Ada apa, Tuan Adiraka?" tanya Ale.
"Apa benar dia adalah mantan kekasih Kiara?"
"Benar, Tuan Adiraka. Mereka sempat menjalin kasih selama satu tahun"
"Lalu kenapa kalian berpisah? Siapa yang meminta putus?"
"Ara yang meminta putus. Sebenarnya karena salah paham" kata Elang menunduk.
"Salah paham?"
"Waktu itu kami di taman dan tiba-tiba datang Ellea, mantan kekasih saya sebelum Ara, memeluk saya dan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak. Ara marah dan pergi meninggalkan saya begitu saja" ucap Elang sedih.
Dira mengernyitkan dahi mendengar perkataan Elang.
"Tapi setahu saya, Kiara terbang ke New York menemui saya bukan karena putus dari kamu melainkan karena melihat undangan pernikahan Ale"
"Apa???" ucap Ale dan Elang bersamaan.
"Ya, berhari-hari Kiara mengurung diri di kamar karena mengetahui jika Tuan Alex akan menikah. Kiara sangat sedih saat itu. Namun dia tidak pernah menampakkan kesedihannya ketika bersama saya" ucap Dira membuat Ale dan Elang merasa sedih.
"Lalu Ara sekarang dimana, Tuan Adiraka? Bolehkan Elang bertemu dengannya?" tanya Elang.
"Dia sekarang ada di desa. Kiara sedang menjalani masa hukumannya karena ulahnya kemarin. Kau tenang saja Elang. Jika masa hukumannya sudah selesai, aku akan mempertemukan kalian" ucap Dira membuat Ale dan Elang tersenyum senang.
"Dan sebelum saya lupa. Saya ingin membicarakan masalah investasi di perusahaan Tuan Alex"
"Oh iya Tuang Adiraka. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas bantuan, Anda. Perusahaan saya kini ditangani orang tua Elang. Saya bisa bernafas lega dengan kedatangan mereka. Jadi Tuan Adiraka tidak perlu berinvestasi di perusahaan saya. Mohon maaf jika menyinggung perasaan Anda" ucap Ale berhati-hati.
"Wah... kalau begini saya jadi tidak enak. Bagaimanapun adik saya sudah melakukan kesalahan pada keluarga Anda"
"Sudahlah, Tuan Adiraka, yang lalu biarlah berlalu. Saya juga sudah melupakan kejadian itu. Saya sangat senang bisa mengenal Anda. Bisa saja suatu saat nanti perusahaan kita bekerja sama"
"Anda baik sekali, Tuan Alex. Kalau Anda butuh bantuan, pintu perusahaan saya selalu terbuka lebar untuk Anda"
"Jadi Tuan Adiraka kapan saya bisa bertemu Ara?" tanya Elang tak sabar.
"Sabar, Elang. Kiara harus saya jinakkan dulu. Nanti kalau dia sudah jinak, baru saya lepaskan" perkataan Dira berhasil membuat Ale dan Elang terkekeh.
__ADS_1
Dira mengakhiri pertemuannya dengan Ale dan Elang. Setidaknya satu-persatu masalah sudah ia selesaikan. Dira undur diri dan segera pergi meninggalkan Ale dan Elang yang masih duduk di cafe XXX.
Dira melangkahkan kakinya dengan senyum mengembang. Pertemuan dengan Ale dan Elang memunculkan ide di otaknya. Dira mulai merancang ide-ide jahilnya dan berharap akan berjalan sesuai dengan rencananya.